In #EnergiBaik Energi Alternatif energi listrik Hemat Energi Manfaat kentang

Ciptakan Energi Listrik dari Kentang

Ibarat manusia, kentang adalah tokoh inspirasi. Kehidupannya unik dan berliku untuk bisa diterima sebagai makanan pokok nan layak. Tak hanya sehat dan mengenyangkan bagi perut manusia, kentang juga bisa menghasilkan energi listrik. Benar-benar menginspirasi bukan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Kentang memang istimewa. Umbi-umbian yang satu ini memiliki latar belakang sejarah yang panjang sebelum keberadaannya diterima sebagai bahan makanan pokok di Eropa. Sejarah mencatat, kentang pertama kali masuk ke Eropa sekitar abad ke-16. Saat itu kentang dianggap sebagai umbian yang jika dimakan oleh manusia akan mengakibatkan kusta pada tubuh yang memakannya. Lantas orang-orang miskin dan ternak jaman itu yang memakan kentang. Pamor kentang naik ketika seorang dokter tentara pada pasukan Prancis, Parmentier, pada 1763, memperkenalkan keunggulan kentang dan akhirnya menjadi salah satu panganan pokok.

Keuntungan kentang tidak sampai di situ saja. Seperti dikutip BBC Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, Rabinowitch –seorang peneliti—dan beberapa rekannya sedang mencoba ide 'tenaga kentang' untuk menghasilkan energi agar orang-orang dapat berhenti berlangganan listrik. Tancapkan sepasang plat logam, kabel, dan lampu LED ke sebutir kentang –menurut mereka- maka umbi itu bisa memberi penerangan bagi kota dan desa terpencil di seluruh dunia.

Mereka juga telah menemukan teknik yang sederhana dan orisinal untuk membuat kentang menghasilkan energi dengan baik. “Sebutir kentang dapat memberi tenaga bagi lampu LED untuk menerangi satu kamar selama 40 hari,” pengakuan Rabinowitch, yang berasal dari Hebrew University of Jerusalem.

Sekalipun Rabinowitch dan rekan-rekannya mencari cara untuk membuat kentang menghasilkan tenaga yang lebih besar daripada biasanya, prinsip dasar teknik ini diajarkan di kelas sains di sekolah menengah dengan memperlihatkan cara kerja baterai.

Untuk membuat baterai dari bahan organik, yang Anda butuhkan adalah dua batang logam: anoda -yang merupakan elektroda negatif seperti seng- dan katoda -elektroda yang bermuatan positif seperti tembaga. Asam di dalam kentang membentuk reaksi kimia dengan seng dan tembaga, dan ketika elektron mengalir dari satu bahan ke bahan lainnya, maka energi dilepaskan.

Eksperimen Rabinowitch ini dimentahkan oleh beberapa ilmuwan dari University of Kelaniya, Srilanka. Ia dan timnya mencoba membuat tandingan dengan menggunakan empulur tanaman jenis palem (plantain piths).

Dengan empulur yang direbus, mereka bisa memberi tenaga kepada satu buah lampu LED hingga 500 jam, dengan syarat empulur itu tetap dalam keadaan basah. “Saya rasa kentang punya arus listrik yang lebih baik, tapi empulur palem gratis, kita di sini membuang-buangnya,” kata Jayasuriya.

Bagaimanapun beberapa pihak skeptis terhadap tenaga kentang ini, “Dalam kenyataannya, baterai kentang esensinya seperti baterai biasa yang bisa Anda beli di toko,” kata Derek Lovley dari University of Massachusetts, Amherst. “Hanya menggunakan matriks yang berbeda.”

Kentang membantu menghalangi energi hilang dalam bentuk panas, tetapi bukan sumber utama energi itu sendiri –yang sebenarnya didapat dari proses berkaratnya seng. “Ini adalah pengorbanan, logam selalu berkarat seiring dengan waktu,” kata Lovley. Ini artinya, Anda harus mengganti seng –dan tentu saja kentang atau empulur palem itu– seiring dengan waktu.

Bisakah diterapkan di Indonesia?
Indonesia adalah tanah surga bagi tumbuhan. Berbagai jenis tanaman bisa tumbuh di tanah air kita, tak terkecuali kentang.  Berdasarkan data Kementrian Pertanian,  dari 33 provinsi di Indonesia, hanya 13 provinsi saja yang tidak menghasilkan produksi kentang. Hal ini menunjukkan bahwa kentang banyak dan mudah didapatkan di Indonesia. Untuk harga kentang di pasaran saat ini sekitar Rp11.428/kg.

Sekalipun persediaan kentang cukup di dalam negeri akan tetapi perlu diperhatikan sebab kebutuhan kentang dalam berbagai olahan makanan seperti eripik kentang, kue lumpur, donut, yang sedang ngetrend ada kentang ngebor dan yang pasti kentang rebus sebagai teman makan steak di resto-resto diperkotaan dan di tempat-tempat wisata perlu menjadi perhatian pengembang energi alternatif dengan menggunakan bahan kentang.

Kekhawatiran itu saja bisa diminimalisir dengan baik dengan adanya kerja sama kementrian berserta lembag-lembaga bawahnnya di daerah untuk bisa memaksimalkan pemanfatan kentang sebagai penghasil energi di pelosok-pelosok Indonesia. Sebab, saat ini masih banyak daerah-daerah yang kekuarangan pasokan energi.

Salam #EnergiBaik

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Sumber:

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment