In Friendship My Life

Me and Si Buah Nangka :)

Beberapa hari yang lalu seorang teman menyarankan gue agar menulis saja untuk mengusir kegalaun. Tentu yang ditulis bukan tentang galau dan tektek bengeknya. Dengan pikiran yang masih kalut, gue berpikir apa yang akan ditulis? Tiba-tiba teringat seorang teman lama, kawan sejak SMA. Bisa dibilang, dialah alasan pertama gue bikin blog, juga saat SMA dulu.

Dia, yang memiliki warna kulit sangat putih, cenderung pucat—kalau saja dikedua pipinya tidak ada warna alami kemerah-merahan—yang ingin gue ceritakan dalam tulisan kali ini. Gue tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi kehadirannya memang tidak bisa diabaikan begitu saja dari pengalaman pertemanan gue di SMA hingga saat ini.

Kami memulai pertemanan sejak hari pertama ospek. Kebetulan kami satu kelompok dalam satu kelas ospek saat itu. Gue ingat sekali wajahnya sangat silau untuk dipandang saat itu, ya karena kulitnya yang sangat putih itu, ditambah saat itu SMA kami cuacanya sedang panas. Percakapan pertama kami tentu tentang mengenalkan nama masing-masing dan dari mana asal SMP dulu. Kebetulan dia baru pindah dari Medan ke Bogor. Wah, gue mendapatkan kenalan dari jauh. Tentu ini suatu hal yang menarik karena sejak lahir dan menamatkan sekolah mulai dari TK hingga masuk SMA kuhabiskan di Bogor. Pertemanan kami terjadi begitu saja. Waktu yang diberikan panitia ospek, kalau saja tiga hari, praktis membuat kami bertemu dan ngobrol setiap ada kesempatan. Dan sejak saat itulah kami berteman hingga hari ini. Sejak itupula banyak obrolan yang keluar dari mulut kami, entah itu diskusi serius atau nyeleneh. Banyak juga tangis dan bahagia yang melingkupi kedua hati kami. Dan satu hal yang tak bisa kulupakan, banyak sekali perbedaan di antara kami. Jurang kontra yang begitu menganga. Sampai-sampai kadang gue membayangkan bahwa pertemanan kami seperti cerita-cerita dalam novel teenlit.

Gue selalu mengukur diri betapa sangat jauhnya perbedaan kami berdua. Sampai-sampai salah satu teman di sekolah, Eko, mengatakan bahwa kami berdua seperti buah nangka. Tentu, dia adalah daging nangkanya, yang berwarna cerah serta manis dan gue kulitnya, yang berwarna gelap seperti warna kulitku. Gue nggak tahu apakah dia pernah mendengar pengandaian itu atau tidak, tapi saat itu benar-benar membuat hati gue bergetar. Dulu, dulu sekali, gue begitu sakit hati kala mengingat sebutan itu. Seperti menegaskan bahwa kami memang sangat berbeda.
Jika diuraikan, kami memang sangat berbeda. Nilai akademik dia selalu tinggi dan gue tak pernah sampai mengejarnya. Bahkan, dialah satu-satunya murid yang bertahan di kelas terbaik (10-1, 11-IPA 1, 12-IPA 1). Mari kita lihat ada di kelas berapa aku sejak SMA (10-5, 11-IPA 3, 12-IPA 2). Tentu dari segi nilai pun sangat signifikan bedanya. Di sekolah ataupun di tempat les. Ketika masuk universitas negeri pun, dia bisa masuk kampus UI dan namanya sebut-sebut dalam perpisahan sekolah sebagai salah satu murid yang pintar. Sampai sekarang pun namanya selalu harum seperti lagu Ibu kita Kartini di sekolah. Lalu gue? Di mana posisi gue? Berapa nilai gue? Tentu gue jauh di belakangnya.

Selain itu, kisah cinta gue juga tak semujur cintanya. Dia dengan wajah cantik dan alimnya banyak ditaksir beberapa laki-laki di sekolah, mulai dari senior, teman seangkatan, sampai adik kelas. Bahkan, dia adalah perempuan yang bisa bikin galau Ketua BEM UI, Ali Abdillah, yang wajahnya suka mondar-mandir di TV dan berbagai aksi demonstrasi itu. Gue, dia, dan Ali Abdillah ada sejarah panjang percintaan anak SMA. Oya ada satu lagi yang hadir di antara kami bertiga, yaitu Ramadhan Giant Kohenda. Hmm.. mugkin laki-laki inilah yang paling kami benci. Kehadirannya kala itu memang tidak baik bagi siapapun waktu itu hahaha. Kronologinya begini:

  • Ramadhan adalah teman SD gue tapi di tahun kelima dia pindah ke sekolah yang wilayah masuk Kota Bogor agar bisa masuk SMP negeri di kota tanpa tes tertulis. Sedangkan sekolah SD di kabupaten harus tes terlebih dahulu.
  • Gue kemudian bertemu Ramadhan saat pendaftaran masuk SMA. Kami masuk SMA yang sama. Sayangnya dia tak mengenali gue sebagai teman SD nya dulu, padahal kami satu kelas dulu.
  • Entah bagaimana mulanya, gue menyukai Ramadhan. Saat ospek berlangsung, gue mencari-cari sosoknya, sekadar ingin melihat. Inilah awal mula petaka kami berempat yang sangat menguras tenaga.
  • Selepas ospek, gue beda kelas dengan si buah nangka itu. Dia satu kelas dengan Ramadhan. Suatu hari, sepulang dari sekolah, gue menemani si buah nangka menunggu jemputan ibunya di halte dekat sekolah. Tiba-tiba lewatlah sosok Ramadhan dengan motornya agak kejauhan. Di situlah kemudian gue membahas Ramadhan kepada si buah nangka. Di akhir pembicaraan dua anak SMA yang baru saja berteman ini, si buah nangka mengatakan bahwa baru saja tadi di kelas, si Ramadhan nembak dia. Alamaaaaak gue rasa petir menyambar kepala gue lebih dhulu saat itu sebelum langit mendung. Seketika hati juga seperti tertimpa atap halte. Praaaak.. duaaar, aduh!
  •  Si buah nangka sempet jadian sama si Ramadhan dan gue tetap menyembunyikan perasaanku saat itu. Udah kayak cinta segitiga FTV yak.
  • Ternyata si Ramadhan kayak bangke, jadi cowok ngeselin banget, sok kegantengan, dan segala hal yang sengak melekat di dirinya sehingga membuat si buah nangka sering sedih dan akhirnya putus. Dan bodohnya, gue masih saja suka cowok tengik itu.
  • Lalu Ka Ali yang notabene senior kami, dia naksir berat sama si buah nangka. Pelan-pelan si buah nangka tertarik dengan senior kami. Ini seperti kisah cinta segi bercabang empat ala anak SMA. Rumit, tapi sebenarnya sangat lucu kalau ingat kembali saat ini
  • Si buah nangka dan Ka Ali masuk UI, mereka jadi junior dan senior yang masih saling menyimpan rasa yang sama. Tidak pacaran, tapi saling menjaga untuk saling memiliki satu sama lain. setidaknya itu kesimpulan yang gue dapat setelah mengetahui perjuangan Ka Ali buat nungguin si buah nangka dari SMA sampai masa kuliah.
  • Gue kemudian lolos tes SNMPTN masuk UIN Jakarta. Sedangkan Ramadhan masuk jurusan hukum Universitas Brawijaya, Malang.
Begitu kira-kira kronologi cinta segiempat kami di SMA. Oya, dulu saking nggak tahannya menahan rasa suka ke Ramadahan, gue ngaku juga sama dia by SMS hahaha. Jawabannya udah pasti gue ditolak Ramadhan karena doi udah punya pacar di sekolah yang barunya. Patah hati sih, tapi perasaan lega benar-benar gue rasakan setelah ngaku itu. Dan ternyata, pengakuan itulah cara terbaik gue untuk bisa lupain dia sih. Soalnya gue anggep itu perasaan kayak bisul, pas lo udah pecahin, legaaaaaaa…

Yang sedihnya adalah pas gue ngaku juga ke si buah nangka. Duh itu mengharukan. Bakat cengeng gue emang udah ada dari dulu. Gue inget banget dulu pernah ada konflik sama si buah nangka, pagi-pagi kita janjian datang lebih awal ke sekolah, setengah enam kalau nggak salah. Gue lupa tepatnya apa yang gue bahas sama si buah nangka, tapi yang pasti masalah gue sama dia itu ya gak jauh-jauh dari Ramadhan. Gue yang ngerasa sakit hati banget selama ini harus memandam perasaan suka ke orang yang malah jadi pacar temen gue, malah jadi ngelampiasin semuanya ke si buah nangka. Gue akuin sih itu salah, tapi entah kenapa gue itu menyanyangi dia sebagai teman, juga membenci dia dalam waktu bersamaan, WAKTU ITU LHO YA.

Terus anehnya, gue juga pencemburu ke si buah nangka. Gue suka kesel kalau dia lagi jalan sama temen-temennya. Atau pas gue istirahat mampir ke kelasnya, dia nggak ada dan milih jajan duluan sama genk temennya itu. Nggak tau kenapa gue panas aja kalau dia sama yang lain. Segitunya gue cembur sama si buah nangka waktu itu. Nggak ngerti juga kenapa bisa begitu. Intinya sih emosional yang kebangun antara gue dan si buah nangka dalem banget. Itu sih yang gue rasaain. Nggak tau dianya. Gue kalo mau bahas lagi, takut nangis di depan dia. Duh… ema cengeng.

Masa SMA itu ternyata nggak seberapanya dunia kuliah ya. Si buah nangka dan Ketua BEM itu yang gue denger hubunganya jadi nggak jelas gitu. Wajar sih ya, banyak godaan dih UI, pastinya banyak cowok-cowok pinter, cakep, dan tajir di sana hahaha. Apalagi sekarang nih si buah nangka itu lagi diperjuangkan dirinya oleh mahasiswa beasiswa S2 dari LPDP di Inggris. Dia temennya saat kuliah di UI. Duh, pas denger kabar ini asli gue ngiri banget. Jadi inget lagi kalo perbedaan gue sama si buah nangka sebagai teman jauuuuuh banget, termasuk urusan laki-laki. Daa gue mah apa atuh, hiks.
Siapa juga yang nggak berharap banyak sama cowok yang lagi nerusin S2 Teknik Perkapalan di Inggris yang mungkin tahun ini atau tahun depan lulus. Siapa juga yang nggak kepengen diperjuangkan hatinya oleh cowok yang imannya bagus, nggak aneh-aneh sama si buah nangka, dan ah.. pasti pikirannya juga visioner banget. Saking irinya, sampai-sampai gue bilang ke si buah nangka ada nggak satu lagi yang kayak doi di Inggris itu. Ternyata temen-temen kampus si nangka juga banyak yang minta kayak gue, minta ada cowok yang sebegitunya yang mau perjuangin kita. Duh, nangka.. nangka.

Belum lama ini, si buah nangkan ngajak ketemuan. Tujuannya biar bikin gue gerak untuk selesai skripsi. Soalnya dia udah wisuda Agustus tahun lalu dan sekarang jadi Asdos di fakultasnya, kelas internasional coy. Edaaaan. Alih-alih motivasi gue, eh doi ajak gue makan di tempat yang buat gue buang-buang duit aja makan di situ. Mungkin lebih dari dua ratus ribu kali ya itu buah nangka traktir gue makan sambil ngetik skripsi. Nggak heran sih dia bisa royal gitu, lagi-lagi karena peruntungan nasib keluarga kita emang beda banget. Si nangka mah bokapnya salah satu karyawan perusahaan BUMN yang THR-nya aja tuh mungkin perlu bertahun-tahun bokap gue kerja buat dapetin uang segitu banyaknya. Duh, nangka.. nangka.

Tapi, dari semua yang gue certain itu, intinya adalah sakit hati yang dulu pernah gue rasain ke si buah nangka ternyata hilang seiring berjalannya waktu. Mungkin salah satu alasan Tuhan nggak izinin gue lulus masuk UI juga biar gue biar setenang ini sama si buah nangka. Makin ke sini gue ngerasa beruntung bisa berteman dengan dia. Bukan karena dia orang tajir yang sejak jaman SMA sering traktir gue, tapi karena dia seperti oase di tengah gurun. Menyejukkan. Dia seperti cermin untuk bisa gue berkaca ngeliat diri sendiri kalau gue nggak boleh kalah sama keadaan.

Gue akuin sih selalu ngerasa sebentar banget ngobrol kalau lagi janjian ketemuan sama si buah nangka. Padahal kita sudah menghabiskan berjam-jam untuk ngobrol hal-hal dari timur ke barat, utara ke selatan. Tapi, gue selalu ingin lebih lama lagi dikasih kesempatan untuk bisa ngobrol banyak hal. Sebab gue jadi semangat untuk ngejar mimpi, biar sukses karier seperti dia, rejeki seperti dia, dan jodoh seperti dia.  Seperti apa yang melekat padanya.

Kadang gue berpikir kapan ya gue bisa traktir dia sepuas-puasnya, bukan cuma makan atau nonton, tapi lebih dari itu. Untuk balas semua kebaikannya selama ini sudah menjadi teman yang awet. Teman yang melewati banyak kejadian yang secara emosional sangat dalam. Teman yang selalu mengingatkan makan atau minum sambil duduk dan pakai tangan kanan. Teman yang “sebegitunya” teman. Si buah nangka yang dulu tak pernah mau gue sebut sebagai sahabat, ternyata memang bukan sahabat, tapi lebih dari itu. Ah, Atiqah Amanda Siregar!

PS: Sorry ya kalau lancang menceritakan semuanya di blog…
Maaf dulu pernah benci.. namanya juga anak SMA :P

Bogor, 3/5/15
8:31 PM



Related Articles

0 komentar:

Post a Comment