In Mencatatnya My Life

Halo, Ibu! (part 2)


Ilustrasi

Halo Ibu, apa kabarmu di sana? Apakah hidupmu baik-baik saja? Sudah lama sekali aku tak pernah mendoakanmu. Aku juga tak lagi mengingat namamu yang pernah kulihat di facebook anakmu dulu. Tapi aku masih ingat wajahmu, Bu.

Bu, beberapa malam yang lalu aku memimpikan kedua anakmu, yang sulung dan yang kedua. Mereka berada di kamarku yang bukan kamarku dalam mimpi itu. Mereka dalam keadaan kelelahan. Gita yang sedang berdiri lalu berkata pada kakaknya, “Aku dapat pesan dari Bayu, katanya kakak disebut sebagai anak durhaka sama Ayah,” kira-kira begitu. Aku yang sedari tadi diam dalam mimpi itu mencoba menyapa mereka, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi anak sulungmu hanya menoleh sebentar ke arahku lalu merapihkan tas hitam besarnya. Sepertinya mereka akan pergi, entah kemana aku tak tahu. Sama sekali tak ada uacapan yang terlontar dari anak sulungmu sebagaimana dia bertemu orang yang dikenalnya.


Ketika aku terbangun di pagi harinya, aku memikirkan apa maksud dari mimpi itu. Mimpi yang tiba-tiba datang. Mimpi yang tanpa dilandasi oleh rasa kangen yang lazimnya menghampiriku dulu, dulu sekali. Aku jelas memang sedang tak kepikiran anakmu karena saat ini yang ada di otakku hanya bagaimana memperbaiki hubunganku dengan orangtua di Bogor dan mencari uang untuk dapat bertahan hidup di sini.

Seorang teman kamarku berkata, “barangkali dia kangen sama kamu, Ma”. Mendengar responnya, aku tak lantas bahagia dan kegeeran. Yup, karena masa-masa yang seperti itu sudah berarkhir lama seperti hancurnya Kerajaan Sriwijaya yang megah dulu. Aku hanya berpikir jika memang saat ini anakmu sedang dalam kondisi tak baik, harapku semoga bisa kembali bangkit dari segala jenis keterpurukan atau kesusahan yang dia hadapi seperti yang sudah-sudah. Bagaimanapun, dia tetap menjadi buronan masa depannya, yang harus menjadi kuat dan gagah untukmu dan keluarga, Bu.

Ah, atau sebenarnya saat ini dia sudah cukup bahagia dengan hidupnya, Bu? Mungkin perkejaannya di dunia musik yang selama ini disukai menghasilkan banyak pundi-pundi untuknya, untuk menghidupi dirinya di sini bersama adiknya, dan mengajak perempuan barunya jalan-jalan? Aku tak tahu. Semoga prasangka baikku itu benar adanya. Tidak seperti yang tergambar dalam mimpiku.

Barangkali anakmu sudah tak pernah mampir lagi ke blog ini. Tak apa, bukan suatu kewajiban juga. Tapi semoga ada cara yang tak kasat mata untuk bisa menyampaikan pesan ini kepadamu.

Untuk Ibu yang kulupa namanya, tetaplah sehat dan jangan lupa untuk bahagia di mana pun kau berada.

At kosan Takuy, Legoso
15.11.15
9.59 am

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment