In Banjit belajar bikin cerpen Cerpen

Banjit



Di mataku, hanya cerita-cerita tentang kampung halamanmu yang membuatku penasaran. Imaji-imajiku liar ketika menyimak kisah tempat kelahiranmu. Kamu menyebutnya sebagai daerah terpencil. Di sana, katamu, hanya ada satu minimarket. Dengan senyum licik, kamu berseru tentang bagaimana mengajak orang-orang di sanateman-temanmu ke minimarket, “Mereka semua kedinginan,” katamu puas tertawa.
Katamu juga, kampung halamanmu itu penuh bukit. Seharian penuh kamu bisa bermain di sana. Konon, sewaktu usiamu 10 tahun, ada seorang anak laki-laki yang menangis. Di antara bukit-bukit hijau tempatmu bermain, anak laki-laki itu menundukkan kepalanya. Menekuk wajahnya. Ia malu. Ia iri. Ia ingin marah lantaran diejek teman-temannya. Ia dibilang tidak berayah.
Sesampainya di rumah, anak laki-laki itu memeluk ibunya. Sambil memegangi erat pinggang ibunya, ia lalu bertanya, “Ibu, kapan ayah akan pulang?” Ibu melepaskan kedua tangan si anak dan berkata bahwa ayah sedang melaut. Ibu bergantian memeluknya. Mengusap dan mencium kepalanya. Dengan suara amat pelan, ibu berkata, “Pada saatnya nanti kamu akan mengerti laut apa yang tengah ayahmu arungi, anakku sayang”.
Aku masih setia mendengarkan ceritamu. Segera saja, wajahku berubah menjadi sedih ketika kamu menceritakan betapa selama bertahun-tahun anak laki-laki itu diejek teman-temannya. Dan hanya jawaban yang sama yang ia dapatkan dari ibunya ketika bertanya kapan ayahnya akan pulang.
“Memang ayahnya itu beberapa kali pulang. Tapi sependengaranku, ayahnya hanya numpang tidur. Esok paginya, ia mengambil beberapa potong pakaian lalu pergi lagi. Bertahun-tahun ayahnya melakukan hal yang sama hingga ibunya mengandung anak yang kedua dan ketiga,” katamu.
Hatiku miris. Rasanya ingin saja aku berteriak kepada laki-laki yang menjadi ayahnya itu. Ingin aku mengatakannya keras-keras bahwa melaut macam apa yang dilakukannya hingga bertahun-tahun tega meninggalkan istrinya dan anak-anaknya.
Beberapa tahun kemudian, anak laki-laki yang menangis di bukit hijau dulu, katamu, kini sudah besar. Ia sama besarnya denganmu. Ia tumbuh dengan jiwa yang besar. Meski tubuhnya kurus seperti menanggung beban sebagai anak tak berayah.
 Kuperhatikan kamu tertawa di balik barisan gigi rapihmu. Sesaat kemudian senyum itu hilang berganti wajah serius. Kamu membuang pandangan ke arah gedung kampus. “Tapi ia punya tenaga super kuat untuk membebaskan adiknya dari jeruji besi,” katamu yang membuatku bertanya apakah sang ayah tahu anaknya masuk penjara? Bagaimana perasaan si ibu? Dan bagaimana anak laki-laki tadi berjuang membebaskan adiknya?
“Aaah ceritamu kali ini bikin aku naik pitam. Aku benar-benar kesal pada si ayahnya anak itu,” kataku dengan wajah memerah.
“Tenang saja, ia kan sudah berhasil membebaskan adiknya,” ucapmu dengan wajah angkuh seolah-olah kamulah yang membebaskan adiknya. Seolah-olah kamulah si anak laki-laki itu.
“Lalu bagaimana dengan si ibunya?” tanyaku tak sabar.
Kini kamu menoleh padaku. Menatapku tajam-tajam. Menghela nafas panjang dan berkata, “Si ibu baik-baik saja. Memang ia sedih dan kecewa. Tapi bukankah selama bertahun-tahun ia telah berusaha keras menjadi wanita tegar?”
                                                            ***
Cerita-ceritamu sore ini tentang kampung halaman, tentang keindahan di sana, dan tentunya tentang kelajutan kisah si anak laki-laki yang tumbuh dewasa dan pasti, menurutku, berjiwa dewasa pula menjadi episode yang tak sabar ingin kudengar. Tak sabar pula ingin kudengar ketegaran si ibu—wonder woman—itu.
“Ayo ceritakan kembali kisah-kisahnya padaku!” pintaku padamu.
Sembari ditemani gitar kesayanganmu dan senja yang mataharinya oranye bulat sempurna, kamu menceritakan bahwa anak dewasa itu kini telah kembali kuliah. Setelah nyaris berhenti meninggalkan bangku kuliahnya. Akhirnya, ia bekerja keras mencari tambahan uang untuk menebus adiknya di kantor polisi. Ia banting tulang mencari uang untuk membayar biaya semesteran yang sudah jatuh tempo. Ia juga berhasil membelikan genset untuk ibunya di rumah, “Sebab di sana listrik itu bisa lima sampai tujuh kali mati dalam sehari”.
“Lalu?” kataku penasaran.
“Anak itu membawa harapan besar. Ia punya semangat baru untuk mengubah hidupnya. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ibu dan kedua adiknya. Dan yang pasti, ia tak ingin menjadi laki-laki seperti ayahnya. Menjadi sosok seperti ayahnya sama saja melukai hati ibunya,” katamu penuh keyakinan.
“Sungguh?”
“Ya. Ia sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik. Ia tengah mempersiapkan diri untuk tidak melukai hati perempuan yang disayangi dan menyayanginya. Ia ingin setia. Karena kata ibunya, kini ia sudah dewasa. Sebab ia sudah tahu bahwa melaut yang dilakukan ayahnya adalah mencari perempuan lagi di luar sana.”
Dalam hati aku berkata, “Sekarang aku baru mengerti bagaimana sang ibu dan anak itu berjuang tanpa seorang nahkoda dalam kapal rumah mereka. Sang anak laki-laki itulah yang harus menyetir kapal itu agar tetap stabil dalam goncangan dan ombak hina yang kerap dilakukan orang-orang sekitarnya”.  Kini, rasa penasaranku meninggi. Aku ingin bertemu ibu dan anak laki-laki itu.
Tiba-tiba saja kamu berkata,
“Raja ntah pergi ke mana. Mungkin ke laut, mencari selir. Aku takkan ke mana-mana. Takkan pula bertahan. Aku angin. Takkan lari diburu harimau. Akulah angin. Takkan lari diterkam serigala. Karena ku tahu, harimau dan serigala telah bersemayam dalam tubuh raja yang tega meninggalkan permaisuri dan ketiga anaknya”.
Dengan gitar yang sejak tadi menjadi makhluk ketiga di antara aku dan ceritamu tentang anak laki-laki dan ibunya, kini mengeluarkan nada. Kamu bawakan petikan lagu di saat aku terheran-heran dengan ucapanmu tentang raja, angin, permaisuri, dan ketiga anaknya. Lagu “Ternyata Cinta” milik Padi mengalun dari bibirmu, di hadapanku.
Sesaat setelah petikan bar terakhir, aku mengerti kamu adalah anak laki-laki yang menangis di bukit kampung halamanmu, yang kini hadir dihadapanku sebagai anak laki-laki yang dewasa. Kamu lalu berkata bahwa pada bukit-bukit hijau di kampung halamanmu itu pernah bermimpi bahwa kita menjalin suatu hubungan. Aku dan kamu menjalin kasih. Dan mimpimu itu menjadi nyata.
Segera saja, aku tersadar bahwa aku telah menjadi perempuan yang kamu sayangi. Maka aku akan menyayangimu pula. Sebab aku percaya kamu tidak akan menjadi sosok ayahmu. Seperti janjimu.
Di saat aku tersanjung oleh semuanya, semua cerita, pengakuan, tatapan, dan nyanyianmu. Membuat hari ini seperti bukan sekadar sore di satu hari yang baru. Bukan hanya sore di antara jalinan hubungan kita yang masih seumur jagung. Tiba-tiba, jari-jari mahirmu memetik senar kembali. Mengeluarkan suara terbaiknya untuk kamu nyanyikan lagi. Kini, kamu membawakan lagi lagu Padi.
            Pada akhirnya, “Rapuh” –nya Padi menjelaskan semuanya.
Ternyata kamu si anak laki-laki yang sedang berusaha menjadi dewasa tapi tidak cukup kuat untuk berjuang. Kamu kehilangan elan. Dan kamu akan kesepian. Kesendirian yang kamu pilih akan membuat kamu benar-benar kehilangan arti hidupmu sendiri. Percayalah, karena kamu yang memberi semangat, kamu pula yang mematahkan semangat itu.
            Tidak dapat aku menerka keputusanmu akan final memisahkan diri; agresi covert. Tidak aku bayangkan betapa lemahnya akan rintangan yang sebenarnya sudah kamu rasakan jauh sebelum pengakuanmu sore ini lewat lagu. Tidak aku pahami bagaimana kamu kehilangan rasa percaya diri akan bagaimana berjuang.
            Pengakuan revoluisonermu sebagai laki-laki dewasa di hadapanku sirna sudah. Mungkin kamu bisa membebaskan adikmu dari penjara, membelikan genset, menerangi rumahmu di sana. Tapi kamu lupa satu hal, jika kamu mampu menyatakan akan setia pada satu perempuan, maka dengan alasan apapun, mundur berarti pecundang.
***
 Sore telah menjadi malam. Dan malam ini, aku telah menjadi sore dengan semburat oranye matahari yang senjanya pecah, berkeping-keping.
Rupanya malam telah menampakkan dirimu sebagai sosok ayahmu sendiri. Segera saja, malam ini pula aku ingin ke kampung halamanmu. Menemui ibumu. Dan meminta bagaimana caranya menjadi wanita yang tegar. Malam ini aku ingin ke Banjit.

* Sebuah daerah di bumi Lampung.
Ciputat, 13 Juni 2012

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment