In My Life yang berjarak

Inikah Akhirnya?

Surat untuk Rio

Inikah akhirnya?
Inikah akhir dari semua yang kau janjikan?
Tubuhku bergetar,
Bibirku tak bisa mengucap satu kata pun
Mataku terus berair
Nafasku sengal di dada

Inikah akhirnya?
Inikah akhir dari semua yang kau ucapkan?
Jariku-jariku dingin tapi sibuk mengetik semua kekalutan hati ini
Perasaanku tak henti-hentinya was-was
Berkali-kali menelan ludah, kering sekali

Inikah akhirnya?
Sesuatu yang sama sekali takku mengerti
Ke mana? Tak ada kabar, tak ada sautan, tak ada jawaban?
Mungkinkah aku telah kehilangan sosokmu, Rio?
Mungkinkah kau telah meninggalkanku lagi?
Mungkinkah kau telah menarik diri lagi?
Mungkinkah kau telah melupakan harapanmu?
Atau, mungkin aku saja yang terlalu percaya diri terhadap dirimu selama dua bulan terakhir ini?

Kenapa?
Apakah sangat sulit bagimu berhubungan denganku?
dengan jarak yang jauh?
Kenapa?
Apakah sangat melelahkan setiap harinya berkomunikasi denganku?
Kenapa?
Apakah kau sudah putus asa dalam mewujudkan perjumpaan denganku?

Aku baru saja membeli ponsel pintar agar bisa melakukan koneksi chat yang lancar dan tiap waktu denganmu tanpa biaya semahal sms. Juga agar tak mati-mati terus saat kau telepon. 
Aku juga mencoba berkali-kali mengucapkan "Halo Rio.." dengan suara lembut di voicenote.
Aku juga sudah menemukan foto dengan angle wajah ke samping yang kau minta. Sudah kupasang di bbm. Aku ingin mengirimnya sekarang, tapi sepertinya kau sedang tak mood sehingga tak membalas chat dan mengangkat telponku.

Rio yang baik, 
perkenalan kita sudah berlangsung lama. Lima tahun berkomunikasian denganmu, menceritakan banyak hal, bertukar pikiran membuatku merasa nyaman dan bahkan rasanya tak bisa kalau tak menceritakan apa yang kurasakan kepadamu, tentang apapun itu. 

Rio yang baik, 
aku menyimpan banyak kerinduan ingin jumpa denganmu. Seperti yang sudah kukatakan berkali-kali ketika aku kangen. Aku ingin bisa melihatmu dengan dekat. Bahkan setiap aku berada di stasiun kereta, aku mengucap dalam hati ingin bertemu denganmu di sana. Melihat dengan jelas wajah laki-laki yang selama ini begitu baik mendengarkan keluh kesahku. Merelakan waktu dan uangnya untuk menelponku berjam-jam.

Rio yang baik,
kalau lagi puncaknya kangen, aku sering membayangkanmu ada di sini, di dekatku. Aku melihat fotomu dari facebook. Aku jadi sering memeluk guling. Aku jadi sering menyebut-nyebut namamu ketika akan tidur. Bahkan aku juga membayangkan bagaimana rasanya dipeluk dan dicium olehmu. Engkau begitu hidup dalam keseharianku di Ciputat dan di Bogor. Seakan kau menemaniku pulang dari kampus ke rumah. Seakan kau menggenggam tanganku ketika sedang transit kereta di antara lalu lalang orang di stasiun. 

Rio yang baik,
engkau tahu nama semua anggota keluargaku. Bapak Herman, Umi, Puput, dan Ojan pasti akrab di telingamu. Kelakuan kedua adikku yang sering berantem pun pasti engkau sangat paham. Ketika keluargaku tahun lalu mengalami masa-masa ekonomi yang sulit, engkau hadir mendengarkanku. Ketika aku tak punya uang, engkau bantu dari jauh. Aku juga ingin begitu. Bisa mengenal kedua orangtuamu, minimal namanya. Tapi engkau seperti tak memberi izin. Aku ingin Mamamu tahu bahwa aku masih ada, masih sering membuatmu kangen, masih sering membuatmu tersenyum. Aku ingin menjadi positif di depan Mamamu. Aku berpikir mungkin nanti saat kau mantap menemuiku ke sini, kau akan mengatakannya pada Mamamu. Tapi sepertinya hari ini, angan-anganku itu tidak akan terjadi. 

Rio yang baik,
aku sering mengirim tulisan panjang tentang kerinduanku, harapanku padamu ke emailmu. Maaf sekali jika semua yang kutulis untukmu membuat kau kepikiran, membuat kau seakan dikejar-kejar janji, membuatmu seakan aku tak mengerti bahwa perjumpaan kita sangat sulit diwujudkan saat ini. Maafkan juga permintaku ingin dikirimi surat,boneka, dan voicenote ngajimu itu. Maafkan aku sudah bertindak seperti anak kecil yang merengek-rengek padamu.

Rio yang baik,
aku tidak tahu dan pasti tidak peka apa yang membuatmu dua hari ini bersikap dingin padaku. Tidak memberi kabar sama sekali. Aku hanya berasumsi bahwa karena kejadian malam-malam di WA itu makanya kau marah. Tapi sepertinya tidak untuk hari ini. Kau yang dulu selalu begitu sabar saat mendengarkanku sering mengoceh tentang mantan padahal kau sendiri merasa sakit, tapi sepertinya kali ini tidak. Kau sangat marah ketika malam komunikasian terakhir kita di WA. Maafkan aku Rio jika selalu membuatmu kesal dengan mendesak banyak pertanyaan padamu, mengungkit-ungkit masalah yang tidak enak bagimu. Maafkan aku Rio, maaf selalu merepotkan waktumu, merepotkan tenagamu untuk mengerti aku selama ini, merepotkanmu untuk menerima dan membaca semua emailku. 

Rio yang baik, 
aku tidak tahu dengan pasti apa arti dari sikapmu tidak menjawab telpon dan whatsapp, tidak membalas chat, sms, dan emailku. Ceritalah padaku jika kau sedang ada masalah. Jangan kau lari lagi seperti saat kau pulang dari Bali. Aku ingin berarti bagimu. Datanglah dan beri kabar padaku. Aku ingin membantumu dari jauh, sebab, seperti keinginanmu kala itu, aku sudah sebegitunya ketergantungan padamu saat ini. Aku ingin sekali bisa bertemu denganmu, sekalipun harus menunggu tiga tahun lagi.

Tapi, jika ternyata kau ingin mundur dariku, dan menghapuskan semua harapanmu padaku tentang pertemuan di usia 26 tahun, tentang kunjungan ke Jogja, tentang hidup di Solo, tentang makan buah carica yang adem dan manis itu bersamaku, aku bisa apa? Jika memang kau ingin aku tak lagi berisikin hpmu, jika memang tak ada lagi rindu yang tersisa dari dirimu, seperti yang sudah kukatakan di email waktu itu, aku tak akan memaksamu untuk mempertahankanku. Sekalipun aku ingin tetap bisa denganmu dan mewujudkan cita-citaku berjodoh denganmu. 

Rio yang baik,
entah ini firasat atau apa, dua hari yang lalu kelopak mata sebelah kiriku tak berhenti kedutan selama dua hari. Tadinya kupikir itu karena aku kecapekan menatap layar laptop terus, tapi kata orang-orang itu tandanya aku mau dapet kabar sedih. Mungkinkah ini kabar sedihnya? 
Kemarin aku juga nemu lagunya Ipang judulnya Ada yang Hilang. Pas diplay, ternyata background di windows playernya cover Ellie Goulding yang kamu suka itu.
Akhirnya, lirik lagu itu akrab di telingaku. Begini lagunya:

Aku hanya bisa terdiam
Melihat kau pergi
Dari sisiku dari sampingku
Tinggalkan aku
Seakan semuanya yang pernah terjadi
Tak lagi kau rasa

Masih adakah tentang aku di hatimu
Yang kau rasakan? coba kau rasakan
Mudahkan bagimu untuk hapuskan
Semua kenangan bersama denganku

Tak pernah sedikitpun aku bayangkan
Betapa hebatnya cinta yang kau tanamkan
Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku

Ada yang hilang dari perasaanku
Yang terlanjur sudah kuberikan padamu
Ternyata aku tak berarti tanpamu
Berharap kau tetap di sini
Berharap dan berharap lagi

Gitu liriknya Rio. Ini lagu lama, buat orang yang suka nyanyi kayak lu, pasti bisa nyanyiin lagu ini. 

Rio yang baik,
pastinya dari kemarin aku menangis dan hari ini sangat bingung dan kecewa. Tapi aku tak akan membahas seperti apa aku menangis karena sebagai orang yang selama ini sangat memahamiku, kau tau aku sangat cengeng. 

Aku hanya ingin bilang (mungkin untuk terakhirnya), mau tahun ini ataupun tahun depan, kau harus segera memantapkan diri untuk kuliah. Percayalah itu akan berguna untuk masa depanmu. Seberapa sulitnya kau kumpulkan uang untuk biaya kuliah sendiri, kalau niatnya kuat pasti dikasih jalan sama Allah kok. Jangan takut, kalau ragu dan merasa tidak mungkin untuk kuliah, inget aja pak Herman. Dia sosok yang tangguh dan pantang menyerah untuk kuliahin anaknya di tengah keterbatasan yang dia miliki. Inget aja nama laki-laki tua itu. Dia sangat bertanggung jawab atas kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Kau juga pasti bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri dalam menentukan masa depan. Semoga bisa sukses nantinya, usaha kateringnya semoga bisa diwujudkan.

Terakhir, aku hanya mau bilang mohon maaf jika selama lima tahun sangat merepotkanmu. Terima kasih sudah menjadi sosok yang nyaman dan ingin sekali bisa dipeluk. Terima kasih jika kau selama ini pernah menyukai, menitipkan banyak doa baik untukku.

Akhir-akhir ini kau selalu bilang, "gue mah gitu orangnya", entah kenapa aku juga selalu berkata "aku mah apa atuh".

Terima kasih, Rio.
Salam jauh dari Bogor

27/4/15

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment