In #EnergiBaik Gas Alam Minyak dan Gas PGN Pilar Ekonomi

Sektor Migas Harus Menjadi Pilar Ekonomi Indonesia (2)

Ketiga, yang tak kalah pentingnya adalah tentang proyek Floating Storage and Regasification Unit atau FSRU Lampung yang bangun oleh PGN bersama perusahaan konsorsium bentukan PT Rekayasa Industri (Rekin) dan perusahaan konstruksi asal Norwegia yakni Hoegh. Pembangunan ini mulai dikerjakan 2013.

FSRU adalah fasilitas terapung yang berfungsi sebagai penyimpanan dan penguapan kembali gas alam dalam bentuk cair menjadi dalam bentuk gas seperti pada aslinya. FSRU merupakan salah satu solusi PGN untuk mempermudah transportasi gas dan untuk memenuhi kebutuhan gas di daerah yang jauh dari sumber gas, karena biaya pembangunan infrastruktur pipa gas memang sangat mahal. Ladang gas Indonesia sendiri memang kebanyakan berada di Indonesia bagian timur, ditambah lagi bentuk geografis negara kita yang terdiri dari kepulauan membuat transportasi gas lebih susah. Di situasi seperti inilah FSRU menjadi salah satu solusinya.

Dalam perjalanannya, seperti dikutip radarlampung, diam-diam, FSRU sudah tidak lagi beroperasi karena tak memiliki konsumen. Padahal selain harus menanggung investasi senilai USD300 juta, PGN juga harus mengeluarkan operational cost sebesar Rp9 miliar per bulan.

Proyek ini disetop karena tidak adanya kesepakatan antara PLN, pembeli utama pasokan gas yang diproduksi PGN, untuk memenuhi kebutuhan listrik PLN. Hal ini jelas membuat pemerintah harus menelan rugi yang tidak sedikit.

Namun pada Oktober kemarin, FSRU Lampung mulai diaktifkan lagi. Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengungkapkan, satu kargo LNG yang didatangkan ini baru tahap pertama. Namun, ia tidak bisa menyebutkan tahap berikutnya kapan dan berapa jumlah kargo yang akan didatangkan.
 "Saya butuh konfirmasi lagi, saya baru mendapat informasi yang satu kargo ini datang Oktober 2015," kata Heri. 

Ia mengklaim, mangkraknya FSRU Lampung ini bukan sebuah masalah serius. Ia membandingkan dengan FSRU di luar negeri pun juga tidak sepanjang tahun beroperasi.
Bangkit dari posisi stagnan, kini PGN dijadwalkan akan kembali menyalurkan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) sebanyak empat hingga lima kargo dari Unit (FSRU) Lampung mulai tahun depan.

Wahid Sutopo, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PGN mengakui perusahaannya sudah menyelesaikan penyaluran satu kargo LNG di Oktober sampai awal November kemarin untuk mengantisipasi adanya kenaikan permintaan.

“Kami ada rencana menyalurkan empat sampai lima kargo lagi tapi akan lihat (dulu) profil permintaan dan perkembangan harga LNG. Kalau mendukung ya kami tingkatkan lagi,” jelas Wahid dalam Investor Summit di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/11).

PGN bersama dengan Hoegh Ltd akan bekerjasama untuk FSRU Lampung hingga 20 tahun, sebuah komitmen yang besar, dan SKK Migas pun telah membuat rencana pasokan FSRU Lampung hingga tahun 2021. Secara sederhana bias disimpulkan bahwa adanya pasokan energi yang lebih besar dan stabil akan membawa kemajuan dan perkembangan bagi wilayah Lampung, Sumatra Selatan dan Jawa Barat. FSRU Lampung akan membawa efek multiple yang tidak terbayangkan, dan bisa menjadi benchmark bagi solusi energi di daerah-daerah lain di Indonesia, untuk menumbuh-kembangkan ekonomi secara berkelanjutan.

Mulai dari harga bbm yang turun, kasus Setya Novanto, sampai FSRU Lampung, ada satu benang merah di antara ketiganya, yakni sumber daya alam indonesia yang melimpah ini seharusnya bisa menjadi pilar ekonomi yang baik untuk kehidupan rakyat. Sebab, keuntungan yang diterima dari perusahaan-perusahaan yang mengeksplorasi dan mengembangkan sumber daya alam kita yang maha kaya ini sangatlah besar. Dan semua itu hanya bisa dijalankan dengan baik jika laku para pejabat kita dalam membuat kebijakan selaras dengan laku mereka saat di lapangan.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs si-nergi.id

Sumber:
http://www.radarlampung.co.id/read/berita-utama/85217-fsru-lampung-disetop

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment