In Mencatatnya My Life

10.



Van, aku tidak tahu harus bagaimana bersikap kepadamu. Tingkahmu masih saja dingin, tatapanmu masih saja enggan melirik, dan bibirmu masih sulit untuk tersenyum. Pun dengan mulutmu, kenapa tidak ada suaranya, mengapa tidak ada sapaan?

Aku tidak mengharapkan kamu harus melirik, menyapa, dan tersenyum padaku. Tidak. Tapi sebagai makhluk sosial yang saling mengenal, tentu lirikan, senyuman, dan sapaan menjadi hal yang wajar ditunjukkan. Akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu tidak paham di mana hatimu. Kalaupun kamu sudah mendapatkan perempuan yang katamu ke-50 itu, seharusnya sebagai laki-laki yang jantan, kamu mampu bersikap normal padaku.

Kata dosen semantikku, laki-laki itu bajingan.
Kata ibu-ibu penjual nasi uduk di belakang aspa, perempuan itu setan, tapi laki-laki itu anjing.
Kataku, kamu mungkin dan memang bajingan,
tapi aku yakin suatu saat nanti kamu sadar bahwa ketika kamu amat menyayangi ibu dan adik perempuanmu, Gita, seharusnya kamu juga bisa menjaga hati perempuan yang telah kamu beri banyak janji bullshitmu. Janji yang seharusnya langsung dibuang ke tong sampah. Oh tidak, janji yang kamu jilat sendiri sayang.

Semoga kita bisa bahagia dengan hidup masing-masing. Aku tunggu kabarmu dengan perempuan yang sudah tidak akan kamu tinggalkan dengan berbagai alibimu. Semoga kamu bahagia dan masuk surga. Amin. 14 sept 2012.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment