In #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik Review & Opini

Berencana Menikah dalam Waktu Dekat? Mampirlah Sejenak ke EduFair!

Setelah resmi menyandang gelar sarjana strata satu Mei kemarin, pertanyaan soal kapan saya akan menikah mulai mencuat. Mula-mula saya tanggapi dengan senyuman. Setelah 5 bulan lulus pun, ya tetap saya tanggapi dengan senyuman bahkan cengiran. Terus kenapa?

Enggak pernah sih sekalipun marah ditanya begitu. Malah, kadang diam-diam saya aminkan juga. Siapa juga yang enggak mau ketemu pasangan halalnya kan?

Ngomongin soal nikah memang sedap-sedap bikin baper  laper sih. Kalau dianalogikan sama seperti bangunan bersejarah Mesir, Piramida, kali ya. Awalnya, mau nikah karena baper lihat teman kelas sudah pakai cincin lamaran. Terus alasan lainnya karena lagi buka IG, eh muncul postingan cium kening pasangan halal di media sosial, dan alasan-alasan lainnya hingga puncak teratas. *Duh kok geli sendiri >.<

Di SunLife EduFair 2017 juga hadir beberapa public figure. Mereka berbagi pengalaman dalam mendidik anak, termasuk masalah biaya pendidikan. Sumber foto: pribadi.
Suasana saat keluarga Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck sharing tentang mengasuh Bjorka, anak mereka. Sumber foto: pribadi.
Kalau dari sisi relijiusitas, di Islam sendiri memiliki lima hukum tentang menikah. Pertama, pernikahan hukumnya wajib jika orang tersebut sudah mampu melangsungkan pernikahan tapi nafsu secara jasmaninya sudah tinggi, untuk menghindari maksiat, dia wajib menikah.

Kedua, pernikahan hukumnya sunnah jika nafsunya sudah tinggi tapi masih bisa menahan diri dari perbuatan maksiat. 

Ketiga, pernikahan hukumnya haram jika seseorang tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya kelak.

Keempat, pernikahan hukumnya makruh jika orang tersebut lemah syahwatnya dan tidak mampu menafkahi calon istrinya sekalipun si perempuan kaya raya dan bisa menanggung beban hidup suaminya kelak.

Kelima, pernikahan hukumnya mubah jika laki-laki yang tidak terdesak untuk menikah tapi dia menikah dengan alasan-alasan yang diharamkan.

Kelima poin di atas CMIIW ya, soalnya lupa-lupa ingat pas pelajaran ngaji dulu. Intinya, ada banyak alasan yang melatarbelakangi kenapa harus segera menikah atau menundanya dulu. Semua balik lagi ke pribadi dan kondisinya masing-masing.

Terus Bagaimana dengan Saya?

Seperti yang sudah pernah saya jelaskan di edisi curhatan sebelumnya, menikah itu sakral. Banyak hal yang harus dipikirkan, dirundingkan, dan dipersiapkan.

Pemahaman tentang cara mendidik anak menjadi satu dari sekian banyak hal yang coba saya pelajari secara sejak saat ini. Setiap kali lihat kecil, apalagi ketika merek masih bayi, bawaanya pengen dekat-dekat terus, lucu sih!

Nah, tapi gimana nih pas sudah batita, masuk TK, naik ke SD, SMP, SMA, sampai kuliah? Bukan lagi anak kita lucu atau enggaknya, tapi intinya, pendidikan seperti apa sih yang perlu saya ajarkan ke anak saya kelak?

Saya jadi ingat quote-nya Dian Sastro yang sempat viral dan sampai saat ini dijadikan sabda bagi perempuan-perempuan berpendidikan tinggi tapi berencana memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus sendiri anaknya di rumah.

Yep, Mbak Dian yang cantiknya enggak pernah pudar itu pernah bilang kalau,
“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidika tinggi karena mereka akan menjadi seorang ibu. Ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas".

Sumber foto di sini
 Saya sendiri setuju banget dengan apa yang dibilang Mbak Dian itu. Pendidikan memang menjadi salah satu gerbang terbentuknya karakter anak-anak bangsa, termasuk anak saya kelak. Perbedaan mendasarnya saya rasakan sendiri di keluarga. Memiliki orangtua yang pendidikanya hanya sampai SD sempat membuat saya membandingkan orangtua saya dengan orangtua sahabat saya ketika SMA.

Ada banyak sekali perbedaan antara apa yang saya terima dan sahabat saya terima di keluarga, terutama dari segi pendidikan. Meskipun begitu, orangtua saya tetap yang terbaik dan terhebat bagi saya dan adik-adik. Justru dengan usaha kerasa mereka menguliahkan anak-anaknya menjadi bukti bahwa mereka ingin anak-anaknya satu-dua-tiga-empat langkah lebih maju dari mereka. Duh, jadi sedih nulis bagian ini :”(

Makanya, saat tahu ada pameran pendidikan dari SunLifeEduFair 2017 di Mal Kota Kasablanka minggu lalu, saya tertarik banget buat datang. Pameran pendidikan yang diadakan sejak 20-22 Oktober 2017 ini menampilkan banyak pameran berbagai lembaga pendidikan yang terbaik di kelasnya.

Mulai dari SDN Tarakanita 5 Jakarta, Al-Azhar, Bina Nusantara School, dan banyak lagi sekolah-sekolah keren lainnya di sana. Saya sendiri datang di hari terakhir, Minggu, karena Jumatnya masih kerja dan Sabtu nemenin bapak di rumah sakit.

Pertama kali datang ke sana, booth yang saya datangi adalah SDN Tarakanita 5 Jakarta! Booth-nya menarik karena menyuguhkan rakitan yang dirangakai sedemikian rupa. Mereka menamainya Gigo Toys! Untuk ukuran anak SD 6 yang bikin, itu sih keren banget. Karena rakitannya ini pun, mereka sampai ikut kompetisi di Cina dan dapat penghargaan Best Performance of Overseas di Green Mech, Cina, tahun ini!
Ini dia Gigo Toys! Keren enggak? Sumber foto: pribadi.
Kalau ini dedek-dedek yang bikin Gigo Toys! Saluteee. Sumber foto: pribadi.

Orangtua Peka, Anak Suka

Hobi menjadi salah satu aspek yang bisa membentuk karakter anak. Bahkan, jika diseriusi, hobi bisa menjadi sumber masa depan yang cerah! Begitu juga yang saya dapatkan saat bergeser dari panggung utama ke panggung mosaic, masih di acara #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik.

Di panggung mosaic, ada dua event yang saya senangi! Workshop tentang mengajarkan anak menjadi reporter dan kompetisi coding.

Untuk workshop tentang mengajarkan anak menjadi reporter, pihak panitia memanggil dua reporter andalan dari MNC Grup, media official yang bekerja sama dengan #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik dalam acara ini.

Dalam kegiatan ini, anak-anak yang didampingi orangtuanya diajak untuk berani tampil di depan banyak orang. Tentu saja dengan melaporkan suasana di sekitar panggung alih-alih sebagai reporter.
Beberapa anak maju ke depan. Perempuan dan laki-laki. Ada yang tampak malu dan ragu sehingga harus dipandu perlahan oleh salah satu presenter MNC yang hadir sebagai bintang tamu, ada juga anak yang memang memiliki kepercayaan yang tinggi untuk memegang mic dan belajar melaporkan kejadian di depan banyak orang. Meskipun yang mereka sampaikan enggak nyambung, hehehe.

Anak-anak diajari jadi presenter di SunLife Edu Fair 2017. Sumber foto pribadi.
Anak-anak diajari jadi presenter di SunLife Edu Fair 2017. Eh dia lucu banget! Sumber foto pribadi.
Calon presenter cantik masa depan nih! Sumber foto: pribadi.
Kalau yang ini? Ahaha, ini saya yang bulan depan akan jadi bagian dari industri berita di Indonesia. Uhuk!
Tapi saya salut! Sebagai penonton yang hadir, pikiran saya melayang jauh. Bagaimana ya kalau anak saya kelak suka dengan dunia jurnalis? Seru juga kayaknya. Tapi, sementara ibunya dulu yang saat ini sedang memulai perjalanannya sebagai jurnalis di Kumparan bulan depan, hehe. Lah, jadi curhat gini sih.

Selain workshop menjadi reporter untuk anak kecil, ada juga kompetisi coding yang difasilitasi oleh Ektizo Coding. Hasil dari tanya-tanya saya ke mbak Jasmine yang ada di booth, Ektizo Coding adalah sekolah kursus yang mengajarkan tentang ilmu coding seperti bikin situs sampai buat aplikasi game di smartphone. Menariknya, banyak sekali peserta yang datang di kompetisi ini yang masih belia, masih SD!

“Gila nih, gue baru tau coding-coding-an aja pas kuliah. Itu juga yang dasar banget. Lah mereka udah dari SD?” pikir saya dalam hati.

Kata Mbak Jasmine, kebanyakan yang datang ke Ektizo, ada yang dilatarbelakangi dari orangtua yang kesal anaknya kecanduan game. Makanya dimasukan ke Ektizo supaya hobinya bisa dikembangkan.

“Jadi, di sini yang tadinya anak-anak pada hobi main game, sekarang jadi belajar bikin game sendiri. Output-nya bukan lagi sebagai gamer tapi pencipta game!” katanya.

Mereka, dedek-dedek gemesss ini lagi lomba coding! Kodein kakak dek, kodein :( Sumber foto: pribadi.
Sampai minta brosurnya. Mauuu banget bisa coding demi ngeblog yang lebih baik! Sumber foto: pribadi.
Dari sini saya mikir, wah benar ya, kalau orangtua peka, bisa mengarahkan anak-anaknya ke kegiatan positif yang juga disukai anaknya. Pelajaran yang penting banget buat saya kelak mengurus anak.

Jadi, buat kamu yang berencana menikah dalam waktu dekat, mampirlah sejenak ke #SunLifeEduFair2017 #LebihBaik karena banyak banget yang bisa dipelajari setelah berumah tangga dan mengurusi pendidikan anak dan biayanya yang enggak sedikit itu :'')

Foto terakhir! Ini bareng beberapa teman blogger yang hadir di sana. Kita diajak oleh Komunitas Blogger Mungil! Lucu ya namanya. Kita juga masih mungil-mungil ya kan? :)))
Buat kamu yang mau baca liputan langsung saya di Twitter saat acara ini, bisa kepoin di sini ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In MSIG Online Traveling & Kuliner Traveling Insurance

5 Tips Menyiapkan Liburan yang Menyenangkan dan Aman


Daftar libur dan cuti bersama 2018 sudah dikeluarkan Pemerintah belum lama ini. Buat kamu yang hobi traveling pasti sudah mulai memilah dan memilih jadwal liburan di bulan apa supaya enggak ada jadwal bentrok nantinya.

Enggak cuma mark your calender, berikut ada 5 tips menyiapkan liburan yang menyenangkan dan aman ala Ema yang mungkin bisa kamu lakukan!

1. Persiapkan Bujet, Itu Sudah Pasti!
“Liburan memang harus ada uang?”
Harus! Menurut saya, urusan bujet jadi faktor utama kalau kamu traveling. Kenapa? Karena selama traveling, kamu perlu makan, tempat menginap, belum lagi kalau ternyata jalan-jalannya naik gunung, itu juga butuh uang untuk beli atau sewa peralatan selama mendaki. Jadi, jangan lupa persiapkan bujet.

2. Pilih Wisata yang Belum Pernah Kamu Kunjungi!
Meski lulusan Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia, sejauh ini justru saya selalu kesulitan membedakan antara traveling, jalan-jalan, berwisata, atau ngebolang.  Apa sih bedanya? Tentu ada! Next saya cari dan jadikan artikel deh bedanya di mana dan harus tanya Ivan Lanin dulu.

Buat kamu yang selama ini hobinya traveling ke kota atau daerah dengan dominasi pantai, coba ke daerah puncak atau gunung. Begitupun sebaliknya.

Mencoba hal baru yang belum kita kunjungi atau rasakan, bagi saya pribadi akan selalu menarik sebab kita bisa menemukan pengalaman baru dan juga bertemu orang-orang baru, yang kadang terselip juga ucapan, “kali aja ketemu jodoh!”

3. Persiapkan Fisik yang Sehat dan Bahagia
Ini penting banget! Percuma kan uang sudah ada, tiket udah booking, eh menjelang hari h traveling, kamu sakit :(

Untuk menghindari hal-hal yang enggak kamu inginkan menuju hari bersenang-senang, sebaiknya kamu persiapkan fisik yang sehat. Misal, kalau kamu mau naik gunung, berarti sebulan sebelumnya sudah persiapkan fisik dengan olahraga supaya otot-ototmu enggak kaku saat daki nanti.

Selain itu, perasaan juga harus bahagia! Ya kalaupun traveling atau hiking-mu jadi alasan buat melarikan atau menyembuhkan diri dari sakitnya patah hati, paling enggak saat mendaki dan sampai puncak gunung, kamu bisa happy, persis kayak saya dulu! Uhuk

4. Traveling Solo atau Bareng Teman-teman, Pilih Mana?
Nah ini juga jadi hal yang bisa kamu pertimbangkan saat mau traveling. Kalau selama ini kamu sudah beberapa kali traveling bersama orang-orang terkasih, kenapa enggak tahun depan kamu coba traveling sendiri, yang mungkin akan memberikan kamu pengalaman yang baru di lapangan!

5. Jangan Lupa, Agar Aman Pakai Traveling Insurance dari MSIG
Bujet buat makan, hotel, dan belanja selama liburan tahun depan sudah ter-cover, tapi ada satu yang mungkin belum kamu tahu: bujet untuk asuransi liburan atau traveling insurance itu juga penting lho!

Apa sih traveling insurance?

Traveling insurance atau asuransi traveling adalah salah satu produk yang saat ini banyak dibuat atau ditawarkan oleh para perusahaan asuransi. Hal ini karena tren traveling masyarakat Indonesia yang tinggi.

Urgensinya apa?

Pasti ada dong. Jadi nih, ibarat makan, kamu sudah memiliki porsi 4 sehat 5 sempurna jika kegiatan travelingmu sudah di-back up oleh traveling insurance. Semisal kamu mau ke traveling ke luar negeri tahun depan. Lalu, (amit-amit) selama di sana, kamu sakit, nah kamu bisa mendatangi rumah sakit yang memang bekerja sama dengan agen atau perusahaan traveling insurance.

Atau, yang menyedihkan (lagi-lagi jangan sampai kejadian), saat kamu traveling bersama keluarga, lalu ada salah satu anggota keluargamu yang cedera dan meninggal, nah semua berkas-berkas sampai pemulangan jenazah hingga ke Indonesia itu bisa diurus oleh perusahaan traveling insurance.

MSIG atau Mitsui Sumitomo Insurance Group, sebuah perusahaan asuransi dari Jepang yang kantor regionalnya di Singapura memiliki produk yang namanya polis asuransi traveling atau traveling insurance yang akan membuat liburanmu bukan hanya menyenangkan tapi juga aman jika sewaktu-sewaktu ada kejadian tak diinginkan saat kita menikmati liburan.

Informasi yang penting ini saya dapatkan Rabu lalu, di Aruba Carribean Restaurant, Jakarta (11/10), saat menghadiri talkhow dalam acara “Tips Cara Pengajuan Klaim Asuransi Perjalanan yang Efektif” bersama MSIG dan Mobil123.com, sebuah portal otomotif nomor wahid di Indonesia.

Dalam acara itu sendiri, sebenarnya saya cukup sedikit minder karena beberapa blogger yang hadir memiliki pengalaman beragam liburan di luar negeri, sementara saya tidak, hahaha!

Tapi, secara keseluruhan, dari acara ini saya jadi tahu kalau traveling insurance ini penting supaya liburan kita juga aman. Yaaa, siapa tahu nanti saya bisa jalan-jalan ke Inggris kan, bertemu JK Rowling, penulis novel Harry Potter yang sudah saya idolakan sejak SMP! xoxo

Sumber header: pixabay

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Hai Ems! Mencatatnya

Wisuda Bareng Mantan, Baper Enggak Nih?

Alhamdulillah akhirnya wisuda juga! Bahagia banget rasanya bisa menyelesaikan kewajiban yang satu ini. Satu kata sih: plong. Menariknya, enggak cuma bersyukur bisa melewati fase yang menguras tenaga dan uang ini, tapi terselip momen yang bisa dibilang kayak sinetron—atau drama Korea: pakai toga bareng mantan!

Buat yang pernah baca blog ini dari jaman 2013, topik tentang mantan pernah berjaya. Terhitung lebih dari 20 artikel tentang mantan ditulis sejak akhir 2012 sampai sekarang. Cuma sejak tahun lalu, ada beberapa artikel tentang tema serupa yang akhirnya harus berakhir di draft blog dan belum bisa dipublikasikan karena satu dan lain hal. Ngerasa sekarang enggak related aja sama beberapa tulisan lainnya di blog.

Terus kenapa sekarang artikel ini diposting?

Jawabannya: karena kejadian ini kayak sinetron dan sudah kadung janji juga sama yang wisuda bareng itu!

Oke, karena saya enggak terlalu suka pakai kode atau inisial orang yang saya tulis di blog, sebut saja dia Ivan. Yaps, artikel ini sebenarnya tidak ditujukan untuk orang banyak. Ini lebih kepada karena saya udah terlanjur janji bakal nulis kejadian ini di blog soalnya si Ivan itu cukup rajin juga mampir ke sini, hahaha! Katanya sih begitu. Lumayan, setidaknya tulisan ini bisa jadi bahan bacaan buat dia di Lampung sambil jaga toko.

Sebenarnya saya bingung cerita dari mana. Berhubung saya tipikal orang yang suka keteraturan, jadi kita mulai dari kronologinya saja ya.

Sebagai mahasiswa akhir yang juga sudah kerja, skripsi ini ganjel banget. Enggak dikerjakan tapi ya kewajiban. Dikerjain, kadang sudah kecapekan dengan kerjaan di kantor. Sampai akhirnya, hari di mana tinggal satu tahap lagi buat wisuda, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh di kampus.

“Pokoknya harus kelar urusan administrasi hari ini,” kata saya ngomong sendiri sambil jalan terburu-buru di kampus.

Hari itu hari kedua saya datang ke kampus dengan catatan itu tanggal di mana pendaftaran wisuda ke-104 terakhir ditutup. Mau enggak mau kebut terus. Waktu saya hanya tinggal tersisa 1 jam lagi sebelum Perpustakaan Utama (PU) bagian pengumpulan arsip skripsi dan bebas tunggakan tutup. Tapi saya masih terkendala mengurusi hardcover dan CD file yang belum juga selesai di Pesanggarahan.  

Bolak-balik antara kampus dan Pesanggarahan—tempat fotokopian sebelah kampus—pun tak terhindarkan. Saat lagi bolak-balik yang entah sudah putaran ke berapa itulah saya ketemu Ivan!

Dia yang pertama kali nyapa karena saya lagi sibuk lihat HP sambil jalan tergesa-gesa di sekitar parkiran Tarbiyah, fakultas saya.

“Woy,” kata Ivan menggangetkan.

Saat itu ya saya kaget tapi enggak lama terus nyengir. Kaget karena memang lagi buru-buru apalagi sebagai mahasiswa akhir, sangat susah ketemu orang yang kita kenal di kampus. Nyengir karena Ivan yang negor! Jarang-jarang momen ini terjadi setelah putus 2013 lalu.

Tapi kejadian itu berlangsung sangat cepat karena dia juga lagi ngejar waktu buat nyelesain administrasi di kampus.

Saya tahu Ivan memang belum lama ini sidang. Akun band-nya di kampus yang unggah foto vokalis mereka sudah sidang. Si akun band itu follow saya (waktu itu).

“Oh, nih anak udah sidang juga,” pikir saya waktu itu saat lihat unggahan mereka.

Yang tak terpikirkan oleh saya adalah dia akan wisuda bareng saya. Pasalnya, saya sudah sidang awal April, dia akhir April. Jaraknya terlalu dekat untuk bisa Wisuda Mei buat dia. Belum revisi dan segala macamnya.

Rupanya, hari itu Ivan juga sedang buru-buru. Dia juga tengah berpacu dengan jam kantor orang-orang PU dan Fakultas agar bisa menyelesaikan semua administrasi yang diperlukan.

Sampai di sini, saya masih belum baper. Karena waktu terus berjalan, langit Ciputat pun mendung. Saya lupa saat saya papasan dengannya, itu sebelum atau sesudah hujan. Yang pasti, langit mendung dan sebenarnya suasana kampus  cukup adem karena ada angin sepoy-sepoy gitu.

Senyum-senyum kecil mulai muncul saat saya mendatangi kantor administrasi di PU yang mengurusi arsip skripsi. Kondisinya saat itu sebenarnya enggak enak karena saya agak memaksa staf di sana untuk menyetujui penyerahan skripsi saya untuk arsip di sana hari itu juga. Saya butuh tandang tangan mereka sebagai syarat untuk daftar wisuda yang akan ditutup hari itu, sementara jam terus berjalan.

Saat mereka akhirnya menerima permohonan saya dengan sedikit kesal, ya salah saya juga sih terburu-buru, di situ saya menemukan momen manis. Manis sih karena menurut saya kok bisa sih kejadian.

Apa itu?

Saya menulis nama dan judul skripsi saya di buku daftar di ruang arsip PU tepat di bawah nama Ivan dan judul skripsnya yang didaftarkan beberapa menit sebelum saya datang—karena ada keterangan waktunya.

Entah kenapa momen seperti itu bikin saya senang. Saya berpikir hari ini saya dan Ivan sama-sama berjuang agar bisa wisuda Mei, tanpa direncanakan, tanpa ada omongan sama sekali kalau, “eh, ayooo kejar Mei!”.

Layakkah Dia Disebut Mantan Terindah?
Meski hanya sedikit, air mata saya mengalir di pipi saat berada sendirian di lift dosen Tarbiyah lantai 7. Saya gagal wisuda Mei! Begitu pikir saya setelah tahu pihak Perpus Tarbiyah (PT) enggak bisa menyetujui syarat pengumpulan arsip skripsi saya karena situs repository UIN Jakarta yang enggak bisa diakses.

Saya langsung lemas.

Mencoba menerima kenyataan dengan keluar dari PT yang pengap karena kondisinya saya sudah kelelahan, di luar juga hujan, dan muka lepek banget. Di situlah, saat sendiri di lift, saya menangis.
Setibanya saya di lantai bawah, saya kepikiran Ivan. Saya WA dia!

Nomornya tidak tersimpan di HP, jadi saya coba mengingat-ingat. Sial, saya masih saja hafal!
Saya chat nomor yang pernah saya kutuki beberapa tahun lalu karena saking susahnya otak saya melupakan nomor itu.

“Gue di Mandiri, ke sini aja,” katanya membalas.

Dengan perasaan yang enggak karuan, saya melangkahkan kaki ke Bank Mandiri, tempat yang juga pernah jadi saksi waktu Ivan pertama kalianya main gitar buat saya! Hahahahaha.

Sejauh mata memandang, saya sudah lihat Ivan dari depan Parkiran Tarbiyah. Saya melangkah lemas, masih dengan hati yang enggak karuan antara baru saja gagal daftar wisuda dan akan bertemu dia!

“Gue enggak keburu daftar wisuda,” kata saya membuka percakapan setelah sampai di Mandiri.

“Kenapa?”

Di sini saya lupa apakah saya menunjukan ekspresi muka habis nangis di depannya atau tidak. Saya juga lupa sempat merengek ke dia atau enggak. Yang pasti, dia membawa saya ke salah satu warnet terdekat di Pesanggarahan.

Dia buka akun AIS saya.

“Ini sih dikit lagi. Keburu!” serunya setelah melihat hanya satu tahap lagi yang belum saya dapatkan  verifikasinya, input ke repository yang situsnya sungguh menyebalkan karena enggak bisa diakses di saat genting.

“Sana ke fakultas, lobi lagi. Biar sini gue isiin data-datanya (seperti baju wisuda dan deretan pertanyaan survey kampus kepada mahasiswa yang mau lulus),” sergahnya.

Saya ke lantai 7 Tarbiyah lagi, bertemu pihak PT dan mempertanyakan apa begini kondisinya, seorang mahasiswa tidak bisa ikut wisuda hanya karena link repository-nya enggak bisa diakses? Saya coba bertahan sebagaih pihak korban, hehehe.

Dan ya, mereka luluh. Salah satu staf di sana meloloskan saya dengan hanya membuka akun saya di data mereka lalu menceklis nama saya! Hal yang sangat mudah dilakukan tapi harus terganjal ketidaksiapan situs repository yang susah diakses karena banyak calon wisudawati membukanya!

Dengan menyerahkan KTM saya sebagai jaminan di PT, saya menuju ke warnet. Menemui masa depan saya, Ivan, yang lagi mendaftarkan saya wisuda.

Dan saya pun terselamatkan. Semua data sudah terceklis. Hanya tinggal menunggu kampus menyetujui permohonan saya.

“Verifikasi bisa kapan aja, nanti malem kayaknya,” kata Ivan.

Setelah proses yang mendebarkan ini, saya lupa siapa yang duluan mengajak makan. Pokoknya, setelah urusan daftar di warnet itu kelar, kami melangkah ke salah satu tempat makan—masih di Pesanggarahan.

FYI, selama jadian dulu, saya dan Ivan enggak pernah jauh-jauh makan di Pesanggarahan. Selain karena kami sama-sama sibuk dengan UKM masing-masing, saat itu kami juga sama-sama miskin. Uang jajan dikasih seadanya dari orangtua, wkwk! Juga, karena pas masa-masa jadian, Ivan kena sial mulu. Laptop ilanglah, HP jatuh di jalanlah. Sampai akhirnya saya mikir emang enggak dikasih kesempatan untuk bisa happy-happy bareng dia, hahaha.

Tapi ternyata semesta punya cara lain, jauh lebih dari sekadar happy bareng, yakni mempertemukan kamu menuju wisuda Mei. Dan dia salah satu orang yang menolong saya di saat saya menyerah daftar wisuda!

“Inikah yang disebut sebagai mantan terindah?” tanya saya sambil tertawa padanya.

Dia memesan makanan. Perut saya tidak enak untuk makan nasi meski amat lapar. Kejadian seharian itu bikin perut mual, belum lagi di saat bersamaan diteror dua kerjaan by phone.

Lantas kami mengobrol banyak hal selama makan. Ada salah satu ucapannya yang tidak saya perkirakan sebelumnya dan cukup bikin kaget. Ini saya bahas di artikel terpisah saja ya, takut ceritanya kepanjangan!

Ivan lalu mengantar saya pulang ke Stasiun Pondok Ranji, setelah sebelumnya dia ke kosan dulu untuk taroh tas dan dokumennya. Oh di kosan itu, kami sempat ngecek AIS bareng-bareng. Dan kami sama-sama senang saat tahu kampus sudah memverifikasi data wisuda kami.

Jadi juga wisuda. Dan beruntungnya, hari wisuda kami sama, Minggu, 21 Mei 2017!

Hari H Wisuda, Baper Enggak Nih?
Hari wisuda datang juga! Selain haru karena akhirnya bisa memakai toga dan bikin orangtua bahagia, sejujurnya pagi itu saya juga ngantuk banget karena malamnya masih mengejar deadline kerjaan.

Saya tiba di pelataran kampus depan air mancur UIN Jakarta sedikit terlambat. Sudah banyak wisudawan-wisudawati yang cantik dan ganteng berdiri di sana. Saya masuk ke barisan fakultas yang ternyata sebelahan dengan fakultas Ivan.

Dua hal yang saya janjikan pada Ivan saat kami sama-sama urus wisuda bareng kemarin: menulis cerita ini di blog dan menyempatkan untuk foto bareng berdua saat wisuda!

Menyadari bahwa ini mungkin saja momen terakhir antara saya dan Ivan di Ciputat, saya mencari dia, dia pun mencoba menengok ke depan arah saya berdiri. Dengan sedikit main kucing-kucingan dengan petugas pengatur wisuda, yang sepertinya anak Pramuka atau Menwa, saya ke arah Ivan berdiri. Akhirnya kami foto bersama.

Kami masuk ke auditorium, saya menyaksikan Ivan maju ke depan podium. Sempat saya abadikan juga momennya. Wisuda selesai, peserta bubar, dan saya bertemu dengan dia, ibu, dan adik perempuannya tidak sengaja sebelum pintu keluar.

Sampai di titik ini, saya akui diri saya baper. Bukan tentang saya yang dulu kecewa ditinggal sepihak, tapi bahwa akhirnya kami melewati kesulitan ini dengan sukses bertoga bersama. Saya dengan perjuangan hidup antara bekerja dan menyelesaikan skripsi, dia pun mungkin juga begitu. Dan hari itu kami merayakannya, yang juga menjadi awal bagi kami melangkah, menghadapi hidup yang mungkin lebih berat lagi di depan.

Momen yang tak direncanakan ini juga jadi semacam penutup cerita kami di Ciputat. Kami pernah melewati masa merindu dan itu terbalaskan. Kami pernah menikmati tawa bersama pada malamnya Ciputat, suasana yang canggung di depan wall climbing Arkadia, dan sekitar SC. Kami juga pernah begitu kakunya berpapasan di tangga SC setelah putus. Dan sekarang ditutup dengan wisuda bareng.

Menurut saya serangkaian kejadian ini epic banget! Meski setelah itu Ivan foto bareng dengan pacarnya di SC, hahaha. Tapi saya melihat Ivan yang lain. Bukan lagi Ivan yang ingin saya kutuki seperti beberapa tahun lalu, tapi manusia yang penuh kecewa di masa lalu, dewasa di kemudian hari.

Ini bukan lagi soal apakah kamu masih belum move on atau tidak, tapi ada banyak hal yang kadang terlalu buruk yang kita yakini hanya karena satu-dua celah. Padahal, sisanya mungkin saja proses menuju kebaikan. Dan waktu telah membuktikannya.

Selamat atas wisuda kita, Van!

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Hai Ems!

“Hai, Ems!” Wadah Kecil yang Berusaha Tampil Apa Adanya

Dunia terus bergerak. Ada ruang di mana tadinya kita bisa melakukan hal semau kita, tapi enggak bisa karena pergerakan-pergerakan itu. Tapi bukankan perubahan itu sebuah keniscayaan? Karenanya, kita harus bisa membawa diri agar tak terbawa arus juga tak ketinggalan jaman. Setuju?

Di antara hingar-bingar dunia yang terus sibuk ini, saya merasa ada yang terenggut. Salah satunya di blog ini. Berubah ke arah yang lebih baik sebenarnya, tapi sama halnya seperti negara yang terus membangun infrastruktur, ada ruang-ruang yang berubah. Ada tempat-tempat di mana para pedagang yang biasa menjajakan produknya harus terusir Satpol PP dan pemandangan gunung yang aduhai bisa dilihat dari stasiun jadi tertutup karena jembatan layang.

Blog saya, yang dibangun dengan sebuah cerita tentang anak SMA yang barus saja pulang dari tes PTN dan bertemu mantan gebetannya (2010), kini tumbuh menjadi blog yang berisi ulasan produk-produk dan content placement.

Apakah itu buruk? Tidak. Karena dari sana saya mendapatkan pengalaman dan bisa mendapatkan uang tambahan juga.

Keuntungan itu bukan tanpa konsekuensi. Ada ruang yang tergusur. Ruang di mana ekspresimu biasa tercurahkan di situ. Ruang di mana kini kamu terlalu malu untuk menceritakan apa yang membuatmu lega. Ruang di mana pernah menjadi terapimu saat kehidupan ini begitu sulitnya ditaklukan. Ruang itu, ruang yang menampilkanmu apa adanya. Ruang tanpa rumus seo, apalagi judul yang mengundang klik. Ruang yang bisa membuatmu menangis saat memulai kalimat pertama dan menjadi dewasa ketika membubuhkan titik di paragraf terakhir. Ruang yang saya rindukan kini.

Tapi, saya juga butuh uang.

Lantas tergadaikah kenyamanan saya selama ini di blog sendiri?

Tiba-tiba saya ingat salah satu users dari sebuah koran khusus ekonomi di Jakarta yang pernah mewawancarai saya. Dia bilang, “kamu lulusan sastra? Suka ngeblog juga? Tapi di media ini, idealismemu dalam menulis selama ini bisa tergadai lho. Karena kita industri, ada banyak yang harus kamu tulis tapi tidak sesuai hatimu,” katanya.

“Akan selalu ada cara di mana kita bisa menulis pemikiran kita tanpa harus takut tidak ada wadahnya. Jika saya terpilih di koran ini, saya akan menulis sesuai denga aturan yang berlaku di sini, sesuatu yang memang harus saya kerjakan. Tapi, saat ini, banyak sekali wadah yang bisa menampung pemikiran kita, blog misalnya. Atau kalau tidak mau repot urus blog sendiri, kita bisa menulis berbagai pemikiran atau sekadar cerita di Kompasiana. Jadi saya enggak khawatir enggak ada tempat untuk menulis apa yang saya ingin tulis,” kata saya dengan diakhiri senyuman.

Biarlah, Hai, Ems! hadir dengan segala ceritanya tanpa ada brief dari siapapun sebab menulis untuk kebebasan adalah sebaik-baiknya kemerdekaan. Uhuk!

Tak ada yang salah dengan ucapan salah satu users sore itu. Hal ini justru mengingkatkan saya bahwa saya punya blog pribadi, meski kini cukup dipenuhi artikel review produk. Di satu sisi, berkecimpung di dunia blogger—yang baru saya jalani belum sampai setahun—membawa untung secara materi bagi dompet saya, pengalaman, dan ilmu, tapi di sisi lain, saya juga ingin ruang kebebasan saya tetap ada.

Karenanya, dengan template yang baru saja diganti minggu lalu dan beberapa rubrik yang juga anyar, saya membuat satu rubrik baru. Sebenarnya ini rubrik lama, hanya berganti nama saja.
Rubrik yang saya sebut sebagai terapi ketika sedih ini, saya namai “Hai, Ems!”.
Kenapa begitu? Karena saya enggak punya nama lain lagi yang kreatif. Ternyata susah sekali menciptakan satu rubrik khas ya! Mikirnya sampai sehari lho itu.

Harapan saya, Hai, Ems! Ini bisa menjadi satu komunikasi yang baik untuk pembaca blog saya, bahwa di balik sapaan Hai, Ems! yang kerap dilakukan teman-teman saya atau kamu, pembaca setia blog saya, selalu ada kabar terbaru. Entah itu kabar tentang kebahagiaan, kesedihan, atau hal-hal sehari-hari.

Tapi di luar itu semua, saya tidak ingin pembaca berharap lebih pada Hai, Ems! sebab dia adalah playground saya yang seharusnya tidak boleh direcoki siapapun, tanpa bermaksud menutup akses komentar kritik apalagi apresiasi. Sungguh saya pun senang jika ada yang memberi masukan, kritik atau apresiasi pada tulisan saya yang justru sejauh ini sangat jarang.  

Biarlah, Hai, Ems! hadir dengan segala ceritanya tanpa ada brief dari siapapun sebab menulis untuk kebebasan adalah sebaik-baiknya kemerdekaan. Uhuk!

Akhir kata, rubrik Hai, Ems! akan menyapa kalian dengan segudang keluh kesah, kebahagiaan, optimisme, atau pandangan tentang hidup dari seorang Ema Fitriyani.

Selamat membaca!

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Berwakaf #LebihBaik SunLife Financial Indonesia

Anak Muda, Kini Berwakaf #LebihBaik Bisa dengan Uang Tunai!


Berwakaf pakai uang tunai? Kedua alis saya berkerut. Apa bisa berwakaf #lebihbaik pakai uang tunai? Jawabannya ternyata bisa! Tapi bagaimana caranya? Apa sama seperti zakat dan sedekah?

Sebagai anak muda yang di tangan selalu ada smartphone, saya merasa tidak berguna. Sebabnya, dengan kecanggihan teknologi yang ada, kecepatan sinyal 4G saat ini, dan intesitas membuka media sosial serta berita online yang intens, saya justru ketinggalan banyak informasi, salah satunya berwakaf yang bisa dilakukan dengan uang tunai.

Apakah ada teman-teman muda di sini yang mengalami hal dengan saya? Baru tahu kalau wakaf itu bisa dilakukan dengan uang tunai?

Pengetahuan wakaf saya terima sejak SD, tapi hanya sebatas bahwa wakaf itu dilakukan hanya dalam bentuk fisik. Yang sering dijadikan contoh misalnya wakaf tanah untuk pembangunan masjid atau sebidang tanah lainnya untuk membuka jalan setapak. Sayang seribu sayang hanya itu yang saya tahu bertahun-tahun.

Setelah mengetahui bahwa berwakaf bisa dilakukan dengan uang tunai atau disebutnya wakaf tunai, saya langsung cari informasi ini. Bukan apa-apa, sejak kecil saya diajarkan amalan-amalan apa yang tak putus bahkan ketika kita sudah meninggal, salah satunya wakaf dan sedekah. Makanya, merasa saat ini saya sudah memiliki penghasilan, saya pun tertarik untuk bisa mewakafkan sedikit harta yang saya miliki untuk menjadi bekal saya di akhirat kelak.

Beberapa penanya dalam acara ini mendapat hadiah dari SunLife Financial Indonesia. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Lalu Seperti Apa itu Wakaf Tunai?
Di luar dari banyaknya mahzab atau pendapat ulama besar tentang pro kontra wakaf tunai, aturan wakaf tunai itu sendiri, untuk di Indonesia sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia pada Mei 2002. Sementara Pemerintah pun, dalam hal ini Kementrian Agama sudah memasukannya fatwa tunai ini ke dalam Peraturan Menteri Agama no.4/2009 dan Undang-Undang nomor 41 tahun 2004 diatur dalam Pasal 28 sampai Pasal 31.

Sesuai dengan namanya, wakaf tunai adalah wakaf yang dibayarkan dengan uang tunai. Tapi apakah berarti membayarnya seperti zakat atau sedakah? Bagaimana penyaluran dan pemanfaatannya untuk jangka panjang? 

Yuk berwakaf syariah! (Foto: SunLife)
Di sinilah akhirnya saya sedikit tercerahkan ketika mendengar penjelasan dari Srikandi Utami atau biasa dipanggil Ibu Aan, Head of Syariah Unit Sun Life Financial Indonesia dalam acara Jumpa Blogger Sun Life, Mudahnya Berwakaf Melalui Asuransi Syariah di The Hook, Jakarta, Sabtu lalu (9/9). Tak hanya Ibu Aan, dalam acara diskusi santai tapi serius itu, hadir juga H.M. Nadratuzzaman Hosen dari Vice Chairman Badan Wakaf Indonesia, dan Achmad Emir Farabie, Senior Manager Digital dan Social Media Marketing Sun Life Financial Indonesia.

Ibu Aan menjelaskan bahwa Sun Life Financial sebagai perusahaan jasa keuangan asuransi memiliki penyaluran untuk berwakaf #LebihBaik dengan uang tunai. Bentuknya, kata dia bisa melalui 2 produk unggulan syariah Sun Life, yakni asuransi jiwa syariah dan investasi syariah.

“Syaratnya asal mereka memiliki polis asuransi jiwa syariah atau produk investasi di kami,” katanya pada sekitar 50 blogger yang diundang.

Bagi saya, ini menarik. Kita bisa berwakaf tunai dari tagihan asuransi jiwa syariah yang kita miliki di perusahaan yang sudah berdiri dari 150 tahun ini.

Tapi Bagaimana Sih Caranya?
Sesuai prosedural, yang dilakukan untuk wakaf tunai, seperti:

- Terlebih dahulu harus memiliki polis asuransi jiwa syariah Sun Life Financial Indonesia.
- Setelah itu, calon polis asuransi diwajibkan mengisi beberapa surat seperti siapa penerima manfaat dari wakaf (ahli waris), lembaga wakaf yang ditunjuk. Dalam hal ini, Sun Life sudah bekerja sama dengan 3 lembaga wakaf besar di Indonesia, yakni: Badan Wakaf Indonesia, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat.
- Mengisi form Ikrar Wakaf
- Peserta mengisi jumlah yang diwakafkan pada form withdrawal
- Sun Life mengirimkan Dana Investasi langsung ke Mitra Sun Life
- Peserta melakukan konfirmasi penerimaan dana wakaf ke Nazhir mitra Sun Life
- Nazhir menerima konfirmasi Peserta dan melakukan ikrar wakaf
- Nazhir mengirimkan sertifikat wakaf ke Peserta

Terkait besarannya berapa, nanti saya kroscek dulu ya. Kemarin masih agak bingung di bagian sini. Tapi saya janji buat make sure ke pihak Sun Life berapa dana atau biaya yang ditarik untuk wakaf dari asuransi jiwa syariah kita. 

Bekal Akhirat yang Semakin Mudah Dicapai
Narasumber kedua dalam acara Berwakaf #LebihBaik oleh Sun Life Financial Indonesia adalah H.M. Nadratuzzaman Hosen dari Vice Chairman Badan Wakaf Indonesia. Sebagai petinggi WBI, dia menyampaikan bahwa saat ini teknologi semakin berkembang, karenanya kenapa berwakaf tidak bisa mudah dilakukan?

Dengan adanya wakaf tunai, menurutnya, bekal akhirat akan semakin mudah dicapai. Ya, salah satunya dengan wakaf berupa uang yang manfaatnya juga sama dengan wakaf berupa barang asal bisa menemukan jasa keuangan asuransi atau wakaf terpercaya. Sun Life salah satunya.

Apalagi, menurut berita yang saya cari, bank BUMN juga sudah meluncurkan fitur untuk membayar wakaf tunai ini. Adalah Bank BTN yang bekerja sama dengan Nahdathul Ulama meluncurkan aplikasi android untuk membayar wakaf tunai pada Juni 2017 lalu. Nama aplikasinya “Mobile Wakaf Uang NU”.

Ini dia! (Foto: SunLife Financial Indonesia)
Direktur Utama Bank BTN Maryono, yang saya kutip dari bwi.or.id, mengungkapkan dengan aplikasi nasabah bisa melakukan registrasi langsung pada aplikasi tersebut dan menyetorkan uang wakaf dengan metode debit maupun kredit. Wakaf uang yang dibayarkan bisa untuk selamanya maupun berjangka. Untuk wakaf uang berjangka, batasan minimumnya Rp10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. Adapun wakaf uang selamanya tidak ada batas minimumnya.

“Dengan aplikasi ini, semua orang dilancarkan niatnya untuk menjadi wakif," kata Maryono dalam sambutannya.

Nah, bagaimana? Jadi tergugah untuk berwakaf #lebihbaik dengan wakaf tunai? Kalau ia, kamu bisa dapatkan info jelasnya di Sun Life Financial Indonesia.

Menurut saya, meski baru pertama kali mendengarnya, ini program cukup bagus. Pasalnya, dengan ikut berwakaf, sebenarnya kita sedang mengumpulkan pahala untuk di akhirat kelak. Apalagi buat anak muda yang belum berkeluarga, beban hidup masih agak ringan. Jadi, anak muda, yuk berwakaf #LebihBaik!

Ini saya dan Tiwi! Salah satu blogger yang datang ke acara ini. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Buat kamu yang penasaran tentang berwakaf #lebihbaik dengan SunLife Financial Indonesia, sila mampir ke:

Facebook SunLife Financial Indonesia
YouTube SunLife Financial Indonesia

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments