In My Life

Sebuah Perjumpaan; Antara Imajinasi dan Harapan


Kurang lebih seperti ini penampakan pria yang berdoa sambil sideku :D
Manusia mana yang tak pernah berimajinasi? Bahkan setan sekalipun berimajinasi bagaimana memikirkan strategi-strategi merayu anak cucu Adam agar melakukan dosa. Dan manusia mana yang tak pernah berjumpa dengan hal-hal, bahkan sekalipun ia tinggal di sebuah bunker bawah tanah seorang diri, ia tetap akan bertemu sesuatu, dirinya sendiri dan berbagai imajinasi yang mengitarinya.

Imajinasi bisa dimaknai sebagai suatu keadaan di mana bagian maha genius ciptaan Tuhan: otak sedang memikirkan sesuatu dalam bayang-bayang. Jika digambarkan, barangkali posisi sedang duduk terpaku di dalam kelas, tapi otak sedang membawamu ke Old Trafford menyaksikan pertandingan sengit antara The Red Devils melawan The Blues. Abstraksi-abrtraksi pikiran tentang MU tentu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, bayangan bisa menonton langsung pertandingan klub bola kesayanganmu tentu sebuah hal yang membahagiakan. Minimal bisa mengurangi resiko serangan jantung karena pada detik awal kalian akan tersenyum membayangkan megahnya stadion Rooney cs. Namun, di detik berikutnya, kalian akan dihadapkan pada kenyataan bahwa itu bahwa semua itu hanya khayalan semata. Kalian pun akan ditampar kesadaran dan mulai melihat dunia yang sebenarnya. Jakarta yang keras. Ciputat yang panas. Dan skripsi yang tak kunjung usai.

Tapi… saya menulis judul di atas dengan mendahulukan bayangan baru harapan bukan tanpa alasan. Harapan, bagi saya adalah penanda bahwa kita masih hidup. selama kita hidup, tentu masih ada kesempatan sekalipun hanya sebuah harap. Selama masih ada harapan di hatimu, berarti kita masih hidup dan berhak untuk mewujudkan harapan-harapan itu dengan cara masing-masing.

Tulisan ini pada dasarnya saya dedikasikan untuk sebuah perjumpaan yang terjadi begitu saja. Sebagai manusia yang naif, tentu apa yang malam ini saya alami di McDonalds Ciputat adalah sebuah kebetulan saja. Tapi Tuhan menegaskan tak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan untuk hal-hal yang manusia anggap sepele sekalipun. Semua memiliki makna.

Lalu apa yang saya alami? Sebuah perjumpaan.

Perjumpaan yang membuat saya mengkhayal dan berharap kemudian. Sebuah perjumpaan di sebuah mushola kecil yang sukses membuat saya tak konsen melafalkan ayat-ayat di hadapan Tuhan. Sebuah perjumpaan yang membuat saya berharap menjadi makmum agar keislamanan saya sempurna seperti yang didalilkan Tuhan. Aih.. masya Allah.

Jika dideskripsikan, perawakan pria ini benar-benar pria yang saya idamkan (pada pandangan pertama). Dia tinggi menggunakan kaos dan jeans hitam dengan jaket warna senada. Membawa tas kecil dan tas ketek. Wajahnya? Saya tidak menegasi dengan jelas, tapi kira-kira seperti Virzha Idol. Dan tentu yang membuat saya terpesona di awal adalah rambutnya.

Jika Sujiwo Tedjo mengklaim pria gentle adalah yang berduyun melangkahkan sendalnya untuk sholat Jumat, bagi saya, ada hal lain lagi dari keromantisan seorang pria yang ingat pada sholatnya, yakni rambut gondrong. Apa hubungannya?

Ketika jaman Nabi, pria berambut gondrong tidak pernah dilarang keberadaannya. Bahkan banyak dari mereka yang justru menjadi Nabi atau ulill amri. Tapi saat ini terjadi disparitas zaman. Imej pria gondrong itu negatif. Rambut gondrong dianggap sebagai pribadi urakan. Diskriminasi penampilan itu terjadi di lingkungan kerja dan lembaga pendidikan formal. Bahkan sempat beredar foto berisi peringatan pria berambut gondrong dilarang masuk perpustakaan universitas.

Imej negatif dibentuk saat jaman Orba begitu otoriter dan mendominasi. Pria-pria bertato dan gondrong dimatikan karena dianggap akan membuat onar, kriminal, dan makar. Soeharto justru memberangus “kejahatan” itu dengan kejahatan juga.

Kembali ke pria gondrong pada sebuah perjumpaan. Detailnya, kami bertemu ketika saya masuk mushola dan melihat ia sedang sholat. Saya, lantas mengambil wudhu dan ketika kembali ke mushola, ia masih ada, sedang berdoa. Saya tertegun lama karena bagaimana saya akan sholat karena mushola sempit dan ada tiga orang di dalamnya termasuk saya. Dia, yang ngeuh, lantas berdiri, memberi ruang untuk saya mengambil mukena dan sholat di pojokan. Saya kira dia sudah selesai curhat kepada sang pencipta. Nyatanya tidak. Ia, dengan duduk bersideku (posisi duduk yang dianjurkan untuk berdoa) sambil mengangkat tangannya, masih melanjutkan berdoa. Pada titik itu, hati perempuan mana yang tak meleleh. Atau saya yang gampang terbawa suasana? Entahlah. Saya merasa momen ketika saya menggunakan mukena dan dia melanjutkan doanya itu sangat menyentuh. Adem. Adem sekali hati saat itu. Dia pergi kira-kira ketika saya sedang rakaat pertama.

Saya melanjutkan sholat dengan mata berair karena ingat dengan orangtua. Sebab tadi pagi saya mengaku via bbm bahwa kini saya bekerja dan skripsi belum selesai tapi masih tetap saya kerjakan. Tentu pernyataan saya itu bikin kecewa orang rumah. Saya juga mendengar umi menangis di seberang sana. Ingat hal itu, tak kuasa, air mata yang membendung pecah juga hingga usai solat. Untuk mencuci muka, saya pergi ke wesatfel, dan deng! Ada pria gondrong tadi sedang di westafel juga. Kami bersebelahan. Dan bola mata ketemu.

Saya lantas turun ke lantai 1 sebab laptop dan tas saya tinggal di sana. Beberapa menit kemudian saya ke atas karena kebelet pipis. Dan… setelah saya keluar toilet, ada dia lagi dengan sikat gigi dan odol di atas meja westafel. Ya Allah, kebetulan macam apa ini?

Kejadian ini berulang ketika saya hendak beranjak solat isya. Saya mendapati ia sedang kshuyuk berdoa. Kali ini dengan waktu yang cukup lama, barangkali 20 menit. Kok bisa? Ketika isya itu saya pindah ke lantai 2. Alasannya sederhana saja, karena di lantai bawah terlalu bisik dekat dengan meja pemesanan menu. Dan saya tahu di lantai 2 ada dia. Tapi saya tak melihatnya kala itu. Tenyata, ia keluar dari ruang merokok dan saya kira hanya ke toelit. Tapi nyatanya saya tungguin di depan saya duduk sambil mantengin laptop kok nggak muncul-muncul. Barangkali sudah lewat dan saya nggak ngeuh. Sudahlah..

Saya memutuskan untuk sholat isya karena sudah pukul 21.00. Dan deng! Dia ternyata ada di mushola sendiria sedang berdoa. Hahaha. Betapa gembiranya hati saya saat itu. Ketika datang, ia menengok ke arah saya. Saya tidak tahu ia ingat atau tidak bahwa kami juga berpapasan  saat solat magrib tadi. Selesai wudhu, ternyata ia masih berdoa. Alamaaaak… nikmat ciptaan Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Selesai sholat lambung saya mual dan langsung ke toilet dan… dia ada di westafel. Wuiihiw..

Tapi dia sudah tak ada ketika saya keluar toilet. Barangkali dia sudah pulang.

Setengah jam kemudian saya memutuskan pulang karena mata sudah lelah. Sepanjang jalan saya mengingat-ngingat momen manis itu. Perjumpaan berkali-kali dalam waktu yang tak terlalu lama dan di tempat yang sama: mushola dan westafel.

Ya Tuhan.. perjumpaan macam apa ini? Membuat saya seketika berimjinasi juga berharap. Dua hal yang massif dilakukan manusia demi terus menjaga kesadarannya tentang hidup dan segala misteri di dalamnya.

Terakhir, jika perjumpaan tadi hal baik, pertemukanlah lagi!

Selamat malam

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment