In My Life yang berjarak

Buta

Rio, apakah beberapa hari ini kau buka blog ini?
Aku khawatir
Apakah kau baik-baik saja di sana?
Apakah terjadi sesuatu yang meresahkanmu di sana?
Apakah pekerjaanmu baik-baik saja?
Apakah kedua orangtuamu sehat?

Semalam aku nonton film
Tokoh utamanya ada dua, laki-laki dan perempuan
Si laki-laki sudah lama menyukai perempuan itu, padahal belum sekalipun berinteraksi
Akhirnya dewi fortuna menghampiri mereka berdua
Kedua insan itu lalu berpacaran
Tapi si perempuan itu buta

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life yang berjarak

Inikah Akhirnya?

Surat untuk Rio

Inikah akhirnya?
Inikah akhir dari semua yang kau janjikan?
Tubuhku bergetar,
Bibirku tak bisa mengucap satu kata pun
Mataku terus berair
Nafasku sengal di dada

Inikah akhirnya?
Inikah akhir dari semua yang kau ucapkan?
Jariku-jariku dingin tapi sibuk mengetik semua kekalutan hati ini
Perasaanku tak henti-hentinya was-was
Berkali-kali menelan ludah, kering sekali

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life yang berjarak

yang berjarak

andai jarak bukan halangan
andai ada sedikit saja informasi tentang keluarga dan salah satu temannya
andai kata maaf bisa kusampaikan secara langsung
andai kau bisa kutemui dalam waktu sekejap

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Aku tidak ingin menulis soal keluhan, keraguan, habisnya harapan. Yang kurasakan saat ini hanya gelisah dan bingung. Gelisah karena sudah dua hari tak ada kabar. Email nggak dibales, WA tidak pending, padahal sms terkirim.
Aku bingung apa yang harus kulakukan lagi agar kau mau memaafkan.
Aku hanya bisa menulis ini, dan tetap menjaga harapan tiga tahun itu (mungkin kali ini) dalam diam, supaya tidak membuatmu kesal terus.
Maafkan aku.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Pagi-pagi bangun tidur dengan kepala pusing, langsung diceramahin soal skripsi. Ting tong ting tong...

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life yang berjarak

Bertahan

Kadang gue berpikir apakah seseorang yang jauh di sana bener-bener suka atau nggak sama gue?

Kadang gue berpikir semua ucapan yang dia utarakan apakah akan diwujudkan?

Kadang gue berpikir apakah dia bakal nyamperin gue ke sini?

Kadang gue berpikir akankah dia kirim surat ke gue?

Kadang gue berpikir apakah dia benar-benar akan muncul dan membuktikan keseriusannya?

Dan kadang gue berpikir ragu tentangnya ketika ada perbedaan pandangan hidup. Perdebatan dalam komunikasi digital seringkali membuatnya diam, balasannya singkat. Kemajuan teknologi justru menciptakan banyak ruang-ruang kosong yang hanya cukup diwakili oleh sebuah emoticon penanda setuju atau tidak setuju, bukan lagi sebuah ide atau pikiran yang lahir dari keseriusan berhubungan. Hanya kata maaf dan beberapa kata pemakluman yang bisa mencairkan suasana lagi. Tapi apakah akan seperti ini terus? Tentu tidak.

Betapapun sulitnya untuk mengerti dan dimengerti saat ini, gue masih menunggu tiga tahun yang dijanjikan itu.

Salam dari Bogor.
23/4/15

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments