In Mencatatnya My Life

17. Sesungguhnya Angin

25/11/12

Van, kamu di mana sekarang? Lagi apa malam ini? Sudah sejauh mana soal asmaramu? Masihkah main-main? Sudahkah berusaha setia kepada satu wanita? Semoga menemukan dengan segera muara itu ya.
Aku di sini, sejauh ini belum menemukan penggantimu. Belum merasa perlu untuk menjalin suatu hubungan baru. Bukan, bukan karena aku masih sayang sama kamu. Aku justru sedang menikmati bebas dari rasa sayang seperti dulu.  Aku begitu meresapi angin yang berhembus. Bukan, bukan angin dirimu tapi angin alam yang bebas. Angin yang  menyejukkan. Angin yang menghempaskan kenangan buruk. Angin yang membawa pergi rasa sakit yang pernah ada dan mengantarkannya pada kedamaian hati. Aku sepenuhnya terbuai pada kebenaran angin seperti itu Van. Kejujuran angin dari Tuhan.
Sepertinya aku sudah jauh melangkah dari hari-hari yang pernah kita isi dan janjikan dulu untuk pergi ke banyak tempat. Sepertinya sudah beratus-ratus kilometer yang aku tempuh, jauh dari apa yang kita bayangkan saat masih bersama. Aku sudah begitu jauh meninggalkan bangku keramat kita Van. Bangku di mana kamu nembak aku dulu di kampus. Aku sudah mulai menapaki dunia di luar kampus. Aku sedang menjalani hari-hari untuk menjadi wartawan di media luar kampus, Van.
Mungkin kamu juga seperti itu. Mulai kembali kerja. Mencari pengalaman dan uang. Satu hal yang bikin aku bangga sama kamu dan tidak memandangmu sebagai cowok yang nggak bener. Aku justru apresiasi banget waktu tahu kamu kerja. Mencari hal baru untuk kemajuan hidupmu. Untuk pembuktianmu.
Mungkin peran angin pulalah kamu bisa sejauh itu melangkah Van. Sama seperti aku. Tak terbayang akan sejauh ini kakiku dan kakimu melangkah. Dan aku tahu pasti masih banyak kilometer yang perlu kita tempuh, tentu saat ini akan kita tempuh masing-masing dulu. Ke depannya apakah kita akan kerja sama, soal apapun itu, aku sepenuhnya tidak tahu. He-he-he.
Sejak dulu manusia memang menganut paham kepribadian ganda. Seperti mata pisau yang memiliki dua sisi, kamu memiliki sifat buruk, tapi dengan telaten terus menggali sifat baikmu. Dengan gigih kamu berusaha jadi yang terbaik. Saat ini, malam ini, dan malam-malam sebelum aku menulis ini, aku melihat yang baik itu darimu Van.

           

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment