In Mencatatnya My Life

***Semacam kata pengantar

Malam ini (5//1/13) aku merapihkan dokumen di folder yang sudah aku jaga beberapa bulan terakhir. Folder yang berisikan tulisan-tulisanku tentangmu Van. Setelah dengan beberapa pertimbangan, aku akhirnya menyalin folder ini ke blogku. Kegadisan folder ini pun terenggut. 
            Tidak ada maksud yang tersembunyi dari keputusanku membagikan dokumen ini Van. Tidak. Mungkin suatu saat dokumen ini akan sampai kepadamu, entah siapa yang menggerakan, bisa saja Tuhan, aku, atau orang yang membaca blog ini. Kalaupun itu kejadian, aku tidak akan menutup-nutupinya. Aku tidak akan mengelak kalau itu tulisanku, luapan perasaanku pada sat itu. Aku berharap saat kamu membaca tulisan-tulisan ini nantinya, perasaanku lebih baik dari sekarang yang sudah merasa bebas. Artinya, aku bisa tersenyum, entah karena aku sudah punya penggantimu, atau kita yang dipersatukan lagi. Intinya, kalau dipertemukan, itu atas campur tangan Tuhan yang meridhoinya.
            Van, mungkin aku belum bisa menulis catatan harian seperti Gie ataupun Ahmad Wahib yang wacana-wacana bisa diperdebatkan banyak pihak. Sejauh ini aku hanya menuliskan berbagai perasaan ketika akan, sedang, dan sudah bersamamu. Dalam tulisan ini, aku menceritakan momen bahagia. Oh tidak! Aku lupa, momen bahagia aku tulis di buku harian yang jasadnya sudah kukubur dengan lakban. Sudah tujuh bulan lamanya ia tertidur sendirian di pojok kamar kosku.  Ia terkubur bersama kenangan indah kita dulu Van. Aku memang sengaja menguburkannya, ini merupakan strategiku agar bisa mencapai titik keikhlasan. Bukan, bukan karena aku membencimu. Aku hanya ingin kenangan itu punya tempatnya sendiri tanpa harus lebur oleh rasa sakitku kemarin-kemarin. Biarkan kenangan indah itu tetap suci dengan disemayamkan agar perhatianmu dulu tidak tercedarai. Hehehe.
            Dan yang sekarang aku suguhkan ke blog memang tulisan yang berisi sikap-sikapku pasca kita putus. Tapi kamu jangan beranggapan negatif dulu. Faktanya, memang aku menulis bagaimana rasa patah hati itu lahir, tapi makin ke sini, tulisanku menceritakan tentang kebijakan-kebijakan yang diberikan Tuhan bahwa aku harus fair melihat kamu dari sisi yang lain. Artinya, kalau aku menganggapmu seperti anak kecil dengan status-status yang kamu share di fb, maka aku harus bisa objektif melihat semangatmu dan kegigihanmu meramu masa depan, selain senyummu yang manis, wkwkwk. Tuhan maha adil Van, perlu kamu ingat itu ;).
            Inilah saat di mana diriku merasa putusnya hubungan kita membuat aku belajar (mencoba) dewasa. Ada yang berbeda ketika aku putus darimu dengan aku yang putus dari Rio di tahun sebelumnya. Entah karena Tuhan sangat baik padaku, atau bagaimana, aku merasa cukup bijak memandang fenomena putus kita dan sikapmu yang dingin.
            Awalnya memang berat Van ketika melewati itu, tapi sekarang sekalipun kamu masih dingin, aku bisa merasakan ketenangan, paling tidak untuk diriku sendiri saat bertemu dengamu. Buktinya, kemarin ketika aku akan mengambil infocus ke sekret riak, aku bisa dengan sangat tenang berbicara denganmu. Lidahku seperti tidak kelu ketika meminta infocus. Aku bahagia Van, rasanya seperti anak kecil yang baru mendapat nilai bagus dari latihan berbicara mengeja huruf. Aku ingin sekali memeluk Tuhan dan berkata padanya, “God, tararengkyu ;D. Btw, tadi Ivan terlihat capek sekali mukanya. Kalau ia ada masalah, tolong bantu untuk menemukan jalan keluar. Tolong bisiki juga agar ia jaga kesehatannya. Maaf nyuruh-Mu, God”.
            Sebagai penutup dari tulisan ini, aku ingin bilang kalau keputusanku berbagi tulisan ini ke blog merupakan bentuk rasa syukurku pada Tuhan. Jika di bulan-bulan sebelumnya aku menolak berbagi bukan hanya dari tulisan tapi juga cerita secara lisan bahwa aku pisah sama Ivan ke teman-teman, itu karena hatiku masih menganut paham: kesedihan, kalau terlalu dini untuk diceritakan kembali, akan berkali lipat rasa sakitnya.
            Maka, saat ini hatiku merasa sangat-sangat sehat meski kamu masih saja dingin. Mungkin karena Tuhan belum menghujani hatimu agar cair meski saat ini Ciputat nyaris hujan setiap hari, ahahaha. Tapi itu bukan masalah besar bagiku karena aku yakin Tuhan mendekapmu dalam pelukan yang sangat hangat Van. Tuhan tahu kok kalau kamu hamba-Nya yang terus melangkahkan kaki ke arah lebih baik. Jalannya saja yang terjal. Terlalu banyak godaan yang bisa merontokkan cita-cita luhurmu. Fighting! But Keep Calm, Still Woles. ;D
            Pada akhirnya, dalam kata pengantar ini, aku persembahkan tulisanku kepada kebaikan di hati yang ingin baik. eaaaaaaaa..... gubrak.
           
(Maaf, kata pegantar ini agak ngaco, seolah-seolah seperti ingin dicetak, padahal hanya ingin tidak ada salah paham antara aku dan Ivan jika nantinya ia membaca tulisan ini. Percayalah, aku ingin kamu menganggapku sebagai Ema yang ingin bersilahturahmi dengamu. Semoga tidak ada kebencian di antara kita Van. Itu saja. Aamiin.)

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment