In #EnergiBaik bantar gebang

Bijaklah pada Sampah Kalau Tak Mau Jadi Sampah Masyarakat

Gunung sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat

Judul di atas barangkali terdengar lebay di telinga Anda. Bagaimana mungkin seseorang yang membuang satu bungkus permen sembarangan akan dicap sebagai sampah masyarakat?  Atau tidak mungkin hanya karena melepeh permen karet yang sudah tak lagi manis di sembarang tempat akan dicap rusak moralnya dan tidak diterima di lingkungan sosial lagi?

Selama ini, adagium “sampah masyarakat” dilekatkan pada orang-orang yang telah membuat kesalahan memalukan di masyarakat seperti menjadi bandar narkoba, pemerkosa, pencuri, pemuka agama yang cabul, dan banyak perbuatan kriminal lainnya.

Tapi coba bayangkan jika dalam waktu yang bersamaan ada ribuan orang di dunia yang membuang satu sampah bungkus permen yang ukurannya tak seberapa itu? Bukankah mengerikan pula jika perilaku membuang sampah menjadi hal yang biasa, bukankah dunia akan tidak aman seperti dihantui bandar narkoba, pemerkosa, pembunuh, dan lainnya? Orang-orang akan sulit bernafas karena bau yang menyengat di udara? Dan langkanya air bersih sebab sungai-sungai, luat, bahkan samudra mulai ditutupi plastik-plastik?

Ah, kalau sudah begini, rasanya para Yakuza Jepang pun akan kesulitan hidup enak atau Paris Hilton harus mengeluarkan triliunan poundsterling untuk mendapatkan udara bersih dan sejuk. Dunia menjadi tidak aman karena aktivitas buang sampah sembarang yang kita lakukan bertahun-tahun secara jamaah. Atau, kalian yang tinggal di Jakarta, ternyata hidup di kota metropilitan, misalnya, tak hanya gengsi yang dikantongi, tapi juga sampah yang setiap harinya memenuhi kantong-kantong besar di pojok-pojok rumah, gang, sekolah, pasar, dan banyak tempat umum lainnya.

Di dunia, sampah menjadi masalah yang paling sulit ditemukan solusinya. Tentu, karena setiap harinya kita menghasilkan sampah dari apa yang kita makan, minum, dan lainnya. Berasadarkan laman hijauku.com, hal ini terungkap dalam berita Program Lingkungan PBB (UNEP) yang dirilis Rabu (6/11). Mengutip data Bank Dunia, berita UNEP meyebutkan, saat ini, volume sampah dunia telah mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Volume ini diperkirakan mencapai 2,2 miliar ton pada 2025, menimbulkan ancaman kesehatan serta pencemaran lingkungan. Dunia dituntut untuk segera beraksi untuk mengatasi krisis sampah ini. Apalagi Indonesia menjadi negara urutan kedua di dunia sebagai negara pencemar sampah plastik terbanyak ke lautan.

Berikut adalah sebagian pemandangan sampah: 







































Jika melihat pemandangan di atas, tentu stigma negatif tentang orang yang membuang sampah sembarang (berpotensi) menjadi sampah masyarakat tidaklah berlebihan. Sebab, mereka yang tak peduli pada sampah menjadi salah satu bagian yang akan membahayakan dunia. Padahal, dengan kita tertib membuang sampah, membantu para petugas pengangkut sampah yang setiap harinya berkawan dengan bau busuk. Sebab, sampah yang menumpuk di TPA akan diolah lagi menjadi energi yang bisa dimanfaatkan menjadi energi gas untuk bahan bakar Trans Jakarta yang mungkin setiap harinya kalian gunakan sambil mengeluh karena bus berisik seperti rongsokan ketika berjalan.


So, yuk mulai sekarang bijaklah membuang sampah agar tak mau menjadi sampah masyarakat. Kalau mantan saja bisa kamu buang di tempat sampah, kenapa permen karetmu tak bisa kau buang di tempat yang sama (bersama mantan yang sudah tak manis lagi)? 

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment