In Okky Madasari Views

Okky Madasari dan Segala Pesonanya

Okky Madasari
sumber foto: http://okkymadasari.net/
Perempuan asal Magetan, Jawa Timur ini sudah menyedot perhatian saya selama 2 tahun belakangan ini. Awal saya mengetahui namanya itu dari salah satu postingan foto yang diunggah dosen Kajian Prosa saya, Ibu Novi Diah. Di situ saya melihat sebuah foto sang dosen dengan perempuan yang memakai penutup kepala tetapi rambutnya terlihat. Terdapat keterangan di bawah foto itu berisi ucapan terima kasih sang dosen yang sudah dipercaya menjadi moderator dalam sebuah diskusi novel Pasung Jiwa di Universitas Pamulang yang kemudian menarik perhatian saya. Mulanya saya tertarik dengan foto kedua wajah mereka.

Pertama, Ibu dosen yang semester lalu mengajar kelas saya (kala itu saya masih semester lima atau enam) yang begitu sumringah senyumnya berdampingan dengan si penulis yang berpenutup kepala tadi. Ibu dosen yang membuat saya malu untuk bertemu dengannya bahkan jika hanya selintas. Pasalnya, saya sudah melakukan hal yang bagi saya sangat memalukan ketika ia masih mengajar kelas Kajian Prosa, yakni saya melakukan tindakan plagiat dengan mengkopi jawaban analisis novel pada tugas akhir semester dari sebuah laman di internet. Padahal, kala itu ia adalah dosen pertama yang mewajibkan mahasiswanya membuat pernyataan anti plagiat dalam sebuah surat yang harus ditandatangi si mahasiswa dan disertakan dalam makalah tugas akhir Kajian Prosa.

Memang manusia pintar dalam mencari-cari alasan. Kala itu, dalam hati saya mengalibikan perbuatan plagiat itu dengan kondisi saya yang terdesak dengan berbagai deadline, mulai dari deadline kerjaan di kantor dan deadline tabloid pers kampus INSTITUT dalam waktu bersamaan. Lagi-lagi kesemuanya harus saya selesaikan dengan menulis. Membuat kelimpungan dan akhirnya menyerahkan tugas akhir saya dengan sangat tidak elegan meskipun di akhir saya mendapat nilai B. Agak aneh sebenarnya, bagaimana mungkin dosen sejeli dia memberi saya nilai B dari sebuah tulisan plagiat. Sejak saat itu saya selalu deg-degan kalau bertemu dengannya ataupun sesuatu yang berhubungan denganya. Saya merasa bersalah dan ingin mengakui perbuatan saya (saya rasa dia sudah tahu). Dan akhirnya rasa bersalah itu yang mengantarkan saya memerhatikan postingan foto Ibu Novi Diah dengan perempuan berpenutup kepala itu.

Tak lama untuk saya mengetahui nama perempuan berpenutup kepala itu. Ibu Novi menyertakan namanya sebagai penulis novel Pasung Jiwa dalam caption. Detik itu juga saya memutuskan ingin membeli novel itu lalu menganalisisnya dengan alasan untuk membayar rasa bersalah saya kepada Ibu Novi. Setelah gajian, saya langsung menuju toko buku Gramedia  Margonda. Tak sulit menemukan buku itu karena memang baru terbit. Entah kenapa ketika menemukan buku itu lalu membayarnya, saya merasa senang. Padahal saya belum tahu seperti apa detail ceritanya.

Yang Tertandatangani
Gayung bersambut, ternyata saya berkesempatan untuk mewawancarai dia pada 24  Oktober 2013 untuk sebuah rubrik sosok di majalah INSTITUT. Sebuah majalah sederhana yang diterbitkan oleh saya dan teman-teman yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT UIN Jakarta. Saya masih mengingat tanggal itu karena itulah kali pertamanya saya bertemu dengan Okky Madasari. Ia membubuhkan tanda tangannya dan menulis “Untuk Ema, terus berkiprah merebut kebebasan” pada Pasung Jiwa saya. Kami bertemu di sebuah kafe di daerah TB Simatupang, tepatnya berhadapan dengan kantor ANTAM.

Kesan pertama yang saya dapatkan dari OM—singkatan untuk Okky Madasari—adalah orangnya hangat. Senyumnya lebar. Sebagai narasumber, ia begitu terbuka dengan saya, menyambut saya—yang terlambat datang karena kesulitan menemukan kafe tempat kami melakukan wawancara—dengan senyum dan menawarkan minuman. Saat itu saya gugup sekali, mungkin karena kondisi badan yang ngos-ngosan setelah kesasar mencari alamat kafe karena saya turun bis di depan ANTAM dan ternyata lumayan jauh ke kafe dengan berjalan kaki sebab jalan raya dan tol yang memisahkan ANTAM dan kafe di sebrangnya.

Saya masih ingat bagaimana kala itu OM menenangkan saya ketika saya memulai wawancara dengan terbata-bata. Ia bilang, “santai saja. pelan-pelan saja apa yang ingin ditanyakan,”. Sebuah tindakan penuh pemakluman yang lembut dari seorang senior kepada juniornya.  Saya berasumsi mungkin karena OM sebelumnya adalah wartawan, jadi dia memahami betul bagaimana rasanya ketika gugup menghadapi narasumber. Ia juga tak segan untuk bertanya pada saya yang notabene jarang dilakukan oleh seorang narasumber. Ia menanyakan saya semester berapa. Sudah memulai menulis skripsi atau belum. Ia juga menyilahkan saya untuk menganalisis novel-novelnya. Kala itu saya mengatakan bahwa saya dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia jadi novel yang saya bahas harus memuat tentang pendidikannya juga. OM lalu mengatakan bahwa Pasung Jiwa bisa dianalisis terkait soal masalah pendidikan. “Masa kecil Sasana (tokoh utama dalam Pasung Jiwa) yang mengalami bullying dan pemaksaan orangtua terhadap kesukaan dan keinginan anaknya bisa dijadikan wacana yang bagus dalam skripsimu,” katanya waktu itu. Ia pun mengiyakan saat saya meminta bolehkan untuk bertemu dengannya untuk keperluan skripsi.

Saya merasa hari itu tidak hanya melakukan wawancara, tapi juga diskusi gratis dengan seorang novelis berhati besar, soal skripsi pula. Saya akhirnya benar-benar menetapkan Pasung Jiwa untuk menjadi karya sastra yang saya teliti dalam skripsi saya dengan memadukan lintas ilmu yakni, sastra dan psikologi dalam menganalisis Sasana. Sayangnya, hampir satu tahun belakangan ini, skripsi itu belum rampung juga karena berbagai kendala. Insya allah saya kejar target selesai Maret tahun ini, agar Mei bisa wisuda.

Wanita Penuh Keberanian
sumber foto: Majalah INSTITUT
OM benar-benar sosok yang rendah hati. Sebagai penulis, ia tidak sombong. Pengalaman wawancara itu yang membuat saya kelak ingin menjadi seperti dia. Sepulang dari wawancara itu, saya berjalan kaki dari kafe menuju perempatan TB Simatupang yang ke arah Ciputat untuk menaiki bis Deborah ke arah Lebak-Bulus. Sepanjang jalan, saya terbayang-bayang sosok OM. Saya merasa apa yang dia capai saat ini juga menjadi cita-cita saya selama ini. Menjadi wartawan, menulis novel, bertemu dengan jodoh saat liputan (manisnya), dan kabarnya ia juga akan ke Eropa (saat itu bersama suami)—yang juga menjadi keinginan lama saya untuk bisa menginjakkan kaki di benua putih itu. Rasanya, sejak saat itu OM menjadi role model bagi saya untuk mewujudkan cita-cita saya selama ini yang kadang redup. OM adalah sosok perempuan modern tapi memiliki wajah ayu gadis-gadis Jawa, kulit hitam yang eksotis dan senyum manis yang lebar, serta rambut hitam yang panjang.

Kekaguman saya tak berhenti pada hari itu juga. Saya membaca tulisan-tulisannya di blognya. Saya suka membaca tentang kepeduliannya terhadap orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya, di Tanjung Barat. Ia menceritakan kondisi lingkungan warga di sana yang terpinggirkan di tengah megahnya gedung ANTAM dan berbagai waralaba makanan dari luar yang menjadi cikal-bakalnya mendirikan Muara Bangsa. Saya suka bagaimana OM menuliskan apa yang menggelisahkan sekitarnya. Saya juga suka dengan tulisan berjudul After 3 Years http://okkymadasari.net/my-life/after-3-years/#more-479 . Tulisan itu seperti menunjukkan bahwa perubahan itu pasti, terlepas dari terceklis atau tidaknya target-target dalam hidup kita dan bagaimana kita menyikapi perubahan itu. Kelak, saya ingin target yang saya buat dalam hidup juga bisa terceklis dan saya diberi kelegaan hati jika memang terjadi perubahan.

After 3 Years...
sumber foto: http://okkymadasari.net/
Saya merasa nyaman sekali membaca tulisan-tulisan OM, seperti terus mengingatkan saya bahwa gerbang yang akan saya lewati setelah lulus dari kampus adalah sebuah kehidupan penuh kompetisi di mana mewujudkan apa yang kita cita-citakan atau terbawa arus adalah pilihan yang sulit tapi mutlak harus dihadapi.

Satu lagi, ada yang mengganggu saya ketika saya menyelesaikan Maryam dan mengingat percakapan wawancara di kafe kala itu. Tentang anak. Kehadiran anak dalam keluarga. Maaf sebelumnya kalau saya lancang mengatakan ini mbak. Saya hanya berpikir mungkinkah kegelisahan Maryam pada Maryam tentang anak juga terjadi pada mbak OM? Lalu kemudian mbak memasukkan kegelisahan itu dalam sosok Maryam. Keterkaitan pengarang terhadap karyanya tidak bisa diabaikan begitu saja, itulah mengapa ada yang namanya pendekatan ekspresif dalam teorinya pendekatan sastra Abrams. Maaf mbak jika pertanyaan saya itu tidak sopan. Itu hanya asumsi saya sebagai pembaca novel mbak yang berkesempatan mewawancarai mbak OM lalu memunculkan pertanyaan seperti itu. Sekali lagi saya minta maaf. Sebenarnya saya ingin sekali juga berdiskusi tentang skripsi saya kepada mbak.

Terlepas dari kelancangan saya itu, pada surat ini saya ingin mengatakan bahwa saya menyukai tulisan-tulisan mbak, bukan hanya terbatas pada keempat karya mbak, tapi juga pada pandangan, ide, gagasan, curhatan mbak di dalam blog, dan puisi-puisinya. Sepenuhnya saya menyukai sudut pandang yang mbak pakai dalam bercerita, diksi-diksi yang mudah dipahami dan tak mengawang-awang, penggambaran kondisi sosial yang terjadi di lingkungan mbak, isu-isu vital dalam bangsa ini, dan puisi-puisi yang tidak njilemet dalam diksi seperti beberapa penyair yang mengedepankan keindahan kata tapi sulit dipahami (maaf, ini tidak berarti mendeskreditkan beberapa penyair tersebut). Seperti Sandal Jepit, Tanah Dijual, dan Puing.

Begitulah saya merasa sudah tersedot oleh pesona mbak Okky Madasari selama ini. Tergerak untuk melakukan hal berguna, meski masih dalam lingkup menguntungkan diri sendiri dan keluarga seperti lulus dan mendapat pekerjaan yang memang saya suka, menjadi reporter dan editor bahasa di antaranya. Kelak saya juga ingin bisa menghasilkan karya, menyuarakan kebenaran yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan dalam sebuah novel. Seperti dalam larik terakhir dalam puisi Pendakian yang saya suka sejak pertama kali membacanya:               
Aku menujumu
hanya dengan hatiku.
               
Dan di akhir tulisan ini, saya benar-benar ingin memeluk mbak OM atas tulisan-tulisan yang membangkitkan semangat untuk mewujudkan cita-cita. Saya percaya bahwa sebuah tulisan memiliki kekuatan sangat besar untuk mempengaruhi seseorang. Seperti kalimat-kalimat Pram, bait-bait Wiji Thukul, dan banyak karya sastrawan lainnya di negeri ini yang mampu menyedot bahkan menggerakan massa untuk menggulingkan sebuah kekuasaan yang dibangun di atas kesemena-menaan pemimpin. Juga seperti kisah David Chapmann yang sampai tega mengarahkan peluru ke kepala Jhon Lenon karena salah satunya setelah disinyalir membaca karya-karya JD. Salinger.

Begitupun kata-kata yang senantiasa mbak OM posting pada blog yang juga mempengaruhi saya untuk terus mengejar mimpi, menjadi wartawan, lalu editor bahasa, dan menghasilkan karya yang bisa membawa dampak baik bagi masyarakat banyak, dan tidak lupa mampir ke Eropa. Saya ingin bisa melakukan banyak hal dengan tulisan saya kelak. Saya memang belum membaca semua tulisan di blog mbak OM, semoga selalu ada maaf yang menyertai dari senior kepada ketidaktahuan junior.

Sekian. Terima kasih atas waktu yang mbak OM sempatkan untuk membaca surat ini. Semoga mbak OM selalu diliputi rasa bahagia dan berbagi kepada diri sendiri dan sesama.

Salam Kagum
Regards, Ema Fitriyani

Bogor, 28 Februari 2015

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment