In Jadi Editor Buku My Life

Mencari kerja

Bolehlah meja kerja yang satu ini
Jika mencari sebuah pekerjaan itu ibarat mencari sebuah tempat tinggal, tentu saya sedang berada dalam sebuah pilihan yang membingungkan. Bukan, bukan karena banyak atau minimal ada satu-dua perusahaan yang sedang menawari kerja. Saya tidak sepintar itu sehingga menarik perhatian petinggi perusahaan.

Saya kebingungan jenis pekerjaan apa yang sesuai dengan diri saya. Menjadi wartawan memang sebuah pengalaman yang mengasyikan. Setiap harinya bertemu dengan orang baru. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain demi mengejar berita. Pengetahuan pun bertambah, meski banyak juga yang menyesatkan dari berbagai opini para narasumber, terutama bicara soal politik. Tapi semuanya menarik, dinamis sekali. Belum lagi benefit-benefit yang didapatkan. Kadangkala bisa menonton konser musik gratis, nonton primier film tanpa harus bayar, mendapat voucher belanja ratusan ribu ketika tak sengaja kartu nama kita keluar dari undian suatu brand yang tengah diliput. 

Lainnya, tentu kepekaan kita juga terasah dengan berbagai kejadian sosial yang terjadi. Misalnya meliput orang-orang yang terkena banjir, kebakaran, kemiskinan suatu keluarga. Pengalaman itu menjadikan kita melihat di sudut lain kehidupan orang lain sangat mengenaskan dan kita bisa membantu dengan sebuah tulisan, juga barangkali sedikit uang atau makanan untuk mereka saat liputan. Menjadi wartawan membuka banyakan pandangan, padahal itu hanya liputan regional Jakarta saja. Bagaimana dengan yang di daerah? Luar negeri? Tentu banyak lagi keberagaman yang kita dapatkan yang membuat sisi humanis kita tajam.

Tapi menjadi wartawan untuk seorang perempuan tentu bukan sesuatu yang mudah. Apalagi ketika mendapat jobdesk di metropolitan atau kriminalitas. Tentu setiap harinya kita akan mengitari wilayah Jakarta yang disuruh oleh redaktur. Mencari apakah ada peristiswa yang bisa ditulis, tentang sebuah kecelakaan lalu lintas, kebakaran, pencurian, kematian? Mengitari polsek, polres, polda, bahkan polri. Berkunjung ke rumah sakit, kalau-kalau ada keluarga yang tak mendapat pelayanan BPJS dengan baik, atau ada bayi yang ditahan pihak RS karena orangtuanya tak bisa membayar biaya persalinan.

Tapi terkadang capek juga jika menjalani hari sebagai wartawan, terlebih jika kamu bekerja pada sebuah media yang belum settle. Atau kalau pun sudah mapan seperti media yang dipimpin Hary Tanoe, kabarnya gajinya tetap saja kecil. Bahkan bayarannya hanya UMR saja. Bayangkan, di sebuah perusahaan media yang lain, saya pernah bertanya pada office girl di toilet, mereka digaji sejumlah UMR DKI Jakarta, Rp2,7 juta. Waw gaji S1 setara dengan mbak-mbak office girl!

Di lain sisi, saya juga ingin memiliki pekerjaan yang "tertib". Masuk dan pulang pada jam yang juga tertib. Tidak keliaran di jalanan, hujan-hujanan, panas-panasan, dan uang gaji abis buat ongkos liputan sana-sini. Saya juga memimpikan bisa memiliki meja kerja permanen yang bisa saya hias sesuai selera. Tentu "ketertiban" yang saya impikan berbanding lurus dengan jenis pekerjaan yang memang sesuai passion: dunia tulis-menulis. Saya memang punya bayangan tempat ideal itu adalah sebuah penerbitan buku Kompas atau Gramedia Pustaka Umum miliki Grup Kompas Gramedia. Aaah, setiap saya mampir ke Kompas untuk menunaikan kewajiban saya di Litbang Kompas lt. 4, saya selalu berharap bisa menjadi bagian penerbitan kompas. Bisa mengedit novel atau buku-buku yang masuk, menata meja komputer sesuai selera, dan membaca novel kesukaan sehabis bekerja, lalu pulang naik kereta ke Bogor Raya. Menyenangkan bukan? Ah..



Related Articles

0 komentar:

Post a Comment