In My Life

Pagar

Malam ini, di antara sesak dada karena seharian mendengar percakapan di rumah yang membuat sesak dada, aku tak sengaja berjumpa kabarmu di sosial media. Ada sungging senyum dari wajahku saat membaca status panjangmu. Ada haru dan bangga sebagai adik kelas.

Seorang pria yang pasti terus melaju menuju dewasa, seorang anak yang harus menjadi pagar kuat bagi ibu dan adik-adiknya pasca ditinggal pergi sang Ayah kini akan terbang ke salah satu negara di Eropa untuk melanjutkan studinya dengan beasiswa! Ah, senang membacanya.

Lalu aku melihat sedih diriku sendiri. Apa aku ini? Dia, mereka sudah sangat jauh langkahnya di depanku sementara aku masih berkutat dengan hal-hal itu saja.

Berita teman bisa melanjutkan beasiswa di luar negeri meninggalkan dua kesan, bahagia dan sedih. Tentu sedih karena aku sejauh ini hanya berjalan di tempat. Gusti... Aku ingin keluar dari "ruangan pengap" ini karena aku juga harus menjadi pagar yang kuat untuk dua bunga dan dua pohon yang kurawat.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment