In Mencatatnya My Life

2. Resume itu adalah petaka

*Seminggu setelah putus


Ivan, setahun lebih  ini aku menulis. Mewawancarai banyak orang dengan berbagai sifat dan ucapannya untuk aku tulis. Aku pun tiada menangis di dalamnya.

Nyaris seminggu ini aku menulis. Menghadapi satu orang dengan berbagai sifat yang tidak kubayangkan sebelumnya. Tidak aku dapat menerka keputusannya akan final memisahkan diri; agresi covert.  Tidak aku bayangkan betapa lemahnya akan rintangan yang sebenarnya sudah ia rasakan jauh sebelum pengakuannya malam itu. Tidak aku pahami bagaimana ia kehilangan rasa percaya dirinya akan bagaimana berjuang. Sebelumnya ia telah membuat pengakuan revolusioner kepada dunia: “Hey, aku sudah dewasa. Kata mamaku pun begitu.”

Dengan suara yang mindeng, ia membisikan bagaimana pengkhianatan itu terjadi. Kemudian ia menulis untuk bagaimana aku mencari cara menghilangkan rasa sakitnya. Malam itu, ia mengajarkan bagaimana sakitnya dikhianati. 

“Manusia memang mudah menjilat ludahnya sendiri,” katanya. 

Aku pun tiada mampu menahan sakit, berair mata. Dia lupa bahwa aku dan seorang ibu kepala sekolah di sana adalah sekelamin. Perempuan yang dijaga, dan jika ditinggalkan berarti mengecewakan.    
Ciputat (11/5/2012).

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment