In Binhad Nurrohmat Tokoh sastra Views

Label

Binhad Nurrohmat
Dua hari menjelang akhir tahun 2011 media online Tribun News.com melansir  tahun 2012 sebagai Tahun Naga Air. Berita ini berdasarkan ramalan Ki Kusumo, peramal kondang yang kerap dimintai keterangannya membaca masa akan datang oleh sejumlah wartawan gosip. Pun dengan ramalan ketika akhir 2010 menjelang 2011, penyebutan atau pelabelan tahun kerap menghiasi media informasi. Palabelan itu pun tak sekadar label. Ada arti dan makna di di dalamnya. Dan kita tahu 2011 ditandai dengan tahun kelinci Logam.
Begitu juga dengan kemunculan pelabelan atau penandaan di dunia sastra. Tahun 2000an muncul karya-karya sastra yang ditulis oleh para selebritis dengan konten karya yang terkesan vulgar, bahkan meng-ia-kan vulgar meski dengan dalih seni untuk seni : inilah seni, dengan segala hal yang tak terduga untuk diciptakan. Misalnya, ketika Djenar Maesa Ayu yang membuat  Mereka Bilang Saya Monyet, atau ketika dia menulis cerpen sederhana berjudul SMS.  Pelabelan sebagai sastrawan dengan karya-karya berbau seksualitas dan banalitas pun lekat.
Kemudian, ada laki-laki berambut panjang kelahiran 1 Januari 1976 menulis kumpulan puisi pertamanya berjudul Kuda Ranjang tahun 2004 yang menimbulkan polemik di kalangan tidak hanya sastrawan tapi juga lapisan masyarakat lain. Semisal ketika ia menulis puisi Berak-nya.

Anusmu yang bagus
saban pagi mengangkangi mulut kakus
yang tak bosan menunggu tahimu.

Zakarmu sekuyu gelambir jompo
bungkuk dan malu-malu
mengintip puing tahi
terjepit bongkah coklat bokongmu. 

Kau merasa masuk ank  semalam
seperti pagi ini
seusai ada yang berjatuhan dari anusmu.”

Tidak cukup Berak, pria kelahiran Lampung ini pun menulis puisi-puisi yang mengeksplorasi lain dari onggokan raga yang selalu di bawa manusia: tubuh.
Tubuh, menurutnya menjadi hal yang intim. Pada Majalah Hayamwuruk edisi No.1/Th. XVIII/2008  pria 36 tahun itu menyebutkan “… terdapat tubuh fisikal-biologis, tubuh sosiologis, dan tubuh spiritual-teologis. Trilogi tubuh inilah yang mendasari kelahiran puisi-puisi saya. Tubuh dalam kenyataannya menjalani peran biologis (bekerja atau bercinta), peran sosiologis (tubuh boleh telanjang di kamar mandi, tapi mesti berbaju saat berada di pasar), dan peran spiritual-teologis (tanpa tubuh manusia tak bisa menjalankan naluri spiritual atau teologisnya, misalnya sholat atau berderma).”
Dalam masa produktifnya, pria itu menulis sejumlah puisi lagi. Di tahun 2007 Bau Betina keluar dari tubuhnya. Polemik terus bergulir. Seorang sastrawan dari Sunda Usep Romli HM mengatakan pada esainya bahwa pada pria yang sedang kita bicarakan adalah pria yang konon hafal di luar kepala tentang hadis-hadis Muhammad Saw dari Kutubbus Shittah malah menulis sajak-sajak liar.
Perlu diketahui juga, bahawa pria ini besar di pesantren di Krapyak Yogyakarta, lalu melanjutkan srudinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara bersama Chavchay Syaifullah  yang juga penyair yang  kerap menulis status vulgar-cerdas di laman facebooknya.
Latar belakang pendidikan pesantren yang dikecapnya membuat karya-karyanya dengan cepat dihinggapi sebutan sebagai karya perusak moral. Oleh sebab karyanya, Saut Situmorang sebagi pengabdi Boemiputra menganugrahi Bau Betina sebagai karya sastra terburuk tahun 2007.
Pada akhirnya, apa yang dicapai pada pria yang kita bicarakan di awal adalah sebuah tanda, sebuah pelabelan untuk menyebutkan dan mengklasifikasikan apa yang melekat padanya. Apa yang dilahirkannya. Sepert sikap berontaknya terhadap estetika karya-karya yang dicipatakan dari jamannya Hamzah Fansuri sampai ank e Soetardji Calzoum Bachri dan Chairil Anwar yang ke kiri-kirian ank e kanan-kananan. Pria ini mampu memberontak bahwa ia tidak ingin terpenjara oleh apapun. Termasuk karyanya yang bukan tidak mungkin akan diingat dan dibicarakan.
Label atau penandaan seyogyanya disikapi dengan bijak. Seperti halnya Langit Makin Mendung yang dihujat habis-habisan tapi hingga sekarang masih hangat diperbincangkan. Maka, agar perbincangan ini berlanjut, sekiranya kita sepakati dulu bahwa pria yang sejak awal kita bicarakan kita labeli dengan nama Binhad Nurrohmat.


*Dimuat di newsletter Lakonik, media sastra dari komunitas sastra Majelis Kantiniyah, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Jakarta.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Banjit belajar bikin cerpen Cerpen

Banjit



Di mataku, hanya cerita-cerita tentang kampung halamanmu yang membuatku penasaran. Imaji-imajiku liar ketika menyimak kisah tempat kelahiranmu. Kamu menyebutnya sebagai daerah terpencil. Di sana, katamu, hanya ada satu minimarket. Dengan senyum licik, kamu berseru tentang bagaimana mengajak orang-orang di sanateman-temanmu ke minimarket, “Mereka semua kedinginan,” katamu puas tertawa.
Katamu juga, kampung halamanmu itu penuh bukit. Seharian penuh kamu bisa bermain di sana. Konon, sewaktu usiamu 10 tahun, ada seorang anak laki-laki yang menangis. Di antara bukit-bukit hijau tempatmu bermain, anak laki-laki itu menundukkan kepalanya. Menekuk wajahnya. Ia malu. Ia iri. Ia ingin marah lantaran diejek teman-temannya. Ia dibilang tidak berayah.
Sesampainya di rumah, anak laki-laki itu memeluk ibunya. Sambil memegangi erat pinggang ibunya, ia lalu bertanya, “Ibu, kapan ayah akan pulang?” Ibu melepaskan kedua tangan si anak dan berkata bahwa ayah sedang melaut. Ibu bergantian memeluknya. Mengusap dan mencium kepalanya. Dengan suara amat pelan, ibu berkata, “Pada saatnya nanti kamu akan mengerti laut apa yang tengah ayahmu arungi, anakku sayang”.
Aku masih setia mendengarkan ceritamu. Segera saja, wajahku berubah menjadi sedih ketika kamu menceritakan betapa selama bertahun-tahun anak laki-laki itu diejek teman-temannya. Dan hanya jawaban yang sama yang ia dapatkan dari ibunya ketika bertanya kapan ayahnya akan pulang.
“Memang ayahnya itu beberapa kali pulang. Tapi sependengaranku, ayahnya hanya numpang tidur. Esok paginya, ia mengambil beberapa potong pakaian lalu pergi lagi. Bertahun-tahun ayahnya melakukan hal yang sama hingga ibunya mengandung anak yang kedua dan ketiga,” katamu.
Hatiku miris. Rasanya ingin saja aku berteriak kepada laki-laki yang menjadi ayahnya itu. Ingin aku mengatakannya keras-keras bahwa melaut macam apa yang dilakukannya hingga bertahun-tahun tega meninggalkan istrinya dan anak-anaknya.
Beberapa tahun kemudian, anak laki-laki yang menangis di bukit hijau dulu, katamu, kini sudah besar. Ia sama besarnya denganmu. Ia tumbuh dengan jiwa yang besar. Meski tubuhnya kurus seperti menanggung beban sebagai anak tak berayah.
 Kuperhatikan kamu tertawa di balik barisan gigi rapihmu. Sesaat kemudian senyum itu hilang berganti wajah serius. Kamu membuang pandangan ke arah gedung kampus. “Tapi ia punya tenaga super kuat untuk membebaskan adiknya dari jeruji besi,” katamu yang membuatku bertanya apakah sang ayah tahu anaknya masuk penjara? Bagaimana perasaan si ibu? Dan bagaimana anak laki-laki tadi berjuang membebaskan adiknya?
“Aaah ceritamu kali ini bikin aku naik pitam. Aku benar-benar kesal pada si ayahnya anak itu,” kataku dengan wajah memerah.
“Tenang saja, ia kan sudah berhasil membebaskan adiknya,” ucapmu dengan wajah angkuh seolah-olah kamulah yang membebaskan adiknya. Seolah-olah kamulah si anak laki-laki itu.
“Lalu bagaimana dengan si ibunya?” tanyaku tak sabar.
Kini kamu menoleh padaku. Menatapku tajam-tajam. Menghela nafas panjang dan berkata, “Si ibu baik-baik saja. Memang ia sedih dan kecewa. Tapi bukankah selama bertahun-tahun ia telah berusaha keras menjadi wanita tegar?”
                                                            ***
Cerita-ceritamu sore ini tentang kampung halaman, tentang keindahan di sana, dan tentunya tentang kelajutan kisah si anak laki-laki yang tumbuh dewasa dan pasti, menurutku, berjiwa dewasa pula menjadi episode yang tak sabar ingin kudengar. Tak sabar pula ingin kudengar ketegaran si ibu—wonder woman—itu.
“Ayo ceritakan kembali kisah-kisahnya padaku!” pintaku padamu.
Sembari ditemani gitar kesayanganmu dan senja yang mataharinya oranye bulat sempurna, kamu menceritakan bahwa anak dewasa itu kini telah kembali kuliah. Setelah nyaris berhenti meninggalkan bangku kuliahnya. Akhirnya, ia bekerja keras mencari tambahan uang untuk menebus adiknya di kantor polisi. Ia banting tulang mencari uang untuk membayar biaya semesteran yang sudah jatuh tempo. Ia juga berhasil membelikan genset untuk ibunya di rumah, “Sebab di sana listrik itu bisa lima sampai tujuh kali mati dalam sehari”.
“Lalu?” kataku penasaran.
“Anak itu membawa harapan besar. Ia punya semangat baru untuk mengubah hidupnya. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ibu dan kedua adiknya. Dan yang pasti, ia tak ingin menjadi laki-laki seperti ayahnya. Menjadi sosok seperti ayahnya sama saja melukai hati ibunya,” katamu penuh keyakinan.
“Sungguh?”
“Ya. Ia sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ia tengah mempersiapkan diri untuk tidak melukai hati perempuan yang disayangi dan menyayanginya. Ia ingin setia. Karena kata ibunya, kini ia sudah dewasa. Sebab ia sudah tahu bahwa melaut yang dilakukan ayahnya adalah mencari perempuan lagi di luar sana.”
Dalam hati aku berkata, “Sekarang aku baru mengerti bagaimana sang ibu dan anak itu berjuang tanpa seorang nahkoda dalam kapal rumah mereka. Sang anak laki-laki itulah yang harus menyetir kapal itu agar tetap stabil dalam goncangan dan ombak hina yang kerap dilakukan orang-orang sekitarnya”.  Kini, rasa penasaranku meninggi. Aku ingin bertemu ibu dan anak laki-laki itu.
Tiba-tiba saja kamu berkata,
“Raja ntah pergi ke mana. Mungkin ke laut, mencari selir. Aku takkan ke mana-mana. Takkan pula bertahan. Aku angin. Takkan lari diburu harimau. Akulah angin. Takkan lari diterkam serigala. Karena ku tahu, harimau dan serigala telah bersemayam dalam tubuh raja yang tega meninggalkan permaisuri dan ketiga anaknya”.
Dengan gitar yang sejak tadi menjadi makhluk ketiga di antara aku dan ceritamu tentang anak laki-laki dan ibunya, kini mengeluarkan nada. Kamu bawakan petikan lagu di saat aku terheran-heran dengan ucapanmu tentang raja, angin, permaisuri, dan ketiga anaknya. Lagu “Ternyata Cinta” milik Padi mengalun dari bibirmu, di hadapanku.
Sesaat setelah petikan bar terakhir, aku mengerti kamu adalah anak laki-laki yang menangis di bukit kampung halamanmu, yang kini hadir dihadapanku sebagai anak laki-laki yang dewasa. Kamu lalu berkata bahwa pada bukit-bukit hijau di kampung halamanmu itu pernah bermimpi bahwa kita menjalin suatu hubungan. Aku dan kamu menjalin kasih. Dan mimpimu itu menjadi nyata.
Segera saja, aku tersadar bahwa aku telah menjadi perempuan yang kamu sayangi. Maka aku akan menyayangimu pula. Sebab aku percaya kamu tidak akan menjadi sosok ayahmu. Seperti janjimu.
Di saat aku tersanjung oleh semuanya, semua cerita, pengakuan, tatapan, dan nyanyianmu. Membuat hari ini seperti bukan sekadar sore di satu hari yang baru. Bukan hanya sore di antara jalinan hubungan kita yang masih seumur jagung. Tiba-tiba, jari-jari mahirmu memetik senar kembali. Mengeluarkan suara terbaiknya untuk kamu nyanyikan lagi. Kini, kamu membawakan lagi lagu Padi.
            Pada akhirnya, “Rapuh” –nya Padi menjelaskan semuanya.
Ternyata kamu si anak laki-laki yang sedang berusaha menjadi dewasa tapi tidak cukup kuat untuk berjuang. Kamu kehilangan elan. Dan kamu akan kesepian. Kesendirian yang kamu pilih akan membuat kamu benar-benar kehilangan arti hidupmu sendiri. Percayalah, karena kamu yang memberi semangat, kamu pula yang mematahkan semangat itu.
            Tidak dapat aku menerka keputusanmu akan final memisahkan diri; agresi covert. Tidak aku bayangkan betapa lemahnya akan rintangan yang sebenarnya sudah kamu rasakan jauh sebelum pengakuanmu sore ini lewat lagu. Tidak aku pahami bagaimana kamu kehilangan rasa percaya diri akan bagaimana berjuang.
            Pengakuan revoluisonermu sebagai laki-laki dewasa di hadapanku sirna sudah. Mungkin kamu bisa membebaskan adikmu dari penjara, membelikan genset, menerangi rumahmu di sana. Tapi kamu lupa satu hal, jika kamu mampu menyatakan akan setia pada satu perempuan, maka dengan alasan apapun, mundur berarti pecundang.
***
 Sore telah menjadi malam. Dan malam ini, aku telah menjadi sore dengan semburat oranye matahari yang senjanya pecah, berkeping-keping.
Rupanya malam telah menampakkan dirimu sebagai sosok ayahmu sendiri. Segera saja, malam ini pula aku ingin ke kampung halamanmu. Menemui ibumu. Dan meminta bagaimana caranya menjadi wanita yang tegar. Malam ini aku ingin ke Banjit.

* Sebuah daerah di bumi Lampung.
Ciputat, 13 Juni 2012

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam Minyak dan Gas PGN Pilar Ekonomi

Sektor Migas Harus Menjadi Pilar Ekonomi Indonesia (2)

Ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah tentang proyek Floating Storage and Regasification Unit atau FSRU Lampung yang bangun oleh PGN bersama perusahaan konsorsium bentukan PT Rekayasa Industri (Rekin) dan perusahaan konstruksi asal Norwegia yakni Hoegh. Pembangunan ini mulai dikerjakan 2013.

FSRU adalah fasilitas terapung yang berfungsi sebagai penyimpanan dan penguapan kembali gas alam dalam bentuk cair menjadi dalam bentuk gas seperti pada aslinya. FSRU merupakan salah satu solusi PGN untuk mempermudah transportasi gas dan untuk memenuhi kebutuhan gas di daerah yang jauh dari sumber gas, karena biaya pembangunan infrastruktur pipa gas memang sangat mahal. Ladang gas Indonesia sendiri memang kebanyakan berada di Indonesia bagian timur, ditambah lagi bentuk geografis negara kita yang terdiri dari kepulauan membuat transportasi gas lebih susah. Di situasi seperti inilah FSRU menjadi salah satu solusinya.

Dalam perjalanannya, seperti dikutip radarlampung, diam-diam, FSRU sudah tidak lagi beroperasi karena tak memiliki konsumen. Padahal selain harus menanggung investasi senilai USD300 juta, PGN juga harus mengeluarkan operational cost sebesar Rp9 miliar per bulan.

Proyek ini disetop karena tidak adanya kesepakatan antara PLN, pembeli utama pasokan gas yang diproduksi PGN, untuk memenuhi kebutuhan listrik PLN. Hal ini jelas membuat pemerintah harus menelan rugi yang tidak sedikit.

Namun pada Oktober kemarin, FSRU Lampung mulai diaktifkan lagi. Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengungkapkan, satu kargo LNG yang didatangkan ini baru tahap pertama. Namun, ia tidak bisa menyebutkan tahap berikutnya kapan dan berapa jumlah kargo yang akan didatangkan.
 "Saya butuh konfirmasi lagi, saya baru mendapat informasi yang satu kargo ini datang Oktober 2015," kata Heri. 

Ia mengklaim, mangkraknya FSRU Lampung ini bukan sebuah masalah serius. Ia membandingkan dengan FSRU di luar negeri pun juga tidak sepanjang tahun beroperasi.
Bangkit dari posisi stagnan, kini PGN dijadwalkan akan kembali menyalurkan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) sebanyak empat hingga lima kargo dari Unit (FSRU) Lampung mulai tahun depan.

Wahid Sutopo, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PGN mengakui perusahaannya sudah menyelesaikan penyaluran satu kargo LNG di Oktober sampai awal November kemarin untuk mengantisipasi adanya kenaikan permintaan.

“Kami ada rencana menyalurkan empat sampai lima kargo lagi tapi akan lihat (dulu) profil permintaan dan perkembangan harga LNG. Kalau mendukung ya kami tingkatkan lagi,” jelas Wahid dalam Investor Summit di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/11).

PGN bersama dengan Hoegh Ltd akan bekerjasama untuk FSRU Lampung hingga 20 tahun, sebuah komitmen yang besar, dan SKK Migas pun telah membuat rencana pasokan FSRU Lampung hingga tahun 2021. Secara sederhana bias disimpulkan bahwa adanya pasokan energi yang lebih besar dan stabil akan membawa kemajuan dan perkembangan bagi wilayah Lampung, Sumatra Selatan dan Jawa Barat. FSRU Lampung akan membawa efek multiple yang tidak terbayangkan, dan bisa menjadi benchmark bagi solusi energi di daerah-daerah lain di Indonesia, untuk menumbuh-kembangkan ekonomi secara berkelanjutan.

Mulai dari harga bbm yang turun, kasus Setya Novanto, sampai FSRU Lampung, ada satu benang merah di antara ketiganya, yakni sumber daya alam indonesia yang melimpah ini seharusnya bisa menjadi pilar ekonomi yang baik untuk kehidupan rakyat. Sebab, keuntungan yang diterima dari perusahaan-perusahaan yang mengeksplorasi dan mengembangkan sumber daya alam kita yang maha kaya ini sangatlah besar. Dan semua itu hanya bisa dijalankan dengan baik jika laku para pejabat kita dalam membuat kebijakan selaras dengan laku mereka saat di lapangan.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Sumber:
http://www.radarlampung.co.id/read/berita-utama/85217-fsru-lampung-disetop

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam Minyak dan Gas PGN Pilar Ekonomi

Sektor Migas Harus Menjadi Pilar Ekonomi Indonesia (1)

Di kuartal keempat tahun 2015 ini, banyak kejadian yang cukup krusial terjadi di Tanah Air, khususnya dalam sektor minyak dan gas. Tiga di antaranya adalah  kasus rekaman percakapan dalam pertemuan terlarang yang diduga dilakukan oleh Setya Novanto, Reza Chalid, bersama Direktur Utama Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, turunya harga BBM beberapa hari lalu, dan diaktifkannya lagi FSRU Lampung oleh PGN.

Ketiga peristiwa tersebut menarik perhatian banyak publik karena apa yang terjadi menyangkut nasib banyak rakyat Indonesia. Pertama, Ihwal kasus Setya Novanto jelas menyakiti hati rakyat Indonesia, bukan saja soal banyaknya nama pejabat pemerintah yang dicatut dalam rekaman pembicaraan tersebut termasuk Presiden dan Wapres RI yang dicatut, tapi juga soal perpanjangan Kontrak Karya Freeport yang menuai banyak protes sebab selama ini perusahaan tambang asal Amerika itu terlalu kecil memberi keuntungannya pada Indonesia, yaitu hanya 1% dari total keuntungan yang mereka dapat dari mengeruk gunung emas berpuluh-puluh tahun sejak era Soeharto.

Belakangan beredar kabar dari laman resmi ESDM bahwa perpanjangan kontrak karya Freeport akan dilakukan. Hal ini menegaskan dugaan Rizal Ramli tentang adanya antar geng yang merebutkan saham dari Freeport jika perusahaan milik Jim Bob ini jadi memperpanjang kontraknya di Indonesia.
Jika dugaan Menko Maritim dan Sumber Daya itu benar, sungguh derita mana lagi yang bisa dihindari rakyat Indonesia atas keserakahan para pejabat kita yang rebutan saham yang bukan hak mereka.

Dalam wawancara Rizal Ramli dalam program di TV One beberapa waktu lalu (silakan cari sendiri di laman TV One), ia menyebutkan bahwa boleh saja Freeport memperpanjang kontrak karyanya setelah 2021 asal menyepakati lima  syarat dari pemerintah yang pro rakyat. Hal ini jelas menjadi perhatian serius mengingat selama ini Papua yang menjadi “tuan rumah” ladang emas dan tembaga masih tertinggal pembangunan dan infrastrukturnya.   

Freeport Indonesia memang menjadi momok yang mendilemakan banyak pihak. Sejarah panjang Freeport di Indonesia juga dinilai dan dirasakan banyak pihak tidak banyak memberikan keuntungan pada rakyat Indonesia, khususnya masyarakat asli Papua (dalam hal ini saya begitu menyayangkan keputusan Soeharto yang membuka keran seluas-luasnya bagi investor asing menanamkan modalnya di Indonesia).

Kedua, peristiwa yang jelas masih hangat lainnya adalah turunnya harga BBM beberapa hari ini. Menteri ESDM, Sudirman Said mengatakan bahwa penurunan harga BBM yang baru bisa dinikmati rakyat per 5 Januari 2016 ini berdasar pada berbagai pertimbangan, seperti harga minyak mentah, kurs rupiah, serta efisiensi mata rantai pasokan.

Seperti dikutip tempo.co, harga bahan bakar jenis Premium, yang sebelumnya Rp 7.300, diturunkan menjadi hanya Rp 7.150 per liter. "Itu sudah termasuk pungutan dana untuk ketahanan energi sebesar Rp 200 per liter," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said di kantor Presiden, Jakarta, Rabu, 23 Desember 2015.

Adapun harga solar, yang sebelumnya Rp 6.700 per liter, turun menjadi hanya Rp 5.950 per liter. "Ini berlaku per 5 Januari 2016," ujarnya. Sedangkan dana ketahanan energi yang diambil dari bahan bakar jenis solar sebesar Rp 300 per liter. Harga ini berlaku di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam pengumumannya, menteri yang tengah diserang pihak Setya Novanto CS ini mengatakan penurunan harga BBM disertai dengan pemungutan ketahanan energi dari kedua jenis bahan bakar tersebut. Pungutan ini pun menuai protes beberapa kalangan yang menilai pungutan energi itu tidak adil.

Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean mengatakan ketidakadilan itu terlihat ketika harga minyak mentah naik, pemerintah tidak memungut biaya ke kontrator kerja sama di sektor migas. Termasuk pemerintah tidak menyisihkan bagian hasilnya dari harga minyak mentah sebagai energi.

“Tiba harga minyak mentah turun, publik disuruh membayar subsidi,” ujar Ferdinand. Menurut dia, pengutipan dana energi ini momentumnya belum tepat. “Bukan waktunya rakyat dibebankan dana pungutan. Bahkan lebih besar dari jumlah penurunan.”


Pungutan yang dilakukan Kementrian ESDM ini memang riskan untuk dikorupsi sebab meski pungutannya hanya sereceh dua receh tapi jika dikalikan jumlah liter yang dibeli masyarakat untuk keperluannya sehari-hari ataupun untuk sktor industri tentu bukan jumlah yang kecil lagi. Bahkan jika dihitung dengan kuota minyak yang dimiliki Pertamina sebanyak 8juta kilo liter, hampir Rp9 triliun yang bisa dihasilkan dari biaya pungutan energi. [Baca juga: Sektor Migas Harus Menjadi Pilar Ekonomi Indonesia (2)]

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Energi Hujan

Air Hujan Bisa Menghasilkan Energi Listrik, Lho! (2)



"Jadi ketika hujan, tetesan air akan jatuh di penampang, saat itulah per bergerak naik turun dan juga menggerakan kumparan dan medan magnet. Pertemuan medan magnet dan kumpuran inilah yang menghasilkan energi, atau istilahnya dalam fisika menghasilkan fluks," kata siswa yang pernah meraih medali dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2011 ini.

Ukuran alat ini hanya 16x16 sentimeter. Dari alat ini baru bisa menghasilkan listrik 48 milovolt. Alat ini masih dikatakan sebagai prototipe. Namun bila diaplikasikan dengan ukuran lebih besar dan komponennya juga disesuaikan bisa menghasilkan energi yang besar juga.

Dicontohkan, bila ukurannya diperbesar tiga kali lipat atau lebih bisa menghasilkan listrik 48 volt yang bisa menghidupkan lampu. Agar alat ini bisa berfungsi, maka tetes hujan yang jatuh di penampang adalah tetesan yang cukup deras. Kalau hanya sekadar rintik hujan, alat tidak akan bergerak atau berfungsi. Semakin deras air hujan yang turun maka akan semakin baik energi yang dihasilkan.

Komponen alat ini, menurut Luthfi, dari barang-barang yang bisa didapat di Indonesia. Hanya saja, saat untuk membuat alat ini mereka mendapat kendala memperoleh magnet ukuran kecil. Mereka sampai berburu magnet ke Bandung. Itu pun setelah dapat hanya beberapa saja persediaan, sementara mereka butuh 16 magnet yang disesuaikan dengan jumlah kumparan dan per yang mereka sebut satu sel yang terdiri dari kumparan kawat, per, magnet dan mika. Mereka baru bisa mendapat magnet setelah pesan selama satu minggu.

"Dalam satu alat ini ada 16 sel, kami susun segi empat," ujar siswa yang baru pertama ikut lomba karya ilmiah ini.

Untuk biaya, mereka hanya menghabiskan biaya Rp 500 ribu untuk satu alat. Komponen paling mahal adalah magnet dengan harga satuan Rp 22 ribu. Kini dengan prototipe yang sudah ada, mereka ingin mengembangkan lebih baik lagi.

Dalam pengaplikasiannya terhadap eksperimen ini, pemerintah juga sudah membentuk Pembangkit Listrik Tenaga Air Hujan (PLTAH) yang menginisiasi penelitian tentang adanya potensi energi dari air hujan yang dapat dikelola setelah jatuh dari rumah atau gedung.

Menurut Abdul Karim, besarnya daya yang bisa dibangkitkan oleh PLTAH ini sangat bergantung pada nilai head dari gedung atau rumah dan debit air hujan. Semakin tinggi gedung atau rumah yang ditentukan maka semakin besar energi listrik yang dapat dibangkitkan. Pemilihan jenis gedung atau rumah yang dijadikan tempat pemasangan PLTAH ini terdiri dari dua jenis dan ditinjau dari jenis atap yang digunakan. Rumah atau gedung dengan atap segitiga dan dengan atap jenis persegi.

Penggunaan PLTAH ini memiliki beberapa kelebihan, diantaranya ,Komponen instalasinya murah dan mudah didapat, Mudah dalam desain dan pembuatannya, Serta mudah dalam perawatannya. Besarnya daya yang bisa dibangkitkan dari PLTAH ini berbanding lurus dengan ketinggian sebuah rumah atau gedung yang akan dijadikan objek, semakin besar nilai ketinggiannya maka daya listrik yang dihasilkan bisa lebih besar. Tegangan keluaran generator dapat ditingkatkan sehingga penggunaan energi listrik yang dihasilkan akan lebih luas, Energi listrik yang telah disimpan dalam aki bisa digunakan untuk berbagai keperluan beban listrik dengan menambahkan rangkain inverter sederhana 12/220 V.

Semoga intensitas curah hujan yang tinggi di Indonesia tidak lagi serta-merta dianggap sebagai sebuah musibah karena, tenyata debit air yang jatuh dari langit bisa dimanfatkan menjadi energi listrik yang bisa menopang gerakan energi baik. Listrik yang dihasilkan dari hujan tentu bisa ikut membantu mengurangi kelangkaan batubara yang saat ini jumlahnya semakin habis.

#Salam EnergiBaik

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Sumber:

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Energi Hujan PLTAH

Air Hujan Bisa Menghasilkan Energi Listrik, Lho! (1)


Setelah dilanda musim kemarau berkepanjangan, bahkan sampai menyebabkan terbakarnya hutan ribuan hektar, Indonesia kini memasuki musim hujan. Sama halnya dengan musim kemarau yang memberikan dampak pada lingkungan, musim hujan juga menyebabkan beberapa ruas jalanan di Jakarta tergenang air dan berakibat banjir.

Volume air yang menggenang akibat intensitas hujan yang sering ini ternyata bisa menghasilkan energi listrik, lho! Menyadari kondisi alam Indonesia yang di sebagian tempat memiliki curah hujan tinggi menginspirasi dua siswa SMK Cakra Buana Depok, Luthfi Adhyaksadiputra (16), kelas 2 IPA, dan Cliff A G Muskitta (15) kelas 2 IPA tahun 2012.
Mereka menilai hujan bisa dimanfaatkan sebagai salah satu energi alternatif selain panas bumi atau tenaga matahari. Dua siswa ini lalu membuat sebuah alat yang bisa mengubah tetes air hujan menjadi energi alternatif.

Seperti dikutip dishut.jabarprov.go.id , menurut Cliff, ide memanfaatkan tetes hujan muncul awal tahun lalu. Saat itu ia dan Luthfi merasakan cuaca hujan terus menerus. Terbersit dalam pikiran kenapa hujan tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna. Mereka pun mendapat ide bagaimana air hujan bisa dijadikan energi. Setelah ide muncul, mereka mendiskusikannya dengan guru. Akhirnya pada bulan Maret tahun lalu, dibimbing Nopi Melani, guru Fisika di sekolahnya, mereka mulai melakukan penelitian tentang energi dari air hujan.

Benturan air hujan ketika menumbuk atap-atap rumah atau gedung pada hakekatnya menghasilkan energi yang terbuang percuma. Dari analisa tersebut dianggap perlu untuk melakukan observasi dan studi sehingga air hujan yang jatuh dirumah-rumah atau gedung dapat dikelola dalam bentuk suatu instalasi pembangkit listrik sederhana. PLTAH atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Hujan merupakan hasil dari analisa potensi energi dari air hujan yang dapat dikelola setelah jatuh dari rumah atau gedung.

Dipaparkan siswa yang akan mendaftar beasiswa di NUS Singapur ini, alat yang dibuatnya terdiri dari magnet, kawat, per dan mika. Untuk merangkai komponen tersebut agar bisa menghasilkan energi, mereka membuat alat dengan menggunakan ilmu teori fisika,  Hukum Induksi Faraday.

Kawat dililit menjadi 100 lilitan yang akan dijadikan sebagai kumparan. Setelah itu kawat ini ditempelkan pada magnet. Selanjutnya, kawat dan magnet ini disusun dengan komponen lainnya dengan mika yang dimanfaatkan sebagai penampang. [Selengkapnya baca di Air Hujan Bisa Menghasilkan Energi Listrik, Lho! (2)]

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In My Life

Susahnya move on dari lagu Ellie Goulding, Love Me Like You Do.
Ajegile

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam Hari Ibu PGN

Karena Ibu dan Gas Alam Sama Pentingnya!

Karena ibu dan gas alam sama pentingnya!
ilustrasi by Mujahid Alawy
Masih dalam suasana Hari Ibu di Desember yang penuh kemuliaan, kali ini penulis mau bahas tentang peran ibu yang besar banget untuk kehidupan kita sebagai anak. Di sisi lain, ada juga gas alam yang memiliki peran yang tidak kalah pentingnya bagi khalayak banyak, terutama untuk dapur ibu.

Setiap kali mendengar kata "ibu", banyak, bahkan nyaris semua orang akan merasa sedih-bahagia mengenangnya. Bagaimana tidak? Sosok Ibu memang seperti malaikat. Dia adalah penolong bagi kita dalam keadaan apapun. Bahkan seorang ibu bisa menjadi berperan menjadi ayah sekaligus.  

Tidak berlebihan, sebab banyak atau bahkan ibu kita sendiri yang dengan telaten merawat kita, menyiapkan makan, baju, di saat yang bersamaan juga bisa mencari nafkah agar kita bisa sekolah, memakain baju yang layak, dan makan yang sehat, hingga menjadi sosok kita yang saat ini, yang mungkin sudah menjadi professor, menjadi general manager, menjadi CEO suatu perusahaan terkemuka, bahkan menjadi presiden sekalipun. Ibu memang seorang pahlawan bagi anak-anaknya.

Di antara peran ibu yang sangat besar itu, terselip peran gas alam yang juga sangat vital.

Gas alam merupakan salah satu bahan bakar yang masih banyak potensi cadangannya di Indonesia. Gas alam merupakan sektor energi yang vital untuk menopang berbagai sendi kehidupan masyarakat, mulai dari penggunaannya untuk industri besar dan kecil dan rumah tangga.

Untuk kalangan rumah tangga, tentu peran gas alam berbanding lurus dengan peran ibu. Gas alam saat ini mulai diminati para ibu-ibu untuk memasak. Sebabnya, gas alam yang disediakan dan diakomidir oleh Perusahaan GasNegara (yang kebetulan saat ini sedang mengadakan Lomba PGN Sayang Ibu) ini mengalir panjang melalui pipa-pipanya ke banyak rumah warga.


Selain itu, dengan menggunakan gas alam, para ibu tidak usah khawatir akan kehabisan persediaan gas. Ibarat sosok ibu yang selalu ada ketika sedang kita butuhkan, gas alam pun demikian. Jadi, bagi pengguna gas alam tak usah khawatir mengalami kelangkaan gas. Dengan begitu, ibu tak usah khawatir tak bisa memasak dan kita sebagai anak bisa merasakan masakan lezat darinya. 

Karena ibu dan gas alam sama pentingnya untuk kita! 

Tulisan ini didedikasikan untuk para ibu tercinta dan situs si-nergi.id

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Hari Ibu Lomba PGN Ratusan Juta Rupiah PGN

Bingung Kasih Kado untuk Ibu Tercinta? Yuk Ikutan Lomba PGN Sayang Ibu!

Hari ini merupakan hari bersejarah bagi para Ibu di Indonesia. Sebab, tepat pada 22 Desember ini kita merayakan Hari Ibu Nasional. Momen ini tentu menjadi ajang para anak untuk mengungkapkan kasih dan sayangnya ke pada Ibu tercinta.

Lazimnya, seorang anak memberikan semacam bingkisan atau kado untuk sang Ibu tercinta. Kalau kalian bingung hadiah apa yang pas untuk sang Ibu, mending ikutan deh Lomba PGN Sayang Ibu yang dipersembahkan oleh Perusahaan Gas Negara. Caranya mudah banget dan hadiahnya juga lumayan lho! Simak yuk!

Caranya:
       1. Ambil foto yang menunjukkan aktifitas bersama gas bumi PGN
       2. Posting foto dan cerita pengalaman menggunakan gas bumi PGN ke sosial media kamu
-          Untuk Facebook, posting foto dan cerita di wall PGNenergibaik
-          Untuk Twitter, posting foto dan cerita dengan mention @EnergiBaik_PGN
-          Untuk Instagram, posting foto dan cerita dengan mention dan tag @PGNenergibaik
Syarat lomba:
1.       Berlaku bagi pelanggan rumah tangga yang menggunakan gas alam PGN (dibuktikan dengan nomor pelanggan PGN)
2.       Posting foto, cerita dan  nomor pelanggan dengan hashtag #PGNenergibaik
3.       Peserta diharuskan like fanpage dan atau follow twitter/instagram PGNenergibaik
4.       Foto harus terlihat logo PGN
5.       Periode kompetisi dimulai dari 14 Desember 2015 – 14 Januari 2016
6.       Pemenang akan diumumkan pada 29 Januari 2016 di www.pgn.co.id dan www.energibaik.com
7.       Total hadiah sejumlah Rp. 200.000.000 untuk 200 pemenang. Masing-masing pemenang akan mendapatkan Rp.1.000.000
8.       Setiap anggota keluarga boleh mengikuti kompetisi ini.
9.       Promo ini tidak dipungut biaya. Hati-hati penipuan.
10.   Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
11.   Syarat dan ketentuan berlaku.
Info lengkap klik www.pgn.co.id atau www.energibaik.com
Nah, kalau menang kan lumayan uangnya bisa membelikan sesuatu untuk Ibumu.

Happy Mother Day!

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Desa Sinar Jawa Lampung Energi Alternatif Kemandirian Energi Swasembada energi

Kemandirian Desa Sinar Jawa dalam Ciptakan Energi Listrik (2)

Pembuatan turbin ini memang memakan biaya yang cukup besar pada awalnya, seperti biaya pembelian peralatan turbin beserta generator dan juga pembuatan instalasi saluran yang digunakan untuk mengalirkan air menuju pembangkit listrik. namun biaya yang besar ini hanya dikeluarkan sekali saja. Selebihnya warga tidak perlu lagi merasakan tagihan pembayaran listrik.

Terkendala hambatan
Pembangkit listrik tenaga air yang diusahakan oleh warga desa yang berada dipinggiran kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini tidak serta merta lancar dan tanpa hambatan dalam prosesnya. Masih beradasarkan bincang-bincang yang dilakukan Hamid Mukhlis,  ada Kariman yang bertugas sebagai teknisi salah satu instalasi pembangkit listrik yang berada di dusun Talang Kandar (salah satu dusun di Desa Sinar Jawa).

“Salah satu permasalahan yang sering datang adalah sampah sungai berupa batang pohon yang sudah mati dan dedaunan yang hanyut kedalam saluran menuju turbin dan menutup saringan sehingga mengganggu aliran debit air yang masuk. Untuk mengantisipasi hal ini biasanya warga akan melakukan pembersihan saluran air dari sampah yang hanyut yang dilaksanakan secara bergilir setiap harinya,” kata Kariman.

Masalah lain yang biasanya muncul adalah ketika memasuki musim penghujan. Seringkali turbin yang beroperasi terkena sambaran petir saat hujan turun dan membuat generator rusak. Jika hal ini terjadi akibatnya adalah listrik akan mati dan tidak dapat mengalir kerumah-rumah warga selama beberapa hari dikarenakan generator yang rusak otomatis tidak dapat dipakai kembali dan harus diganti.

Untuk itu warga harus mengumpulkan dana secara patungan setiap KK untuk membeli generator yang baru. Jika ada cara untuk mengantisipasi sambaran petir, pasti akan sangat membantu kami, ujar teknisi yang sudah beberapa tahun dipercaya warga untuk merawat dan memperbaiki instalasi turbin di dusun Talang Kandar ini.

Pemanfaatan sungai sebagai pembangkit tenaga listrik di desa ini memang belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh warga desa, ada beberapa kepala keluarga yang belum dapat merasakan aliran listrik yang berasal dari generator tenaga air ini. Hal ini dikarenakan biaya awal pembuatan turbin yang cukup besar hingga mencapai puluhan juta rupiah, sehingga mereka mesti mengumpulkan biaya terlebih dahulu secara patungan.

Apa yang dilakukan para warga di Desa Sinar Jawa menunjukkan mereka melalukan swasembada energi sendiri. Di tengah keterbatasan energi dari pemerintah pusat ke wilayah mereka membuat mereka harus mandiri dalam menciptakan energi listrik di sana.

Pemanfaatan aliran sungai menjadi salah satu solusi yang bagus sebagai energi baik dan alternatif yang jitu untuk menanggulangi ketergantungan kita terhadap penggunaan batu bara dalam menciptakan energi listrik. Semoga daerah-daerah lain juga bisa memanfaatkan sumber daya alamnya untuk menghasilkan energi listrik dan semoga pemerintah pun tak luput perhatiannya kepada mereka.

Salam #EnergiBaik!

Tulisan ini disadur dari catatan perjalanan Hamid Mukhlis bersama warga Desa Sinar Jawa.

Tulisan ini disumbangkan untuk situs si-nergi.id

Sumber:

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments