In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

Sianida


Challenge from Fajrin: "Sianida" [w-9]
Seorang pelayan menghampiriku ketika aku baru saja duduk, menyodorkan sebuah buku menu. Aku memilih kopi.
Sambil menunggu, pandangan kuedarkan ke sekeliling kafe. Kafe ini lumayan besar tapi tak banyak pengunjungnya. Diam-diam aku bersyukur memilih kafe ini. Suasanya sepi dengan alunan musik mellow, pas untuk mengobrol.
“Huh, jangan gugup Nis, jangan,” kataku sambil menarik nafas dalam-dalam.
Kulihat di depanku tampak seorang perempuan muda sedang sibuk dengan laptopnya. Beberapa buku tebal memenuhi mejanya. Sesekali dia menyuap beberapa french fries di samping laptopnya. Telponnya berbunyi.
“Gue lagi di kafe nih. Iya, kafe si Jessica,” katanya menyahut di balik telponnya.
Kuedarkan juga pandangan ke sudut lain. Ada dua orang perempuan sedang asyik mengobrolkan sesuatu dari salah satu gadget mereka. Samar-samar kudengar nama yang sama seperti yang dibilang perempuan sebelumnya.
“Iya, si Jessica kan?,” begitu katanya. Oh, jadi pemilik kafe ini namanya Jessica. Aku mengangguk-angguk.
Salah satu perempuan itu menengok ke arahku. Seketika aku jadi salah tingkah, seolah habis ketangkap basah menguping pembicaraan mereka. Tapi, perempuan di sebelahnya menunjuk sebuah bunga besar yang dipajang di depan mejaku. Rangkaian bunga itu memang aneh. Bunganya sangat cantik karena kelihatannya itu bunga hidup tapi aneh kenapa diletakkan di situ. Padahal sudah banyak bunga pajangan di kafe ini. Space untuk bunga itu juga terlalu besar. Cukup untuk satu meja dan empat kursi. Bunga yang penuh misteri. Hmm…
Seorang perempuan baru saja membuka pintu kafe. Kulihat matanya mencari sesuatu ke kiri dan kanan. Aku melayangkan tangan memberi kode. Langkahnya semakin dekat. Kegugupanku timbul lagi. Gugup. Gugup sekali.
“Hai, mmm… silakan duduk,” kataku terbata-bata membuka pembicaraan.
Dia pun duduk dan meletakkan tasnya di bangku di meja kami yang kosong. Lalu ditenggaknya minuman dari tumbler berwarna itu. Ah, tumbler itu masih dipakainya, kataku dalam hati sambil memperhatikannya.
Kini, dua orang sedang duduk bersama berhadapan. Tapi tak ada pembicaraan sepatah katapun. Hening. Sepi. Kaku sekali. Atau hanya aku yang gugup? Kuseruput kopi yang kupesan  untuk menghilangkan kegugupan itu.
“Kamu mau pesan…” belum selesaikan aku bicara, secara bersamaan dia juga berbicara untuk pertama kalinya. Aku jadi salah tingkah. (Selengkapnya di sini)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

Sepucuk Surat Kertas Nasi


Challenge from Fajrin: “Nasi Padang” [W-5]
Suara telepon tak terangkat terus terdengar dari layar handphoneku. Berkali-kali mati, kucoba tekan tombol OK lagi. Tak ada jawaban. Tak ada suara, “Halo, Nak” yang biasa kudengar.
Aku benci mendengar suara telepon tak terangkat. Aku benci menunggu ketidakjelasan kabar. Sungguh aku ingin menangis. Tapi aku masih harus menyelesaikan tulisan ini agar bisa mendapatkan seamplop uang berisi upahku menulis seminggu untuk membeli obat Ayah.
Jarum jam dinding berlogo sebuah perusahaan media digital itu menunjukkan pukul 16:49.
“Tinggal 11 menit lagi. Aku harus menentukan judul tulisan ini dan segera pulang,” kata-kataku dan jantungku berlarian di dada.
Kuraih tas kesayangan sejak SMA berwarna merah berlogo LFC dari kursi yang sejak pagi kududuki. Langkahku tergesa-gesa. Bagian belakang sepatu bututku yang menganga mencoba bertahan dari kecepatan langkah kakiku.
Di hadapanku, sebuah rumah makan tampak ramai, sesuatu yang kami impikan sejak Ayah kehilangan kakinya setahun lalu. Dari balik kaca bening berukuran besar kulihat orang-orang mengambil tisu di meja makan. Sesuatu yang lazim dilakukan ketika orang sedang atau selesai makan. Tapi, orang-orang itu malah mengelap matanya bukan mulutnya dengan tisu di meja makan.
Adikku yang paling besar berlari menghampiriku lalu memelukku. Air matanya membasahi pundak kemejaku.
“Ayah sudah nggak ada, Kak,” hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Aisha.
Aku berlari hingga depan pintu rumah makan. Kakiku bergetar ketika menyaksikan sesosok tubuh di selimuti kain bercorak batik coklat pekat.
Hari ini Ayahku meninggal. Lebih tepatnya dia mengakhiri hidupnya dengan tak meminum obatnya malah menenggak cairan obat untuk tanaman yang biasa dia gunakan untuk menyuburkan pohon cabai di belakang rumah.
Sepucuk surat kutemukan keesokan harinya di dalam laci kasir.
Dinar, Aisha, dan Aima, maafkan Ayah tak bisa menjadi sosok yang bisa menjaga kalian selamanya. Ayah tak ingin menjadi beban bagi kalian. Untuk Dinar, kamu ayah dan ibu beri nama agar menjadi sumber rejeki kami. Dan itu benar adanya. Saat-saat awal ayah membuka rumah makan ini, kita sangat maju dan makmur. Sekarang, ayah titip Aisha dan Aima kepadamu. Jadilah kakak yang menjaga adik-adikmu sampai kapanpun. Maafkah Ayah.
Kulipat surat dari kertas nasi itu. Lembar terakhir dari kertas nasi di rumah makan Nasi Padang yang kami miliki.
-----
Cerita lainnya bisa kalian baca di sini ya!
Happy reading!!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In 500x2 Fiction Challenge Fiksi

Rayuan Sambal Durian

Challenge from Fajrin: “Sambal Durian” [W-4]
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.

“Bodoh. Kenapa terima iklan ini kalau menyiksa diri sendiri?” tanyaku kembali.

Aku masih mendongakkan wajah ke mukanya, menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Kurasakan suara napasnya panas dan saling berlarian. Sedangkan matanya kadang menatapku, kadang dialihkan ke sekitar. Jakunnya bergerak naik turun, terlihat ia menelan ludah berkali-kali. Sesekali mengatupkan mulutnya, membasahi bibirnya yang merah. Dahinya berkeringat, kedua pipinya juga. Sesuatu yang tak bisa dia sembunyikan jika sedang begini.

“Ini brand pertama yang mengundangku. Bagaimana bisa menolak? Aku akan dianggap sombong. Kamu tau, aku masih baru. Lagi pula ini acara charity,” katanya memecah keheningan.

“Tapi bagaimana ceritanya perusahaan sekelas mereka tidak menyediakan minum? Ceroboh sekali. Jangan mentang-mentang kamu baru, lantas mereka mengabaikannya. Kamu harus menuntutnya”.

Tak menjawab, ia mengelap dahinya dengan tangannya dan berkali-kali membasahi bibirnya.

“Masih?”

Dijawabnya pertanyaanku kali ini dengan anggukan. Lalu ruangan kembali sunyi seperti 15 menit yang lalu. Tapi kali ini dadaku yang terasa ngilu. Kumundurkan langkahku. Ia lagi-lagi lebih banyak diam.

“Jangan bohong. Ini hanya akal-akalan kan?” tanyaku menelisik.

“Akal-akalan? Kita sudah lama kenal, kamu juga sudah tau. Aku nyaris pingsan tadi.”

“Sudah lama apanya? Hanya dua bulan. Ingat, hanya dua bulan. Kamu lupa?” kataku.

Ia hanya menjawab kata maaf dan terima kasih. Sebuah jawab klasik dari seorang pria yang sedang di hadapanku ini. “Ah, sudahlah,” kataku sambil membalikkan badan, mencoba mengintip ke jendela di samping pintu.

“Dinar… kamu apa kabar?”

Pertanyaannya menghentikan tanganku yang hendak menggerakan gagang pintu. “Baik. Hidupku kuanggap selalu baik,” jawabku sekenanya.

“Kenapa… kamu ada di sini?”

“Apalagi kalau bukan menolongmu”.

“Maksudku di acara ini?”

Aku membalikkan badan dan berkata, “Aaaah, aku disuruh meliputmu lagi. Disuruh redaktur, padahal kemarin baru saja meliputmu”.

“Sepertinya redakturmu menyukaiku. Seberapa cantik dia?”

“Dia laki-laki. Seorang pria menjelang paru baya yang masih melajang. Puas?”

Dia tertawa puas sekali.

“Wah, rupanya kamu sudah punya tenaga, ya?” tanyaku setengah sinis. (Selengkapnya klik di sini)


*ilustrasi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #InovasiBCA #MyBCAExperience Lomba BblogID Review

Pengalaman Kemudahan Bertransaksi dengan Produk BCA

Ini dia produk BCA yang saya pakai

Hi, assalamualaikum!

Sudah tanggal 3 Oktober nih! Siapa yang sudah gajian? Pasti banyak ya? Salah satu fenomena dari tanggal muda ini banyaknya transaksi yang dilakukan para ladies kan? Hayo siapa yang suka diam-diam ngecek online shop di komputer kantormu? Meski sudah gajian, jangan kalap belanja ya, guys!

Nah, ngomongin olshop, adakah dari kalian yang pakai produk BCA atau Bank Central Asia? Saya mau kasih tau nih, ada kompetisi buat blogger soal pengalaman pribadi menggunakan produk-produk dari BCA. Karena saya sendiri pakai BCA, mau ikutan juga berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition! Siapa tau bisa menang, atau paling nggak ya berbagi cerita soal pengalaman pribadi menggunakan BCA, siapa tau ada yang tertarik dengan cerita saya dan berjodoh. Eh!

So, ini dia cerita pengalaman saya dengan BCA. Mohon siapkan tisu dan jangan baper ya! XOXO.

Menjadi mahasiswa perantauan membuat saya harus kos di sekitar kampus. Kondisi ini juga memaksa saya untuk bisa membiasakan diri menjadi masyarakat urban. Kenapa? Karena ternyata cukup banyak hal baru yang harus saya lakukan ketika pindah ke Jakarta. Salah satunya soal transaksi pembayaran kuliah di UIN Jakarta, kampus saya.

Pernah, ada pengalaman yang merepotkan ketika saya dan ibu ke kampus membawa uang cash sebesar Rp 7 juta untuk bayar uang kuliah pertama kali. Pas sampai kampus dan berbaur dengan para mahasiswa baru yang ditemani orangtua masing-masing, ibu saya bercerita kalau daftar ulangnya murah, dikira sampai Rp 5-7 juta karena dia sudah membawa uang sebanyak itu di dompet. Kenalan ibu pun nyeletuk.

“Bawa uang Rp 7 juta di dompet, Bu? Bahaya sekali. Bagaimana kalau dicopet atau hilang? Kenapa tak di rekening saja?”

Tentu, jawaban yang keluar dari mulut ibu sudah ketebak: tak punya rekening.

Pengalaman keribetan lainnya adalah ketika saya mulai menjalani hari-hari di kampus. Karena bukan dari keluarga berpunya dan bapak saya tak punya gaji bulanan sebab ia seorang pedagang harian, saya pun harus pulang ke rumah seminggu sekali. Selain untuk berkumpul bersama keluarga di rumah, pulang berarti meminta jatah uang jajan dan segala keperluan kuliah untuk seminggu ke depan.

Saya yang selama sekolah di kampung tak pernah memiliki rekening apalagi menggunkan ATM, cukup dikagetkan ketika disuruh pihak kampus membuat rekening untuk bisa mengikuti program beasiswa. Jika diingat-ingat, ada gap dan kekikukkan ketika saya pertama kali membuat rekening dan akhirnya menggunakan kartu tips berhologram di sebuah ruangan kotak sempit untuk mengambil uang! Iya, di ruang ATM itu saya pernah terjebak cukup lama. Bukan terjebak masa lalu, tapi kebingungan bagaimana mengecek saldo dan mengambil uang. Maklum, namanya juga pengalaman pertama.

Memang, rekening yang saya buat pertama kali bukan BCA, tapi salah satu bank BUMN yang memang berafiliasi di kampus-kampus negeri, seperti kampus saya. Perjumpaan saya pertama kali dengan BCA justru terjadi ketika saya masih SD (Sekolah Dasar). Kala itu, usaha yang dijalani bapak saya mengharuskan beliau punya rekening. Detik itulah perkenalan saya dengan buku rekening berwarna biru tua, bergambar emas, dan berwarna putih pada kata BCA itu di mulai. Saya bolak-balik buku itu. Ada nominal yang tertera di dalamnya yang tidak saya mengerti yang mana dari deretan angka-angka itu yang milik bapak. Berapa banyak uang bapak? Pikir saya kala itu.

Waktu berjalan. Saya melihat lagi buku rekening itu tergeletak di dalam laci lemari kamar orangtua saya. Rupanya tak pernah digunakan lagi karena usaha bapak saya bangkrut sehingga tak ada lagi alasan untuk beliau menerima gaji ke dalam rekening itu. Mau menabung pun tak ada uang sebab bapak beralih menjadi pedagang buah harian. 

Jadilah, buku rekening Tahapan BCA itu sebuah legenda di rumah kami. Satu-satunya kenangan dalam keluarga saya yang namanya begitu familiar sebab ketika saya mencari sisir rambut misalnya, BCA “selalu menyambut” saya. Persis seperti tagline-nya “Senantiasa di Sisi Anda”. He-he-he.

Seperti cinta yang pernah hilang lalu kembali lagi, interaksi saya dengan BCA secara personal terjadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan media digital agency setahun lalu sambil menyelesaikan skripsi.

Kenapa saya memilih BCA?

Mmm... sebenarnya karena kantor menyuruh saya membuat rekening Tahapan BCA. Awalnya saya senang, karena katanya potongan tiap bulannya murah. Tapi ketika saya mendaftar kira-kira Desember 2015, saya diberitahu kalau tahun depan ada kenaikan potongan bulanan. 

"Wah sama saja dong dengan bank lain?" kata saya dalam hati. 

Yah sudah mau bagaimana lagi, saya tetap senang karena artinya setiap bulan saya bisa mengambil uang, kan sudah bekerja dan mendapat gaji! Uhuk.

Menggunakan rekening Tahapan BCA berarti juga menggunakan produk BCA lainnya. Kebetulan, sebelum membuat rekening BCA, saya sudah punya kartu Flazz BCA untuk naik Transjakarta. 

Total, produk yang saya gunakan dari BCA adalah Rekening Tahapan BCA, Debit BCA, Flazz BCA, m-banking BCA, dan baru-baru ini saya buatkan adik saya yang juga merantau karena kuliah, Xpresi BCA. Meski tak dapat buku rekeningnya, ternyata potongan bulanan di Xpresi BCA sangat murah! Cocok untuk adik saya yang masih kuliah.

Untuk Flazz BCA, saya sangat terbantu sebab saya bekerja di Jakarta dan harus menggunakan commuterline setiap harinya, Senin-Jumat, dari Bogor ke Jatinegara. Dengan Flazz BCA tentu saya tak terjebak pada antrian mengular seperti mengisi THB ataupun Top Up KMT KCJ. Jadi, kemudahan Flazz meminimalisir ketinggalan kereta. Nyaris setahun saya pakai Flazz pun tak pernah saya  mengantri saat isi ulang di mesin EDC yang ada di stasiun.
Antrian di loket THB. Padahal udah jam 9 malam :( Nah jadi, beberapa hari lalu kan Flazz saya yang warnanya kuning keemasan itu rusak. Alhasil, ngantri isi ulang THB di Stasiun Tebet. Dengan muka yang udah capek banget, berharap isinya cepet eh ternyata antriannya sepanjang ini padahal udah jam 9 malam lho! Ya... gitu deh kalau nggak pake Flazz, ngantri!


Nah, ini foto kedua pas saya udah di dalam peron yang ke arah Bogor. Iseng foto, lihat antrian masih mengular sampai batas parkiran motor. Masih tetep ngantri :)


Ta-daaaa! Gerah juga harus ngantri lama di Stasiun Tebet akhirnya punya Flazz baru. Belinya di Halte Busway Lebak Bulus, nitip sama temen kantor. Gambarnya lucuk!
Tapi sayang, tak semua stasiun memiliki mesin itu seperti di Stasiun Cilebut di mana saya pergi bekerja, hanya berdiri gagah mesin EDC BCA tapi tak berfungsi sama sekali. Eh, tapi sepertinya baru-baru ini mesinya berfungsi lagi. Sedangkan di Statiun Tebet dan Stasiun Jatinegara yang saya lewati benar-benar tak memiliki mesin EDC BCA. Amat disayangkan, sebab kedua stasiun itu merupakan stasiun besar dengan jumlah penumpang yang sangat banyak layaknya Stasiun Sudirman dan Tanah Abang.

Oh iya, satu lagi yang mengganggu. Entah karena kartu Flazz saya yang sudah mulai rusak karena digunakan setiap hari atau mesin tap in dan tap out yang kurang sensitif membaca Flazz saya, tapi ketika saya gunakan Flazz di mesin tap in/out di halte busway, lancar-lancar saja. Itu kenapa ya?

Selain Flazz, kemudahan lain yang saya gunakan dan rasakan adalah Debit BCA. Hampir di semua pusat pembelajaan, baik yang besar maupun bazar-bazar kecil menyediakan pembayaran lewat Debit BCA. Hal ini tentu sangat menguntungkan saya manakala belanjaan saya memiliki nominal yang kira-kira kalau bayar cash akan dibulatkan oleh kasirnya. 

Tapi dengan Debit BCA, nominal yang harus saya bayar sesuai dengan yang tertera di label harga. Terlebih di minimarket, nggak ada lagi tuh kasir minta “100-200 rupiahnya mau disumbangkan kak?”. ATM BCA juga ada di mana-mana, jadi mudah untuk transaksi. Seperti di dekat rumah saya, ada ATM BCA di dua minimarket yang bersebelahan di Jalan Cilebut, Bogor.

Ada lagi produk BCA yang saya pakai? Ada! Dan yang ini paling kece menurut saya!!

Dari semua produk BCA yang saya gunakan, yang paling memudahkan aktivitas saya adalah m-banking BCA. BCA menjadi bank yang pertama bagi saya untuk menggunakan kemudahan bertransaksi via m-Banking. 

Karena keterbatasan pengalaman saya menggunakan produk dari bank, maka ketika petugas Bank BCA menawarkan saya untuk mengunduh aplikasi m-Banking BCA, saya pikir akan saya gunakan untuk transaksi antar rekening atau bank saja. Itu saja. Bahkan saya tak terpikir sama sekali kalau di m-Banking bisa mengecek saldo. Sungguh, saya ketinggalan jaman sekali.

Maka, ketika aplikasi itu sukses terunduh, saya mulai keasikan dan sangat dimudahkan, misalnya ketika transfer via virtual account online shop atau pun ojek online. Dengan m-banking BCA pula saya mendapatkan banyak potongan tarif di Gojek. Dan, yang paling saya tunggu dari m-banking, apalagi kalau bukan cek saldo bertambah atau tidak di tanggal muda hanya dengan sentuhan tangan seperti hari ini!

Sebagaimana layaknya orang jatuh cinta pada pandangan pertama, maka, dengan segala pengalaman pertama pula saya  menggunakan produk-produk BCA, sangat membantu dalam bertransaksi. Mudah dan cepat.

Yang amat disayangkan, hingga tulisan ini saya buat, smartphone saya belum juga nyala karena habis kebanting keras 3 hari lalu. Jadi, benefit yang saya rasakan bersama BCA dalam segenggam gawai pun terganggu sekali. Tak bisa order Gojek apalagi bayar via Gopay dan transfer lainnya.

Itu dia #MyBCAexperience! Semoga dengan menulis pengalaman pribadi menggunakan produk BCA bisa memenangkan hadiah. Yah lumayan kan, kalau misalnya dapat untuk tambah-tambah benerin HP saya. Syukur-syukur bisa beli yang baru, hehe. Eits tapi ini bukan kalimat rayuan atau sedang nepotisme lho ya! Saya cuma berharap, siapa tau :) Karena yang bisa merayu hanya BCA yang selalu bilang "Senantiasa di Sisi Anda" (para nasabah). 

Buat kalian yang mau ikutan lomba atau berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition info lengkapnya klik di sini atau ini sebelum tanggal 31 Oktober 2016! Hadiah kece banget berupa Macbook Pro, iPhone 6, Mirrorless Camera Nikon J15, dan uang tunai sebesar @ Rp 1.000.000 untuk tiga orang pemenang!


Nih saya buatin link mudahnya di bit.ly/MYBCAEXPERIENCE . Jangan lupa klik sebelum 31 Oktober 2016!
 Kuy berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Cerita

What’s New on My Blog?



Horee!

Begitu kira-kira ekspresi saya ketika pertama kali klik alamat blog yang sudah enam tahun menampung berbagai cerita ini. Tampak sebuah alamat domain blog yang berubah dari emafitriyani.blogspot.co.id menjadi emafitriyani.com kemarin sore!

Berubahnya domain blog saya yang tadinya blogspot menjadi dotcom karena secara tiba-tiba keinginan untuk mengubah menjadi domain berbayar muncul lagi ketika saya sedang di kantor, sore hari, dua hari lalu. Kenapa harus berbayar? Wong curhatan alay masih mendominasi konten blog kok? Sok gaya-gaya-an pakai dotcom. Itu yang terpikir oleh saya sebelumnya.

Tapi…
Saya percaya jika kita memulai dan menyambung silahturahmi kepada orang lain, akan terbuka rejeki di depannya. Dan itu yang saya rasakan. Berawal dari sebuah event di Kemang, Jakarta Selatan beberapa bulan lalu, saya memiliki teman-teman baru yang hitzzz banget.

Sebut saja Uni Dzalika si pemilik blog unidzalika.com, ada juga Afifah si tuan rumah afifahmazaya.com, Ifa Musyrifah yang setia pada lamannya imusyrifah.com , Kak Windah yang hitz dengan windahsaputro.com, juga senior blogger Ranny yang banyak banget artikel bermanfaat di blognya rannynoviarany.com. Ada juga perempuan yang bikin adem liatnya, namanya Oka Nurlaila yang sering rajin nulis di blognya www.beebalqis.com . Dan nggak lupa satu-satunya cowok di grup itu, Aris seorang blogger dan Quiz Hunter yang rajin review film di riyardiarisman.com! Belakangan ada dua penghuni baru di grup “Blogger Muda Gesrek”, yakni Rizky Saputra si juragan di riskisaputra.com dan Kak Wulan di cvlturetraveler.com yang nggak kalah keren blognya.

Dari perkenalan itulah, rejeki yang tak terduga datang. Semisal obrolan bermafaat soal blog dan bagaimana kita mengelola blog. Saya yang anak bawang tentu merasa terbantu dengan pengetahuan dari senior seperti mereka soal dunia blogging. Tak hanya itu, kadang juga berbagi tentang event-event yang bagus untuk dikunjungi. Dengan bergabung bersama mereka, setidaknya ada tiga event yang pernah saya hadiri dan keduanya mendapatkan benefit yang lumayan.

Many thanks for Blogger Muda Gesrek! Haruskah kita bikin brand untuk grup ini? HAHA.

Dalam grup whatsapp, Uni Dzalika bertanya, “apa alasan kamu ganti domain?”

Saya sempet berpikir. Hmmm apa ya? Biar keren? Lah template saya masih berantakan gitu kok, apalagi di EYD-nya.

Lalu saya jawab, “biar ada kenang-kenangannya.”

Iya, kenang-kenangan. Barangkali memang lebih terlihat keren dengan menggunakan dotcom atau domain berbayar lainnya dan bisa menjadi bargaining kita jika nanti mau menyeriusi dunia blogging

Tapi lebih jauh, saya merasa, dengan adanya dotcom ini, jadi memotivasi untuk membuat tulisan yang berkualitas ke depannya. Yang juga bisa bermanfaat bagi yang membaca, bukan sekadar posting curhatan alay. Sesuai firman Allah yang mengatakan sebaik-sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi makhluk lainnya. So, semoga dotcom ini bisa menjadi berkah bagi saya dan yang lainnya. Aamiin.

Setelah dotcom ini, masih banyak PR yang harus saya rapihkan, seperti edit template, konten, dan post foto. Cita-cita sih pengen punya satu rubrik khusus untuk resensi buku atau novel yang saya baca. Semoga selalu ada waktu yang pas untuk mengeksplorasi laman emafitriyani.com ini.

Sekian dulu.

Salam hangat dari saya yang memang sedang hangat badannya karena demam.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In #TalkaboutPapua Cerita Kopi Wamena

Mengenal Keseksian Kopi Wamena


Jika Anda mencari teman setia, maka jawabannya adalah kopi. Kapanpun dan dalam suasana apapun, sebagian orang menganggap kopi adalah kawan yang memberikan banyak inspirasi. Aroma yang khas dan ragam rasa dalam secangkir kopi dapat membuat pikiran peminumnya rileks. Tapi semua itu tergantung selera. Pada akhirnya, kopi yang tepat akan menemukan penikmatnya sendiri.

Menyoal selera, dalam khasanah kopi Nusantara, Indonesia memiliki cukup banyak jenis kopi, mulai Sabang sampai Merauke, beberapa daerah potensial perkebunan kopi melahirkan banyak produk kopi lokal dengan rasa mendunia. Sebut saja Kopi Luwak, Kopi Gayo dari Aceh, dan Kopi Toraja yang sudah pamornya sudah tak terbantahkan di dunia internasional. Selain daerah itu, terselip sebuah kopi dari tanah Papua.

Namanya Kopi Wamena. Seperti pesona Papua yang seksi karena keindahan alamnya, Kopi Wamena juga tumbuh menjadi primadona bagi penikmat kopi. Kopi ini memiliki beberapa keistimewaan karena tumbuh di lembah Baliem, daerah pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut dengan suhu 20 derajat. Sebuah posisi yang juga berpengaruh pada kualitas kopi, menjadikan kopi ini dengan cita rasa ringan dan memiliki keharuman tajam yang nikmat.

Untuk tingkat keasaman, Kopi Papua Wamena cukup rendah. Hal ini diduga karena faktor letak geografisnya yang banyak pegunungan. Barista sekaligus Q Grader dari Djournal Coffee, Sendydjaja Genta Susilo pun menuturkan Kopi Papua menempati urutan pertama varietas kopi yang paling unggul di Indonesia. "Jika boleh memilih lima, pertama adalah kopi Papua. Rasanya sangat menarik, pengaruh segi geografis," tutur pria yang akrab dipanggil Sendy itu dalam acara public cupping di Grand Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keistimewaan lain dari Kopi Wamena adalah sifat tanamannya yang tak bisa tumbuh sendiri sehingga ia hidup di antara naungan pohon lain di sekitarnya, seperti Kaliandara, Erytrhina, dan Abizia. Belum lagi sifat pohon ini yang tumbuh alami sehingga 100% organik, yang membuat kopi ini berbeda dengan kopi yang ditanam dengan pupuk kimia. Sebuah nilai untuk khas cita rasa Kopi Wamena yang sudah terkenal di mancanegara.


Tak hanya Kopi Wamena yang tumbuh di lembah Baliem, tanah Papua faktanya memiliki daerah lainnya seperti kopi yang tumbuh di Lembah Kamu di daerah Nabire, di sisi timur dataran tinggi, yang mengelilingi kota Moanemani. Diketahui, dua daerah tersebut memproduksi 230 ton kopi per tahunnya.

Yuk guys, ngopi dulu biar hati nggak dingin terus jalanin hidup ini :)

*ilustrasi

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

[Fiction Challenge] | Gara-gara Denis (Part 1)

Challenge from Fajrin: “Kuota” [W-3]
“Jadi itu alamat blogmu yang baru?” seseorang berbicara di seberang sana.

“Ini siapa?” kataku bertanya sambil melihat kembali nomor asing di layar handphoneku.

“Tulisan yang manis,” jawabnya disertai tawa lalu dilanjutkan berkata,“ternyata kamu masih menyukaiku? Ini benar-benar mengagetkan,” suaranya tiba-tiba berubah menjadi serius.

(Tiga jam sebelumnya)

Sent.

Satu kata muncul pada tab emailku yang menjadi penanda selesainya pekerjaanku hari ini. Meski sebenarnya tak pernah ada kata selesai dalam dunia yang kujalani. Senantiasa revisi dan revisi. Macam menulis skripsi saat kuliah dulu.

“Artikel rubrik persona udah kukirim ke email, Mas,” tulisku dalam pesan singkat.

Sambil memandangi langit-langit restoran cepat saji dan menyenderkan badanku pada kursi, aku mengangkat kedua tangan ke atas.

“Aaah,” kataku disertai helaan nafas panjang. Aku melihat lagi judul berita yang kutulis yang masih terpampang dalam laman word: Denis The Lunar System: Bermusik Jalan Hidupku.

“Kebetulan yang membahagiakan hanya ada dalam imajinasi. Lihat duniamu, sungguh berkilauan. Sementara aku, ah… dunia nyata takkan berbaik hati padaku. Hadapilah dan bertahanlah, Dinar. Hanya blog yang menghendakimu menulis yang indah sesuai imajinasimu,” ucapku dalam hati sambil menepuk kedua pipi untuk menyadarkan diri.

Sebuah laman dengan tulisan yang lebih panjang juga masih terbuka di layar laptopku. Tulisan yang lebih enak untuk kubaca. Tulisan yang kubuat sambil tersenyum dan mengawang jauh pada imajinasi yang indah. Tulisan yang sangat subjektif dan menjadikanku satu-satunya orang paling berharga, paling diinginkan. Meski begitu, ketika kubaca untuk kedua kalinya, kadang harus kuakhiri dengan helaan nafas yang panjang dan tundukkan kepala seperti orang kehilangan harapan. Sesekali mataku juga berair.

Tulisan kedua itu berjudul: Aku Bermusik untuk Menemukan Cintamu. Tulisan dengan judul menggelikan ini kupublish ke blog. (Selengkapnya di sini)

*ilustrasi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In 500 x 2 Fiction Challenge Fiksi

500 X 2, Proyek Mengasah Kemampuan Menulis Fiksi

gif by Fajrin

500 x 2, what? Gope dua maksudnya? Terdengar seperti lagi nawar beli gorengan atau tahu bulat ya? Eh tapi gorengan di Jakarta mah mana dapet sekarang gope dua? Tahu bulat yang suka mangkal deket halte busway Kebon Pala, Jatinegara aja seribu satu ya! Jangan ada yang beranggapan 500 x 2 ini konspirasi gerakan untuk menurukan harga tahu bulat atau gorengan ya! Meski, gorengan sekarang mahal-mahal bikin makin susah mahasiswa yang seret kiriman uang dari orangtua. Tak apa, kadang-kadang bubuk gorengan yang kriuk-kriuk bikin pusing itu masih bisa menolong lolongan perut kita kok :) *duh perih kenang masa lalu.

So, 500 x 2 ini merupakan proyek bersama antara gue dan Fajrin! Dua orang yang dipertemukan dalam nasib kerasnya mencari pekerjaan di Jakarta. Halaaah~~

Berawal dari obrolan suatu hari yang melelahkan sepulang kerja dan makan di Sarinah, Fajrin, yang obrolannya sering random tapi cerdas ini mengusulkan untuk membuat tantangan menulis fiksi 500 kata dalam seminggu sebagai upaya mengasah kemampuan menulis fiksi kami yang masih tumpul nan berkarat ini diksinya. Setiap tulisan yang sudah jadi dipost di https://twoonceaweek.wordpress.com .

Sebagai dua orang yang memiliki mimpi bisa mempunyai karya fiksi secara utuh, kami berharap tulisan receh yang kami tulis ini semakin hari semakin menjadi dollar, menghasilkan tulisan yang layak dibaca, syukur-syukur bisa dibukukan di Gramedia. Ehemm, uhuk!

Oya, Fajrin ini desainer grafis terkece lho di kantor. Lulusan IKJ dan tercatat sebagai mahasiswa terajin (terbukti lulus sarjana tepat waktu), jadi buat kalian yang perlu jasanya untuk membuat karya grafis yang bagus, sila kontak ke fajrinfathia@gmail.com :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Dua Kodi Kartika KeKe Busana Reportase Review

[Review Film] Ika Kartika, Pemilik KéKé Busana Bercerita Kisahnya dalam Dua Kodi Kartika


Apa yang kalian pikirkan tentang sosok seorang ibu? Bagi setiap anak, ibu adalah panutan. Menjadi seorang ibu adalah salah satu profesi paling mulia. Saya rasa semua orang pasti setuju. Saking mulianya, surga pun berada di bawah telapak kakinya.

Bayangkan, surga yang dijanjikan Tuhan dengan segala keistimewaannya berada di bawah telapak kaki seorang perempuan, tak peduli telapak kakinya semulus artis terkenal atau telapak kaki yang kasar dan pecah-pecah, jika ia tulus dan gigih membesarkan sang anak dengan cara halal, maka surga nan indah berada di bawahnya.

Kesan ini juga yang saya dapatkan dari kisah seorang ibu biasanya yang bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan yang kemudian beralih menjadi seorang penjahit. Adalah Ika Kartika, perempuan tangguh yang berhasil mengembangkan usahannya di bidang konveksi dengan brand KéKé Busana.

Kisahnya diputarkan tadi malam (1/8) dalam sebuah film dokumenter dalam Gala Premier Dua Kodi Kartika di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Pusat. Film yang bedurasi sekitar satu setengah jam ini mengisahkan mengisahkan secara gamblang kepada kita rumus Man Jadda wa Jadda tak pernah meleset bagi orang-orang yang gigih. Dan Ibu Tika, begitu panggilannya, menjadi pembuktiannya. 

Memulai dari dua kodi busana yang dijahit dan dijajakannya sendiri, KéKé Busana tumbuh menjadi salah satu produsen busana muslim yang memiliki corak warna-warni dan berbahan adem yang banyak digemari keluarga di Indonesia.



Dalam film ini, tak hanya menyuguhkan kisah usahannya dari nol hingga bisa menggurita seperti saat ini, tapi juga menyuguhkan pada kita tentang peran suami yang mempercayakan keputusan istri untuk membangun usaha dan membantu keuangan keluarga. Yang tak luput adalah kisah-kisah atau kesaksian dari orang-orang di sekitar Ibu Tika ketika awal membangun usaha KéKé Busana.

Adalah Bu Rus dalam film ini yang menjadikan film ini tak hanya bercerita tentang kesuksesan KéKé Busana secara searah, tapi juga berbagai arah. Bagian wawancara dengan Bu Rus, mantan karyawan Ibu Tika ketika awal berdiri KéKé Busana, menerangkan kepada kita semua bahwa seseorang yang sukses dan besar saat ini lahir dari perjuangan dan dukungan yang ikhlas dari orang-orang di sekelilingnya, salah satunya Bu Rus dalam kehidupan KéKé Busana dan Ibu Tika. Kemunculan Bu Rus menjadi autokritik bagi Ibu Tika dan manajemennya saat ini bahwa ada orang-orang “dahulu’ yang sederhana dalam membangun KéKé Busana hingga sukses saat ini.

Di luar urusan visualisasi dalam film dokumenter ini, secara keseluruhan saya menikmatinya sebab banyak sekali nilai-nilai penting yang bisa diambil dalam kisah Ibu Tika. Salah satu yang paling dan sangat membekas dalam benak saya ketika menonton tadi malam adalah keinginan Ibu Tika untuk menyekolahkan anaknya hingga ke luar negeri.

Tentu, keinginan ini bukan karena ingin gaya-gayaan bisa mengirim anak belajar ke negara lain, tapi keinginan terdalam seorang ibu yang ketika muda sangat memimpikan bisa sekolah di luar negeri. Saya masih ingat ketika anak bungsunya sedang main piano ditemani sang ibu, ada percakapan di antara keduanya yang membuat saya ingin menangis.

Kalau tidak salah begini:
Anak: ma, kenapa sih ingin menyekolahkan kak uni dan kak (saya lupa nama ana keduanya) ke luar negeri?
Ibu Tika: (saya lupa detail ucapan Ibu Tika tapi kira-kira cita-citanya ketika muda tak kesampaian untuk sekolah ke luar negeri saat ini bisa terealisasikan ke anak-anaknya)

Saya merasa ada kedekatan dengan Ibu Tika pada adegan ini karena saya ingat dengan kedua orangtua di rumah. Suatu hari, bapak saya pernah berucap begini: “Ema sudah lulus SMA saja bapak bersyukur. Artinya, bapak bisa menyekolahkan anak lebih tinggi dari pendidikan bapak dan umi sendiri. Apalagi sekarang sampai bisa kuliah”. Suatu pencapaian sekaligus harapan bagi orangtua kepada anak-anaknya.


Ini sebuah film sederhana dengan cerita yang tak sederhana. Sukses terus Ibu Tika!



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Event Reportase Review

[Review] Hemat Bertenaga dengan Pertamina Dexlite


Mobil bertenaga mesin diesel itu berisik, suara mesin kasar, dan polusi udara yang dihasilkan banyak dan asapnya hitam, serta mesinnya jelek karena cepat berkerak. Itulah stigma yang melekat pada mobil bermesin diesel.

Tak ayal, prentensi buruk ini menyebabkan mobil jenis mesin ini tak begitu laku di pasaran padahal tenaga yang dihasilkan kuat di jalanan. Selain itu, kendaraan mesin diesel juga memiliki setidaknya tiga musuh yang membuat kendaraan ini menjadi tak begitu dilirik sebagai kendaraan pribadi, yaitu sedimen, particular, dan air harus semakin rendah. Jika semua bertemu, maka mesin akan cepat aus, sehingga boros bahan bakar. Sementara di saat yang bersamaan, kandungan sulfur pada solar pada mesin mobil Anda juga akan berkorosi dan berkerak membuat mobil berjenis mesin diesel jarang dilirik pengguna pribadi.


Tapi, seiring perkembangan teknologi yang pesat, apakah stigma itu masih menempel pada mobil bermesin diesel?

Berbagai temuan dan pengembangan terus dilakukan untuk ‘mempercantik’ mobil mesin diesel. Salah satunya dengan hadirnya mobil-mobil bermesin diesel modern. Dikutip dari laman aktual.co.id, disebutkan beberapa teknologi modern sudah lahir untuk mesin diesel. Sebut saja seperti direct injection, tur­bo variabel, hingga common-rail. Bahkan beberapa pabrikan Eropa seperti BMW memiliki triple-turbo diesel, Mercedes-Benz BlueTEC, dan Volkswagen Turbocharge Direct Injection.


Selain teknologi dalam mesin yang terus dikembangkan, kualitas dari bahan bakar yang pas untuk mobil mesin diesel juga terus diciptakan sebab bahan bakar adalah nyawa bagi kendaraan. Adalah Pertamina Dexlite yang pas. Produk baru dari Pertamina Retail yang dipasarkan April 2016 lalu ini memiliki beberapa keunggulan yang cocok untuk mobil mesin diesel.

Hemat Bertenaga
Ada banyak kandungan yang menjadikan setetes bahan bakar itu penting dan sehat bagi mobil kita. Nah, bagaimana dengan Pertamina Dexlite?

Dalam sebuah diskusi #DieselTalk di Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2016 di ICE BSD, Serpong, beberapa hari lalu, dijelaskan tiga jenis bahan bakar pertamina dengan angka cetana dan sulfur yang berbeda. Untuk Dexlite sendiri, bahan bakar yang pas bagi mobil bermesin diesel karena mengandung cetane number 51.



Sebagai informasi, cetana atau setana adalah salah satu indikator evaluasi kualitas bahan bakar kendaraan. Biasanya, makin tinggi angka setana pada bahan bakar, makin bagus bagi mesin kendaraan. Untuk Dexlite sendiri, angka setana 51 sudah cocok bagi kendaraan bermesin diesel seperti yang dikatakan oleh Dr.Ing Tri Yuswidjajanto dari ITB dalam diskusi #DieselTalk kemarin.

Dalam diskusi itu juga dijabarkan angka setana dan kandungan sulfur pada beberapa produk Pertamina, termasuk Dexlite, yakni perbedaan Dexlite dan Bio Solar : Dexlite (seperti yang sudah saya sebut di awal) memiliki  setana sebesar 51,Pertamina DEX memilik setana 53, sedangkan Solar memiliki setana 48. Sementara kandungan sulfur yang dimiliki ketiga bahan bakar ini pun berbeda. Kandungan Sulfur Solar 3.000 – 3.500, Dexlite 1000 – 1.200 ppm, dan Pertamina DEX 300 ppm.

Jika melihat angka tersebut, Dexlite menjadi solusi bagi kendaraan diesel yang angka setananya lebih tinggi dari solar dan kandungan sulfurnya lebih rendah dari solar. Tentu hal ini menjadi keuntungan bagi pengguna Dexlite sebab bisa mendapatkan kualitas yang bagus untuk kendaran mesin dieselnya dengan harga di bawah Pertamina DEX.

Keuntungan lain yang ada di Dexlite adalah ditambahkannya zat aditif yang akan menghilangkan sifat mudah membeku FAME dan menaikkan angka setana (CN). CN sendiri dalam solar sama seperti BBM jenis Premium yaitu oktan (RON), semakin tinggi cetane maka kualitas dari solar menjadi lebih baik, karena makin mudah terbakar membuat akselerasi mesin diesel menjadi lebih baik dan juga emisi menjadi sedikit.


Satu lagi, Dexlite ini juga tak disubsidi lho jadi dapat mengurangi beban pemerintah hingga Rp 16 Triliun. Pantaslah jika Dexlite sebagai bahan bakar yang hemat dan ramah lingkungan, membuat kendaraan Anda bertenaga namun ringan di dompet.

Sebagai informasi, berikut daftar mobil yang direkomendasikan menggunakan Dexlite dikutip dari Wikipedia:
Chevrolet Captiva & Colorado
Hyundai H-1 CRDI
Isuzu D-Max & Elf
Kia Pregio & Carnival
Mitsubishi Triton dan Pajero Sport non-VGT
Nissan Frontier
Peugeot XUD-9
Renault Duster
Tata Aria
Toyota Hiace, Commuter, Innova dan Fortuner non-VNT
Semua merek dan tipe truk.

*Caption foto: ​Public Relation Offcer PT Pertamina Fungsi Relasi Fuel Galih Fitriah Ningrum bersama Dr. Ing Tri Yuswidjajanto dari ITB di acara Diesel Talk Pertamina di GIIAS 2016


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Reportase

Kekerasan Terhadap Anak, Kenapa Masih Terus Terjadi?


Anak. Setiap orang yang telah dewasa pasti pernah tumbuh menjadi anak. Menjalani masa-masa penuh kebahagiaan. Mempelajari hal-hal baru tanpa harus memikirkan risikonya. Memandangi hidup dengan kepoloson. Bergerak tanpa beban sedikitpun. Hanya tawa dan tawa. Jika terjatuh dan kesakitan, ya tinggal menangis tanpa harus ditahan karena suatu alasan. Jika lapar, ya tinggal merengek ke orangtua.

Tapi apakah semua anak-anak menjalani kehidupan yang demikian? Jawabnya: tidak semua.

Di luar dari kelucuan seorang anak dan hidupnya (yang harusnya) bahagia, banyak anak-anak di luar sana yang menjalani hidupnya dekat dengan ancaman dan kekerasan. 

Masa sih? Iya. Problemanya macam-macam.

Dalam beberapa berita yang saya perhatikan selama ini (correct me if I wrong), setidaknya ada tiga jenis anak yang terlantar lantas mengalami kekerasan. Pertama, anak yang secara finansial bagus, artinya ia berasal dari mampu tapi miskin perhatian orangtua yang sibuk bekerja. Lantas anak ini tumbuh menjadi pribadi yang kering kasih sayang dan mencari perhatian di luar lingkungan rumahnya. Jika beruntung, si anak mungkin akan bertemu lingkungan yang membuatnya aktif, sibuk berorganisasi atau menjalani hobi yang sehat. Tapi tak sedikit yang juga malah terjerumus ke hal-hal negatif seperti tawuran, pakai narkoba, seks bebas, bahkan aksi kriminal seperti mencuri dan membunuh.

Kedua, anak yang berasal dari keluarga yang secara finansial tidak terlalu bagus cenderung miskin. Faktor ekonomi memang paling banyak mewarnai kehadiran—negara menyebutnya—gelandangan dan pengemis (Gepeng) di Indonesia.
Di suatu hari di Jakarta yang panas, terjadilah wawancara imajiner antara wartawan yang masih baru kencur bertanya pada seorang pengemis di pertigaan Benhil dekat Café Excelso.

“Kenapa mengemis ke Jakarta, pak?”
“Ya abis gimana lagi mas, di kampung tak ada lapangan pekerjaan, jadi saya ke Jakarta. Di Jakarta, ternyata tak ada yang mau memperkerjakan saya karena saya tak punya keahlian dan pendidikan juga rendah. Jadi, ya mending saya ngemis aja. Kalo nggak gitu, mau dikasih makan apa anak-istri saya?”

Berkaca dari fenomena di atas, orangtua yang tak punya kehidupan yang layak akan melahirkan anak-anak lucu mereka di jalanan. Membesarkannya dengan memperkerjakan mereka untuk mencari uang.

Pernah nggak sih kamu lihat anak kecil yang harusnya duduk manis di kelas 1 SD malah ngamen di jalan atau ngemis-ngemis? Juga mendapati mereka hujan-hujan di kolong jembatan lagi makan? Dan yang lebih ekstrim lagi adalah mereka, dedek gemes yang harusnya asyik di belakang meja mewarnai buku gambar lucu penuh imajinasi malah asik ngelem bersama kawan-kawannya di kolong jembatan?
Sesungguhnya, kehidupan anak-anak seperti itu sangat rentan mengalami tindakan kekerasan dari sesama Gepeng semisal pada berita yang sering kita jumpai, “seorang pengamen umur 12 tahun mencabuli bocah berumur 5 tahun. Keduanya sama-sama mengamen di tempat yang sama”. See?

Ketiga, ada anak-anak yang sebenarnya biasa saja. Keluarganya harmonis, setiap hari memberinya makanan bergizi. Sekolah dengan baik. Ibunya pun tak sibuk bekerja. Selalu ada manakala anaknya menanyakan PR atau menjemput sekolah. Tapi kenapa ia mengalami kekerasan bahkan berbau seksual?

Jawabnya karena ada predator anak di sekelilingnya. Sebuah fenomena yang mengerikan lainnya yang bisa merenggut masa depan anak-anak Indonesia. Pada beberapa berita, alasan predator anak-anak karena tak bisa menyalurkan hasrat sesksualnya kepada yang seharusnya. Yang lebih mengerikan, pelaku umumnya kerabat dekat kita. Mereka yang mengenal dengan baik anak-anak di sekelilingnya.

Kebayangkan dari ketiga fenomena di atas, setiap anak berpotensi menjadi korban keterlantaran, kekerasan, bahkan pelecehan seksual. Anak yang harusnya  tumbuh dengan baik, menjadi cikal bakal masa depan bangsa menjadi korban kekerasan yang traumanya mungkin akan masih terasa hingga ia dewasa.

Sinergisitas Semua Pihak
Yang paling mengerikan dalam kekerasan anak adalah trauma berkepanjangan. Kesakitan yang ia alami akan mengendap lama dalam pikirannya. Akhirnya, bukan tak mungkin (dan memang sudah banyak kejadiannya) mereka yang kecilnya menjadi korban akan berpotensi menjadi pelaku ketika dewasa. Artinya, ketika si anak A dicabuli atau dianiaya oleh orang yang lebih tua darinya, kelak dewasa ia akan melakukan hal yang sama pada anak kecil juga. Jika semua pihak tak ambil peran, akan terus begitu bagai lingkaran setan.

Di acara Kopdar opini.id, Selasa (9/8) kemarin di Coffewar, Kemang, Jakarta Selatan, harus adanya sinergisitas antara semua pihak untuk bisa menyelamatkan anak-anak Indonesia. Peran orangtua adalah yang terpenting dan utama karena anak tumbuh meniru apa yang indungnya lakukan. Jika orangtuanya abai pada kehidupan sang anak, akan membuat sang anak tak punya tempat pulang dan mencurahkan segala keresahannya.

Peran yang lebih besar juga ada pada pemerintah dan jajarannya. Pengamat Kebijakan Publik, Mas Fajar Arif Budiman yang hadir sebagai pembicara di Kopdar memberikan contoh konkritnya di lapangan. Misal, seorang anak atau remaja yang hidup di jalanan kena razia Gepeng oleh Satpol PP. dibawa ke dinas sosial daerah setempat. 

Sudah di sana, mau diapakan?

Jika mengacu pada UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang berisi fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara, maka anak-anak yang terlantar dan mengalami kekerasan di jalanan seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, wajib dipelihara negara, termasuk diberi penguatan psikologisnya oleh psikolog, selain itu juga perlu diberi pelatihan keterampilan saat dibina di panti sosial agar jika ia sudah mahir dan keluar dari penampungan, mereka punya modal.

Pertanyaan lebih dalam menggelitik.

Bagaimana jika keterampilan sudah punya, tapi tak ada modal untuk mengembangkannya menjadi usaha?

Di sini, peran pemerintah juga harusnya ada. Semisal memberikan pembinanan dalam pinjaman modal bagi mereka yang pemula tanpa agunan dengan diawasi oleh pihak berwenang. Atau bagi mereka yang seharusnya masih masuk usia sekolah, disekolahkan lagi dengan biaya dari pemerintah.

Di luar sana, memang banyak organisasi nirlaba yang fokus pada pendidikan masa depan anak jalanan. Mereka memberikan ajakan, pelatihan, dan pengajaran pengetahuan pada anak-anak jalanan yang mau belajar. Satu di antaranya Save Street Child (SSC), sebuah komunitas berjejaring yang peduli terhadap permasalahan anak jalanan. Dibentuk dan dikelola oleh anak muda serta bersifat independen, desentralis, juga kreatif: sesuai semangat muda, yang cabangnya sudah ada di beberapa kota di Indonesia. Sayangnya, kendala yang dihadapi mereka adalah masalah dana untuk tetap berjalan dan memberikan kepedulian pada anak-anak jalanan juga pada tantangan ketika melakukan pendekatan kepada mereka.

Masih dalam acara yang sama, perwakilan SSC mengatakan, jika mereka ingin mengajukan dana untuk kegiatan mereka ke instansi pemerintaha, prosedur administrasinya terlalu ribet. Nah, di titik inilah, lagi-lagi peran pemerintah sangat penting dan dibutuhkan. Sinergisitas semua pihak demi terselamatkannya masa depan anak-anak Indonesia dari tindak kekerasan dan pelecahan seksual.

Saya sendiri, dalam kapasitas saya yang terbatas, baru hanya bisa membantu lewat tulisan. Menyuarakan kegelisahan terhadap kekerasan yang dialami anak-anak. Yuk, anak muda, apa yang bisa kalian lakukan untuk peduli pada anak-anak Indonesia?

Tulisan ini dimuat di opini.id

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Mandiri Art Reportase

Belajar Sejarah Membosankan? Coba Deh Kunjungi Pameran Lukisan Istana Negara bareng Mandiri Art

Pelajaran sejarah seringkali membosankan. Setidaknya itu yang barangkali sebagian dari kita yang pernah mengalaminya di bangku sekolah dulu. “Ah, pelajaran sejarah. Pasti ngantuk, “ kira-kira begitu keluhnya.

Tapi, sejarah tak bisa dilepaskan dari perkembangan masa lalu sebuah bangsa. Sejarah menjadi bagian yang bisa saja membahagiakan atau menyakitkan bagi negara.  Bagaimana pun rasanya, sejarah tetap harus dikenang, sebab banyak pelajaran yang bisa diambil. Misalnya, dengan mengingat kembali sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia akan menimbulkan jiwa nasionalisme kita. Dengan mengenang sejarah bangsa sendiri, kita juga bisa berkaca untuk bisa menghargai apa yang sudah dilakukan pahlawan kita di masa lalu untuk lepas dari belenggu penjajah dan meraih kemerdekaan seperti yang sedang kita nikmati saat ini.

Nah tapi gimana nih supaya belajar sejarah tak selalu berakhir dengan uap-uap-an dari mulut dan mata yang kuyu?

Historia Jadi Alternatif
Sebenarnya, di era seperti saat ini, banyak cara untuk belajar sejarah secara asyik lho. Sebut saja majalah Historia yang dipimpin oleh Bonnie Triyana. Majalah bulanan ini menyampaikan laporan sejarah dengan cara anak muda. Sajian tulisan yang mereka sajikan disampaikan dengan bahasa yang asyik sehingga kalangan anak muda bisa menyerap informasi masa lalu tanpa harus mengerutkan kedua alis mereka.

Sepengalaman saya mewawancara Bonnie Triyana, ia membeberkan bagaimana mengelola Historia menjadi alternative bacaan sejarah anak muda saat ini. Katanya, di tengah-tengah media mainstream yang serentak memberitakan korupsi dan kebobrokan negara, Historia justru menyajikannya dari perspektif masa lalu.

“Seringkali kita membuat keputusan yang salah karena tidak pernah belajar dari masa lalu,” ujar Bonnie di kantor redaksi Historia, Tanah Abang.

Baginya, penting sekali untuk anak mudah terus senantiasa belajar sejarah dan memperkaya kemampuannya akan masa lalu bangsanya sendiri. Bonnie percaya betul, ia tidak ingin pemuda seperti—meminjam perkataan Pramoedya Ananta Toer—“bangsa yang tidak tahu dari mana asalnya, tidak akan pernah tahu ke mana akan datang”.

“Pemuda yang ahistoris tidak akan pernah tahu dirinya mau ke mana. Dengan bahasa yang populer, kami memberi pilihan lain agar pemuda mengenali bangsanya dalam sebuah cerita masa lalu yang mudah dipahami,” katanya.

Bonnie memang menjadikan pemuda sebagai “antek-anteknya”. Menurutnya, “jika sejarah dibaca oleh orang tua, jadinya ya klangenan. Sebatas nostalgia. Tapi jika ia dibaca oleh anak-anak muda, jadi bahan pembelajaran”.

Pameran Lukisan Istana
Jika kalian, khususnya para mahasiswa yang suka gratisan, kalian tetap bisa belajar sejarah secara asik. Caranya, rajin-rajinlah mengikuti diskusi di kampus atau luar soal sejarah atau menghadiri pameran yang bertemakan sejarah, seperti pameran lukisan istana negara yang dilaksanakan sejak 1 Agustus ini sampai akhir bulan!

Selama sebulan penuh ini, Galeri Nasional mengadakan pameran lukisan yang selama ini hanya bisa dinikmati di dalam Istana Negara dengan tema: "17|71:  Goresan  Juang  Kemerdekaan”.
Kini, masyarakat umum bisa menikmatinya. Lukisan yang kalian nikmati pun terdiri dari berbagai lukisan yang selama ini menghiasai berbagai istana yang ada di Indonesia, seperti Istana  Negara, Istana  Merdeka,  Istana  Bogor,  Istana  Cipanas,  dan  Istana Yogyakarta.

Berikut daftar lukisan yang dipamerkan pihak Istana, Galeri Nasional, Mandiri Art:
1.            Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat I, 1946
2.            Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3.            Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4.            Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5.            Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955 
6.            Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7.            Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8.            Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9.            Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10.          S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11.          S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
12.          S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13.          S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
14.          S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15.          Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16.          Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17.          Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18.          Soerono, Ketoprak, 1950
19.          Ir. Sukarno, Rini, 1958
20.          Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21.          Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22.          Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23.          Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24.          Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25.          Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26.          Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjingsing, 1949
27.          Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
28.          Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)

Yuk, jangan lupa bawa teman, keluarga, atau pacarmu datang ke sini!


http://www.adinugroho.my.id/2016/08/nyeni-mandiri-art-seni-untuk-rakjat.html

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments