Tuesday, September 12, 2017

Anak Muda, Kini Berwakaf #LebihBaik Bisa dengan Uang Tunai!

Berwakaf pakai uang tunai? Kedua alis saya berkerut. Apa bisa berwakaf pakai uang tunai? Jawabannya ternyata bisa! Tapi bagaimana caranya? Apa sama seperti zakat dan sedekah?

Sebagai anak muda yang di tangan selalu ada smartphone, saya merasa tidak berguna. Sebabnya, dengan kecanggihan teknologi yang ada, kecepatan sinyal 4G saat ini, dan intesitas membuka media sosial serta berita online yang intens, saya justru ketinggalan banyak informasi, salah satunya berwakaf yang bisa dilakukan dengan uang tunai.

Apakah ada teman-teman muda di sini yang mengalami hal dengan saya? Baru tahu kalau wakaf itu bisa dilakukan dengan uang tunai?

Pengetahuan wakaf saya terima sejak SD, tapi hanya sebatas bahwa wakaf itu dilakukan hanya dalam bentuk fisik. Yang sering dijadikan contoh misalnya wakaf tanah untuk pembangunan masjid atau sebidang tanah lainnya untuk membuka jalan setapak. Sayang seribu sayang hanya itu yang saya tahu bertahun-tahun.

Setelah mengetahui bahwa berwakaf bisa dilakukan dengan uang tunai atau disebutnya wakaf tunai, saya langsung cari informasi ini. Bukan apa-apa, sejak kecil saya diajarkan amalan-amalan apa yang tak putus bahkan ketika kita sudah meninggal, salah satunya wakaf dan sedekah. Makanya, merasa saat ini saya sudah memiliki penghasilan, saya pun tertarik untuk bisa mewakafkan sedikit harta yang saya miliki untuk menjadi bekal saya di akhirat kelak.

Lalu Seperti Apa itu Wakaf Tunai?
Di luar dari banyaknya mahzab atau pendapat ulama besar tentang pro kontra wakaf tunai, aturan wakaf tunai itu sendiri, untuk di Indonesia sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia pada Mei 2002. Sementara Pemerintah pun, dalam hal ini Kementrian Agama sudah memasukannya fatwa tunai ini ke dalam Peraturan Menteri Agama no.4/2009 dan Undang-Undang nomor 41 tahun 2004 diatur dalam Pasal 28 sampai Pasal 31.

Sesuai dengan namanya, wakaf tunai adalah wakaf yang dibayarkan dengan uang tunai. Tapi apakah berarti membayarnya seperti zakat atau sedakah? Bagaimana penyaluran dan pemanfaatannya untuk jangka panjang? 


Di sinilah akhirnya saya sedikit tercerahkan ketika mendengar penjelasan dari Srikandi Utami atau biasa dipanggil Ibu Aan, Head of Syariah Unit Sun Life Financial Indonesia dalam acara Jumpa Blogger Sun Life, Mudahnya Berwakaf Melalui Asuransi Syariah di The Hook, Jakarta, Sabtu lalu (9//9). Tak hanya Ibu Aan, dalam acara diskusi santai tapi serius itu, hadir juga H.M. Nadratuzzaman Hosen dari Vice Chairman Badan Wakaf Indonesia, dan Achmad Emir Farabie, Senior Manager Digital dan Social Media Marketing Sun Life Financial Indonesia.

Ibu Aan menjelaskan bahwa Sun Life Financial sebagai perusahaan jasa keuangan asuransi memiliki penyaluran untuk berwakaf #LebihBaik dengan uang tunai. Bentuknya, kata dia bisa melalui 2 produk unggulan syariah Sun Life, yakni asuransi jiwa syariah dan investasi syariah.

“Syaratnya asal mereka memiliki polis asuransi jiwa syariah atau produk investasi di kami,” katanya pada sekitar 50 blogger yang diundang.

Bagi saya, ini menarik. Kita bisa berwakaf tunai dari tagihan asuransi jiwa syariah yang kita miliki di perusahaan yang sudah berdiri dari 150 tahun ini.

Tapi Bagaimana Sih Caranya?
Sesuai prosedural, yang dilakukan untuk wakaf tunai, seperti:

- Terlebih dahulu harus memiliki polis asuransi jiwa syariah Sun Life Financial Indonesia.
- Setelah itu, calon polis asuransi diwajibkan mengisi beberapa surat seperti siapa penerima manfaat dari wakaf (ahli waris), lembaga wakaf yang ditunjuk. Dalam hal ini, Sun Life sudah bekerja sama dengan 3 lembaga wakaf besar di Indonesia, yakni: Badan Wakaf Indonesia, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat.
- Mengisi form Ikrar Wakaf
- Peserta mengisi jumlah yang diwakafkan pada form withdrawal
- Sun Life mengirimkan Dana Investasi langsung ke Mitra Sun Life
- Peserta melakukan konfirmasi penerimaan dana wakaf ke Nazhir mitra Sun Life
- Nazhir menerima konfirmasi Peserta dan melakukan ikrar wakaf
- Nazhir mengirimkan sertifikat wakaf ke Peserta

Terkait besarannya berapa, nanti saya kroscek dulu ya. Kemarin masih agak bingung di bagian sini. Tapi saya janji buat make sure ke pihak Sun Life berapa dana atau biaya yang ditarik untuk wakaf dari asuransi jiwa syariah kita. 

Bekal Akhirat yang Semakin Mudah Dicapai
Narasumber kedua dalam acara Berwakaf #LebihBaik oleh Sun Life Financial Indonesia adalah H.M. Nadratuzzaman Hosen dari Vice Chairman Badan Wakaf Indonesia. Sebagai petinggi WBI, dia menyampaikan bahwa saat ini teknologi semakin berkembang, karenanya kenapa berwakaf tidak bisa mudah dilakukan?

Dengan adanya wakaf tunai, menurutnya, bekal akhirat akan semakin mudah dicapai. Ya, salah satunya dengan wakaf berupa uang yang manfaatnya juga sama dengan wakaf berupa barang asal bisa menemukan jasa keuangan asuransi atau wakaf terpercaya. Sun Life salah satunya.

Apalagi, menurut berita yang saya cari, bank BUMN juga sudah meluncurkan fitur untuk membayar wakaf tunai ini. Adalah Bank BTN yang bekerja sama dengan Nahdathul Ulama meluncurkan aplikasi android untuk membayar wakaf tunai pada Juni 2017 lalu. Nama aplikasinya “Mobile Wakaf Uang NU”.


Direktur Utama Bank BTN Maryono, yang saya kutip dari bwi.or.id, mengungkapkan dengan aplikasi nasabah bisa melakukan registrasi langsung pada aplikasi tersebut dan menyetorkan uang wakaf dengan metode debit maupun kredit. Wakaf uang yang dibayarkan bisa untuk selamanya maupun berjangka. Untuk wakaf uang berjangka, batasan minimumnya Rp10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. Adapun wakaf uang selamanya tidak ada batas minimumnya.

“Dengan aplikasi ini, semua orang dilancarkan niatnya untuk menjadi wakif," kata Maryono dalam sambutannya.

Nah, bagaimana? Jadi tergugah untuk berwakaf #lebihbaik dengan wakaf tunai? Kalau ia, kamu bisa dapatkan info jelasnya di Sun Life Financial Indonesia.

Menurut saya, meski baru pertama kali mendengarnya, ini program cukup bagus. Pasalnya, dengan ikut berwakaf, sebenarnya kita sedang mengumpulkan pahala untuk di akhirat kelak. Apalagi buat anak muda yang belum berkeluarga, beban hidup masih agak ringan. Jadi, anak muda, yuk berwakaf #LebihBaik!
Read More

Saturday, August 26, 2017

Tips Membuat Konten Viral dan Berkualitas, Kaum Milenials Harus Tahu!


Hai, generasi milenials, apa kabarnya? Sudah unggah apa aja di media sosial kalian hari ini? Atau sudah postingan artikel baru di blog? Pernah enggak sih kepikiran postingan di blog kamu itu berdampak sama pembaca? Minimal ada respon dua arah dari artikel yang kamu buat, buah pemikiran kamu?

Bagi yang aktif nulis di blog dan networking antar blogger juga sudah luas, terlebih kalau yang mampir ke lapaknya juga ramai, pasti sedikitnya pernah merasakan diskusi bareng pembaca terkait tulisan kita. Begitu juga bagi kamu yang aktif bikin konten di YouTube, yang jumlah subscribes dan views udah banyak.

Tapi gimana nih buat kamu yang baru banget terjun ke dunia blog atau youtube alias nyubi? Mau nulis apa ya biar blog atau konten YouTube-nya enggak cuma dinikmati sendiri? Harus seperti apa ya kontennya supaya menarik dan bonusnya bisa viral? Uhuk!

Nah, pas banget. Minggu lalu saya diajak main ke kantor Brilio, situs berita anak muda milenials. Mereka punya forum diskusi dua arah namanya #BrilioCorner. Di sana, saya bersama 30 blogger dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB) sharing ilmu tentang konten yang viral dan memanfaatkan media sosial jadi wadah promosinya.

Berikut tips membuat konten viral dan berkualitas yang saya rangkum khusus untuk kalian generasi milenials. Oh ya, di bagian ini, dijelaskan oleh Pemred Brilio Mas Titis Widyatmoko dan Reporter Brilio Mas Andri. Simak kuy:

1. Konten Harus Original
2. Bisa Juga Bersumber dari Konten yang Sudah Ada di Media Lain
3. Tulis Ulang dengan Gaya Lebih Menarik dan Beda Sudut Pandang
4. Gambar Adalah Kekuatan, Jadi Pastikan Ada!
5. Enggak Cuma Konten Ngakak, tapi Inspiratif dan Edukatif

Itu dia tips untuk bikin artikel di blog atau video di akun  YouTube-mu. Nah, kontens udah dibuat, udah diunggah juga. Kayaknya kurang pas kalau belum dibagikan di akun media sosial ya? Ini penting guys biar makin banyak yang tau kalau kamu baru saja bikin konten yang mungkin saja menarik bagi followers-mu dan siapa tau emang ada yang diam-diam menantikan karyamu, uhuk!

Nah, simak kuy tips kedua di #BrilioCorner tentang optimalisasi media sosial dari Social Media Manager-nya Brilio Mas Aldio Judysa.
1. Harus Punya Akun Media Sosial
2. Kenali Keunggulan Masing-masing Paltform Media Sosial
3. Bikin Fan Page di Facebook
4. Wajib Gunakan Instagram for Bussiness
5. Konsisten untuk Posting Foto yang Menarik Perhatian Followers-mu
6. Have Fun with Your Account

Itu dia guys rangkuman singkat yang saya dapatkan selama ikut #BrilioCorner di Markas Brilio Net di Kebayoran Baru.

Dari penjelasan orang-orang Brilio, ada yang sudah saya tau sebelumnya tapi masih minim info banget. Jadi, Sabtu lalu benar-benar wiken produktif. Thanks to Komunitas Indo Socialpreneur yang ajak saya dan di akhir sesi, artikel saya tentang curhat KRL menang, uhuk!

*Sharing ilmunya segini dulu ya guys. Lengkapnya nanti saya lanjutkan :)
Read More

Wednesday, August 2, 2017

Melihat Lebih Dekat Agro Wisata Istana Jambu di Kediri

Pasca Lebaran tahun ini, kamu belum lagi dihadapkan pada rentetan tanggal merah yang sangat tepat dihabiskan dengan melakukan traveling. Namun, tanpa libur panjang tersebut, kamu juga bisa berwisata singkat ke luar daerah asal, loh.

Cara terbaik untuk melakukan wisata singkat tersebut adalah dengan memilih waktu di akhir pekan sekaligus mengambil jatah cuti dari pekerjaan. Dengan begitu, kamu bisa menghabiskan setidaknya 2 hingga 3 hari di kota wisata.

Kediri adalah salah satu kota yang bisa menjadi tempat wisata singkat tujuan kamu kali ini. Lokasinya yang tidak jauh dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Semarang, Bandung, membuat kota ini masih sangat relevan dikunjungi meski tidak dalam masa liburan panjang.

Kamu bisa mencapai kota ini dengan transportasi darat yakni kereta api. Moda transportasi ini menyediakan rute perjalanan dari beberapa kota besar, seperti yang disebutkan di atas. Namun, jika kamu sudah berada di wilayah Jawa Timur, maka kamu bisa tiba di kota ini dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi.

PT KAI (Kereta Api Indonesia) menyediakan tiga kelas kereta api untuk mencapai Kediri, Jawa Timur. Kamu bisa memilih kelas eksekutif, bisnis atau ekonomi, dengan waktu dan stasiun asal pemberangkatan yang berbeda-beda.

Tiket kereta api menuju Kediri bisa kamu dapatkan mulai dari harga Rp200 ribu-an per sekali perjalanan sesuai dengan kelas kereta. Nilai tersebut merupakan harga untuk perjalanan dengan kereta api ekonomi. Sedangkan harga untuk tiket kereta eksekutif bisa mencapai Rp500 ribu-an untuk sekali jalan.

Kamu bisa membeli tiket kereta api tersebut secara online melalui situs web Traveloka. Sebagai salah satu rekanan resmi penjualan tiket online, kamu kini bisa pesan tiket kereta api di Traveloka dengan lebih cepat dan mudah, tanpa harus mengantre di loket keberangkatan. Kalau mau langsung mencobanya, silakan kunjungi: https://www.traveloka.com/kereta-api.

Jika tiket elektronik sudah kamu pegang, maka kamu hanya perlu menukarkannya dengan tiket asli saat keberangkatan nanti. Cara ini akan sangat membantu kamu menghemat waktu sebelum keberangkatan dengan kereta api nanti.

Nah, jika urusan tiket sudah selesai, kini saatnya kamu mempersiapkan rencana perjalanan selama di Kediri, bukan?

Ya, meski memiliki luas yang tidak terlalu besar, kota yang juga terkenal dengan sebutan Kota Tahu ini punya beberapa obyek wisata yang menarik hati para wisatawan. Salah satunya adalah area agro wisata di Istana Jambu, Kediri.

Berbeda dengan kebanyakan tempat wisata lainnya, Istana Jambu menghadirkan konsep cinta lingkungan kepada setiap pengunjung yang hadir di sana. Lewat konsep kekinian yang diusungnya, Istana Jambu patut menjadi salah satu lokasi yang kamu kunjungi saat berada di Kediri.

Seperti apa keunikan lokasi wisata yang satu ini? Simak ulasan berikut ini:
1.      Berburu Jambu
Sesuai dengan namanya, area wisata ini memiliki ratusan pohon jambu dengan buah yang lebat. Di sini kamu bisa memetik dan memakan buah jambu langsung dari pohonnya, loh.

2.      Wisata Kuliner
Belum kenyang dengan ‘kuliner’ jambu yang kamu petik sendiri, kamu juga bisamemuaskan rasa lapar dan dahaga dengan berwisata kuliner di area kuliner yang telah disediakan di tempat ini.

3.      Area Playground
Jika kamu membawa anak atau keponakan dan adik, maka berwisata bersama mereka juga bisa dilakukan di tempat ini. Kamu bisa menemukan berbagai permainan anak, yang bisa dinikmati oleh mereka di sana.

4.      Area foto
Selain menawarkan konsep ekowisata yang sangat menarik, pihak Istana Jambu juga telah menyediakan area-area unik yang bisa kamu jadikan sebagai tempat mengabadikan gambar atau sekadar berswafoto.

Kamu bisa menemukan berbagai topi petani (caping) yang ditata dengan apik menyerupai tenda yang menutupi area jalan. Kamu bisa mengabadikan gambar dengan berlatarbelakang caping tersebut dari bawah atau kejauhan.

Tak hanya ornamen caping, kamu juga bisa menemukan gubuk-gubuk kecil dengan kursi bean bag yang tersedia tak jauh dari gubuk tersebut. Kamu bisa menghabiskan waktu dengan bercengkarama di hamparan rumput nan hijau sambil menikmati pemandangan di sekitar lokasi wisata.

Tersedia pula alat foto seperti payung dan frame media sosial yang membuat hasil foto kamu semakin ciamik. 


*Sumber foto di sini
Read More

Sunday, July 30, 2017

Karena Bersyukur Adalah Kunci




Pasca gagal nonton konser CNBlue 2017 di ICE BSD, banyak yang saya pikirkan. Apa yang salah? Apa yang kurang? Apa yang harus saya perbaiki? Pertanyaan-pertanyaan itu bergulir, silih berganti, ke kanan dan kiri.

Kenapa saya harus kecewa? Atau justru wajarkah bila saya kecewa? Apakah begini kehidupan orang dari tahun ke tahun, semakin banyak rintangan, semakin berat untuk memenuhi kebutuhan. Atau, jangan-jangan semua hanya karena hilangnya rasa syukur kita sebagai manusia?


Menjelang saya diwisuda sampai detik ini, setidaknya ada 3 orang yang menyampaikan perihal rasa bersyukur akan hidup yang sedang kita jalani kepada saya di waktu dan tempat berbeda. Padahal saat itu, saya tak lagi cuhat tentang hal itu.


Pertama, saat fakultas saya mengadakan perpisahan pelepasan mahasiswanya menuju gerbang wisuda, Mei 2017 lalu. Adalah Pak Ahmad Thib Raya, Dekan FITK, yang mengatakan bahwa “janganlah kalian merasa iri pada kenikmatan orang lain. Pandanglah ke bawah. Mudahkanlah tangan untuk membantu orang lain, maka rahmat Tuhan akan turun”. Saking merasa mengenanya kalimat itu, saya sampai mencatatnya di notes hp.


Dari ucapan itu, Pak Thib ingin menyampaikan apa yang kita lihat di dunia luar sebagai orang yang sudah bergelar sarjana, jangan dipenuhi rasa buta pada rejeki yang diterima orang lain. Jangan iri tapi syukuri. Lalu berbuat baiklah, bertakwa, bekerja sungguh-sungguh, dan bergau dengan orang lain di luar dengan baik.


Kedua, peringatan agar saya harus lebih banyak bersyukur datang dari mulut seorang ustad, guru mengaji saya bertahun-tahun saat masih sekolah dulu. Namanya Ust Muhammad Sudrajat. Kami memanggilanya Ust. Ajat.


Saat saya sowan ke rumahnya bersama adiknya, hendak menunaikan zakat fitrah sekaligus silahturahmi dan mengucapkan rasa terima kasih sebagai murid ke guru bahwa saya telah menyelesaikan kuliah dan baru saja diwisuda, tiba-tiba saja beliau mengatakan, “syukuri saja yang ada di depan kita saat ini.”


Padahal saat itu, kami hanya membicarakan bahwa saya sudah diwisuda dan masih tetap bekerja seperti biasa. Tidak lebih dan kurang. Tapi ketika dia menyampaikan itu, saya merasa itu disampaikan untuk saya, bukan untuk saya dan adik. Benar-benar kalimat itu, dari matanya, terlihat ditunjukan untuk saya.

Ketiga, salah satu teman kantor yang udah lama banget kenal. Namanya Miftahul Jannah aka Key. Suatu hari saya terlibat percakapan di dalam toilet alias curhat dadakan. Saat itu dia bilang kalau kinerja saya akhir-akhir (menjelang sidang sampai menuju revisi setela sidang) saat under rated di kantor. Bukan lagi enggak maksimal, tapi sangat tidak maksimal. Tapi di saat yang bersamaan saya ingin pindah. Di situlah Key bilang kalau saya hanya perlu bersyukur pada apa yang saya jalani dan dapatkan sampai detik itu.


Belum lama ini, Key juga bilang pada orang-orang di kantor kalau enggak ada orang miskin di dunia ini. Yang ada hanyalah orang kaya dan orang berkecukupan. Kalau hidup dipenuhi rasa syukur, maka enggak bakalan ngerasa miskin secara harta. Yang ada ya mensyukuri hidup itu sendiri. Berusaha semampu kita sambil diiringi ibadah kepada Tuhan. Maka, apapun hasilnya dalam hidup, kamu akan selalu bersyukur.


Kata-kata Key itu emang enggak ditujukan pada saya. Barangkali itu malah jadi self reminder-nya. Tapi semua orang memang perlu pemahaman tentang ilmu hidup yang satu ini agar tidak gusar. Agar tetap bisa bahagia meski banyak hal yang belum tercapai.


Itu juga yang coba terus saya munculkan. Saat di kereta, hendak pergi atau pulang kantor. Ketika berjalan sendirian maupun di tengah keramaian.


“Saya harus bersyukur. Iya, bersyukur pada kehidupan saat ini. Detik ini dan hari besok yang penuh tantangan.”


Allah pasti punya maksud kenapa saya enggak bisa nonton konser CNBlue atau ikut liburan ke Merbabu. Dua di antaranya sudah terjawab. Pertama, 4 hari lalu Bapak masuk rumah sakit. Harus dirawat inap. Tengah malam itu jadi pengalaman pertama kali dan berharga buat kami sekeluarga, terutama saya. Kondisinya, perut dan pinggang Bapak kesakitan. Hebat, sangat hebat rasanya. Kami bawa ke rumah sakit di daerah Cilendek dengan bantuan saudara yang punya ambulans di wilayahnya.


(Bersambung)


*Ini dilanjut nanti ya soalnya besok Senin dan seharian tadi keluar jadi enggak kuat begadang kayaknya, hahaha. Intinya, saya hanya perlu bersyukur maka semuanya akan baik-baik saja, termasuk masalah baru yang timbul ini: perasaan! Hahaha.


Oh iya, satu lagi. Ingatlah Allah, karena kalau kamu sedang merindukan seseorang, sesungguhnya Allah lebih rindu padamu. Begitu juga ketika kamu berharap pada seseorang, hanya Allah-lah tempatmu sebaik-baiknya berharap. Berharaplah pada-Nya. Mintalah pada-Nya. Karena Dia-lah kunci semua pintu keinginan. 

Kredit foto di sini
Read More

Sunday, July 16, 2017

Gagal Nonton Konser CNBlue 2017 dan Liburan yang Juga Tertunda



Mungkin ini malam minggu tersendu di tahun 2017 dan mungkin juga ini akan menjadi postingan sangat emosional di bulan Juli.

Bukan karena belum juga punya pacar atau sejenisnya, tapi karena enggak bisa nonton konser Between Us CNBlue 2017 di ICE BSD, Tangerang Selatan, kota yang teramat dekat untuk saya singgahi hanya dalam beberapa jam saja. Dan juga tak bisa menghibur diri dengan ikut travelling ke Merbabu. Sedih. Sedih banget.

Pertama, tentang CNBlue. Mereka adalah band Korea pertama yang saya suka. Lebih tepatnya karena saya naksir dengan gitarisnya dalam drama Gentleman Dignity. Namanya Lee Jong Hyun. Band mereka beranggotakan 4 orang. Jung Yong Hwa sebagai leader group, vokalis utama, gitaris, dan pianis juga. Dia juga yang paling tua di antara keempat anggota.

Kedua, ada Lee Jong Hyun. Laki-laki kelahiran Busan, Korea tahun 1990-an ini yang bikin saya suka dengan CNBlue. Secara fisik, dia memenuhi kriteria sebagai laki-laki cakep. Perawakannya tinggi dan parasnya yang ganteng. Imejnya pun menarik, enggak neko-neko, kalem cenderung jaim. Tapi bukan itu yang sepenuhnya saya suka, meski setiap lihat foto-fotonya di Instagram bikin meleleh sih, secuek apapun dia.

Yang paling bikin saya suka adalah suara dan kepribadiannya! Meski Yonghwa jadi vokalis utama band ini, tapi part Jonghyun nyanyi selalu saya tunggu. Kepribadian Jonghyun juga baik. Ibarat anak SMA, Jonghyun bukan anak yang bandel atau brandalan, meski bukan juga anak yang cupu. Dia punya kepribadian yang asik, sopan, dan tau betul tindakan apa yang akan membuat citranya jelek sehingga tidak dia lakukan. Rasa suka itu semakin lengkap karena gitaris, posisinya yang membuat saya sebagai perempuan mudah suka.

Oh iya, dua anggota lainnya ada Kang Minhyuk sebagai drummer dan Lee Jung Shin sebagai basist. Kedua cowok ini juga ganteng sama seperti deretan artis cowok Korea lainnya. Tapi, setiap kali saya naksir artis Korea entah habis nonton drama atau suka aksi panggungnya, pada akhirnya hanya ke Jonghyun-lah saya kembali. Hahaha.

Kedua, liburan yang tertunda. Salah seorang teman saya di kampus mengajak saya naik gunung ke Merbabu. Awalnya saya tertarik dan sampai malam ini pun masih sangat-sangat tertarik karena udah lama banget enggak naik gunung dan ingin liburan juga. Tapi sayang, meski biaya untuk liburannya hanya sekitar 1/4 dari harga tiket konser, saya enggak bisa ikut. Sesuatu yang juga cukup bikin nyesek karena harusnya saya bisa jalan-jalan karena selama saya bekerja dari 2015, enggak pernah sekalipun liburan bareng, jauh, dan lepas sementara dari kerjaan.

Berusaha Realistis
Sejak tau bahwa saya enggak bisa nonton konser CNBlue dan ke Merbabu, saya terus mencari alasan untuk bisa memaklumi kenyataan ini. Satu-satunya alasan yang bisa menguatkan itu semua adalah 2 adik saya, Puput dan Ojan. Seperti yang sudah saya jelaskan di kepsyen Instagram beberapa waktu lalu kalau saya enggak bisa nonton Konser Between Us CNBlue 2017 karena momen datangnya CNBlue bertepatan dengan daftar ulang dan bayaran semesteran mereka. Begitu pun ketika saya mencoba menghibur diri dari gagal nonton konser lantas ikut teman-teman kampus ke Merbabu. Sayang seribu sayang.

Bahwa saya yang akhirnya menanggung semua bayaran sekolah mereka, itu enggak masalah sama sekali. Seperti yang juga pernah saya katakan di postingan blog sebelumnya kalau saya sama sekali tidak keberatan jika hampir semua uang gaji dipakai untuk kebutuhan sekolah dan makan keluarga.

Tapi ini bertepatan dengan jadwal konser mereka datang. 

Bagian paling nyesek bukan karena ada beberapa yang berkata “ah, katanya suka CNBlue, masa enggak nonton konsernya sih”. Itu enggak akan jadi masalah apalagi kalau saya masih berstatus kuliah dan enggak punya uang sama sekali. Tapi ini karena saya sudah bekerja, mendapatkan gaji, THR pun full, sementara tidak bisa banyak yang bisa saya  lakukan untuk bisa melihat mereka secara langsung atau pun ikut menyegarkan otak ke Merbabu dari rutinitas bekerja.

Mau cerita ke keluarga enggak mungkin karena adik saya yang perempuan anti banget sama Korea, bahkan ketika saya putar lagu-lagu Korea, dia enggak suka.  Padahal saya bayarin uang semesterannya dari uang yang tadinya mau saya belikan tiket konser, hahaha.

Mau cerita ke Umi atau Bapak apalagi. Ketika saya bilang mau ke Merbabu saja, ekspresi Umi seperti mikir keras. Saya katakan rencana ini setelah beberapa hari Lebaran. Umi menjawab terserah saja asal ada uangnya. Umi tau saya punya uang sebab masih ada honor menulis saya di opini belum turun, tapi Umi pun berpikir jauh kalau uang itu kemungkinan akan dipakai untuk kebutuhan sekolah di tahun ajaran baru ini.

Honestly, when I saw the first that her expressions, I was cried tapi diam-diam di kamar.

Dua alasan itu saling tarik menarik persis seperti magnet beda kutub. Kadang saya merasa sangat berhak menggunakan uang saya untuk beli tiket atau paling enggak liburan untuk membahagiakan diri sendiri. Kadang saya juga ingin meringankan beban orangtua sekuat tenaga saya.

Saya berusaha untuk enggak-enggak lagi jatuh pada pertanyaan kenapa Bapak tidak bisa berjualan seperti dulu lagi sehingga masih ada dana lain yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Saya benar-benar enggak mau jatuh dalam pertanyaan-pertanyaan itu yang jawabannya enggak bakal saya dapatkan selain: ini sudah takdirnya.

Salahkan saya? Kurang dewasakah saya? Saya berharap ada yang bisa memberikan masukan positif, mendukung bahwa yang saya lakukan ini benar. Bahwa kalau kamu ikhlas, Dia akan ganti semuanya dengan sesuatu yang tidak kamu duga.

Saya pernah ungkapkan ketidakjadipergian saya ke konser atau pun liburan kepada seseorang dan di saat yang bersamaan, responnya biasa saja. Kadang itu makin membuat saya merasa kalau menumpahkan kesedihan kepada orang lain dan berharapa akan diberi dukungan adalah perbuatan yang lebih dekat pada kesia-siaan. Dan akhirnya, saya lebih suka menumpahkannya di sini, tetap sambil enggak bisa menahan tangisan.

Cengeng ya? Iya biar cepet sadarnya kalau besok, besok, dan besoknya lagi saya harus tetap bekerja dan melajutkan apa yang harus dijalani. Semoga saya bisa semakin dekat dengan rasa syukur-Nya meski harus terlebih dahulu menulis curhatan penuh keluhan. 

Okey, in the end, i want to sleep and trying to clear this sad story tonight. Gnite, everyone!
Read More