In My Life yang berjarak

Menjaga Jodoh (?)

Jika jodoh itu rahasia, bolehkah kita menjaga calon jodoh?

Membicarakan jodoh memang tidak pernah ada muaranya. Dia (jodoh) penuh misteri dan terselubung. Bahkan bagi mereka yang sudah menikah pun. Siapapun tidak ada yang tahu persis, sekalipun CIA menurunkan jagoan mereka ke lapangan, dan FBI meretas sistem keamanan negara musuhnya, ataupun Ki Kusumo dan Demian adu kekuatan. Orang terpintar dengan IQ 200 pun tak akan bisa menebaknya. Jodoh memang domain Tuhan. Seperti rejeki dan kematian, jodoh adalah hal ghoib yang hanya bisa nyata hanya dengan kehendak Tuhan.

Seperti halnya beberapa minggu ini, saya dikejutkan dengan kemunculan seseorang yang sebenarnya sudah lama saya kenal—sekitar lima tahun lalu. Dia datang dengan mengajukan “penawaran” yang berbeda. Bukan bermaksud mengartikan kawan lama saya itu seperti sales yang menjajakan dagangannya lalu merayu saya agar membelinya, tapi memang dia—untuk ketiga kalinya—datang kepada saya dengan membawa sejumlah penawaran. Tentunya penawaran yang dimaksud adalah sebuah kebahagian di masa depan untuk saya dan keluarga.

Rencana Kuliah
Dalam sebuah pesan pribadi di facebook, dia mengatakan tahun ini akan kuliah. Katanya saya adalah orang pertama yang ingin dia beritahu bahwa tahun ini ia akan melanjutkan studinya setelah dua tahun kemarin melanglang buana di Bali. Tentu saya senang mendengarnya. Sebelumnya saya memang pernah menanyakan alasan kenapa dia tidak melanjutkan kuliah setelah lulus SMA. Meski saya tidak kaget dengan alasan yang dia berikan, tapi menurut saya kuliah itu penting.

Ijazah strata satu memang tidak menjanjikan sebuah kesuksesan dalam karier bahkan bukan suatu jaminan untuk mendapatkan pekerjaan faktanya memang banyak pengangguran bergelar S1. Tapi, kuliah juga menjadi salah satu modal yang tidak bisa diabaikan dalam dunia penuh persaingan ini. Selain itu, kuliah juga tidak secara langsung mengubah pola pikir kita dalam memandang suatu masalah atau perbedaan pandangan. Jadi, buat saya kuliah itu tetap penting apalagi kondisi keluarga kawan lama saya itu memungkinkan sekali untuk menguliahkan anaknya. Terlebih dia anak satu-satunya.

Saya jadi teringat apa yang orangtua katakan pada saya ketika suatu hari kami bertiga menghitung jumlah uang yang sudah dikeluarkan untuk membiayai saya sejak TK sampai SMA. Dan kami bertiga cukup terperangah melihat angka nol yang bertengger di kalkulator, jumlahnya hingga puluhan juta. Itu baru satu anak lho. Dan ibu saya pun mengambil kesimpulan bahwa amat disayangkan jika anak umi mah (saya) tidak kuliah. Modal yang dikeluarkan untuk sampai SMA sudah besar begitu tapi banyak lulusan SMA di sekitar rumah yang akhirnya hanya menjadi buruh pabrik garmen, nganggur, bahkan yang perempuannya akhirnya menikah. Meski kuliah mahal, harus disegerakan. Begitu kira-kira umi dulu berkata. Maka jadilah sekarang saya kuliah meski skripsi belum juga kelar *di situ kadang (selalu) saya (serius) merasa sedih.

Bikin Usaha
Balik ke masalah kawan lama saya itu. Selain kuliah, dalam pembicaraan kami berikutnya yang kemudian pindah ke email adalah tentang dia yang bercita-cita membangun usaha catering. “Masih cari modal dulu, doain semua lancar ya,” begitu katanya pada surat elektronik yang dikirim kepada saya. Tentu dalam hati—juga dalam balasan email saya selanjutnya saya mendoakan supaya bisnis catering yang dia cita-citakan bisa terwujud dan diberi kemudahan untuk mencari modalnya. 

Pembahasan soal usaha catering makanan itu bermula dari pembicaraan kami yang mengarah soal masa depan. Saya lupa pastinya siapa yang mulai, tapi intinya saya bertanya nanti setelah lulus S1 mau kerja apa? Jadi karyawan kantoran? –melihat dari gayanya kalau pakai kemeja itu seperti kantoran serta orang teratur dan pintar matematika seperti dia biasanya memilih pekerjaan yang pasti-pasti saja, pikir saya begitu. Tapi ternyata dia malah menjawab mau buka usaha catering di Solo atau Jogjakarta. Di situ saya kaget membaca jawabannya. Kenapa catering?

Saya lebih suka kalau dia jadi pekerja kantoran seperti teller di bank-bank yang mukanya cakep-cakep, he-he-he. Tapi pikiran saya itu hanya berdasarkan pada “kalau pagi melihat suami pakai setelan kemeja dan dasi, bercelana bahan panjang, pergi kerja. Pokoknya kece dah”, itu pikiran pendek saya, lebih tepatnya fantasi saya soal gambaran suami kelak. Tapi kemudian saya berpikir lebih ke depan lagi, bahwa makanan itu memang menjadi ladang usaha yang basah karena bahkan sampai detik-detik kiamat mau bertamu ke bumi pun, orang masih nyari makan kalau lapar. Juga melihat makmurnya salah satu warteg di Jalan Pesanggarahan Ciputat, samping kampus saya yang bisa memperkerjakan belasan gadis-gadis dari Jawa. 

Jadi saya melihat bagus juga ide kawan lama saya itu. Tentunya dengan segenap jiwa saya mendukungnya. Tentu juga saat ini hanya kata-kata semangat lewat balasan email dan doa yang bisa saya kasih ke dia sebagai modal membuka catering.

Tinggal di Solo atau Jogja
Tinggal di Solo atau Jogjakarta. Itu jawaban dia ketika saya bertanya mau tinggal di mana nanti, Madiun, Bogor, atau Jakarta? Dia jawab, “di Solo atau Jogja saja, kedua kota ini berada di antara Madiun dan Bogor,” tulisnya begitu. Tentu Bogor di sini maksudnya rumah saya dan Madiun adalah tempat tinggalnya sejak kecil. Ini juga merupakan jawaban yang di luar dugaan saya. 

Saya kira dia akan memilih tinggal di Jakarta, mengadu nasib pada Ibukota—lagi-lagi karena saya membayangkan dia akan berkerja di bank. Bukankah Jakarta adalah tempat impian semua orang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak—juga ingin kaya. Apalagi dia kan dari daerah, pasti akan berpikir, “Jakarta, im coming… give me much money!”. Tapi dugaan saya melesat. Dia ingin menetap di Solo atau Jogja juga karena dua kota itu menurutnya adalah kota romantis.

Rumah, Mobil, dan Anak
Pembahasan soal rumah, mobil, dan anak memang terpisah. Maksudnya tidak dibahas dalam satu waktu kami email-emailan. Anak-anak dibahas ketika sedang membahas usaha catering dan rencana tinggal di Solo atau Jogja. Dia yang selama 22 tahun hidupnya tidak memiliki saudara kandung dan saya yang memiliki dua adik dan menjadi anak pertama dengan beban yang berat saat ini membuat kami sepakat untuk dua anak cukup. Kalau dari sudut pandangnya, kasihan kalau cuma punya anak satu, kesepian seperti dirinya selama ini. sedang dari persepktif saya adalah saya takut tidak bisa menghidupi anak-anak saya kelak, makanya hanya dua saja, tidak lebih. Meski saya sempat terpikir kalau dua anak saja, ketika mereka bertengkar akan bertahan pada egonya masing-masing dan tidak ada penengah. Apakah harus tiga? Pikir saya. Lalu dia katakana, nanti kita yang menengahi kan. Okelah, untuk pembahasan anak, saya sepakat. Dua cukup seperti anjuran Pemerintah.

Soal mobil dan rumah baru beberapa kemarin kami bahas. Lagi-lagi pembicaraan ini tak pernah kami rencanakan. Begitu saja tertulis dari jari-jari kami. Saya lupa bagaimana mulanya, tapi dalam email saya menuliskan bahwa siang itu saya merasa kangen dengannya dan berharap seandainya kangen bisa dikirim lewat JNE, tentu mengasyikan. Dan tiba-tiba saya melempar tanya,

“Apa harus jual laptop dulu biar bisa ke Madiun sekarang juga?,” karena sebagai mahasiswa tingkat akhir yang belum dapet kerja kayak saya, tentu ongkos ke Madiun sangat mahal.  
(tidak perlu waktu lama, dia juga bertanya
“Sekarang lagi di mobil, apa perlu langsung ke sana (Bogor)?,” ujarnya.
“Begal aja sopirnya, bajak mobilnya biar ke Bogor”
“Tapi gue nggak bisa nyetir mobil”
“Enggak apa-apa yang penting bisa nyetir masa depan dengan baik”
“Tapi gue mau belajar nyetir mobil sih”
“Bagus dong”
“Biar bisa pegang tangan lu di mobil kita nanti”.
(Saya speechless)

Jujur saja saya meleleh membaca balasannya. Seolah kami akan menghabiskan weekend dengan liburan bersama di mobil yang baru saja kita beli. Masuk ke dalam mobil setelah mengunci rapat garasi rumah kami. Begitu imajinasi saya sore kemarin berkeliaran.

Sedangkan rumah dibahas ketika saya membaca salah satu laman yang cukup asik tulisan-tulisannya, yakni mojok.co. Di antara tulisan-tulisan kritis namun manis itu, saya menemukan artikel tentang Empat Hadiah Pengganti Coklat yang ditulis untuk mencoba menawarkan hal lain sebagai hadiah saat Hari Valentine. Dari keempat hadiah yang ditulis, kesemuanya saya suka. Dan yang terakhir itu adalah hadiah seperangkat alat shalat. Si penulis mengatakan “karena hanya pria karbitan yang ngasih coklat, sedangkan pria sejati ngasihnya seperangkat alat sholat”.  Setelah membaca artikel manis itu saya langsung keingetan dia yang memang sejak sore tadi kami sedang asyik ngobrol di email. Saya lantas kirim printscreen dari hadiah seperangkat alat sholat. Saya kira dia akan menjawab, “iya insya allah akan ngasih seperangkat alat sholat” tidak tahunya dia malah balas “seperangkat rumah dan kuncinya”. Menurut kalian mana yang lebih baik dari kedua hadiah itu? Hanya satu yang bisa saya katakan saat itu juga, “aamiin” dan untuk kesekiankalinya saya speechless. Lagi-lagi saya mengartikan balasan rumah beserta kuncinya adalah jangankan mukena, tapi rumah yang di dalamnya ada seperangkat alat sholat yang mau gue kasih ke lu, Ma. Begitu kira-kira saya meyakinkan diri. Terlebih siang ini dia mengatakan:

“Gppa gue kalah pesona sama Kim Soo Hyun, tapi dia kalah sama gue yang insya allah nanti akan menghalalkan lu”. *speechless

Lalu mengapa pada sub judul ketiga saya menulis Rumah, Mobil, dan Anak bukan Anak, Mobil, dan Rumah padahal dalam tulisan di atas yang dibahas dulu adalah anak, baru mobil dan rumah. Tentu saya mengharapkan kalau kami jodoh, yang penting itu minimal punya rumah dulu baru berpikir akan hamil dan punya anak. Syukur-syukur sih sebelum si anak lahir, kami sudah punya mobil juga, he-he-he. Rejeki kan tidak ada yang tahu ya, jodoh pun demikian.

Maha Penentu
Sungguh, Dialah maha pengambil keputusan yang final. Setelah apa yang saya tulis panjang lebar di atas soal penawaran yang disampaikan kawan lama saya itu, saya—begitu juga dia hanya bisa berharap, berusaha, dan berdoa supaya semua yang kami ucapkan dalam setiap balasan email bisa terkabul. Meski, jika ingin dikupas satu per satu, sebenarnya banyak sekali yang bisa merontokkan semua harapan kami tentang masa depan di atas. Mulai dari jarak yang terbentang jauh, Bogor-Madiun, dulu Bogor-Bali. Selain itu, meski kami seumuran, tapi bisa dikatakan dia adalah junior saya karena saya dua tahun lebih tua dalam urusan pendidikan saat SMA. Dan yang paling krusial adalah kami belum pernah bertemu satu sama lain. Ini yang paling membuat saya sedih. Meski kami sering menguatkan diri masing-masing untuk percaya bahwa adagium dreams come true itu akan terjadi pada masa depan kami kelak, bukan tak pernah keyakinan itu goyah.
            
Kami belum pernah tatap muka. Saya belum pernah melihat rupanya tepat di hadapan saya, begitupun dia. Tapi entah mengapa kami pernah jadian dua kali meski kadang alam bawah sadar saya berkoar-koar bahwa kami tidak pernah pacaran karena tidak pernah bertemu. Tapi, ya entahlah apa namanya, dia nembak saya pada 2010 lalu. Kami jadian lewat Mxit, aplikasi chat dari Afrika Selatan yang begitu populer saat masih SMA. Saya lupa berapa lama kami jadian. Yang pasti, setelah dengannya, saya sempat berpacaran dua kali dan dia menjadi tempat saya bercerita mulai dari pendekatan, jadian, putus, dan susah move on. Lagi-lagi dia menjadi teman saya untuk semua cerita, terutama soal asmara saya. Sebagai laki-laki, dia adalah pendengar yang baik. Mungkin karena hal itu juga, setelah putus, hanya sebentar kami berantem, setelahnya malah asyik menjadi teman ngobrol via sosial media, sms, ataupun telpon.
            
Sampai kemudian dia nembak saya untuk kedua kalinya tahun lalu. Sempat terjadi perdebatan. Banyak pertanyaan yang saya ajukan untuknya dan untuk saya sendiri, terutama soal dirinya yang sering plin-plan, pernah membuat saya nangis, dan kenyataan bahwa kami belum pernah ketemu, eh berani-beraninya dia nembak via sms lagi. Kan gila! Saya lebih gila lagi karena ujung-ujungnya nerima dia dan ujung-ujungnya dia ninggalin saya. Lengkap sudah saya menutup cerita di tahun lalu: diputusin oleh orang yang bahkan tidak pernah bertemu, kondisi ekonomi keluarga yang carut-marut karena tempat usaha bokap di Pasar Senen kebakaran, dan skripsi yang belum kelar-kelar juga tambah menyiksa. Saya ingin marah dan menceritakan kemarahan saya, tapi ke siapa? Wong dia kan yang jadi teman cerita out of the record saya selama ini, selain blog. Dan memang, hanyalah Tuhan tempat bercerita yang abadi. Dia tak pernah lari apalagi mengkhianati hamba-hambaNya.
           
Dan sekarang, kawan lama saya itu datang kembali ketika mengabari akan kuliah dan membeberkan kalau alasan kemarin meninggalkan saya adalah karena terlalu frustasi dengan resignnya dia dari pekerjaannya di Bali. Tentu saya sedih juga mendengarnya. Sebagai pacar, harusnya kemarin saya menyemangati dia, tapi apalah daya, saya sudah kadung sakit hati dengan keplin-plannya. Saya marah tapi juga seperti mencoba memahami bahwa mungkin kemarahan saya pun tidak akan membuatnya lebih baik. Dia terpuruk karena kerjaannya di Bali hingga berat badannya turun. Ternyata di sini pun saya berat badan saya juga turun sampai 5 kg karena semua yang terjadi tahun lalu.
        
Dan saat ini kami mulai dekat lagi tapi tidak untuk pacaran. Saya katakan bahwa saya tidak mau menerimanya jika masih nembak lewat HP (karena itu keterlaluan!). Saya akan mempertimbangkan untuk menerimanya jika memang kami bertemu. Sebab kadang rasa benci selalu muncul tapi juga ingin selalu mendoakan dia yang terbaik sering terbersit dalam hati. Kadang saya juga bertanya-tanya kenapa bisa saya menaruh harapan pada sesuatu yang belum pernah saya lihat. Tapi, mungkin seperti hal-hal ghoib yang ada di dunia, yang juga harus kita percayai. Bukankah Tuhan juga ghoib? Tapi kita percaya Dia ada bahkan lebih dekat dari urat nadi. Mungkinkah yang saat ini saya rasakan dan lakukan adalah menjaga calon jodoh?  Wallahualam.

Saya pikir tanpa ada kata pacaran ataupun sayang-sayangan, tetapi di hati masing-masing saling menjaga dan berusaha mewujudkan kesusksesan diri masing-masing saat ini adalah yang terpenting. Saya, di Bogor sedang berjuang menyelesaikan skripsi bulan ini agar Mei bisa wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang laiak untuk keluarga serta pelan-pelan menabung untuk masa depan (dengannya insya allah). Dia pun begitu, berjuang untuk menjadikan dirinya mapan bagi keluarga dan menabung untuk bisa sampai ke Bogor. Bukan (hanya) soal perkara ke Bogor bisa ditempuh dengan naik transportasi dengan biaya ratusan ribu, tapi tentang membawa anak gadis Pak Herman untuk diboyong ke Solo atau Jogja.

Wal-akhir, jika terjadi hal buruk di antara kami, sebelum atau setelah bertemu, mungkin saya akan tersedu-sedu, menangis sesenggukan seperti sebelumnya. Tapi, ada dua kalimat yang akan saya ingat, yakni:
“Kamu tidak akan pernah merasa rugi karena mencintai seseorang lebih banyak karena memang harus begitu jalannya,” kata salah satu tokoh utama di drama Korea, It’s Ok, That’s Love. Dan,
“Memperbaiki diri sebaik-baiknya sama artinya dengan memperbaiki jodoh kita,” kata Andi Arsyl dalam sebuah wawancara di Silet.
            
Jadi, jika jodoh itu rahasia, saat ini saya ingin menjaga calon jodoh saya saat ini dengan tetap menganut paham bahwa Tuhan adalah maha pengambil keputusan yang final, sebab seperti yang dikatakan orang yang sejak saya bicarakan dari awal, Rio, pada hari ini, 12 Maret pukul 13:50 dan 14:21 di email: Itu semua balik lagi sama Allah dan Kita cuma bisa berdoa dan berusaha.

Sekian.
  
Bogor, 12/3/15
18:05 

Related Articles

1 komentar:

  1. This post is invaluable. Where can I find out more?

    Review my web page; aplikasi android

    ReplyDelete