In Mencatatnya My Life

1. Pada Mulanya Seperti Sebuah Resume Hati

Untuk Ivan


Terkadang, semakin kita mencoba mengucapkannya, semakin kita tak mampu untuk memahaminya. Sedangkan untuk memahaminya, katamu, “tak butuh kata-kata.” Tapi sikap atau tindakan tak kunjung terlihat jelas adanya..darimu.
·          
          Harus bagaimana memahami rasa sayang dan perhatian dari kamu sedang kamu tak pernah mengucapkannya dalam kata-kata? Dalam hal merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi frase, frase  menjadi klausa, klausa  menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, bahkan paragraf menjadi wacana..tetap tak bisa aku peroleh dari mulutmu, apalagi hatimu. Apa aku saja yang tak bisa melihat dan merasakan kasih sayang dan perhatianmu karena sesungguhnya itu semua bersembunyi dalam huruf hingga wacana agar tak terhapus seperti pensil dengan karet penghapus dan lukisan canvas yang luntur karena kehujanan. Ini konyol. Ini karena aku polos? Tidak tahu.
·         
         Ivan, aku tidak mengenal kamu seperti apa. Aku hanya bisa tahu kamu berdasarkan cerita-cerita yang kamu utarakan tempo lalu di telpon, wallclimbing, kantin tarbiyah, dan teras Mandiri. Jika boleh jujur, aku masih takut, ragu dengan ucapanku tempo lalu menerima kamu menjadi apa yang kemudian aku sebut sebagai pacar. Karena kini, rasa sayang dan takut kehilanganmu mulai menghinggapi aku. Bahkan aku mulai nyaman dengan sandaran kepalaku kepundakmu atau hanya sekadar tanganmu mengelus rambutku dan mengacak-acak jilbabku.
·         
          Ivan, pernah aku ceritakan padamu bahwa aku sempat kecewa dengan keadaan dan nasib asmaraku ketika sebelum kuliah. Tentu kau sudah tahu, dengan rasa nyaman yang kau alami saat denganku kini telah berbuah menjadi rasa sayang pada diriku terhadap dirimu. Dan, aku takut jika suatu saat nanti kamu tidak mengalami rasa ketika di mana katamu aku selalu ada untukmu, aku yang cuek, aku yang santai, aku yang tidak cemburuan, bahkan aku yang slow. Tentu (semoga saja) kau paham benar bahwa saat ini pun aku takut kecewa melihat nasib asmaraku sama saat seperti di Bogor dulu.
·          
           Ivan, saat aku putus dulu dengan Rio, aku katakan padanya “Kenapa kamu tidak menjadi berandalan saja agar aku tak berharap padamu?” karena sebenarnya beberapa jam setelah aku minta putus dan akhirnya kita putus beneran, aku minta untuk balikan. Tapi itu tak bisa diterima Rio. Dan kamu tahu apa yang aku rasakan tentangmu?  Aku rasa nanti ketika kemungkinan terburuk dari hubungan kita adalah putus, aku tidak bisa menuliskannya untukmu tentang “kenapa kamu tidak jadi berandalan saja, Van”? karena aku mengenal kamu di awal sebagai berandalan yang asik diajak berteman meski akhirnya kamu nembak aku dan saat ini kita jadian. Aku coba.
·         
            Kini di Ciputat, aku punya cerita. Maka buatlah aku yakin bagaimana untuk melengkapi ceritaku tentang kisah Ciputat ini sayang? Bisikan dan dekap aku agar aku yakin, Van. Mungkin, setelah lengkap, aku akan memberi judul cerita di Ciputat ini dengan judul “Ciputat Im in Love” wahaha.

·         Mungkin ini terlalu cepat untuk aku memikirkan dan mengatakannnya ibarat seperti besok mau menikah saja (ha-ha-ha), padahal aku juga belum kesampean memikirkan tentang menikah dan hal lainnya tentang komitmen berumah tangga. Kita masih muda coy! Tapi ya itu tadi, inilah yang aku pikirkan dan aku rasa aku perlu memberitahu kamu.

·         Dengan segala keputusan atau pandangan kamu setelah membaca tulisan ini, aku tidak akan memaksa kamu apa-apa. Tapi, suatu kesalahan jika kamu melupakan komitmenmu per 3 Maret 2012 lalu. :D

·         Tulisan ini agak norak Van, seperti sebuah perasaan cinta yang menurutku norak saat dikatakan sewaktu pacaran, karena bisa jadi cinta itu hanya omong kosong. But anyway, seperti cara kamu mengungkapkan perasaanmu kepada seseorang lewat lagu. Pun dengan aku yang mengungkapkannya lewat tulisan ini layaknya seperti sedang meresume hati.



*Ciputat, 26 Maret 2012
03:21 am

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment