In Mencatatnya My Life

16. Ivan dan Tanah Air

12/11/2012

Kalau lagi begadang. Kalau semua orang di kamar terlelap dan aku masih tergaja dengan mata masih segar menatap layar komputer, selalu aku teringat kamu, Ivan. Antara sedih dan ingin ketawa dan hati untuk ikhlas. Sesekali aku ingin mengobrol denganmu, Van. Ingin bercerita banyak hal yang aku temui sejak kita tak lagi mampu berkata-kata. Sejak sapaan hangat kita harus terputus oleh ketidakterbukaan kamu. Kalau sudah begini, rasanya aku ingin kembali menangis untuk kesekiankalinya.
Berbesar hati memang. Ketika rasa rindu yang berat menyergap dadaku, seketika aku sok sibuk sendiri. Entah harus seperti apa. Rasanya, kalau mendengar kata “Palembang dan Lampung”, otakku langsung memprosesnya, bekerja untuk mencari satu sosok lelaki yang saat itu begitu aku sayangi. Otakku mentransfer hasil pencariannya, menemukan satu makhluk Tuhan yang tengah berjuang mencari pengakuan jati dirinya: Ivan.
Tidak berhenti pada kata “Palembang dan Lampung”. Tiap kali aku menonton berita terkait konflik di Lampung, tentang pencurian minyak di Sumsel, tentang tipografis di sana yang banyak bukit, tapi tidak semaju seperti di kota besar, tentu dengan kehidupannya yang masih ndeso bahkan tertinggal, ada perasaan miris dalam hatiku. Tidak jarang juga mataku terasa panas. Air mataku selalu ingin tumpah.
Pernah menyanyagimu membuat aku ingin mengitari Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang dimulai dari tempat kelahiranmu. Ingin aku menuliskan semua perjalanan yang aku mulai dari kampung halamanmu. Mengamatinya, menelitinya, meresapi, hingga menelusuri jika ada hal-hal  yang menyimpang yang memang kerap terjadi di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan.
Aku ingin menjadi wartawan, bukan hanya mewawancaraimu sebagai seorang kekasihku, dulu, tapi aku ingin menjadi wartawan yang ingin menikmati bumi Banjit, tempat ibumu tinggal saat ini. Aku ingin ke sana, Van. Ingin sekali. Seperti yang sudah kamu dengar, dan kamu janjikan: aku akan ke sana, melaporkan sebuah berita tentang bukit-bukit yang indah.
Van, pernah menyayangimu membuatku ingin menyelami Nusantara. Aku menyayangimu dan tanah airmu—tanah airku juga: Indonesia.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment