In Mencatatnya My Life

18. Halo, Ibu!

Kepala sekolah di Banjit itu sedang ada di Bekasi. Menengok anak-anaknya yang sedang merantau, jauh dari tanah Lampung yang penuh bukit-bukit. Memberi pelukan nyata yang tertahan ribuan kilo meter. Mengusap rambut ketiga anaknya, lembut—mengalahkan sampo dari Perancis.

Si ibu itu mungkin berkerudung. Kesehariannya mengajar menggunakan seragam safari. Setiap pagi ia datang ke sekolah, mengurus ini-itu selaiknya pimpinan sebuah sekolah. Ia, dengan tekun menjalani hari-harinya, mengajar, merawat rumah, mendoakan ketiga anaknya, bahkan sampai menitikkan air mata sehabis solat, berdoa semoga anak laki-laki pertamanya di Ciputat agar kuliah dengan lancar, karir bermusiknya tetap bersahaja, dan bertindak sebagaimana orang dewasa. Untuk kedua anaknya yang lain pun begitu. Semoga menjadi laki-laki yang tidak lagi mengecewakan seperti tersangkut kasus setahun belakangan ini. Untuk si perempuan bontot, supaya masakannya makin ciamik dan lezat.

Ibu, aku tidak tahu siapa namamu. Penilaianku di atas pun hanya berdasarkan asumsi-asumsi saja. Tapi percayalah, ada hal yang aku yakini sampai saat ini tentangmu. Kata anakmu—setahun lebih yang lalu—engkau adalah wanita tegar. Dengan kepergian suamimu yang amat tidak gentle, aku tahu ada titik dalam dari kesabaranmu tengah diuji. Dan aku tahu, engkau berjuang untuk itu. Untuk bisa menjadi wanita tegar.

Tahukah engkau, aku tak pernah merasa kecewa atas semua cerita-cerita yang anakmu ucapakan padaku. Kupingku tak pernah memerah tentangmu. Yang ada, hatiku panas membayangkan kelakuan suamimu, raja yang tega meninggalkan permaisuri dan ketiga anaknya. Mataku sering merasa panas dan berair jika membayangkan itu. Aku merasakan bagaimana anakmu yang kini menjadi keyboardis itu bibirnya kelu saat menceritakan itu semua, bu. Kabar terakhir yang kudengar suami kembali lagi. Dan aku menunggu kelanjutan dari berita besar itu. Aku ingin tahu sikapmu terhadap laki-laki yang sudah melukai hatimu itu. Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu, bu. Mungkin nanti dengan penuh kasih, menceritakan juga bagaimana ketegaran hatimu.

Halo, ibu! Salam kenal dariku—yang ingin sekali belajar menjadi wanita tegar sepertimu. Adakah engkau mampir ke Ciputat?

Ciputat, 20 Juni 2013

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment