In

Ketika Sosmed Menghambat Move On

Pagi ini ada email masuk. Seorang teman lama yang kini sudah tidak tinggal di Ibukota lagi bercerita soal mantannya. Tanpa mengucapkan salam kangen atau menanyakan kabar, ia langsung bertanya:
“Adakah yang bisa menjelaskan mengapa seseorang harus merasa kesal ketika melihat foto mantannya bersama pacar barunya? Berkali-kali aku merasa bahwa diriku sudah tidak menyukainya lagi sejak dia memutuskan hubungan secara sepihak. Bahkan jika dibeberkan, banyak sekali alasan yang menguatkan perasaan dan argumenku itu untuk tidak menyimpan perasaan apa-apa terhadapnya. Secara ekstrim, aku bisa jamin bahwa dia sebenarnya juga tak pantas untuk diriku. Misalnya seperti latar belakang pendidikannya yang di bawahku, jenis pekerjaannya saat ini, lalu kenakalan masa remaja yang pernah ia lakukan saat sekolah, bahkan sampai berurusan dengan polisi. Lalu mengapa, hanya dengan kemunculan foto-fotonya di sosial media yang kebetulan masih terhubung denganku, membuat pagi ini langit mendung dan hatiku seperti tersambar petir? Aku sudah tidak menyukainya untuk waktu yang tidak sebentar, hampir 2 tahun. Temanku, apa pendapatmu? Bisakah kau beri alasan yang bisa menenangkanku?”

Aku pun langsung membalasnya tanpa menanyakan juga kabarnya.
“Kemunculan microbloging seperti twitter, facebook, dan teman sejawatnya memang menjadi tantangan tersendiri untuk seseorang melupakan mantannya, bahkan di saat kamu sudah tidak menyukainya. Gejala itu hanya sebentar dan akan cepat hilang secepat kau memutuskan untuk tidak membuka akunmu lagi pagi ini. Bukankah skripsi lebih penting daripada harus menenggelamkan diri dalam kenangan buruk dengan si mantan. Mei sudah semakin dekat. Katanya mau lulus bareng-bareng. Setelah toga sudah disematkan di kepala, kita akan melamar pekerjaan, mendapatkan banyak uang untuk membeli banyak buku bagus lalu menabung untuk ke Eropa. Sepulang dari sana, bertemu jodoh lalu menikah. Hahahaha.“

(pesan sudah terkirim)

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment