In #EnergiBaik Energi Alternatif Tenaga Surya

Apa itu Pembangkit Listrik Tenaga Surya Mengapung (floating solar panel)?

Besar pasak daripada tiang. Peribahasa lama ini menunjukkan membludaknya pemakaian energi listrik seiring majunya dunia teknologi dan pesatnya pertumbuhan manusia juga pembangunan di dunia. Semantara di dalam tanah, persediaan energi fosil semakin menipis.

Berdasarkan katadata, cadangan minyak Indonesia tidak bertambah, bahkan terus menurun. Untuk status 1 Januari 2015, cadangannya hanya 7,30 miliar barrel. Volume ini turun 0,95 persen dibandingkan cadangan yang disepakati untuk status 1 Januari 2014 yang mencapai 7,38 miliar barel.  Hal ini maklum terjadi karena penggunaan bahan bakar minyak di Indonesia sangat tinggi. Tak ayal hal ini memaksa banyak kalangan untuk memikirkan pemanfaatan energi terbarukan, salah satunya pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Mengapung (PLTSM).

Awal bulan lalu, pemerintah melalui Dirjen EBTKE yang berkantor pusat di Cikini, mengumumkan akan segera melalukan uji coba PLTSM atau dikenal juga dengan istilah floating solar panel. Uji coba ini akan akan diimplementasikan tahun depan  di atas Situ Mutiara, yang berjarak 13 kilometer (km) dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali.

Sebenarnya apa itu PLTSM?

Pembangkit listrik tenaga surya mengapung adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan matahari sebagai sumber energinya di mana pemasangan fiber sel untuk menangkap energi tersebut di letakkan di atas air. Untuk di Indonesia sendiri, pilot project ini akan dilakukan di atas Situ Mutiara, Bali.

Kita tahu, matahari adalah energi  sumber energi yang tak akan pernah habis selama kiamat belum menghampiri kita. Itu artinya, banyak sekali energi yang bisa dihasilkan dari salah satu bintang di galaksi bima sakti.

Berdasarkan greenpeace, salah satu cara untuk menangkap energi matahari dengan menggunakan kaca-kaca besar mengkonsetrasikan cahaya matahari ke satu garis atau titik. Panas yang dihasilkan digunakan untuk menghasilkan uap panas. Panasnya, tekanan uap panas yang tinggi digunakan untuk menjalankan turbin yang menghasilkan listrik. Di wilayah yang disinari matahari, Pembangkit Listrik Tenaga matahari dapat menjamin pembagian besar produksi listrik.

Berdasarkan proyeksi dari tingkat arus hanya 354MW, pada tahun ini kapasitas total pemasangan pembangkit tenaga panas matahari akan melampaui 5000 MW. Pada tahun 2020, tambahan kapasitas akan naik pada tingkat sampai 4500 MW setiap tahunnya dan total pemasangan kapasitas tenaga panas matahari di seluruh dunia dapat mencapai hampir 30.000 MW- cukup untuk memberikan daya untuk 30 juta rumah.
Jepang menjadi salah satu negara yang sudah memanfaatkan PLTSM yang diletakkan di atas danau. Mereka serius menggarap ini pasca bencana nuklir di Fukushima pada 2011 silam. Dua pembangkit tenaga surya terapung di sana diproyeksikan dapat mencukupi kebutuhan energi di seribu rumah.

Kenapa mengapung?

Berkaca dari kontur tanah Jepang yang rawan gempa, pemasangan fiber untuk tenaga surya sangat efisien dilakukan di atas air sebab hal ini bisa mengurangi resiko melukai manusia saat gempa terjadi. Selain itu, pembangkit ini juga diklaim antibadai. Karena dibangun terapung di atas air, pembangkit bisa menggunakan air dari danau sebagai pendingin. Alhasil, pembangkit ini diklaim bisa lebih menghemat biaya. Hal ini tentu memiliki kesamaan dengan wilayah Indonesia yang rawan gempa.

Nah, semoga dengan upaya pemerintah kita untuk membuat PLTSM ini bisa menanggulangi ketimpangan sumber listrik yang masih belum merata dirasakan di banyak daerah di Indonesia. Apalagi, sumber air di Indonesia seperti sungai, danau, ataupun laut sangat banyak.

Sumber:

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment