In

Bali

Ini kali kedua aku ke Bali. Yang pertama, saat kantor tempatku bekerja melakukan vekesyen selama tiga hari, sekitar satu bulan lalu.

Sudah seminggu ini aku berada di Pulau Dewata. Menghadiri acara bergengsi kelas dunia, IMF-WB 2018 di Nusa Dua. 

Banyaknya agenda yang mesti diliput membuatku tidak sempat berfoto untuk sekadar mengabadikan diriku pernah menjadi bagian IMF-WB 2018. Tak apa. Di tempat liputan lain, di kota-kota yang aku singgahi  juga jarang menghasilkan foto-foto mukaku sendiri, kecuali saat ada foto bersama. 

Kesibukan di sini juga membuatku lupa membalas chat yang masuk jika bukan soal pekerjaan. Juga mengangkat telpon ibuku. 

Tapi malam kemarin, saat aku melangkahkah kaki dengan Gojek ke Kuta, aku terdiam. Setelah selesai menulis berita terakhirku di atas motor, aku termenung. Pikiranku jauh mengingat Bali yang kerap kamu ceritakan.

Denpasar yang amat ramai. Kuta yang macet. Target penjualan yang harus dikejar. Teman-teman yang minta ditraktir Chatime. 

Begitu kan katamu?

Bali yang jauh kala itu, membuatku berpikir apa bisa ke sana. Mahasiswa kere sepertiku yang tak pintar menabung, mana bisa beli tiket untuk menyusul. 

Tapi sekarang aku di Bali. Sudah sepekan. Sudah kedua kali dan mungkin akan berkali-kali lagi ke sini tanpa harus pusing beli tiket karena ditanggung pengundang acara. 

Tapi kamu sudah tidak ada. 

Kamu ada di sini saat aku tidak mampu berlari. Aku berdiam di sini di saat kamu tak lagi sanggup berjalan.

Malam tadi, di keramaian Kuta, aku mencari nama toko internasional itu. Tapi tidak kutemukan. Pada kunjungan pertama kali ke sini, bulan lalu saat mengelilingi pantai Kuta, aku juga mencari nama toko itu. Sekelebat aku melihat. Tapi aku tidak tahu toko yang mana yang pernah kamu singgahi selama bertahun-tahun.

Sepanjang perjalanan pulang dari Kuta ke tempatku menginap di Nusa Dua, aku berpikir. Mengapa kesempatan itu tidak ada? Mengapa saat aku masih menjadi mahasiswa waktu itu, tidak bisa ke sini? Atau mengapa di saat aku di sini, kamu sudah tidak lagi ada?

Diam-diam kadang aku menanti ada tugas liputan ke tempat kelahiranmu. Tempatmu sekarang melanjutkan hidup. Pernah ada satu undangan dari salah satu kementerian untuk meliput ke sana. Sayang bukan aku yang disuruh. Aku malah diminta ke tempat-tempat yang lebih jauh dari itu. 

Temanku yang dikirim meliput ke sana bercerita mereka datang ke pabrik pembuatan kereta dalam negeri milik pemerintah. 

Ah... perusahaan itu pernah kita bicarakan beberapa tahun lalu lewat telpon. Pernah juga terselip di antara ratusan email kita.

Tapi kata temanku jadwal liputan di sana hanya dua hari dengan agenda yang amat padat dan melelahkan mengikuti kemauan sang menteri. Kupikir, mungkin aku memang tidak ditakdirkan ke sana. Kalaupun bisa, belum tentu bertemu kamu.

Kembali ke Bali. Di atas Gojek, aku membayangkan apa yang akan terjadi jika kita bertemu? Aku menghampiri toko asal Inggris itu atau kamu yang ke datang kepadaku usai kerja yang melelahkan? Atau malah kita bertemu di persimpangan jalan.

Pertemuan itu... mungkin terasa kaku. Saling berjabat tangan. Memperkenalkan diri. Tersenyum kikuk. Bertanya bagaimana kabar masing-masing.

Setelah setangah jam, bahkan satu jam seperti kanebo kering, mungkin air laut yang membahasahi kaki-kaki kita bisa mencairkan suasana. Sama-sama melihat ujung laut yang jauh dan gelap. Angin-angin yang menyentuh pipi dan rambut. 

Jujur saja, jika itu terjadi, aku tidak tahu apa yang akan kita bahas. Apakah kamu akan irit bicara seperti di email dan chat? Ataukah akan ramai seperti saat menelpon.

Yang pasti, jika saat ini kita bertemu di satu pantai, umurku sudah 25 tahun 7 bulan dan bulan depan kamu ulang tahun. Itu artinya, tahun depan kita sama-sama 26 tahun. 

Ya, 26 tahun. 

Batas waktu itu... yang mungkin akan jadi permulaan atau malah akhir dari hubungan bertahun-tahun yang tak kasat mata.

Bandara Ngurah Rai, 
14 Oktober 2018, 

19:23 WITA,

sambil menunggu terbang ke Jakarta.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In kumparan migas

Serunya Jadi Wartawan Sektor Energi


Halo, semua!


Setelah lama enggak nulis di blog karena kesibukan di tempat kerja yang baru, akhirya saya nyempatin juga buat nulis sore hari ini. Mumpung lagi ngetik berita di kantor dengan pemandangan kolam renang dan taman yang nyaman, saya mau mau nulis tentang pengalaman menjadi wartawan baru di sektor energi seperti minyak, gas, dan listrik. 

Ya, tepat bulan ini saya sudah enam bulan menjadi wartawan di kumparan, media online yang baru setahun berdiri tapi sudah banyak dibicarakan orang. Di sini, saya mendapatkan posisi sebagai wartawan ekonomi. Sementara fokus isu yang diliput adalah sektor energi. 

Hmm... sebenarnya di media online dengan hanya 7 awak di desk ekonomi, tidak ada penempatan sektor mana yang secara khusus harus digeluti. Entah kenapa, saya yang baru jadi wartawan kemarin sore malah ditempatkan di sektor yang bikin kepala berasap selagi liputan, begitupun saat menggarap berita. Alasannya, karena sektor energi sangat rumit dan begitu teknis. 

Gedung Kementerian ESDM di malam hari, saat semua wartawan udah pulang dan saya masih nulis. Press room-nya ada di gedung sebelah pojok kiri :)
Mungkin karena saat interview dengan users di kumparan, salah satu dari mereka menanyakan apa berita yang saya ikuti selama ini. Lalu saya menjawab proses divestasi saham Freeport ke Indonesia dan kisruh antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu, yang membuat kantor akhirnya memilih saya untuk banyak meliput di sektor energi dan BUMN. Ya... meskipun, seperti yang saya bilang tadi, di sini tidak ada sektor yang dikhususkan bagi satu wartawan. Semua isu lintas sektor sangat mungkin digarap satu wartawan atau istilahnya floating. Paginya liputan tentang paparan kinerja kuartal I bank swasta, sorenya harus menyimak paparan tentang investasi hulu migas Kira-kira begitu. 

Meski sangat melelahkan setiap kali liputan di sektor energi, nyaris membuat kedua alis saya bertemu dan jidat berkerut saking bingungnya dengan pembahasan di sektor energi, nyatanya saya senang-senang saja setiap kali disuruh meliput ke sana. Kalau ditanya kenapa kok mau ditempatkan ke sana, saya juga bingung jawabnya. 

Paling satu-satunya jawaban adalah karena dulu saya sempat liputan pelantikan Rudi Rubiandini sebagai Kepala SKK Migas, lalu enggak lama setelah itu, dia tertangkap kasus korupsi. Saya dan rekan wartawan saat itu, yang juga teman kuliah, sempat gemes sama sosok Rudi ketika bicara. 

Selain insiden itu, kekaguman saya terhadap pegawai Pertamina yang memakai seragam saat eksplorasi minyak juga masih lekat. Ini berawal ketika ayahnya teman SMA saya berprofesi sebagai pekerja Pertamina. Saya yang kerap menginap di rumahnya untuk belajar bareng jadi membayangkan kerennya ya orang pertamina ini kalau pakai seragam lapangan mereka, persis seperti Wamen ESDM, Arcandra Tahar yang bilang kalau yang bikin dia jatuh cinta sama dunia perminyakan karena seragam yang dipakai itu keren. Belum lagi, hidup pun sepertinya terjamin kalau bekerja di BUMN perminyakan ini.
Mantan Dirut Pertamina, Elia Massa Manik. Foto: Ema Fitriyani
Bisa dibilang, sebelum masuk kumparan dan meliput acara di sana, terakhir kali saya ke Pertamina sebagai wartawan adalah 5 tahun lalu atau pada 2012 silam saat mencicipi menjadi wartawan magang di majalah ekonomi. Selama itu pula, saya masih menganggap bahwa pekerja Pertamina, terutama insinyur-insinyur yang memproduksi migas itu keren! 

Berkaitan dengan kekaguman itu, saya juga pernah berharap bisa bertemu jodoh di antara banyaknya insinyur yang dimiliki Pertamina, hahaha! 

Terlepas dari alasan yang terdengar tidak dewasa itu, liputan saya juga diback-up oleh atasan yang emang paham banget sektor ini. Jadi, dari dia, saya banyak banget belajar mulai dari mengenal apa itu WK atau wilayah kerja seperti blok migas, apa itu cekungan (basin) di hulu minyak, kelistrikan, pertambangan, hingga mengapa Pertamina menjadi BUMN yang banyak diincar mafia-mafia di luar sana.

Juga tentang mengapa Pertamina selama ini malas bereksplorasi dan apa itu blok migas terminasi. Kami juga sering menduga-duga kenapa posisi Direktur Utama Pertamina di sana kerap diganti. Mengapa listrik dan BBM enggak naik hingga 2019, kenapa pemerintah membuat aturan harga khusus batu bara untuk PLN maksimal USD 70 per ton tapi tidak menetapkan batas bawahnya, dan lain-lain, dan lain-lain. 
Pas liputan ke pabrik pengolahan nikel jadi feronikel milik Antam di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Foto: Ema Fitriyani
Tentu saja, bagian pembahasan tentang Pertamina selalu membuat saya bersemangat. Banyak respon "oh... begitu, oh... baru tahu. Ya, tuhan kenapa rumit banget. Kok jahat ya" yang saya ungkapkan saat senior bercerita.

Perlahan, saya memahami, bahwa sektor energi ini amat penting karena menyangkut hidup banyak orang. Karena posisinya itulah, maka ketahanan energi terus dilakukan pemerintah di tengah mafia yang menggerogoti sektor ini. 

Jadi... setelah berjalan enam bulan di kumparan, khususnya di sektor energi dengan segala permasalahannya, buat saya sangat melelahkan tapi seru. Seru tapi melelahkan. Keseruan ini juga sebenarnya tidak ada apa-apanya dengan wartawan lain yang senior. Tapi sektor ini selalu bikin penasaran. 

Well, yang penting jangan keseringan telat makan dan terus belajar nulis yang baik biar enggak ngerepotin editor di kantor terus. Semangat, ems!

*Keterangan foto yang jadi header:
Pengeboran di sumur JAS -D milik Pertamina (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In

Bareng Dia, Olahraga Bukan Lagi Wacana di 2018

Allianz Sweat Challenge
Dalam hidup ini, ternyata ada banyak hal yang akhirnya jadi sekadar wacana. Mulai dari liburan bareng, nonton bioskop, reunian teman sekolah atau kampus, menghabiskan minimal satu buku satu bulan, rajin unggah tulisan di blog, sampai nurunin berat badan yang akhirnya cuma angin lalu.

Dari beberapa hal yang saya sebutin itu, di tahun 2017 lalu Cuma satu aja yang cukup rajin dilakuin: nulis di blog! Ini karena memang pas tahun lalu ketemu banyak kenalan blogger plus karena masih sempat nulis curhatan XD. Ada sih satu lagi yang cukup sempat dilakuin, yaitu melahap satu buku selama satu bulan. Sayangnya, hanya bertahan beberapa bulan saja.


Ini zumba minggu lalu. Dok: Allianz Sweat Challenge

 Ibarat anggaran yang sudah diproyeksikan pemerintah di APBN, dari target yang sudah tertulis rapih eh ternyata realisasinya jauh dari harapan. Dan yang paling susah dilakuin adalah olahraga!

Karena tahun ini enggak mau kayak gitu lagi, pas malam tahun baru, pas pulang kerja (tahun baru kerja? Iya!), saya bikin beberapa daftar resolusi yang harus dicapai. Rajin olahraga demi tubuh yang sehat menempati urutan pertama.

Bukan apa-apa, berat badan saya pas Oktober-November tahun lalu itu sekitar 57 kg. Karena di pekerjaan saya yang baru ini mobilitasnya tinggi, jadi ribet juga kalau berat badan enggak kekontrol. Alhamdulillah, pas ke puskemas 2 minggu lalu, timbangannya jadi 53 kg.

Pas tau berat badan turun kaget juga sih. Karena dalam dua bulan bisa turun 4 kg kan wow aja. Cuma enggak terlalu senang karena bisa jadi itu akibat stress di kerjaan baru di mana setiap harinya dihabiskan di lapangan. Karena enggak mau nantinya bakal down di lapangan, saya mutusin buat rajin olahraga. Karena dengan tinggi badan yang mini ini, harusnya sih berat badan saya 45 kg. 
Ini zumba minggu lalu. Dok: Allianz Sweat Challenge
Cari-cari info olahraga yang menyenangkan, ketemulah sama Allianz Sweat Challenge di media sosial. Pas buka link-nya, ternyata ini acara olahraga dua mingguan di Ancol Ecopark, Jakarta. Kegiatanya udah berlangsung dari November tahun lalu sih. Cuma bakal berlangsung sampai akhir 2018!

Di Januari ini, yang pertama udah berlangsung 13 Januari kemarin. Acaranya zumba yang dipandu mantan artis yang juga anak artis, Cantika Felder. Ada yang kenal emaknya siapa? Itu lho, ibunya juga enggak kalah cantik, artis senior Minati Atmanegara. 

Ini zumba minggu lalu. Dok: Allianz Sweat Challenge
 Karena ini acara dua mingguan, kegiatan selanjutnya itu minggu depan. Catat tanggalnya ya: 27 Januari 2017 dengan agendanya Cardio Dance with Step Dance Academy! Menarik ya? Kamu mau ikutan? Kuy buka di sini informasinya! Jumlah pesertanya 200 orang saja, jadi buruan daftar sebelum kehabisan #allianzsweatchallenge. Oh iya, ini acaranya GRATIS ya! Tinggal bawa badan yang fit saja, bawa pacar juga boleh.

Oh ya, buat yang tinggalnya di Bogor kayak saya hmm.. kayaknya kamu mesti nginep di kosan teman di Jakarta kalau enggak mau ketinggalan acaranya. Soalnya mulai pukul 06:00 WIB pagi.

Yha masa mau olahraga dance siang, entar kepanasan :’) 

Dok: Allianz Sweat Challenge
 Habis Dance, Mampir ke Allianz Ecopark
Kebayang enggak pas nanti ikut cardio dance minggu depan bareng #allianzsweatchallenge, pulangnya kamu bisa menikmati alam yang segar dengan pemandangan yang juga bikin mata adem. Musabanya, Allianz Ecopark ini kit bisa cocok  tanam, lihat minizoo, hingga outbond. Kamu juga bisa duduk-duduk manis menghadap danau yang ada di dalamnya. 

Menariknya, sama kayak acara Allianz Sweat Challenge, masuk ke Allianz Ecopark juga gratis! Tapi kalau mau sewa aneka permainan yang ada di dalamnya bayar ya, hehe. Cocok buat yang berkeluarga deh sambil bawa anaknya. Buat yang belum bekeluarga juga cocok, sambil jalan-jalan bareng pacar sambil lihat-lihat pasangan muda bahagia kan. Yha siapa tahu pulang dari sana dilamar yakan karena terstimulus keluarga bahagia di pinggir danau Allianz Ecopark.

Jadi, intinya bareng dia, bukan cuma olahrga aja nih yang enggak cuma sekadar wacana, obrolan mau nikah juga bisa jadi isu yang hangat lagi ya kan. Pokoknya datang aja dulu 27 Januari 2018 gaes!

Info lengkap bisa cek:
Instagram @allianzindonesia 
atau cari tagar #allianzsweatchallenge di Twitter

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In

5 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Kuliah Sambil Kerja

Gawe App. Dok: pribadi
Menjadi mahasiswa adalah masa-masa mencari jati diri. Mulai dari mau cari teman yang seperti apa hingga kegiatan luar kampus yang diminati dan memberikan feedback yang positif.

Beruntungnya, saya menemukan organisasi intra kampus yang memberikan banyak ilmu menulis berita. Namanya Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut UIN Jakarta dengan lingkungan pertemanan yang juga sehat. 

Pernah tergabung di sini adalah sebuah keputusan yang tepat karena ternyata ilmu yang saya dapat bisa memberikan kehidupan bagi saya di masa depan. Ya seperti sekarang ini, hidup dari menulis, lalu dibayar. Asik kan? Hehehe.

Pengalaman pertama tulisan saya dikasih harga adalah ketika tahun kedua kuliah saya memutuskan bekerja di sebuah majalah ekonomi dan bisnis. Kala itu, saya diajak teman untuk masukin lamaran ke sana dan diterima. Itu tahun 2012, dengan bayaran per bulan sekitar Rp 2 juta, waw!

Meski melelahkan karena harus kuliah, organisasi, dan nyambi kerja dalam waktu bersamaan, tapi senangnya minta ampun karena selain dibayar dengan upah segitu (waktu itu nominalnya gede banget untuk seorang mahasiswa), banyak pengalaman di lapangan yang saya dapatkan.

Dari situ, saya berpikir menjadi mahasiswa memang harus banyak kegiatan, apalagi kalau ternyata kegiatan itu menghasilkan uang dan bisa membantu kuliah kita jadi mandiri.

Sayangnya, jalan yang saya lalui itu enggak mudah. Ada yang harus dikejar dan dikorbankan secara bersamaan. Karenanya, biar kamu enggak kebablasan kuliah sambil kerja, berikut 5 tips yang harus diperhatikan saat kuliah nyambi kerja ala Ema Fitriyani:

Sebisa Mungkin Cari Pekerjaan yang Tidak Ganggu Jam Kuliah
Ini klasik banget sih. Tapi ya memang cuma kamu yang tau kapan waktu terbaik untuk bisa menyeleraskan antara kuliah dan pekerjaanmu. Mau itu pekerjaan yang bisa kamu lalukan di rumah, mobile, atau keluar, alias ke kantor, kamu harus pintar membagi waktu.

Waktu itu, saya mengakalinya dengan mengambil beberapa mata kuliah di kelas lain yang saya anggap akan memberikan waktu kosong jadi bisa saya gunakan untuk liputan ke luar. Atau, saya ambil mata kuliah pertama pagi hari, biar saya ada waktu kosong pas jam makan siang yang bisa dipakai untuk langsung ke lokasi liputan.

Karena saat itu, kerja sambilan yang saya pilih adalah menjadi wartawan, jadwal setiap harinya adalah tentatif. Kadang jam kuliah diganti waktunya atau jadwal liputan yang digeser-geser.

Kalau sudah begini, tinggal pintar-pintarnya kamu untuk bisa memberikan penjelasan ke dosen atau atasan di kantor bahwa kondisinya begini sehingga harus begitu, dsb. Kalau alasannya yang kita berikan masuk akal, bisa saja dikasih pemakluman oleh mereka :) 

Pilih Pekerjaan yang Kamu Sukai
Kalau Walikota Bandung Ridwan Kamil bilang pekerjaan yang paling asik adalah hobi yang dibayar, ya emang bener sih! Apapun yang kamu lalukan, kalau itu didasari dari kesukaanmu melakukan itu, semua akan mudah saja sekalipun tugas yang dikerjakan melelahkan.

Saat itu, hari-hari yang saya jalani kurang lebih hampir 10 bulan, melakoni 3 aktivitas sekaligus itu bikin badan pegel. Tingkat kestresan pun meningkat (versi sendiri) tapi entah kenapa saya happy. Padahal, pagi kuliah, agak siangan kadang langsung ke lokasi liputan atau masih berkutat di kampus kerjakan tugas. Malammya, kalau lagi ada agenda di LPM Institut, ya harus ke sana. Sampai kosan kira-kira sudah jam 12 malam. Besoknya harus kuliah, kerja lagi, organisasi, begitu terus hahaha.

Ya tapi happy-happy aja karena memang itu dunia yang sangat dinamis yang saya suka berada di dalamnya :)

Semua kembali lagi diri masing-masing, apakah kamu suka dengan apa yang kamu lakukan atau apapun itu, tidak masalah selagi bisa menghasilkan?

Sesekali Mengobrol dengan Dosen Kalau Kamu Sedang Nyambi Kerja
Ini bukan soal gagahan-gagahan atau tampak hebat di depan dosen. Ini tentang lobi-lobi kamu yang bisa saja dosen bisa menerimanya.

Buat saya hidup ini tentang negosiasi. Sejauh mana kamu bisa berdamai dengan dirimu. Bukan cuma soal hati yang rapuh harus nerima kenyataan ditinggal pergi seseorang tapi perkara tugas mata kuliah belum kelar pun perlu ada negosiasi, hehe. Perlu ada komunikasi, biar apa? Biar bisa menentukan langkah selanjutnya. Duh jadi muter-muter gini sih.

Intinya gini, ketika ada waktu mengobrol dengan dosen, kamu bisa utarakan bahwa saat ini kamu sedang nyambi kerja sebagai x atau bekerja di perusahaan y. Kapan bisa mengobrol tentang hal itu? 

Misal saat dosen meminta kamu dan teman-teman datang seminar jam 12 siang, tapi kamu bisa sampaikan bahwa kamu datang jam 13 siang karena paginya harus liputan, disuruh kantor. Toh biasanya kalau seminar jam 12, didahului makan siang lalu baru akan mulai jam 13 kan?

Atau ketika sedang bimbingan skripsi, saya sering banget izin dulu karena ada jadwal kerja jam segini, jam segitu. Pokoknya pintar-pintar cari celah saja. Syukur-syukur dosen bisa terima kan. Kalau enggak, bagaimana? Ya risiko. Inilah yang saya sebut "harus ada yang dikejar dan dikorbankan sekaligus".

Semua pilihan ada di tanganmu.

Ingat Tujuan Awal Kuliah: Harus Lulus!
Sudah dapat pengalaman dan ilmu di lapangan, dapat uang lagi! Uangnya bisa dipakai beli sepatu bermerk pula. Nikmat mana yang kau dustakan wahai anak kuliah semester 4? Hehehe.

Satu hal yang enak dari kuliah sambil kerja dengan bayaran segitu adalah kita bisa sedikit bersenang-senang. Ya bisalah sekali-dua kali menghadiahi diri sendiri meski hadiah itu mungkin saja hal yang biasa buat orang lain. Selain itu, bisa bayar uang semester kuliah sendiri dan keluar rumah enggak minta uang ongkos dan jajan ke orangtua waktu itu jadi kebahagiaan sendiri. Cukup bahagia karena ikut sedikit mengurangi beban mereka.

Tapi... tentu saja jangan terbawa arus. Mentang-mentang sudah bisa menghasilkan uang, jadi lupa tujuan utama kuliah: harus lulus dan wisuda.

Terus bagaimana nasib saya? Lulus enggak kuliahnya? 
 Alhamdulillah lulus Mei 2017. Waktu yang sangat lama untuk sebuah wisuda sebenarnya :)

Di part ini, saya sepertinya salah langkah. Oh bukan, bukan salah. Tapi terlalu lama melangkah dan sibuk bekerja sebagai copywriter jadi ketika mau garap skripsi lagi, sudah kelelahan. Akhirnya butuh waktu 7 tahun buat lulus. Sebuah kejadian yang kalau bisa jangan dicontoh tapi yaaa setiap kejadian, tentu ada alasannya masing-masing hehehe.
Jadi, inget ya, jangan kelamaan lulus!

Pakai Gawe App Biar Tepat Menemukan Pekerjaan
Karena sekarang jamannya serba pakai aplikasi, ternyataaa nyari kerja sambilan pun bisa pakai itu. Asli, ini sih enak banget. Kamu enggak usah panas-panasan cari kerja keluar, merhatiin papan pengumuman di tiap fakultas untuk cek apakah ada lowongan freelance atau tidak.

Serius, kamu tinggal unduh aplikasinya gratisnya di Playstore via Androidmu dengan keyword Gawe. Nanti akan muncul aplikasi warna kuning dengan logo huruf "g". Aplikasi pencari kerja GaweDulu ini baru  diluncurkan 17 November 2017 kemarin! Jadi masih fresh from the oven, makanya wajib banget kamu coba, siapa tahu bisa bantu kamu bertemu jodoh (pekerjaan) ya kan?

Cara pakai aplikasi ini juga mudah dan friendly banget. Kamu tinggal sign up, isi biodata (termasuk ktp dan fotomu), jadi deh!

Kamu bisa berselancar kapan saja di aplikasi ini buat cari pekerjaan tambahan. CEO Gawe App, Elroy Hafidi Hardoyo mengaku aplikasi ini dibuat akan bisa mempertemukan antara pencari kerja dan penyedia lapangan pekerjaan dalam satu genggam digital.

Yang ditekankan dalam aplikasi ini adalah para pencari kerja yang realtime, yang memang lagi butuh pekerjaan dalam waktu dekat. Makanya, menurut saya aplikasi ini cocok banget buat mahasiswa yang mau nyambi kerja.

Pilihan kuliah sambil GaweDulu ini balik lagi ke diri masing-masing yaaa. Kalau kamu merasa bisa mengatur dengan baik waktunya, silakan dicoba. Yang pasti, kamu yang tau diri dan kapasitasmu. Semua semakin mudah kalau kamu pakai Gawe App :)

Selamat mencoba, para mahasiswa!

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik Review & Opini

Berencana Menikah dalam Waktu Dekat? Mampirlah Sejenak ke EduFair!

Setelah resmi menyandang gelar sarjana strata satu Mei kemarin, pertanyaan soal kapan saya akan menikah mulai mencuat. Mula-mula saya tanggapi dengan senyuman. Setelah 5 bulan lulus pun, ya tetap saya tanggapi dengan senyuman bahkan cengiran. Terus kenapa?

Enggak pernah sih sekalipun marah ditanya begitu. Malah, kadang diam-diam saya aminkan juga. Siapa juga yang enggak mau ketemu pasangan halalnya kan?

Ngomongin soal nikah memang sedap-sedap bikin baper  laper sih. Kalau dianalogikan sama seperti bangunan bersejarah Mesir, Piramida, kali ya. Awalnya, mau nikah karena baper lihat teman kelas sudah pakai cincin lamaran. Terus alasan lainnya karena lagi buka IG, eh muncul postingan cium kening pasangan halal di media sosial, dan alasan-alasan lainnya hingga puncak teratas. *Duh kok geli sendiri >.<

Di SunLife EduFair 2017 juga hadir beberapa public figure. Mereka berbagi pengalaman dalam mendidik anak, termasuk masalah biaya pendidikan. Sumber foto: pribadi.
Suasana saat keluarga Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck sharing tentang mengasuh Bjorka, anak mereka. Sumber foto: pribadi.
Kalau dari sisi relijiusitas, di Islam sendiri memiliki lima hukum tentang menikah. Pertama, pernikahan hukumnya wajib jika orang tersebut sudah mampu melangsungkan pernikahan tapi nafsu secara jasmaninya sudah tinggi, untuk menghindari maksiat, dia wajib menikah.

Kedua, pernikahan hukumnya sunnah jika nafsunya sudah tinggi tapi masih bisa menahan diri dari perbuatan maksiat. 

Ketiga, pernikahan hukumnya haram jika seseorang tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya kelak.

Keempat, pernikahan hukumnya makruh jika orang tersebut lemah syahwatnya dan tidak mampu menafkahi calon istrinya sekalipun si perempuan kaya raya dan bisa menanggung beban hidup suaminya kelak.

Kelima, pernikahan hukumnya mubah jika laki-laki yang tidak terdesak untuk menikah tapi dia menikah dengan alasan-alasan yang diharamkan.

Kelima poin di atas CMIIW ya, soalnya lupa-lupa ingat pas pelajaran ngaji dulu. Intinya, ada banyak alasan yang melatarbelakangi kenapa harus segera menikah atau menundanya dulu. Semua balik lagi ke pribadi dan kondisinya masing-masing.

Terus Bagaimana dengan Saya?

Seperti yang sudah pernah saya jelaskan di edisi curhatan sebelumnya, menikah itu sakral. Banyak hal yang harus dipikirkan, dirundingkan, dan dipersiapkan.

Pemahaman tentang cara mendidik anak menjadi satu dari sekian banyak hal yang coba saya pelajari secara sejak saat ini. Setiap kali lihat kecil, apalagi ketika merek masih bayi, bawaanya pengen dekat-dekat terus, lucu sih!

Nah, tapi gimana nih pas sudah batita, masuk TK, naik ke SD, SMP, SMA, sampai kuliah? Bukan lagi anak kita lucu atau enggaknya, tapi intinya, pendidikan seperti apa sih yang perlu saya ajarkan ke anak saya kelak?

Saya jadi ingat quote-nya Dian Sastro yang sempat viral dan sampai saat ini dijadikan sabda bagi perempuan-perempuan berpendidikan tinggi tapi berencana memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus sendiri anaknya di rumah.

Yep, Mbak Dian yang cantiknya enggak pernah pudar itu pernah bilang kalau,
“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidika tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas".

Sumber foto di sini
 Saya sendiri setuju banget dengan apa yang dibilang Mbak Dian itu. Pendidikan memang menjadi salah satu gerbang terbentuknya karakter anak-anak bangsa, termasuk anak saya kelak. Perbedaan mendasarnya saya rasakan sendiri di keluarga. Memiliki orangtua yang pendidikanya hanya sampai SD sempat membuat saya membandingkan orangtua saya dengan orangtua sahabat saya ketika SMA.

Ada banyak sekali perbedaan antara apa yang saya terima dan sahabat saya terima di keluarga, terutama dari segi pendidikan. Meskipun begitu, orangtua saya tetap yang terbaik dan terhebat bagi saya dan adik-adik. Justru dengan usaha kerasa mereka menguliahkan anak-anaknya menjadi bukti bahwa mereka ingin anak-anaknya satu-dua-tiga-empat langkah lebih maju dari mereka. Duh, jadi sedih nulis bagian ini :”(

Makanya, saat tahu ada pameran pendidikan dari SunLifeEduFair 2017 di Mal Kota Kasablanka minggu lalu, saya tertarik banget buat datang. Pameran pendidikan yang diadakan sejak 20-22 Oktober 2017 ini menampilkan banyak pameran berbagai lembaga pendidikan yang terbaik di kelasnya.

Mulai dari SDN Tarakanita 5 Jakarta, Al-Azhar, Bina Nusantara School, dan banyak lagi sekolah-sekolah keren lainnya di sana. Saya sendiri datang di hari terakhir, Minggu, karena Jumatnya masih kerja dan Sabtu nemenin bapak di rumah sakit.

Pertama kali datang ke sana, booth yang saya datangi adalah SDN Tarakanita 5 Jakarta! Booth-nya menarik karena menyuguhkan rakitan yang dirangakai sedemikian rupa. Mereka menamainya Gigo Toys! Untuk ukuran anak SD 6 yang bikin, itu sih keren banget. Karena rakitannya ini pun, mereka sampai ikut kompetisi di Cina dan dapat penghargaan Best Performance of Overseas di Green Mech, Cina, tahun ini!
Ini dia Gigo Toys! Keren enggak? Sumber foto: pribadi.
Kalau ini dedek-dedek yang bikin Gigo Toys! Saluteee. Sumber foto: pribadi.

Orangtua Peka, Anak Suka

Hobi menjadi salah satu aspek yang bisa membentuk karakter anak. Bahkan, jika diseriusi, hobi bisa menjadi sumber masa depan yang cerah! Begitu juga yang saya dapatkan saat bergeser dari panggung utama ke panggung mosaic, masih di acara #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik.

Di panggung mosaic, ada dua event yang saya senangi! Workshop tentang mengajarkan anak menjadi reporter dan kompetisi coding.

Untuk workshop tentang mengajarkan anak menjadi reporter, pihak panitia memanggil dua reporter andalan dari MNC Grup, media official yang bekerja sama dengan #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik dalam acara ini.

Dalam kegiatan ini, anak-anak yang didampingi orangtuanya diajak untuk berani tampil di depan banyak orang. Tentu saja dengan melaporkan suasana di sekitar panggung alih-alih sebagai reporter.
Beberapa anak maju ke depan. Perempuan dan laki-laki. Ada yang tampak malu dan ragu sehingga harus dipandu perlahan oleh salah satu presenter MNC yang hadir sebagai bintang tamu, ada juga anak yang memang memiliki kepercayaan yang tinggi untuk memegang mic dan belajar melaporkan kejadian di depan banyak orang. Meskipun yang mereka sampaikan enggak nyambung, hehehe.

Anak-anak diajari jadi presenter di SunLife Edu Fair 2017. Sumber foto pribadi.
Anak-anak diajari jadi presenter di SunLife Edu Fair 2017. Eh dia lucu banget! Sumber foto pribadi.
Calon presenter cantik masa depan nih! Sumber foto: pribadi.
Kalau yang ini? Ahaha, ini saya yang bulan depan akan jadi bagian dari industri berita di Indonesia. Uhuk!
Tapi saya salut! Sebagai penonton yang hadir, pikiran saya melayang jauh. Bagaimana ya kalau anak saya kelak suka dengan dunia jurnalis? Seru juga kayaknya. Tapi, sementara ibunya dulu yang saat ini sedang memulai perjalanannya sebagai jurnalis di Kumparan bulan depan, hehe. Lah, jadi curhat gini sih.

Selain workshop menjadi reporter untuk anak kecil, ada juga kompetisi coding yang difasilitasi oleh Ektizo Coding. Hasil dari tanya-tanya saya ke mbak Jasmine yang ada di booth, Ektizo Coding adalah sekolah kursus yang mengajarkan tentang ilmu coding seperti bikin situs sampai buat aplikasi game di smartphone. Menariknya, banyak sekali peserta yang datang di kompetisi ini yang masih belia, masih SD!

“Gila nih, gue baru tau coding-coding-an aja pas kuliah. Itu juga yang dasar banget. Lah mereka udah dari SD?” pikir saya dalam hati.

Kata Mbak Jasmine, kebanyakan yang datang ke Ektizo, ada yang dilatarbelakangi dari orangtua yang kesal anaknya kecanduan game. Makanya dimasukan ke Ektizo supaya hobinya bisa dikembangkan.

“Jadi, di sini yang tadinya anak-anak pada hobi main game, sekarang jadi belajar bikin game sendiri. Output-nya bukan lagi sebagai gamer tapi pencipta game!” katanya.

Mereka, dedek-dedek gemesss ini lagi lomba coding! Kodein kakak dek, kodein :( Sumber foto: pribadi.
Sampai minta brosurnya. Mauuu banget bisa coding demi ngeblog yang lebih baik! Sumber foto: pribadi.
Dari sini saya mikir, wah benar ya, kalau orangtua peka, bisa mengarahkan anak-anaknya ke kegiatan positif yang juga disukai anaknya. Pelajaran yang penting banget buat saya kelak mengurus anak.

Jadi, buat kamu yang berencana menikah dalam waktu dekat, mampirlah sejenak ke #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik karena banyak banget yang bisa dipelajari setelah berumah tangga dan mengurusi pendidikan anak dan biayanya yang enggak sedikit itu :'')

Foto terakhir! Ini bareng beberapa teman blogger yang hadir di sana. Kita diajak oleh Komunitas Blogger Mungil! Lucu ya namanya. Kita juga masih mungil-mungil ya kan? :)))
Buat kamu yang mau baca liputan langsung saya di Twitter saat acara ini, bisa kepoin di sini ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments