In My Life

Duit oh duit

Di dunia ini, kalau lu nggak punya duit banyak, lu nggak bisa melakukan banyak hal. Itulah hidup yang gue pahami saat ini. Saat semua yang terjadi di depan gue diukur kemampuannya dengan uang.
Himpitan ekonomi dari taun ke tahun membuat pikiran mereka yang miskin akan tertekan. Semakin tertekan. Sementara dunia tidak memiliki toleransi bagi si miskin. Dunia akan meninggalkan mereka yang tak punya duit. Dunia akan mematikan hati mereka yang tak bisa memenuhi gaya konsumtif manusia pada umumnya.
Sementara, gempuran teknologi terus bergerilya melahirkan manusia-manusia munafik. Pasang foto-foto makan di restoran, ngetag lokasi mal, hotel, tempat wisata, seolah-oleh kita memang benar-benar di sana. Padahal hanya lewat saja. Semuaa terlihat bahwa hidup kita enak hanya karena postingan makan bersama teman di waralaba, atau terdeteksi lokasi kita di tempat mewah. Inikah hidup yang kita inginkan?
Benar-benar menyedihkan jika kita menjadi "orang kaya" di media sosial tapi di rumahmu hanya makan sesuatu yang getir. Benar-benar menyedihkan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Syaraf putus

Gue selalu merasa setiap siang hari, satu syaraf di otak gue putus. Sakit banget kalau jam-jam siang hari. Sesuatu yang tipis dan jauh di kepala gue.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Apa yang lebih mengkhawatirkan saat ini selain skripsi dan kesehatan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Mencatatnya My Life

Sore ini gue mau posting soal Ivan sambil menikmati perjalanan Bogor-Palmerah menuju Kompas buat ambil honor hehehe. Ya..lagi-lagi dia! Jangan tanya kenapa, semua tertulis begitu saja sejak lama. Tanpa ada tedeng aling-aling.

Tapi gue akuin gue cukup kaget beberapa detik setelah buka akun twitternya. Sebenarnya udah lama banget gue gak pernah nengok akunnya, kebetulan aja karena hp gue udah baikan dan ada paket data. Cukup terkejut karena ada postingan dia dan perempuan yang abis dikasih surprise ulang tahun. Beberapa hari sebelumnya emang dia sempet ganti propic dan PM di bbm-nya tentang perempuan yang tersenyum di depan cake birthday. Oke selanjutnya kita sebut saja perempuan itu dengan inisial NKJ.

Awalnya gue abai aja sama propic dan pm di bbm-nya, males untuk berpikir lebih jauh si NKJ itu siapanya dia. Berusaha untuk nggak kepo. Eh tapi pas gue buka akunnya tadi malem, ternyata gue baru tau dia itu ceweknya Ivan. Terus kenapa, Ma? Ya nggak apa-apa sih. Untuk beberapa detik, gue emang kaget dan sedikit menghela nafas panjang. Sedikit kok panjang? Hahaha...

Yang gue pikirkan tadi malem setelah buka akunnya dan (pastinya) buka akun NKJ, adalah beberapa ucapan berawalan oooooh yang keluar dari mulut gue
Oooooh ternyata dia udah punya pacar lagi.
Oooooh ternyata gue emang nggak bisa lagi. Lho? Lagi apa?
Sebenarnya ada beberapa hal yang entah kenapa selalu buat gue interest sama dia, lebih tepatnya sih penasaran kali ya.
Gue selalu menyebut apa yang terjadi antara gue dan Ivan dulu itu seperti "Dufan yang Tanggung". Berhubung dia dulu pernah nyebut atau ngajak gitu ke dufan sama gue, jadi gue membayangkan hubungan gue dan dia itu seperti kunjungan ke dufan yang berhenti di tengah jalan. Maksudnya gimana sih perasaan lu ketika lu udah seneng-senengnya diajak ke dufan, udah punya ekspektasi tinggi bahwa jalan-jalan atau kencan lu ke dufan itu atau apalah namanya, akan menyenangkan. Jalan berdua sama pacar, foto bareng, makan bareng, teriak sekenceng-kencengnya bareng di atas wahana yang ekstrim, dan akhirnya lelah bareng dalam perjalanan pulang di transjakarta atau motor. Eh ternyata perkiraan akan kesenangan lo di hari itu kandas di tengah jalan. Baru setengah perjalanan menikmati serunya wahana di dufan, lo ditinggal pergi. Dia pulang dan ninggalin lu gitu aja di sana. Pasti nyesek sekali. Nah seperti itulah gue menyebut hubungan kami berdua dulu.

Banyak list berpergian yang pernah dia katakan ke gue, entah asal ceplos aja atau emang niat. Kala itu dia ngomong "hayu kapan-kapan kita nyobain naik kereta, gue belum pernah," disela-sela obrolan kita ketika gue bilang kalau di gue sering naik kereta kalau ke Bogor. Dia juga bilang mau ngerekam perjalanan kita di kereta Jakarta-Bogor-Jakarta dengan handycamnya ketika gue bilang ada beberapa seniman yang ngamen di lorong bawah Stasiun Depok Baru dan Bogor. Rekaman itu sampai sekarang nggak pernah "nyala", bahkan pengamen-pengamen itu sudah tidak ada sekarang.

Beberapa temen yang baca blog ini dan kenal Ivan mungkin akan menyangka gue masih aja nggak bisa move on dari dia. Apa bener gue nggak bisa move on? Terlepas dari definisi move on itu apa, gue berpegangan pada waktu. Seperti angin yang menggeser batu besar bahkan membentuk sebuah lengkungan selama bertahun-tahun secara intens, waktu juga menegaskan segalanya. Air mata yang dulu deres buat dia, perlahan mengering karena waktu. Galau yang hebatnya dulu perlahan menyejukkan karena waktu.

Alam sadar seseorang memang tidak bisa melupakan sesuatu apalagi itu hal yang penting, kecuali memang terjadi benturan pada otaknya yang menyebabkan amnesia. Manusia hanya bisa mengabaikan apa yang tidak ingin dia ingat dalam hidupnya. Dan waktu membantu gue melewati itu. Setidaknya rasa kesel yang dulu pernah nepi, udah hilang. Dia tidak lagi menjadi trending topic di kehidupan gue. Hanya saja... gue pengen bisa ke dufan dan naik kereta bareng berdua seharian, tidak peduli statusnya sekarang pacar orang atau apa. Sekali saja, tanpa tedeng aling-aling.

Kompas Palmerah
10/6/15
5:14 pm

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments