In Mencatatnya My Life

8. Di UKM EXPO 2012

Dari symbal yang dipukul sampai not-not pada keyboard yang kau bunyikan, apapun alat musik yang kau mainkan yang pernah aku saksikan, kamu tetaplah satu. Orang yang aku kenal sebagai anak rantau yang sedang berjuang untuk bisa hidup lebih baik. Kamu, tubuh kurus yang bermata sipit  dengan rambutmu yang kini sudah tampak gondrong.

Kamu terlihat berdiri kokoh dan angkuh dengan kemampuanmu memainkan alat musik, semua alat musik yang ada di studio. Aku jadi teringat oleh ceritamu di teras rumah ibu kosku, beberapa bulan lalu, sebelum kau memutuskan untuk cuti kuliah. Kamu bercerita bagaimana kamu dengan sombongnya bisa semua alat musik. Dan memang itu benar adanya.

Demi Tuhan, aku tidak mengerti apa yang dirasakan oleh hatiku sore ini. Aku melihat kamu main keyboard di panggung, dan bernyanyi pula. Suatu hal yang selalu ingin kamu tunjukkan saat kita masih bersama beberapa bulan lalu.
Tidak, aku tidak ingin sore ini menangis di depanmu, aku tidak ingin membuat sesak dadaku sendiri. Di tempat ini, di bangku ini, di satu waktu kamu dulu pernah menyatakan nyaman denganku. Kamu memintaku untuk jadi kekasihmu.

Setelah aku dan kamu berdiskusi untuk apakah aku menerima atau tidak permintaanmu, aku akhirnya luluh. Malam itu, sekitar pukul 11 malam aku milikmu, kamu milikku. Betapa manisnya momen itu pada sore ini untuk dikenang secara paksa atau tidak. Lebih manis lagi kalau seandainya itu dikenang di saat kita masih jadian, ha-ha-ha.

Yayayaya, memang belum ada habisnya cerita tentangmu. Aku ngerindu sama semua yang pernah kita lakukan bersama. Tapi aku nggak mungkin menerimamu lagi. Jelas, karena kau telah melanggar komitmen kita, ouh bukan, komitmenmu sendiri untukku per 3 Maret 2012. Kamu menjilat ludahmu sendiri. Sudahkah kamu berkumur dan bersikat gigi agar terhindar dari hal hina lagi? Mengkhianati diri-sendiri dan menularkannya ke aku?

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment