In Kumpulan berita-berita Ema

Usaha “Basah” Omzet Jutaan Rupiah


Bisnis laundry atau binatu ibarat pakaian yang dijemur di tengah terik matahari. Semakin matahari bersinar, semakin terang pula prospek bisnis cuci-mencuci ini. Omzet usaha ini pada musim penghujan bisa mencapai puluhan juta tiap bulan.


Bisnis laundry di Indonesia adalah  salah satu fenomena bisnis yang luar biasa dan semakin bertumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan kebutuhan. Selain peluang pasar dalam bisnis ini yang masih sangat terbuka lebar, usaha yang mudah dijalankan, usaha laundry juga sangat menguntungkan. Omzet yang didapat dari usaha ini bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Pada mulanya, jasa laundry hanya bisa dinikmati kalangan menengah ke atas. Akan tetapi, saat ini berkembang bisnis laundry yang juga menyentuh kalangan menengah ke bawah. Sasaran pasar mereka umumnya para karyawan dan anak kos. Walhasil, jasa laundry saat ini jasa ini cukup merakyat seiring dengan munculnya fenomena laundry kiloan.

Laundry Kiloan
Seiring dengan ketatnya persaingan, para pengusaha bisnis laundry dituntut untuk mencari terobosan untuk meraup konsumen dan keuntungan yang signifikan. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir juga menjamur bisnis sejenis yang menggunakan waralaba lokal dan sistem agency yang bisa memberikan layanan dengan harga lebih terjangkau.
Selain itu, muncul pula strategi bisnis baru yang merupakan kombinasi antara harga yang murah dan sekaligus layanan cuci-setrika. Orang biasa menyebutnya laundry kiloan. Yaitu laundry biasa, tapi harga yang dibayarkan berdasarkan hitungan kilogram (bukan per potong pakaian). Nah, bila Anda menginginkan bisnis laundry untuk kelas menengah yang bisa terjangkau seluruh lapisan, mari kita lihat persiapan apa saja yang harus dilakukan.

Pertama, modal untuk investasi yang dibutuhkan untuk lokasi penjualan (outlet tempat menerima pelanggan atau cucian), lokasi mencuci, dan peralatan berupa mesin-mesin yang dibutuhkan, serta instalasi air, listrik, dan buangan air kotor.

Lokasi tempat menerima cucian dan tempat mencuci bisa dilakukan di tempat yang sama atau 
terpisah, mengingat dibutuhkan instalasi air yang memerlukan ruang dan biaya yang juga besar.
Ada pun mesin yang dibutuhkan adalah: cash register (mesin hitung uang), mesin cuci baju kapasitas besar/ industri, mesin pengering baju kapasitas besar, mesin setrika press besar, dan setrika tangan. Ini minimum standar mesin yang dibutuhkan untuk memulai usaha laundry kiloan. Jika jumlah cucian belum terlalu banyak, mesin press (setrika otomatis) bisa digantikan seterika tangan yang harganya jauh lebih murah.

Mesin cash register digunakan di lokasi penerima cucian untuk mencatat dan menerima transaksi keuangan. Mesin cuci digunakan untuk mencuci pakaian yang bisa dicuci dengan mesin biasa, sedangkan pakaian yang tak bisa dicuci dengan mesin cuci biasa harus dicuci secara terpisah.
Kendati Indonesia negara tropis, kita tak bisa mengandalkan matahari untuk mengeringkan cucian. Selain itu, diperlukan ruang jemuran yang amat besar untuk mengeringkan pakaian. Bila musim hujan tiba, akan sulit untuk mengeringkan pakaian. Solusinya, kita membutuhkan mesin pengering cucian.

Mesin setrika (press) otomatis juga diperlukan, tapi untuk mendapatkan press-line atau garis setrika yang jelas dan tegas biasanya tukang cuci lebih menyukai setrika tangan yang berat, karena memberikan hasil yang jauh lebih maksimal.

Sedangkan untuk biaya operasional sehari-hari, komponen yang diperlukan antara lain: (a) biaya sewa tempat deterjen dan pelunak cucian, (b) air, (c) bahan kimia untuk dry-clean, dan (d) SDM (pekerja). Untuk lokasi, bisa di rumah sendiri, terutama lokasi untuk tempat mencuci. Sedangkan kebutuhan air, bisa pakai air tanah, tapi usahakan disaring lebih dulu karena air tanah yang kotor bisa merusak pakaian.

Di beberapa laundry modern, biasanya menggunakan mesin penyaring air sebelum digunakan atau mesin daur ulang air. Beberapa laundry modern yang lebih mewah dan mahal biasa menggunakan air minum mineral untuk mencuci pakaian pelanggan.

Dibutuhkan 1 (satu) orang pekerja di tempat penerima cucian, 2 (dua) orang pekerja di tempat pencucian, 1 (satu) orang untuk mencuci, dan 1 (satu) orang lagi untuk setrika pakaian.
Modal terbesar yang harus dipersiapkan adalah untuk membeli mesin-mesin dan sewa tempat. 

Adapun harga mesin relatif, tergantung jenis mesin yang ingin dibeli. Mesin cuci punya spesifikasi, tergantung dari jumlah kilogram yang ingin dicuci apakah 10 kg, 20 kg, 30 kg, dan seterusnya, begitu juga dengan mesin pengering. Untuk mesin-mesin kelas industri keluaran Jerman memiliki kualitas terbaik, tapi harganya jauh lebih mahal dibandingkan mesin keluaran Jepang.

Untuk memulai usaha jenis rumahan, Anda bisa memakai mesin rumahan, tetapi daya tampung cucinya kurang besar. Sehingga bila permintaan cucian meningkat Anda harus menggunakan beberapa mesin cuci. Sebab, berbisnis laundry mengandalkan kuantitas yang besar, karena keuntungan per potong dari sisi nominal tak terlalu besar.

Maka, pemasaran atau jumlah cucian akan amat menentukan kapan investasi Anda kembali modal serta keuntungan yang ingin diraih. Jika usaha ini ingin dilakukan dengan skala menengah memang dibutuhkan modal yang cukup besar, antara ratusan juta sampai satu miliar rupiah.

Berpartner jadi salah satu alternatif yang bisa dilakukan. Namun, mencari partner pun tak mudah. Harus ada kecocokan dan kesamaan visi dan misi dalam menjalankan usaha bersama. Juga harus ada hitung-hitungan tegas dan jelas dalam modal serta sistem bagi hasil. Jika tak dibuatkan dalam bentuk legal (badan hukum), harus ada perjanjian bersama yang mengikat. Banyak sekali seluk beluk soal bisnis ini yang bisa Anda ketahui jika ingin memulainya di level menengah.

Jadi, perhatikan benar-benar target yang Anda bidik. Karena jika Anda salah dalam membidik segmentasi pasar, diferensiasi yang Anda punyai akan sia-sia. Anda bisa lakukan riset pasar dulu untuk membaca perilaku konsumen yang Anda bidik.

Harus Cermat
Bagi mereka yang ingin membuka usaha laundry, sebaiknya memilih lingkungan hunian yang baru dibangun. Ini penting karena membuka di hunian baru otomatis belum ada pesaing. Usahakan menjadi pionir supaya mampu merangkul pelanggan sejak dini, sehingga ada ikatan emosional.

Bila usaha ini sudah berjalan, Anda harus mempertahankan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan tercermin dari kualitas yang memenuhi mutu dasar jasa laundry, yaitu harus bersih, tersetrika rapi, tidak ada kerusakan di pakaian, aroma harum, selesai tepat waktu, dan layanan ramah. Anda juga harus mengikuti sistem yang ada di industri laundry, misalnya jika sistem harga yang laku saat ini adalah kiloan, maka mau tidak mau jasa laundry yang sudah ada juga menerapkan praktik harga yang sama.
Bila ingin menjadi terwaralaba, perhitungkan dengan cermat nilai investasi yang mesti disediakan dan perkiraan balik modalnya. Salah satu keuntungan menjadi terwaralaba adalah mendapat brand yang sudah mapan, tapi Anda akan terikat membayar biaya waralaba dan royalti.

Anda pun harus mematuhi serangkaian aturan, termasuk bila ada kewajiban membeli produk pewangi atau deterjen ke pewaralaba. Sementara itu, bila membuka sendiri, skala usaha bisa disesuaikan dengan kekuatan modal Anda dan tidak terikat. Namun, Anda tetap harus mengenalkan dan menguatkan merek untuk meraih kepercayaan konsumen.

Pada akhirnya, kesuksesan bisnis jasa laundry sangat tergantung dari pelayanan yang berkualitas, serta terobosan-terobosan agar bisnis laundry yang Anda jalankan berjalan dinamis sesuai dengan kebutuhan pasar. Selamat berusaha. [] Bisnis Global, Ema/Diolah dari berbagai sumber

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Berita Roti Bakar Eddy

Roti Bakar Eddy, Dulu Terusir Kini Mengusir


Roti Bakar Eddy

Dulu “Terusir” kini “Mengusir”


Oleh Ema Fitriyani dan Sudan

Jakarta adalah kota yang mengandung sifat “magnet” tersendiri bagi penduduk Indonesia, khususnya bagi kaum urban dari daerah dengan tujuan ingin mencari kehidupan lebih baik.
Ibu kota  tidak hanya menjanjikan “surga” untuk para pencari rezeki dengan banyak peluang meraup rezeki, namun  juga “neraka” bagi mereka yang gagal bertaruh hidup di kota metropolitan ini.

Biaya hidup yang tinggi dan persaingan yang berat tidak akan memberi ampun bagi pendatang yang tidak siap “lahir batin”. Mungkin, inilah yang terbersit di pikiran salah seorang pemuda kelahiran Solo, Jawa Tengah, bernama Eddy Supardi 15 tahun (pada saat itu) yang ingin mencari kehidupan lebih baik di Jakarta.

 Ia memutuskan untuk hijrah dari daerah Solo, Jawa Tengah, ke kota dimana banyak orang-orang di desanya mengadu nasib.

 Berbekal niat dan restu orangtua, akhirnya Ia pun menapakkan kakinya pertama kali di Jakarta tahun 1966. Kedatangan Eddy ke Jakarta boleh dibilang nekad, dengan bekal yang seadanya. Awalnya, Pak Eddy muda menjadi karyawan di warung roti bakar kaki lima. Pekerjaanya melayani dan membereskan barang dagangan. Ia juga pernah mencecap menjadi penjual koran. Saat itu, yang dipikirkannya hanyalah mencari uang untuk makan.
Kesabaran yang membuat Pak Eddy bertahan berjuang di Jakarta walaupun banyak kesusahan dan rintangan tidak membuat Pria yang kini berusia 61 tahun ini pulang kampung pada saat itu.

Bulan ke bulan Ia menerima gaji yang hanya cukup untuk biaya hidup, namun dengan manajemen keuangan yang sederhana. Manajemen keuangan yang sederhana namun bersahaja inilah yang menuntut Pak Eddy menjadi orang yang hemat. Ia menabung sisa uang dari gajinya, dengan harapan suatu saat kelak jika modalnya dirasa cukup akan membuat usaha sendiri.  Sebelum menemukan “harta karun” Roti Bakar, Pak Eddy mencoba berjualan lontong sayur dan bubur ayam di wilayah dekat Universitas Al-Azhar Indonesia, Blok-M, Jakarta Selatan.

Ia memboyong gerobaknya di pinggir jalan. Jadi sudah sering Pak Eddy berurusan dengan petugas keamanan dan ketertiban kota (Kamtib). “Dulu bapak sering diusir sama petugas kota,” ujar Mas Ariyadi anak ke-4 dari Pak Eddy yang kini meneruskan usaha roti bakar ayahnya di daerah blok-M tersebut kepada Bisnis Global,, Senin (24/12).. Keberadaan gerobak Pak Eddy dianggap menganggu warga sekitar karena pelanggannya yang lumayan ramai.
Gonta-ganti dagangan pun telah berkali-kali dilakoninya, sampai pada tahun 1971 ia mencoba dagangan roti bakar dengan bermodal uang perak (mata uang zaman dulu) yang sedikit di lokasi yang sama. 

“Belum lagi saat itu modal yang dikeluarkan bapak masih hitungan perak,” ujar Ari, sapaan akrab Ariyadi.

Pada saat itu, ia menilai di seputar komplek Universitas Al-Azhar Indonesia belum ada yang menjajakan roti bakar. Berbekal pengalamannya ketika menjadi karyawan usaha roti bakar milik orang lain, akhirnya Pak Eddy memutuskan mencoba usaha yang satu ini. “Bapak dagang roti di sini karena pada saat itu belum ada yang dagang roti bakar,” lanjut Ari.
“Sebetulnya, hasil bapak dari dagang itu hanya buat makan sehari-hari,” lanjut  Ari begitu panggilan sehari-harinya. Namun, karena kerja keras dan lingkungan yang mendukung, perlahan tapi pasti pembeli roti bakar gerobakanya terus bertambah.

Pundi-pundi rupiah pun mulai mengalir di tabungannya sehingga Pak Eddy mempunyai kesempatan yang besar untuk lebih mengembangkan usahanya. Banyak para pembeli yang menyebut roti bakar dagangannya dengan sebutan “Roti Bakar Eddy.” Padahal menurut penuturan Ari, awalnya usaha dagang ayahnya cuma buat survive keluarga.

Karena lokasi berjualan roti tersebut terletak di pinggir jalan, untuk yang kesekian kalinya Pak Eddy harus kembali berhadapan dengan Kamtib. Bukan kali pertama, Pak Eddy diusir oleh Kamtib karena dianggap menganggu ketertiban dan kenyamanan.
Saat brand roti Eddy mulai dikenal khalayak, tepatnya tahun 1980-an, 5 tahun kemudian usaha rotinya harus rela mengalami kerugian pendapatan. Saat itu, pemerintah mengeluarkan peraturan tidak boleh keluar malam setelah pukul 21.00 pasca terjadinya peristiwa kerusuhan yang terjadi di wilayah Blok M dan sekitarnya.

Kini, Roti Eddy sudah sukses dan mendapat tempat di hati para pembelinya. Jika ditanya roti bakar yang enak di Jakarta, mayoritas masyarakat sekitar kompak menyebut Roti Bakar Eddy. Melengkapi kisah suksesnya, tempat awal mula dirintisnya usaha ini, tepatnya di belakang Universitas Al-Azhar Indonesia Jakarta, kini sudah permanen. Pengunjung bisa menemukan dan menikmati khasnya roti Eddy setiap malam mulai pukul 18.00-02.30 untuk hari kerja dan pukul 18.00-03.00 untuk akhir pekan.

Kekonsistenan rasa dan kualitas roti bakar Eddy  membuat pembelinya setia berlangganan, bahkan sampai keturunan mereka juga. “Saya sering ngobrol sama beberapa anak dari pelanggan dulu yang sering beli roti bakar bapak,” lanjut Ari penuh semangat.
Sembilan warung roti bakar Eddy sudah menyebar ke wilayah Blok-M, Ciputat, Senayan, dan Mampang, di bawah manajemen Ari anak ke-4 Pak Eddy. Kemudian di Depok, Cibubur, dan Pondok Gede dikelola oleh Kakaknya yang bernama Risdiyanti dengan manajemen dan konsep yang berbeda.

Menjelang malam, gerobak putih bertuliskan Roti Bakar Eddy Blok M makin ramai dipenuhi pengunjung. Mereka rata-rata anak muda. Memesan roti sambil menikmati atmosfer malam Blok M. Penikmat roti bakar Eddy Blok M mulai ada seiring dengan didirikannya usaha kuliner ini oleh Eddy Supardi.

Ditemui di warung roti Eddy di wilayah Blok-M, Ari menyatakan bahwa lokasi sangat berpengaruh terhadap omzet. “Kita hanya memilih tempat operasi yang strategis dan ramai,” ujarnya. Selain mengedepankan pelayanan dan rasa, tempat strategis pula yang membuat beberapa selebritis hingga orang-orang besar ikut “nongkrong” di warung roti bakar yang selalu penuh pengunjung ini.

Patut diketahui, roti bakar Eddy memproduksi rotinya sendiri dan tidak memesan atau menyuplai dari pabrik atau kios roti tertentu. Alasanya, untuk menjaga kualitas produk. “Kami membuat roti sendiri, tidak menggunakan pengawet, jadi kalo udah tiga hari roti mulai keras,” lanjut Ari dengan percaya diri.

Bahan-bahan yang digunakan tidak jauh berbeda dengan roti-roti pada umumnya seperti tepung roti protein, tepung terigu, gula pasir, garam, susu bubuk, telur ayam, air, mentega dan susu evaporated tanpa pengawet. Kehegienisan juga menjadi alasan utama manajemen untuk menjaga kualitas roti.

Ciri khas dari roti bakar roti Eddy ini teletak pada ukuran rotinya yang  besar, keseimbangan manis meses dan gurih keju serta tekstur rotinya yang empuk sehingga memberikan sensasi yang spesial bagi yang menikmatinya. Keju yang menggunung dengan kandungan meses cokelat di dalamnya membuat roti bakar Eddy layaknya “gunung berapi” yang siap meledak di mulut penikmatnya.

Warung roti bakar Eddy yang dikelola oleh Ari mengusung konsep “kaki lima”. Selain untuk menjaga tradisi dan konsep awal yang dijalani oleh ayahnya, Ia mengungkapakan jika dibentuk seperti demikian akan lebih menampung banyak pelanggan mengingat banyaknya pelanggan roti Eddy di wilayah tersebut. Hal tersebut berbeda dengan enam cabang di bawah manajemen Risdiyanti yaitu di wilayah Depok, Cibubur, dan Pondok Gede yang mengusung konsep semi resto. 

“Saya ingin pelanggan dapat suasana yang nyaman, tenang  dengan harga yang murah,” terang Ibu tiga anak ini.

Di cabang Bintaro sektor 9, roti Eddy dilengkapi mushola, washtafel dan toilet, juga ada area bermain anak yang cukup luas. Rata-rata enam cabang di wilayah Depok, Cibubur dan Pondok Indah masih menyewa tempat berbeda dengan warung roti bakar Eddy Blok-M yang sudah permanen namun bongkar pasang. Hal ini tidak menjadi masalah bagi Risdiyanti anak ke-2 Pak Eddy, karena Ia berpendapat, “Alhamdulillah walaupun masih sewa, warungnya rame terus dan Alhamdulillah banyak pemasukan dan semuanya sudah dihitung.”

Roti bakar Eddy bukan hanya menawarkan roti bakar dengan meses dan keju, ada beberapa menu hasil inovasi pengelolanya diantaranya  Roti bakar standar (satu rasa), Roti bakar medium (dua rasa), Roti bakar corned, Roti bakar corned keju, V.S. (Keju+Coklat+Kacang+Susu), Kebo (Keju+Coklat+Pisang), Roti bakar SE (Telor+Corned), Roti bakar 2 tg (Keju+Corned+Telor), Roti bakar Burju (tabor keju) dan Pisang Bakar (Keju+Coklat+Susu).

Beberapa menu roti bakar yang menjadi favorit pengunjung adalah roti bakar keju dan roti bakar 2TG (telor, cornet daging sapi). Di setiap warung bakar roti Eddy tidak hanya menjajakan roti bakar saja bahkan banyak unit dagang lain di bawah manajemen roti bakar Eddy diantaranya Siomay, Batagor, Sate Padang, Pempek Palembang, Bubur Ayam, Mie keju, Nasi Uduk (ayam dan bebek  goreng dan bakar), Nasi Goreng, Aneka Juice, dan Baso dengan harga yang berbeda.

Dalam satu hari kerja, roti bakar Eddy rata-rata habis hingga 500-600 porsi pada hari biasa dan 750-800 porsi pada hari libur (weekend) dengan menu berbeda dan tentunya dengan harga yang berbeda pula. Jika dikalkulasikan dari satu cabang beromzet Rp. 5 juta hanya dari roti bakar keju saja, belum ditambah menu roti bakar lain dengan harga yang berbeda dan ditambah unit-unit dagang lain seperti bubur ayam, baso, sate padang, siomay dan batagor, nasi goreng, Mie keju, dan aneka jus dan minuman.

Omzet roti bakar Eddy satu cabang diperkirakan mencapai angka milyaran dalam satu bulan. Omzet yang sangat fantastis bila mengingat pada mulanya hanya berawal dari satu gerobak roti bakar nomaden. Kini, omzet seluruh cabang roti Eddy sudah bernilai triliun-an. Sang perintis, Pak Eddy, kini menikmati masa emasnya. Perjuangan dan kerja kerasnya tempo dulu membekas dalam ingatan anak, cucu, serta para pelanggannya.

Pendapatan yang besar, cabang yang tersebar di banyak wilayah di Jakarta, ditambah pembeli setia yang terus berlangganan, tentunya diciptakan oleh tim yang baik dan solid. Saat ditanya tentang gaya manajemen seperti apa yang diberlakukan antara owner dan karyawan, Ari menerangkan bahwa Pak Eddy dan keluarga menggunakan manajemen kekeluargaan.
Jadi tidak ada batasan, namun  tetap menjaga kesopanan dan saling menghargai. “Semua orang bisa bicara tentang roti bakar Eddy dan complain dari customer. Ada karyawan sekarang sudah memulai usaha sendiri usaha roti bakar, kita bantu sampai dia bisa mandiri,” ucap Ari.

Begitupun sama halnya yang diungkapkan oleh kakaknya, “saya ingin usaha roti bakar Eddy ini berkah untuk semua karyawan, pelanggan dan termasuk saya sekeluarga.” Disinggung mengenai bagaimana manajemen karyawan, Risdiyanti mengungkapkan bahwa karyawan adalah aset perusahaan yang musti dirawat dan dimaksimalkan kinerjanya.

Banyak karyawan yang sudah bekerja selama puluhan tahun, bahkan 25 tahun, yaitu mulai dari zaman Pak Eddy yang memimpin sampai kini beralih generasi kepada anak-anaknya. Rata-rata karyawannya berasal dari Solo daerah asal Pak Eddy. Mungkin Ia ingin mengajak orang-orang sekitar merasakan kebahagian yang kini sudah dicapai. Roti bakar Eddy ini menerima kerjasama dari berbagai pihak dalam hal tempat, manajemen akan mensurvei terlebih dahulu apakah tempat yang ditawarkan sesuai kriteria atau tidak. Seperti strategis, luas dan ramai.

Namun roti bakar Eddy nampaknya memiliki prinsip bisnis tersendiri tidak menerima bentuk kerjasama dalam bentuk franchise karena faktor kesiapan dan tanggungjawab. “Yang namannya mempertahankan lebih sulit. Semakin besar bisnis roti bakar ini semakin besar pula tanggungjawab kita di hadapan Allah,” ujar Risdiyanti ketika ditemui di roti bakar Eddy cabang bintaro sektor 9 (Rabu, 27/12/12).

Tidak ada pelayanan tanpa complain, sesuatu yang pasti ditemukan pada setiap kegiatan bisnis. Begitu pula roti bakar Eddy juga pernah mendapat complain dari pelanggan terkait lamanya pesanan. Sebagai tanggapan dari manajemen, biasanya mereka memberikan minuman terlebih dahulu dan menyediakan hiburan supaya customer dapat menunggu dengan tenang. 

“Setiap orang kan beda-beda yah, ada yang 1 menit lama, ada yang 30 menit lama, tapi kita beri minum dan hiburan dulu supaya dapat menunggu pesanan yang sedang diproses. Karena kita kan langsung masak, bikin di tempat jadi butuh waktu,” terang Risdiyanti dengan tenang.

Persaingan bisnis roti bakar di Jakarta terbilang cukup sengit. Banyaknya usaha roti bakar menciptakan persaingan tersendiri. Ada yang sportif ada pula yang tidak. Roti bakar Eddy selalu mengedepankan koreksi diri sendiri daripada harus terpancing strategi pesaing yang unfair (menjelek-jelekan) dan ikut menjelek-jelekan. “Jangan nyalahin orang, lebih baik koreksi aja diri kita,” lanjut Risdiyanti.

Semua bentuk kegiatan bisnis roti bakar ini sangat menjunjung nilai-nilai saling menguntungkan dan menomorsatukan kepuasan konsumen. Dengan kontrol  kualitas yang terus-menerus dilakukan oleh Pak Eddy sendiri beserta anaknya membuat roti bakar ini masih eksis selama empat dekade lebih.

Manajemen berharap pada tahun 2013 bisnis ini akan berkembang dengan lebih baik dan besar lagi. “customer loyal, semakin ramai, semakin berkah, buka cabang baru dan karyawan senang,” terang Risdiyanti dengan semangat.

Rahasia dan tradisi yang selalu diamalkan oleh roti bakar Eddy peningkatan servis terus-menerus, menjaga kualitas yang baik, menciptakan kenyamanan bagi customer, kondisi tempat yang luas dan bersih serta lokasi yang strategis bagi customer.

Pak Eddy adalah cermin pekerja keras, pantang menyerah dan bersahaja. Roti bakar Eddy adalah kisah sukses sebuah usaha yang mengedepankan sisi kemanusiaan melalui pelayanan yang memuaskan dan kualitas yang terjaga. Kisah lika-liku perjuangan bisnis Pak Eddy dengan roti bakarnya dapat kita jadikan inspirasi bahwa kemerdekaan hidup bukan hanya milik orang berdarah biru atau orang berlimpah harta. Semua keajaiban hidup hanya dapat diraih oleh orang yang bersungguh-sungguh.

Dimuat di Majalah Bisnis Global Edisi  Februaru 2013

Read More

Share Tweet Pin It +1

15 Comments

In Berita

Booming Properti 2013


Booming Properti 2013

Oleh Ema Fitriyani

Salah satu properti di daerah Jakarta Selatan
Foto-foto: Ikbal Aliandre
Tahun 2013 dianggap menjadi tahun terbaik bagi investasi properti di Indonesia. Pasalnya, setelah prestasi industri properti pada tahun 2012 meningkat, kini di tahun ular air ini pun akan terus tumbuh pada tingkat yang tinggi.
            Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) memprediksi kenaikan industri properti tahun 2013 sekitar 12-15%. Alasannya, karena inflasi diperkirakan hanya bertengger pada level 5%, kemudian BI rate akan tetap stabil di bawah angka 6%, sehingga konsekuensinya suku bunga Kredit Kepemlikian Rumah (KPR) akan tetap bertahan pada posisi 7,5%. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda pada 2012 lalu lantaran banyak bank-bank swasta yang bersaing ketat untuk memasuki pasar properti dengan menawarkan tingkat suku bunga KPR yang terendah.
            Dalam pantauan kinerja industri properti 2012 oleh PSPI, faktor suku bunga rendah menjadikan daya beli konsumen menjadi bergairah. Direktur Eksekutif PSPI, Panagian Simanungkalit ketika ditemui Bisnis Global di Panangian School of Poperty, Thamrin City, Jakarta, menjelaskan bahwa rumah tinggal, apartemen strata title (kepemilikan), rumah bandar, kantor strata title, pusat perdagangan komersial, dan pusat perbelanjaan jumlahnya semakin meningkat. Akan tetapi, ada tiga subsektor unggulan yang akan tampil dengan kinerja yang baik dari segi permintaan dan penjualan sepanjang tahun 2013.
Pertama, industri properti rumah tinggal yang harganya lebih di bawah Rp500 juta. “Ini (rumah tinggal) menjadi pasar terbesar karena peminatnya banyak, meliputi hampir 60% pasar tahun ini,” katanya, Selasa (8/1/13). Kedua, apartemen strata title (kepemilikan) yang harganya kurang dari Rp600 juta akan menjadi sektor dominan. “Karena menguasai pasar sebesar 70%,” jelasnya lagi.
Sedangakan untuk industri properti pada perkantoran di kawasan Central Bussines Distric (CBD)—seperti Sudirman, Kuningan, dan Casablanca—maupun di luar CBD seperti di TB. Simatupang, akan tampil sebagai pasar properti komersial dengan permintaan paling tinggi pada tahun 2013 karena arus investasi asing di Indonesia masih akan terus meningkat tahun ini.
Untuk di luar Jabodetabek, booming industri properti terjadi juga di kota-kota besar seperti Bali, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar, Manado, Balikpapan, dan Pekanbaru. Soal harga, standar properti di Jakarta masih menjadi acuan untuk kenaikan harga di kota-kota lain. “Properti di sana (luar daerah) mengikuti harga di Jabodetabek, karena jumlah permintaan di luar daerah tidak merata. Kenaikan harganya yang mengikuti, tapi harganya tidak sama dengan Jabodetabek, ungkapnya.

Tak terpengaruh krisis global

Krisis ekonomi global yang menghantam dunia beberapa waktu lalu ternyata tidak membuat industri properti lesu. Hal ini berbeda dengan industri-industri lain yang terkena dampak secara langsung akibat terpaan krisis ekonomi global. Menurut Kementerian Perindustrian (2011), terdapat 28 sektor industri yang sangat terpukul akibat krisis ekonomi global tahun 2011 lalu, di antaranya adalah industri garmen, industri obat-obatan dan kesehatan, industri elektronika, sepatu olahrga, industri logam dasar non besi, industri kertas, serta pabrik pemintalan.
Kegairahan industri properti ini disebabkan karena investor masih menempatkan Indonesia (khususnya Jakarta) sebagai kota terbaik untuk tujuan investasi properti secara global. Menurut riset Pricewaterhouse Coopers (PwC) dan Urban Land Institute (ULI) pada tahun 2013 ini Jakarta menduduki peringkat 11 dari 21 kota di Asia Pasifik yang menjadi tujuan utama para investor properti.
Selain itu, menurut riset PSPI tahun ini, faktor lain yang turut mendukung kegairahan industri properti di Indonesia karena saat ini masih ada 15 juta keluarga yang belum memiliki tempat tinggal. “Jadi selama suku bunga rendah, krisis ekonomi global tidak akan berpengaruh pada laju industri ini,” ujarnya. Meskipun begitu, para investor dan pengembang properti harus berhati-hati, sebab tanpa ada krisis pun Indonesia bisa mengalami krisis secara mendadak kalau suku bunganya tinggi. “Tinggal bagaimana pemerintah mengendalikan inflasi,” lanjutnya.
Oleh sebab itu, strategi-strategi cantik nan cerdas perlu dibangun oleh para investor dan pengembang agar tidak mengalami “krisis” terhadap investor lainnya. Menurut Panangian, ada tiga langkah yang dilakukan sebelum melakukan investasi di industri ini.
Pertama¸ jika investor ingin berinvestasi untuk menghasilkan uang dari properti seperti apartemen sewa, rumah kos, ruko, perkantoran sewa, dan lainnya, maka investor harus mempertimbangkan lokasi yang sedang tumbuh (sunrise location). Maksudnya, lokasi yang permintaannya melebihi pasarannya. Ini adalah karakter yang terbaik untuk properti. Misalnya, di kawasan CDB,” ungkap pria pemilik Panangian School of Property ini.
Kedua, investor juga harus mempertimbangkan tingkat harga, nilai sewa, dan cape rate dari properti itu sendiri. Cape rate adalah perbandingan antara sewa dengan harga jual. Investor harus memilih properti dengan harga jualnya yang kurang dari satu setengah milyar ke bawah karena pasar ini menurutnya adalah properti yang terbaik untuk dijadikan investasi di tahun 2013. “Cape ratenya pun harus di atas 8%,” jelasnya kembali.
Ketiga, investor harus memastikan membeli properti pada perusahaan yang memiliki manajemen yang baik. Dengan kata lain, sebaiknya properti tersebut dibangun oleh pengembang yang terpercaya.

Manfaatkan Peluang
Menjamurnya pengusaha properti dari yang besar seperti Agung Podomoro Group, hingga yang kecil-kecil, harus dicermati investor dan pengembang. Karena persaingan yang semakin ketat, Panangian menyarankan agar para pemain bisa memanfaatkan peluang. Bagaimana caranya?

Di Indonesia, banyak orang main properti mengcopy dari properti di sekitarnya. Biasanya yang dilihat hanya keuntungannya saja. Tapi tidak tahu resikonya ada,” tegasnya.
Panangian mencontohkan, Anda membangun rumah di sekitar wilayah Bekasi, walaupun lagi booming, kalau peminatnya cuma 300 orang setiap bulan, sementara di situ ada 20 pengembang, membangun 6000 unit, berarti cuma 300 unit saja yang berpotensi dibeli. Ini baru bisa habis terjual 20 bulan.
“Bisa bangkrut, walaupun lagi booming. Berarti pasar itu membuka peluang tapi buka membuka kehancuran ketika tidak mampu memanfaatkan peluang,” tandasnya.
Ia melanjutkan, misalnya pengusaha itu hanya mengcopy dari kiri kanan, membuat tipe 60 atau 36 dengan lokasi di Bekasi, kemudian dijual 300 juta, dan dijual 350 juta, mungkin masih akan laku. Tapi begitu dijual menjadi 600 juta di lokasi yang sama, siapa yang mau beli?
Di sinilah, menurut Panangian, sikap seorang investor properti diuji kreativitasnya.  Pengusaha investor harus mampu memposisikan dirinya secara luwes dengan pesaing-pesaingnya. Harus lihat bagaimana jumlah peminatnya di sana. Kemudian, peminatnya yang paling banyak ada di tipe berapa, di segmen harga berapa. “Jangan di situ segmennya Rp500 juta, dibangunnya harga Rp 1 milyar, mana laku, lanjut Panangian.
Selanjutnya, yang paling penting ia juga harus melakukan riset pasar sebelum terjun ke lapangan. Pertama kali yang di riset adalah jumlah peminat, jumlah luas lokasi dengan rencana pemasaran, harganya yang paling dicari di situ, tipe rumah yang paling diminati, dan fasilitas-faslitas yang dibutuhkan. “Sepanjang pengembangnya cerdas memanfaatkan riset pasar dan memposisikannya dengan pas, mestinya ia sukses,” tandasnya.
Menggeliatnya industri properti di Indonesia sekaligus membuka peluang bagi para investor lokal untuk lebih memaksimalkan perannya di dalam negeri.

Majalah Bisnis Global Edisi Februari 2013

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments