In Mencatatnya My Life

Sajian Manis di Awal Bulan



Senyum seringkali tersimpul pada wajah orang setiap  awal bulan, tak terkecuali anak kosan. Biasanya para anak rantau ini mendapat kiriman uang bulanan dari orang tua di kampung. Maka, makan enak dengan menu ayam bakar, nonton bioskop, hangout, dan lain-lainnya seakan menjadi hal wajib yang harus dilakukan seraya bilang, "mumpung awal bulan". Senyumpun mengembang di wajahnya sambil mengunyah ayam bakar di tempat makan paling enak dan mungkin mahal, di dekat kampus.
Rupanya, tak hanya karena kiriminan uang saja yang membuat anak kosan sumringah. Di antara tribun gedung pusat kegiatan mahasiswa (UKM) UIN Jakarta, seorang laki-laki bermata sipit tersenyum bersama angin yang menyertainya sore tadi.  Bagi penghuni cerita-cerita blogku, tentu laki-laki itu tak asing.
Ya, dia adalah anak rantau asli Palembang yang mempunyai jiwa besar untuk membahagiakan keluarganya. Dia anak dari ibu salah satu kepala sekolah di Banjit. Dan dia juga laki-laki yang diam-diam masih kuperhitungkan di hatiku sejak insiden 6 Mei 2012 silam.
Sontak aku kaget melihat senyumnya tadi sore. Senyum lebar dengan kelegaan hati yang kulihat seperti dua tahun lalu sebelum petir menghantam hubungan baru kami. Jangan ditanya bagaimana keadaanku sore tadi setelah beberapa langkah melewatimu--dan senyummu, tentunya. Seperti di novel-novel romantis, senyumku juga terus mengembang, berbanding lurus dengan hatiku laiaknya adonan roti yang baru dikeluarkan dalam oven: mengembang sempurna!
Tapi apalah artinya roti jika tidak ada yang memakannya. Tentu dia akan menjadi sajian manis yang tak berguna. Tubuh dan isinya yang menggoda lidah dan perut hanya sebatas basa-basi saja. Seperti roti di balik etalase Breadtalk: sulit digapai jika tak punya uang.
Haruskah aku membayar lebih untuk dapat (lagi) melihat senyummu? Haruskah aku mengeluarkan uang yang banyak agar bisa menikmati sajian manis di bulan ini? Aku pun sama seperti anak kosan kebanyakan yang "kaya raya" hanya di awal bulan, bahkan awal mingguan saja.
Ah, rasanya untuk menyampaikan pesan ini ke dirimu pun mesti membutuhkan biaya untuk membeli pulsa modem, atau ke warnet. Jika pakai wifi kampus pun, tentu aku harus membayarnya dengan waktuku. Jadi, benar ya tak ada yang gratis di dunia ini, bahkan untuk sekedar menikmati senyummu di awal bulan ini? Bulan Maret yang pernah kau isi dengan ketegasan hatimu padaku, dua tahun lalu; juga menghancurkannya tiga bulan setelah itu. Anak kosan pun tahu, akhir bulan menjadi waktu yang sangat mengerikan. Mungkin juga senyummu nanti: datar.
Ciputat, 4 Maret 2014

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment