In Mencatatnya My Life

Kepada Buronan Masa Depan

Bogor, 26/12/14

Setelah dua tahun lamanya tak saling berinteraksi layaknya antar teman, malam kemarin, tepat pada saat malam Misa Natal, kau menghampiriku dan memberiku selamat atas 30 tahun kelahiran organisasiku di kampus. Kau benar-benar seperti buronan yang telah lama pergi dan tak memberi kabar, lalu pulang dengan menyalami tanganku sambil tersenyum. Suatu tindakan yang menurutku lebih seperti sebuah pelukkan hangat yang setiap sentuhannya berisi rindu-rindu yang tertahan selama ini, setidaknya rinduku padamu (halaaaah). Padahal aku sendiri lupa apakah dulu kau pernah memelukku atau tidak. Seingatku tidak. Tapi malam kemarin benar-benar seperti sebuah kepulangan yang lama dinanti. Perasaan kaget dan senang bercampur membentuk tanya: “ke mana aja selama ini, hei?”

Secara fisik, kulihat tak ada bedanya. Masih kurus seperti dua tahun lalu. Mungkin dandannya yang sedikit lebih baik meskipun bukan tipe dandanan laki-laki seperti yang kusukai. Sifat sombong, angkuh, dan alaymu pun masih ada. Meskipun kulihat ada perbedaan yang cukup signifikan dalam berbicara, setidaknya dalam kata-kata yang kau tulis di media sosial yang beberapa kali pernah kutengok. Jauh lebih dewasa, tidak penuh emosi lagi dalam menyampaikan ketidaksukaanmu terhadap sesuatu. Semoga kedepannya kau menjadi orang yang lebih baik lagi dari sekarang.

Tapi, sekalipun aku menulis banyak hal tentangmu di blog, aku justru adalah orang yang tak tahu apa-apa tentangmu.
Aku hanya menuliskan sesuatu tentang apa yang kulihat, kuperhatikan, kudengar, dan kupahami sebentar saja tentangmu karena terlalu cepatnya hubungan kita berakhir baik ketika baru kenal pada Desember 2011 sebelum kau ke Lampung ataupun setelah pacaran yang hanya bertahan selama tiga bulan di awal tahun 2012. Aku tak pernah tahu apakah dulu kau benar-benar tertarik padaku atau tidak? Benarkah karena ada masalah keluargamu saat itu yang membuatmu berada di posisi sulit dan akhirnya memutuskanku? Atau memang kau sudah tak suka lagi denganku lantaran aku tidak cukup cantik dan manis seperti perempuan lain? Yang mana di antara hal itu yang benar? Apakah selama kita berpacaran, kau merasa senang? Apakah kau sulit melupakanku? Atau justru hanya perlu beberapa hari saja kau bisa menghapus aku? Aku juga ingin dengar mengapa kau terlihat begitu dingin pasca putus? Apakah kau benar-benar ingin menghindar dariku? Lantaran tak suka atau justru merasakan sakit yang sama denganku? Aku tak pernah tahu apakah kau pernah memikirkanku setelah putus? Dan aku juga tak pernah tahu apakah kau sekali saja merasa kangen padaku seperti aku rindu padamu selama dua tahun ini? Seperti apa reaksimu setelah membaca blogku pun, aku tak tahu. Aku benar-benar tak tahu, bahkan untuk mengira-ngira jawabanmu seperti apa saja, otakku tak sampai. Dan rasanya aku juga tak punya kuasa memintamu apalagi memaksamu untuk menjawab semua pertanyaan itu.

Aku berharap dengan banyaknya tulisanku di blog tak membuatmu merasa terganggu. Hanya sedikit sekali yang kutahu tentang hidupmu dan keluargamu selama ini. Selebihnya adalah harapan dan doa-doa yang baik yang kutulis untukmu.

Sesosok Ibumu di Otakku
Dari cerita-cerita yang kau sampaikan dulu saat masih pacaran, soal keluargamu yang sampai saat ini masih membuatku penasaran. Tentang sosok ibumu yang tegarlah yang terngiang-ngiang di pikiranku. Seakan aku telah mengenal ibumu dan berbagai kesusahan yang dialami perempuan tiga anak itu, padahal tak sekalipun aku bertemu dengannya. Namanya pun aku tak tahu.

Pernah suatu hari, aku kepikiran ibumu sampai berhari-hari lamanya. Seperti sebuah perasaan khawatir dan cemas akan keadaanya sampai-sampai aku mengirim DM ke akun twitter saudaramu, kalau tidak salah namanya Marilin Cindy Rosalien. Lebih dari dua bulan kayaknya DM-ku baru dibalas dan dikatakan bahwa ibumu baik-baik saja. Syukurlah. Saat itu sebenarnya aku ingin menanyakan langsung padamu, tapi aku takut kau berpikiran aku hanyalah modus atau apalah namanya untuk bisa dekat lagi denganmu. Padahal aku benar-benar ingin tahu, aku juga tidak mengerti kenapa bisa sekhawatir itu.

Saat itu juga sebenarnya saudaramu itu menyuruhku untuk menanyakan langsung ke ibumu via akun facebook ibumu, tapi tidak kulakukan. Aku menertawakan diriku saat itu, siapa aku ini tiba-tiba menanyakan tentang ibumu ke akun facebooknya. Bukan tidak mungkin ibumu nanti akan menertawakanku juga saat membaca messageku. Jadi kuputuskan untuk tidak menanyakan lagi ke saudaramu perihal apalagi mengunjungi akun facebook ibumu. Aku tidak mau terlalu jauh lagi kepo hal-hal tentangmu, bisa-bisa kau makin dingin saja nantinya.

Yang bisa kulakukan ya menulis dan berdoa. Menulis tentang sosok ibumu yang berjiwa tegar yang ingin sekali dari dulu aku belajar darinya soal ketegaran seorang perempuan, istri, dan ibu bagi anak-anaknya selama ini. Berdoa, aku berdoa untuk ibumu supaya diberikan kekuatan, kesabaran, ketabahan di setiap sendi kehidupan yang dijalaninya saat itu. Aku yakin perempuan yang pernah melahirkanmu itu pasti punya jiwa sekuat baja. Seperti itulah hal tentang ibumu mampir di pikiranku saat itu mungkin juga sampai sekarang. Semoga kau tak merasa risih diam-diam aku memikirkan ibumu. Kalaupun kau terganggu, katankalah padaku secepatnya agar aku tak memposting ini semua di blog dan akan tersimpan rapih di laptopku seperti selama ini.

Sejak kau memilih pergi, diam, dan tak ingin balikan lagi, aku praktis tak berinteraksi denganmu—lebih tepatnya aku tak tahu bagaimana harus berinteraksi denganmu melihat kau dulu sejahat itu—termasuk menanyakan bagaimana kabarmu dan ibumu di Lampung. Sekalipun aku ingin tahu, sekeras hati pun akan kutahan untuk bertanya pada teman-temanmu seperti Minda dan Daniel, apalagi menanyakan langsung padamu. Lagi-lagi aku tak ingin menjadi orang yang membuatmu enek, mual dengan aku menghubungimu dan bertanya padamu. Aku tak ingin hubunganku denganmu yang selama ini dingin menjadi lebih buruk lagi karena hal itu.

Untuk kesekiankalinya yang bisa kulakukan saat itu hanya menulis dan menulis sesuatu tentangmu di blog, facebook, twitter, ataupun di laptop yang beberapa tulisannya sengaja tak kuposting. Tidak penting apakah kau peduli atau tidak dengan tulisanku. Yang pasti ada perasaan tenang dan lega setelah menuliskan segala sesuatu yang tak bisa terucap itu selama dua tahun ini sampai akhirnya, malam kemarin, seperti sebuah berkah di malam Natal, kau menemuiku dan bercerita soal keluargamu.

Entah apa yang menggerakanmu untuk bercerita kepadaku karena terlalu singkat waktu kita. Seandainya saja malam itu lebih panjang lagi, sampai pagi pun akan kujabani untuk mendengarkan ceritamu. Tapi yang pasti malam kemarin aku senang bisa mengobrol denganmu. Senang karena kau masih mengganggap aku ada, meski entah apakah sebagai teman atau hanya basa-basi saja karena kita berada di ruangan yang sama dan saling melihat. Apakah kau juga senang? Atau justru sebaliknya? Katakanlah! Bukankah aku sudah sangat jujur melalui blog ini?

Jika memang keluargamu sedang bermasalah, pastikan kau tak berkelakuan yang aneh-aneh. Kau anak pertama, harapan ibumu, Gita, dan Bayu. Bagaimanapun sekarang tanggung jawabmu lebih besar dengan mengetuai organisasimu atau hal lain yang tak kuketahui. Tentunya masa depan pun sedang menunggumu, buronan! Setidaknya jangan lupa sempatkan diri untuk solat dan berdoa.

Menjadi Musisi Hebat
Mungkin terdengar lebay, tapi ada satu hal yang selama ini selalu muncul di otakku dan tak pernah kuceritakan kepada siapapun ataupun kutulis di blog. Tentang kau beberapa tahun ke depan. Kata-kata “Buronan Masa Depan” yang pernah kau ucapkan dari ketidaksengajaan kita ngobrol di sms waktu itu, saat ini menjadi makna yang beda. 

Entah dari mana awalnya, aku kepikiran bahwa suatu saat nanti kau tak kan lagi jadi buronan kere tapi jadi sesuatu yang berharga, bukan hanya untuk keluarga dan orang-orang sekitarmu, tapi juga untuk orang banyak yang menikmati karya senimu di bidang musik. Kau akan hebat dalam menciptakan lagu-lagu sepanjang masa seperti lagu-lagu Dewa 19 (kebetulan itu salah satu band favorit gue) atau jenis lagu keren lainnya. Dan ketika suatu saat kau bisa terkenal sebagai musisi hebat, aku akan tersenyum dan bersyukur meski hanya melihatmu di televisi dan mungkin aku akan mengucapkan selamat lewat blog pula. 

Semoga nanti saat kau sukses, tak lupa padaku, setidaknya pada apa yang kutulis di blog tentangmu selama ini. Ummm…. Apakah menurutmu semua yang kubayangkan ini terdengar lebay? Jawablah! Aku berharap, setiap kali aku menulis dan mengeja kalimat dalam blog ini soal harapan dan doa-doa tentangmu, ada malaikat lewat biar segera dikabarkan pada penghuni langit supaya diaamiini.

Seperti itulah selama ini aku membayangkanmu. Maaf sekali jika semua yang kutulis menurutmu mungkin berlebihan tapi itulah aku, mengekspresikan kejujuran lewat tulisan. Bukankah kau juga seperti itu ketika bermusik atau membuat lagu dengan jujur apa adanya? Kau tumbuh subur di otakku juga imajinasiku. Jika memang pertemuan kemarin malam adalah sesuatu yang baik, maka janganlah cepat berakhir. Tapi jika itu adalah sesuatu yang buruk, aku harap aku tak akan sesakit dulu. Selama ini kau sudah hidup dan berkembang baik-baik di blogku, semoga tak menjadi rusak karena pertemuan kemarin. Sebab aku tak ingin senang yang berlebihan, sewajarnya saja supaya tidak semenderita dahulu.

Satu yang pasti, terima kasih sudah menemuiku kemarin dengan santainya! Jangan sungkan untuk bercerita lagi padaku, mungkin akan kutulis diblog jika kau tak keberatan. Mungkinkah kau akan bercerita soal bagaimana daerah tempatmu tinggal listriknya sering mati setiap harinya dan kau membelikan genset untuk ibumu? Apakah cerita itu benar adanya atau hanya karanganmu saja waktu itu di sms? Atau tentang hantu-hantu di hutan dekat rumah nenekmu, Baturaja atau Balaraja? Masihkah indah bukit-bukit di Banjit? Dan cerita-cerita lainnya yang pernah kau kisahkan di hari pertama kita bertemu dan berteman di teras depan kosanku ditemani hujan yang cukup lama.

By the way, kenapa tanganmu bergetar ketika sedang makan saat di sampingku kemarin di SC? Mungkinkah kau juga grogi dan senang? Aku tak tahu, tak pernah tahu.

Finally, aku berharap aku bukan Ema seperti dua tahun lalu, yang menangis tersedu-sedu ketika sedang menulis tentangmu karena itu merusak konsentrasi belajarku. Aku yakin benar tulisanku kali ini tanpa dibarengi kesedihan seperti yang kemarin-kemarin. Aku menulis ini karena aku senang akhirnya kita bisa berinteraksi layaknya teman, mengobrol dengan asyik tanpa berharap lebih dan berbicara dengan lancar tanpa beban apa-apa. Itu saja. Semoga hanya itu yang ada di pikiranku.

Ini tulisan terpanjang yang pernah kutulis untukmu, lima lembar. Semoga tak menyesal sudah membacanya karena skripsi kuabaikan selagi menulis ini. Dan aku begitu menikmati setiap paragraf yang kuketik dari awal hingga akhir. Seandainya menulis skripsi semudah menulis curhatan seperti ini.


Sekian.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment