In Mencatatnya My Life

12. 8 okto 12 at Student Center



Hey, ke mana kamu belakangan ini? Sudah beberapa hari hidungmu, matamu, dan senyummu (yang sudah tidak lagi mengembang) tak pernah kulihat di sini. Apa kamu sibuk kerja? Apa kamu ke Bekasi menemui adikmu Gita? Atau jangan-jangan kamu sudah tidak aktif lagi di sini, di tempat kita pernah dipertemukan tanpa sengaja oleh takdir? Aku hanya bisa menerka-nerka.
Di mana pun kamu sekarang, aku harap kamu baik-baik saja. Ya, memang sejak beberapa minggu ini aku jarang sekali berdoa untukmu. Maaf. Tapi aku tetap masih khawatir kalau tidak melihat lalu-aktivitasmu di sini. Tidak penting apakah untuk bisa melihatmu di sini, tubuh kita harus bertemu. Dan jelas, aku pun akan menahan keinginanku untuk tahu kabarmu ke Daniel. Itu salah satu hal yang coba kupertahankan sampai saat ini, sampai ada alasan kuat untuk bisa berinteraksi denganmu.
Hahaha.. pasca kita tak bersatu lagi, aku memang menunggu kamu untuk bersikap luwes, tidak dingin, bisa menyapa, dan ya biasa saja. Aku menunggu itu tau! Karena aku tidak mau ada permusuhan di antara kita. Status memang sudah tidak bersama, tapi mungkin masih bisa menyapa. Dan aku tahu ternyata kamu gagal untuk bersikap seperti itu. Baiklah, kita masing-masing, jalan masing-masing. Semoga kamu baik-baik saja. aamiin.
   ***
Beberapa menit lalu aku baru saja mengirim cerpenku tentangmu ke kawanku di sini. Hahaha. Mungkin tidak akan berpengaruh dan membuatku merasa tidak enak jika hanya kawanku itu yang membacanya. Dari awal harusnya aku sadar bahwa cerpen itu tak sehat jika ingin dimasukkan ke antologi cerpen karya PBSI C. Gawat. Mungkin cuma Mas Agus aja yang nggak tahu siapa itu yang dimaksud dalam cerpenku, sisanya, aku yakin cowok di kelas itu tahu siapa yang jadi tokoh dalam cerpenku. Belum lagi ada Ria dan Solikah yang tahu dengan siapa beberapa bulan ini aku berkasih. Ya Tuhan...sekalipun mereka membacanya, semoga tak membuat kamu salah paham, Van.
Kata dosenku, keterangan waktu itu penting dalam suatu catatan atau penulisan. Nah, kamu harus juga tahu itu. Kamu lihat baik-baik, aku mencantumkan tanggal berapa cerpen itu dibuat,  aku ulangi, tanggal 13 Juni 2012. Kamu tentu  tahu bagaimana suasana hatiku saat itu.
Oleh karena itu, dengan sangat mohon, kamu tidak salah mengerti tentang cerpenku. Apa yang aku tulis dalam cerpen itu adalah luapan hatiku saat itu, saat kamu memilih untuk diam dan pergi.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment