In Binhad Nurrohmat Tokoh sastra Views

Label

Binhad Nurrohmat
Dua hari menjelang akhir tahun 2011 media online Tribun News.com melansir  tahun 2012 sebagai Tahun Naga Air. Berita ini berdasarkan ramalan Ki Kusumo, peramal kondang yang kerap dimintai keterangannya membaca masa akan datang oleh sejumlah wartawan gosip. Pun dengan ramalan ketika akhir 2010 menjelang 2011, penyebutan atau pelabelan tahun kerap menghiasi media informasi. Palabelan itu pun tak sekadar label. Ada arti dan makna di di dalamnya. Dan kita tahu 2011 ditandai dengan tahun kelinci Logam.
Begitu juga dengan kemunculan pelabelan atau penandaan di dunia sastra. Tahun 2000an muncul karya-karya sastra yang ditulis oleh para selebritis dengan konten karya yang terkesan vulgar, bahkan meng-ia-kan vulgar meski dengan dalih seni untuk seni : inilah seni, dengan segala hal yang tak terduga untuk diciptakan. Misalnya, ketika Djenar Maesa Ayu yang membuat  Mereka Bilang Saya Monyet, atau ketika dia menulis cerpen sederhana berjudul SMS.  Pelabelan sebagai sastrawan dengan karya-karya berbau seksualitas dan banalitas pun lekat.
Kemudian, ada laki-laki berambut panjang kelahiran 1 Januari 1976 menulis kumpulan puisi pertamanya berjudul Kuda Ranjang tahun 2004 yang menimbulkan polemik di kalangan tidak hanya sastrawan tapi juga lapisan masyarakat lain. Semisal ketika ia menulis puisi Berak-nya.

Anusmu yang bagus
saban pagi mengangkangi mulut kakus
yang tak bosan menunggu tahimu.

Zakarmu sekuyu gelambir jompo
bungkuk dan malu-malu
mengintip puing tahi
terjepit bongkah coklat bokongmu. 

Kau merasa masuk ank  semalam
seperti pagi ini
seusai ada yang berjatuhan dari anusmu.”

Tidak cukup Berak, pria kelahiran Lampung ini pun menulis puisi-puisi yang mengeksplorasi lain dari onggokan raga yang selalu di bawa manusia: tubuh.
Tubuh, menurutnya menjadi hal yang intim. Pada Majalah Hayamwuruk edisi No.1/Th. XVIII/2008  pria 36 tahun itu menyebutkan “… terdapat tubuh fisikal-biologis, tubuh sosiologis, dan tubuh spiritual-teologis. Trilogi tubuh inilah yang mendasari kelahiran puisi-puisi saya. Tubuh dalam kenyataannya menjalani peran biologis (bekerja atau bercinta), peran sosiologis (tubuh boleh telanjang di kamar mandi, tapi mesti berbaju saat berada di pasar), dan peran spiritual-teologis (tanpa tubuh manusia tak bisa menjalankan naluri spiritual atau teologisnya, misalnya sholat atau berderma).”
Dalam masa produktifnya, pria itu menulis sejumlah puisi lagi. Di tahun 2007 Bau Betina keluar dari tubuhnya. Polemik terus bergulir. Seorang sastrawan dari Sunda Usep Romli HM mengatakan pada esainya bahwa pada pria yang sedang kita bicarakan adalah pria yang konon hafal di luar kepala tentang hadis-hadis Muhammad Saw dari Kutubbus Shittah malah menulis sajak-sajak liar.
Perlu diketahui juga, bahawa pria ini besar di pesantren di Krapyak Yogyakarta, lalu melanjutkan srudinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara bersama Chavchay Syaifullah  yang juga penyair yang  kerap menulis status vulgar-cerdas di laman facebooknya.
Latar belakang pendidikan pesantren yang dikecapnya membuat karya-karyanya dengan cepat dihinggapi sebutan sebagai karya perusak moral. Oleh sebab karyanya, Saut Situmorang sebagi pengabdi Boemiputra menganugrahi Bau Betina sebagai karya sastra terburuk tahun 2007.
Pada akhirnya, apa yang dicapai pada pria yang kita bicarakan di awal adalah sebuah tanda, sebuah pelabelan untuk menyebutkan dan mengklasifikasikan apa yang melekat padanya. Apa yang dilahirkannya. Sepert sikap berontaknya terhadap estetika karya-karya yang dicipatakan dari jamannya Hamzah Fansuri sampai ank e Soetardji Calzoum Bachri dan Chairil Anwar yang ke kiri-kirian ank e kanan-kananan. Pria ini mampu memberontak bahwa ia tidak ingin terpenjara oleh apapun. Termasuk karyanya yang bukan tidak mungkin akan diingat dan dibicarakan.
Label atau penandaan seyogyanya disikapi dengan bijak. Seperti halnya Langit Makin Mendung yang dihujat habis-habisan tapi hingga sekarang masih hangat diperbincangkan. Maka, agar perbincangan ini berlanjut, sekiranya kita sepakati dulu bahwa pria yang sejak awal kita bicarakan kita labeli dengan nama Binhad Nurrohmat.


*Dimuat di newsletter Lakonik, media sastra dari komunitas sastra Majelis Kantiniyah, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Jakarta.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment