In #EnergiBaik Diversifikasi Energi Energi Alternatif Hemat Energi Korupsi

Sumber Energi Kita dalam Negeri Dongeng

Bicara sumber energi Indonesia, terutama ihwal minyak dan gas, berarti bicara rumitnya perjalanan mereka hingga sampai saat ini. Sebab, seperti sebuah kisah di negeri dongeng, migas kita adalah putri kerajaan yang seharusnya dijaga dan diperlakukan dengan sebaik-baiknya agar bisa tumbuh menjadi sesuatu yang berguna untuk banyak orang.

Indonesia adalah istana tempat tinggal sang putri. Siapapun yang datang melihat sang putri akan silau dan lupa diri. Tentu bukan salah bunda mengandung kenapa sang putri terlihat bisa memperdaya orang. Tetapi sifat dasar manusialah yang serakah dan tak pernah puas. Sama halnya migas yang menjadi lahan basah para pejabat kita untuk memperkaya diri. Mereka keruk secara masif migas kita, mempermainkan harga jual dan beli dari hulu ke hilir, membuat kontrak-kontrak yang tak dimengerti banyak kalangan, bahkan sampai pada deal-deal politik yang seharusnya tak boleh ikut campur dan mempengaruhi kebijakan, hingga akhirnya rakyatlah yang menanggung semuanya; sengsara karena harga migas yang sudah diolah menjadi mahal di pasaran.

Begitulah sekiranya menurut penulis bagaimana kebobrokan pejabat kita yang selama ini menjadi tersangka kasus korupsi energi. Lihat saja, hampir di setiap kementrian dan perusahaan BUMN yang mengelola migas dibumbui aroma korupsi. Tak tanggung-tanggung, para petingginya pun terjerat. Dahlan Iskan dalam kasus korupsi di PLN dan Jero Wacik di Kementrian ESDM hanya dua dari sekian kenyataan yang ada bahwa sumber energi kita menjadi lahan basah untuk memperkaya kepentingan mereka.


Menyoal migas tak lengkap rasanya jika tak menyebut dua BUMN yang belum akur sebagai saudara, yakni Pertamina dan PGN. Jangan tanya lagi soal aroma korupsi di tubuh mereka karena ada saja oknum yang serakah sejak dulu hingga saat ini, baik yang berakhir di bui atau lolos karena kuatnya jaringan mereka. Dan yang saat ini masih hangat adalah hasil audit Petral yang sudah diumumkan publik oleh Pertamina, Senin (10/11).

Pada soal pertama, Petral, jelas hal ini penting karena selama ini rakyat sudah menunggu-nunggu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anak perusahaan Pertamina yang bermarkas di Singapura itu? Penyimpangan apa yang sudah dilakukan mereka? Siapa saja orang-orangnya yang terlibat? Benarkah di sana sarang mafia? Selama ini Pemerintah tak pernah blak-blakan soal itu semua.

Hingga akhirnya, Senin sore lalu, Dirut Pertamina Dwi Soejipto dan Menteri BUMN Rini Soemarno mengumumkan hasil audit Petral di mana ada anomali pada hasil audit forensik Petral. Sehari sebelumnya, Menteri  ESDM, Sudirman Said sudah mengatakan bocoran soal hasil audit forensik yang Petral, seperti dikutip detik.com berikut:

"Pertama, ada pihak ketiga yang ikut campur dalam proses pengadaan dan jual beli minyak mentah dan produksi BBM di Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES). PES yang merupakan anak usaha Petral, bertugas melakukan pengadaan impor minyak dan BBM. Kedua, pihak ketiga berhasil mempengaruhi personal-personal di PES untuk meluluskan dan mengatur tender dan harga. Ketiga, akibat dari ikut campurnya pihak ketiga maka Petral dan Pertamina tidak memperoleh harga terbaik ketika melakukan pengadaan minyak maupun jual beli produk BBM."

Sementara dua pejebat hari yang penulis lihat kemarin sore (12/11) di Primetime News Metro TV mengatakan bahwa Rini akan melakukan koordinasi dengan ESDM dan Pertamina untuk melakukan coorporate action untuk menindaklanjuti anomali terhadap hasil forensik Petral dalam waktu satu minggu. Di saat yang bersamaan, Dwi mengatakan pihaknya akan mengambil langkah hukum untuk kepada pihak yang membocorkan harga bbm mentah yang disebutnya anomali itu.

Berdasarkan penyataan ketiga pejabat di atas, menurut penulis, rakyat masih harus bersabar menunggu aksi nyata yang dilakukan Pemerintah untuk mengungkap nama-nama di balik penyimpangan yang terjadi di Petral selama ini. Semoga Pemerintah bisa melakukan semuanya secara transparan dan mereka yang terkait bisa diproses hukum, serta mengembalikan uang negara.

Secercah harapan pada energi alternatif
Kembali kepada perumpaan negeri dongeng pada pembicaraan awal, semoga apa yang terjadi pada dunia "keenergian" kita tak membuat Indonesia semakin jatuh pada lubang hitam korupsi di mana rakyat harus (selalu) merasakan ekses negatifnya. Karena di luar minyak dan batubara, Indonesia adalah negara dengan banyak sumber energi lainnya seperti laut dan sungai yang mengelilingi sebagian besar wilayah nusantara, yang bisa dimanfaatkan menjadi penghasil energi listrik.

Selain itu, cadangan gas alam atau gas bumi kita juga masih terlampau banyak, sehingga kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan BUMN untuk dieksplorasi menjadi gas yang bisa digunakan di rumah-rumah warga.

Adalah PGN atau Perusahaan Gas Negara yang membuat program menyalurkan gas alam ke rumah-rumah warga menggunakan pipa panjang. Hal ini bisa menjadi alternatif di tengah ketergantungan kita pada pemakaian gas tabung yang notabene bukan dari gas alam. Diversifikasi dari minyak ke gas dan sumber daya energi alternatif lainnya menjadi secercah harapan untuk Indonesia di tengah makin menipisnya persediaan minyak dan batubara dalam negeri. Jadi hadirnya PGN ini merupakan solusi seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk memikirkan cara-cara baru menghasilkan sumber energi alternatif.

Yang perlu diperhatikan adalah upaya pemerintah dan perusahaan-perusahaan atau lembaga-lembaga terkait pemanfaatan sumber energi kita dalam menciptakan SDM di bidang keenergian. Nah, semoga saja Indonesia sebagai istana kita yang akan kaya energi alternatif ini tidak hancur luruh berantakan oleh para koruptur yang gila dengan sumber energi, tapi justru menjamurnya para ahli di bidang energi yang bersih dan jujur dalam mengolah sumber daya kita.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment