In My Life yang berjarak

Seandainya (Boleh) Mengenal Lebih Dekat


Kau.. yang dipanggil Mama oleh anak satu-satumu
Kau.. yang menjadi tempat bercerita banyak hal oleh jagoan kecilmu
Kau.. yang selalu didahulukan telponnya dibanding aku
Kau.. yang tak kutahu nama dan rupamu
seandainya boleh mengenal lebih dekat dirimu

Meskipun kau dipanggil Mama oleh anakmu, aku akan menyebutmu dalam tulisan ini sebagai ibu bahkan kalau boleh, selamanya akan kusebut kau sebagai ibu. Sudah sejak lama aku lebih senang memanggil ibu ketimbang mama, sekalipun aku sendiri memanggil ibuku dengan sebutan umi. Bagiku, panggilan ibu memiliki respek yang tinggi. 

Ibu, siang ini aku menulis tentangmu. Sebenarnya akhir tahun lalu aku sempat ingin menulis hal tentangmu, tapi urung kulakukan karena waktu itu keadaannya kau menjodohkan anakmu dengan perempuan lain di sana. Belakangan anakmu ngaku bahwa perjodohan itu sebenarnya tak ada. Dia merasa tidak enak sudah memfitnahmu, mengadu domba aku dengan dirimu. Lucu ya anakmu bu, berbohong sampai segitunya.

Ibu, beberapa kali sempat kudengar hal tentangmu. Tentunya dari anakmu. Dia sempat bercerita di telpon sedang dekat denganku. Karena cerita itu, kudengar kau jadi tahu aku, meski hanya namaku, tinggal dan kuliah di mana saja. Aku ingat waktu itu anakmu bercerita saat sedang menelpon ku pagi hari, saat dia belum berangkat kerja, dan aku di kosan. Senang bisa mendengar kau tau tentangku, Bu. Saat itu ada perasaan deg-degan sih, takut-takut kalau aku hanya sesuatu yang jauh bagimu, yang tak berarti apa-apa bagimu dan anakmu. 

Ibu, barusan anakmu BBM setelah beberapa minggu menghilang. Dia bilang kesel setelah kemarin membaca blogku tentang ibu yang lain. Apakah itu bagian dari cemburu? Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada anakmu. Tulisanku tentang ibu yang lain diartikan lain oleh anakmu. Mungkinkah dia ingin aku menuliskan ibunya saja, tentangmu saja? Dengan senang hati aku akan tuliskan tentangmu, Bu, seandainya aku tahu sesuatu tentangmu, sedikit saja. Dengan semangat 45 akan kubuat tulisan mengenaimu seandainya aku boleh mengenal lebih dekat denganmu Bu. 

Ibu, aku pernah bertanya siapa namamu dan suamimu. Tapi anakmu tidak menjawab. Kupikir mungkin aku memang tidak boleh tahu banyak hal tentangmu, bahkan untuk sekedar nama. Pernah juga kutanya seperti apa dirimu. Yang kudengar kau adalah sosok yang asik kepada teman-teman anakmu. Aku jadi iri. Aku ingin bisa juga mengenalmu, berinteraksi dengan ibu yang katanya asik. 

Ibu, aku tidak tahu sebanyak apa kau tahu tentang hubungan anakmu denganku. Tapi, jika aku punya kesempatan berbicara denganmu saat ini, aku ingin bertanya apa yang harus kulakukan ke anakmu? Aku harus apa? Yang kutemui dalam chat bbm tadi hanyalah amarah yang tidak bisa tersampaikan karena jarak. Setiap kali aku merasakan amarah itu, setiap kali juga aku ingin tidak ada permusuhan di antara kami. Setiap aku ingin menghujani dia banyak pertanyaan, seketika juga aku ingin melupakan bahwa kami sedang tak baik-baik saja. Aku tidak suka dia begitu singkat meresponku. Dia terlihat seperti tidak menginginkanku. Entahlah. Kali ini aku ingin pergi darinya bu, tapi setiap berpikir untuk pergi, aku mesti berderai airmata. Apa yang harus kulakukan bu? Aku tidak ingin apa yang aku ucapkan dan tulis menyakiti anakmu. Aku tidak tahu apa yang baik untuk kulakukan. Setiap dia kangen, dia muncul. Tapi setiap kali kesel, dia hilang. 

Bu, salahkah aku berbuat begitu pada anakmu? Apakah kau marah?
Bu, apa yang harus kulakukan agar tak ada permusuhan dengannya?
Bu, sampai tulisan ini kuketik pun, tangisanku tak kunjung reda.

Bogor, 16/5/15

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment