In Mencatatnya My Life

7. Matras



Pagi ini, 14 September 2012, mungkin tidak akan bertemu dengan Ivan. Dia dan anak lainnya sudah sejak tadi malam pergi ke lokasi di mana angkatannya akan diuji mentalnya untuk mengeratkan satu sama lain, demi kemajuan organisasimu. Sama seperti dulu ketika aku menjalani pendidikan di LPM INSTITUT.

Di sini, di Ciputat ini, pagi ini, aku berdoa untuk kamu dan teman-teman seangkatanmu Van, aku berdoa agar semoga kalian bisa lebih bijak memahami perbedaan watak dan sifat satu sama lain. Van, percayalah, aku juga menginginkan kamu dapat yang terbaik. Aku tahu kamu punya semangat yang tinggi untuk memperjuangkan apa yang kamu inginkan. Hanya saja, kamu perlu menurunkan egomu. Terutama tentang kesadaran bahwa tidak ada orang lain yang bodoh, kemampuan orang itu berbeda-beda, dan kamu harus mampu menyikapinya dengan bijak. Kamu juga perlu menjaga baik rumah tangga organisasi angkatanmu. Jangan lagi senang mempublikasikan masalah ketidaksukaanmu terhadap kawan satu angkatanmu di facebook. Mempublikasikan masalah organisasi sama saja mencoreng nama organisasi itu.

Ivan, aku sempat kaget ketika semalam kawanmu yang juga kawanku, Daniel, mengatakan bahwa kamu tidak jadi meminjam matras punya Mbe yang ada di kosanku. Dengan nada yang menurutku tidak enak didengar, aku merasa Daniel kecewa kamu tidak jadi pakai matras itu. Atau tidak begitu adanya, mungkin saja Daniel memang sedang tidak enak mood-nya.
Dalam perjalanan pulang, kemarin malam, aku memikirkan apa yang kamu pikirkan tentang matras itu Van. Aku takut kalau kamu salah paham. Demi Tuhan, aku tidak mengulur-ulur waktu ketika Daniel atau Mbe meminta aku membawa matras, atau ketika Daniel ke kosanku untuk mengambil matras itu. hanya saja memang beberapa hari ini aku disibukkan dengan liputan, seperti kamu disibukkan dengan jadwal olahragamu. Mungkin itu juga yang membuatmu sampai tidak sempat menghubungiku untuk sekadar bilang bahwa kamu perlu matras.

Sebenarnya aku heran mengapa tidak kamu sendiri yang bicara padaku perihal meminjam matras itu. mengapa harus lewat Daniel dan Mbe. Apa kamu masih marah sama aku? Hal apa yang membuat kamu harus beralasan marah sama aku? Aku dan kamu tidak pernah ada konflik saat berpacaran dulu. Lalu mengapa kamu bersikap seperti ini? Seperti ogah berinteraksi denganku.
Van, jujur sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa kamu harus bersikap dingin kepadaku? Dulu, detik-detik menjelang putusnya kita, kamu bilang, “Putus kan bukan berarti musuhan. Masih berteman.”

Sampai saat ini pula, aku masih mengingat ucapanmu itu Van. Seharusnya kalau kita bisa berteman setelah putus, seharusnya pula tidak ada sikap dingin seperti sekarang ini. Seharusnya kalau semua baik-baik saja, kamu akan biasa saja memintaku untuk mengambil matras untukmu. Tapi apa? Kamu bahkan meminta kawanmu itu. Aku sedih Van. Aku sedang berusaha untuk bersikap normal, sedang berusaha untuk memamafkan diriku dan orang-orang di sekitarku, termasuk kamu, tapi sikapmu malah seperti ini. Ivan, aku ingin semua baik-baik saja. Aku tidak ingin ada salah paham, tidak ada ketegangan, dan biasa saja kalau melewati sekret masing-masing. 

Maafkan jika aku dulu tidak peduli padamu. Doakan saja aku agar mampu memaafkan pengkhianatanmu dulu kepadaku.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment