In Mencatatnya My Life

14. Kunjungan ke PU :)

Oke, first, aku mau menulis tentang Ivan. Again! Semoga Laptop, jari-jari, kacamata, dan segala yang mendukung tulisanku tentangnya tidak bosan. Mau bagaimana lagi, aku tidak tahu sampai kapan harus menulis hal yang ada kaitannya dengan Ivan.

Lusa lalu aku ke PU, dan ternyata di sana ada Ivan. Aku memang nggak nyapa, aku pikir Ivan pun nggak akan nyapa sekalipun lihat aku, dan memang lihat, kayaknya. Tapi itu nggak penting, tepatnya berusaha untuk tidak menghiraukan apakah dia akan nyapa atau tidak, but at least, aku seneng banget lihat Ivan di PU, asumsiku, dia mulai peduli sama nasib akademiknya. Mungkin sekarang dia menjadi atau makin dewasa terhadap keberlangsungan kuliahnya di UIN. Jujur aku bahagia banget waktu lihat Ivan siang itu. ada semacam keyakinan yang menghampiriku bahwa saat ini Ivan begitu dewasa.
Dan, dalam hati aku bilang sama Tuhan, “God, ada hamba-Mu yang datang ke perpus. Engkau mahatahu apa niatnya yang membawanya melangkah ke PU. Tapi semoga keputusannya ke PU adalah tepat. Kalaupun ia sedang mencari buku-buku tentang kepengacaraan, tolong mudahkan dalam mencarinya dan memahami buku itu. Lindungi dia selalu. Aamiin. Makasih.”
Rasanya saat itu aku mau menangis, bahagia, seneng, gembira. Seperti merayakan kehidupan kembali yang lama mati suri. God, aku memang nggak tahu banyak tentang Ivan, tapi untuk momen satu ini, lihat dia di PU, bener-bener bikin aku terharu.
                Sekalipun pada malamnya aku harus ketemu ivan yang bikin aku harus tarik napas panjang. Tampaknya ia sedang menelpon pacarnya, mungkin, aku nggak tahu. Tapi shitt man, itu nggak penting sama sekali dibanding kunjungannya ke PU.
                Huuuuuuu... sukses deh buat karir kamu nantinnya Van, i’ll always pray for you ;)
                Enggak akan pernah rela lihat hidup kamu ancur hanya karena sifat emosianmu, angkuhmu, dan sombongmu padahal kamu punya semangat yang besar untuk gapai cita-cita, untuk bikin Gita dan Bayu senang, untuk bikin ibu kamu bahagia, dan tentu untuk kesuksesanmu. 
                Sekalipun aku pernah kecewa sama kamu, tapi nggak akan bikin aku surut untuk bilang sama tuhan, mohon sama tuhan agar kamu dibimbing dalam meraba dan meniti masa depan. Oh God, sekarang aku lagi-lagi harus nangis tapi bukan karena rasa sakit, tapi menangis untuk keyakinanku Ivan pati bisa capai cita-citanya.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment