In Tentang Atok Sugiarto

Wanita Perkasa di Kamera Saku

Rabu, 21 April 2010 | 17:28 WIB
Wanita Perkasa di Kamera Saku

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Atmi, wanita setengah baya asal Madura, Jawa Timur, itu terlihat perkasa. Kedua tangannya menenteng ban mobil. Di atas kepalanya bertengger sebuah koper besar, mengingatkan pada gaya seorang penjual sate asal Madura. Namun, Atmi bukanlah seorang penjual sate karena koper besar di atas kepalanya itu berisi perkakas bengkel tambal ban.

Aksi Atmi yang cukup spektakular itu berhasil direkam Atok Sugiarto, 48 tahun, dengan kamera sakunya. Atmi sendiri tak sadar jika ia sedang difoto, karena Atok memposisikan kamera sakunya di balik sebuah ban besar yang sekaligus menjadi fore ground (latar depan). Atok juga memanfaatkan lingkaran bagian dalam ban mobil itu sebagai bingkai (frame) atas aksi Atmi yang mengagumkan tersebut.

Atmi hanyalah satu dari wanita perkasa yang berhasil direkam aksinya oleh Atok Sugiarto dengan kamera sakunya. Masih banyak foto “Wanita-Wanita Perkasa” karya Atok Sugiarto yang dipamerkan di Tembi Rumah Budaya, Bantul, 21-25 April 2010. “Kabetulan, materi fotonya pas dengan momen peringatan Hari Kartini,” kata Atok Sugiarto di ruang pamer, pada Rabu siang ini.


Atok menjadi wartawan foto di berbagai penerbitan Kelompok Kompas Gramedia sejak 1981. Berbagai prestasi pernah diraih, antara lain, wartawan foto terbaik PWI Jaya (1989), wartawan foto terbaik Gubernur DKI Jaya (1989) dan Jawa Tengah (1990), The Most of Outstanding Sport Best Journalism Asean, Singapura (1990), dan Special Prize Earth Vision, Jepang (2001).

Sejak dua tahun belakangan ini Atok “pensiun” sebagai fotografer di lapangan karena ditarik ke jajaran staf redaksi. Meski tak lagi menenteng kamera profesional, kegiatan memotret tak pernah ditinggalkannya. Ia tetap mengabadikan momen-momen menarik yang ditemuinya di jalan, dengan kamera saku. Atok bahkan menyebut aktivitasnya itu sebagai Jurnalisme Pejalan Kaki.

“Kemana-mana saya memang jalan kaki, selain memanfaatkan angkutan umum untuk tujuan yang jauh,” katanya. “Kebetulan saya memang tidak bisa naik motor.”

Sejak awal menekuni dunia foto jurnalistik, Atok selalu tertarik dengan momen-momen masyarakat kelas bawah yang terjadi di jalanan. Anehnya, sebagian besar obyek fotonya adalah “wanita-wanita perkasa”.

Tidak hanya Atmi, seorang tukang tambal ban di daerah Bogor, Atok juga mengabadikan aksi wanita perkasa lainnya, seperti nenek Saida, 70 tahun, seorang tukang rakit di Kali Ciliwung. Juga Lina, seorang pemulung yang sedang menarik gerobak sambil menggendong anak bungsu. Sedangkan dua anak lainnya “bertengger” di atas gerobak yang ditariknya.

Sebagai wartawan foto, Atok tetap menggunakan pendekatan jurnalistik untuk menghasilkan foto-fotonya. Ia sengaja memotret secara sembunyi-sembunyi aksi Atmi yang sedang menenteng ban mobil dengan koper besar di atas kepalanya untuk mendapatkan ekspresi yang natural. Kemudian, ia melakukan pendekatan terhadap obyek untuk mendapatkan foto-foto detil seperti aksi Atmi yang sedang mencongkel ban serta foto kedua telapak tangan Atmi yang kasar. Maka jadilah sebuah rangkaian foto yang kemudian biasa dikenal sebagai esai foto.

Dari sekitar 90 foto yang dipamerkan, sebagian besar adalah foto esai yang dipajang menjadi 13 blok. Selebihnya adalah foto-foto tunggal seperti foto Lina, pemulung yang sedang menarik gerobak, serta foto Mak Item, seorang nenek dengan gendongan berat di punggungnya di terminal Blok M Jakarta.

Foto Mak Item dengan gendongan berat di punggungnya, juga foto seorang tukang ojek perempuan, terkesan dramatis, meski kurang fokus. “Karena saya menangkap momen, bukan mengejar kualitas foto,” kta Atok.


HERU CN

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment