In Mencatatnya My Life

15. Scream dan luapan emosi

Minggu, 21 Okto 2012


Entah kenapa beberapa hari ini aku suka sekali mendengarkan musik keras. Sama sepertimu Van, ada hal-hal yang ingin aku luapkan dan lupakan ketika mendengar alunan musik yang cadas. Semacam perasaan marah, muak, benci, dan ingin berontak terhadap keadaan sekitar.

Lagu-lagu yang kudengar di antaranya Linkin Park, Green Day, Muse, Avenged Sevenfold, dan My Chemical Romance. Ketika lagu-lagu itu dilantunkan, aku merasa seperti ditemani kawan yang sedang mendengarkan semua ocehan tentang si dia yang begitu, si anu yang dingin sikapnya, si doi yang belagu, dan lainnya. Aku merasa terwakili dengan hentakan drum yang keras. Dengan symbal yang dipukul begitu puasnya. Dengan bass yang dibetotkan begitu ambisiusnya. Dengan segala alat musik yang mengeluarkan suara yang membuat siapapun ingin berteriak.

Lantunan keras lagu Dont Stay milik Linkin Park sekarang mengalir bebas di telingaku. Aku pun terbawa untuk benar-benar teriak malam ini, Van. Lagunya pas. Untuk hati yang ingin tenang. Untuk otak yang ingin melupakan memori buruk dalam hidupnya. Untuk pikiran terbuka dan sehat, maju, menyongsong hari baru. Dont stay! Move on!

Van, malam ini aku menulis. Lagi-lagi ada sentuhan perasaan terhadapmu. Aku berharap bukan perasaan yang sama ketika aku berusaha untuk menyayangimu hingga menyanyangimu, dulu. Bukan. Bukan karena aku menutup diri untuk menjaga perasaan baik; menyanyangi sesama makhluk Tuhan. Jujur, aku juga belum sepenuhnya memahami diriku bagaimana memaknai perasaan setelah ditinggal begitu cepat olehmu, Van. Aku galau, pasti. Aku kecewa, jangan ditanya. Aku marah, sudah sewajarnya. Aku menangis untukmu Van. Untuk apa-apa yang kamu janjikan padaku.

Beribu-ribu kali aku berlari untuk menemukan titik di mana aku ikhlas dengan semuanya. Semoga secepatnya aku menemukan titik itu. God, please help me.... 

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment