In

Sial, Kupu-kupu itu Masih ada!

Segerombolan kupu-kupu itu masih ada
Bersemayam
Berterbangan
Mengelili selaksa rasa
Seperti dalam tabula yang udaranya pengap dan bikin mules.

Ah, sial.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan Pulau Sumba

Sumba Menatap Cerah Energi Terbarukan

Tinggal di suatu wilayah yang jauh dari ibukota tentu sulit menemukan kemudahan-kemudahan yang lazimnya banyak ditemui di Jakarta dan kota metropolis lainnya. Satu di antaranya adalah aliran listrik.

Bagi masyarakat Sumba, listrik adalah barang mewah. Penerangan di malam hari bisa dibilang hampir mustahil dinikmati. Pada 2010, studi yang dilakukan oleh peneliti dari dua lembaga internasional Hivos dan Winrock, menemukan warga Sumba yang memiliki jaringan listrik di rumah mereka, kurang dari 25 persen.

Berdasarkan keprihatinan akan akses listrik warga Sumba, Hivos dan Winrock bersama pemerintah dan PLN mulai menggarap Sumba agar menjadi terang. Pada Mei 2013, Bank Pembangunan Asia ADB berkomitmen untuk memberikan dana sebesar US$1 juta atau sekitar Rp13 milliar untuk mendukung proyek ini dari sisi teknis. Sementara pemerintah Indonesia menjanjikan investasi puluhan milliar rupiah.

Dilansir BBC Indonesia, sejauh ini sudah sekitar 50% penduduk di Sumba terhubung dengan sumber listrik, 40% di antaranya menggunakan energi terbarukan. Ambisinya, dalam tempo kurang dari lima tahun pemerintah ingin mempensiunkan mesin-mesin genset berbahan bakar solar dan menggantikannya dengan penggunaan 100 persen energi bersih.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan Pulau Sumba

Sumba akan Jadi Pulau 100% Energi Terbarukan

Sumba merupakan salah salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wilayah dengan hamparan gunung aktif, sungai, danau, dan laut ini tengah diproyeksikan menjadi pulau dengan pengembangan dan pemanfataan 100% energi terbarukan.

Dengan kekayaan sumber daya alam dan unsur geografisnya, Sumba sepatutnya memang maju dalam pengembangan energi terbarukan. Tapi, upaya ini barulah bisa dirasakan oleh penduduk sana beberapa tahun belakangan.

Dilansir dari BBC Indonesia, sampai beberapa waktu lalu, sebagian besar dari 700.000 penduduknya tidak memiliki akses ke sumber listrik, dan kini proyek energi bersih mengubah kehidupan mereka.
Umbu Hinggu, seorang tokoh adat Sumba, mengatakan dia tidak pernah bermimpi air terjun di hutan yang terletak di dekat desanya dapat menghasilkan sumber listrik.

Sampai kemudian, empat tahun lalu, sebuah kelompok lokal membantu mereka untuk membangun sebuah pembangkit listrik tenaga air skala kecil atau mikro hidro yang menyediakan sumber listrik bagi 350 rumah.

“Itu cukup untuk penerangan di seluruh rumah, televisi dan sebuah lemari es. Listriknya stabil selama 24 jam. Ini membuat saya bangga,” jelasnya. Sisa energi yang tidak digunakan dijual ke Perusahaan Listrik Negara PLN, menghasilkan uang lebih dari 7 juta per bulan.

Kini, tak hanya aliran listrik yang bersumber dari energi air di sana yang bisa dirasakan 24 jam oleh warga Sumba, tapi juga ada beberapa pemanfataan, semisal menciptakan sumber listrik dari energi matahari, biogas dari kotoran hewan seperti sapi yang banyak jumlah populasinya.



Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan limbah cair sawit PLT Biogas

Wujudkan Energi Terbarukan, Pemerintah Resmikan PLT Biogas Berbasis Limbah Cair Kelapa Sawit

Gaung untuk mewujudkan energiterbarukan terus digalakkan pemerintah. Upaya itu terlihat dari beroperasi PLT Biogas yang menggunakan limbah cair kelapa sawit yang diresmikan oleh Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) pada Sabtu, 23 Januari 2016 kemarin.

Dalam acara yang berlangsung di Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau itu, Dirjen EBTKE Rida Mulyana mengatakan dengan terealisasinya proyek ini diharapkan dapat mempercepat penyediaan akses masyarakat terhadap energi modern dan meningkatkan rasio elektrifikasi serta menjadi inspirasi bagi perusahaan-perusahaan sejenis.

"Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang paling tepat untuk penyediaan listrik ke depan, dan meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Rida.

Limbah cair sawit dikembangkan karena Indonesia memiliki cukup banyak perkebunan sawit, khususnya di pulau Sumatera. Proyek ini pun diklaim memiliki beberapa kelebihan, di antaranya dapat beroperasi 24 jam, dapat diandalkan dan tidak dipengaruhi faktor cuaca, ramah lingkungan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan investor Tiongkok

Sektor Energi Terbarukan Indonesia Dilirik Tiongkok

Indonesia negara maha kaya sumber daya alamnya. Para jamaah netizen semua pasti setuju kenyataan menggembirakan itu. Nah, potensi di sektor energi terbarukan kita belum lama ini dilirik oleh investor empat perusahaan Tiongkok.

Kabarnya, negara tirai bambu itu akan menggelontorkan US$2,16 miliar (sekitar Rp29,1 triliun, kurs Rp13.500 per dolar AS) untuk pengolahan dan pengembangan tiga sektor energi terbarukan. Proyek yang akan digarap tahun ini itu antara lain pengolahan dari batubara menjadi methanol dengan investasi sebesar US$1,5 miliar ; fasilitas pengolahan sampah menjadi energi sebesar US$150 juta dolar AS; serta dua perusahaan produksi panel solar dengan nilai investasi masing-masing US$150 juta dan US$360 juta.

"Mereka sudah melakukan komunikasi dengan mitra lokal di Indonesia, kami akan mendorong minat investasi tersebut agar segera direalisasikan," kata Kepala BKPM Franky Sibarani yang dilasir laman resmi Dirjen EBTKE.

Para investor itu juga telah merencanakan proyek bersama dengan nilai rencana investasi sebesar US$1,5 miliar yang akan memproduksi 1,1 juta ton methanol per tahun. Produk methanol yang dihasilkan juga akan dibeli oleh PT Pertamina (sebagai off-taker) dan rencananya fase konstruksi tahap pertama dimulai pada kuartal ketiga 2016.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #SemangatTerbarukan Energi Alternatif Energi Panas Bumi

Terobosan Baru Pemerintah Kembangkan Energi Alternatif

Pengembangan energi alternatif terus digalakan pemerintah. Salah satunya pemanfaatan tidak langsung panas bumi untuk listrik yang tengah dirancang Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM).

Dilansir dari kontan, ada tiga terobosan dalam draft PP. Pertama, pemerintah akan menugaskan langsung kepada tiga badan usaha milik negara (BUMN) yaitu PT Pertamina (Persero), PT Geo Dipa Energi, dan PT PLN Geothermal untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi panas bumi.

Kedua, Ditjen EBTKE akan memberikan penugasan survei pendahuluan ditambah eksplorasi (PSPE) kepada badan usaha yang ingin mengembangkan panas bumi. Direktur Panas Bumi Yunus Saefulhak bilang, badan usaha boleh memilih lokasi tapi mereka harus mau mengebor.

Dus, badan usaha itu menanggung semua biaya produksi dan risikonya. "Nanti setelah ketahuan berapa megawatt (MW) yang keluar, pemerintah akan menugaskan PLN untuk membeli listrik dari panas bumi tersebut," ujar Yunus kepada KONTAN, Kamis (14/01).

Ketiga, pemerintah menugaskan lelang berdasarkan program kerja dan komitmen eksplorasi dari badan usaha atau investor. Jadi, tak lagi menetapkan harga lelang di awal. Nanti, pemerintah akan menentukan pemenang berdasarkan program terbaik, dan komitmen mereka.

Saat ini, Kementerian ESDM sudah menyerahkan draft PP ke meja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kumham). Dari Kementerian Kumham, PP tersebut akan dilakukan harmonisasi dengan kementerian lain sebelum dikirimkan ke meja presiden.


Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Jaringan Pipa Gas PGN Open Acces

Open Acces Jaringan Gas PT PGN

Terhitung hingga akhir Desember 2015, Perusahaan Gas Negara (PGN) memiliki jaringan pipa gas sepanjang 6.470 km. Ribuan jaringan pipa gasnya telah beroperasi di beberapa wilayah dan berbagai sektor di Tanah Air. PGN juga mengklaim sudah melalukan open access terhadap 2.400 km pipanya.

Hal ini diakui oleh Head of Corporate Communication PGN Irwan Andri Atmanto di Jakarta. "Dari 6.470 km pipa gas yang dibangun dan dioperasikan PGN, sekitar 2.400 km merupakan pipa open access yang bisa dimanfaatkan bersama," kata Irwan.

Open access adalah istilah yang digunakan untuk pemakaian pipa bersama. Artinya, pipa gas yang dimiliki PGN bisa dikelola bersama dengan pihak lain, misalnya Pertamina atau PLN.

Penetapan open access bagi PGN ini berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 mengamanatkan kekayaan alam, termasuk gas bumi, harus dikuasai dan digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Ada banyak keuntungan yang akan dilakukan jika PGN melakukan open access. Pertama, menjadi salah satu solusi pendistribusian gas mengingat wilayah pulau Indonesia yang dikelilingi gunung, sungai besar, dan laut.

Kedua, mekanisme open access dapat menekan terjadinya monopoli gas bumi yang dapat berdampak pada tingginya harga gas. Ketiga, open access diklaim akan mendongkrak harga gas yang akan jauh lebih murah untuk rakyat.

PGN juga mengklaim jaringan pipa gas yang di-open access­-kan merupakan yang terpanjang di Tanah Air. "Belum ada perusahaan di Indonesia yang memiliki pipa gas open access sepanjang yang dimiliki PGN. Apalagi 6.470 km lebih pipa yang dibangun dan dioperasikan PGN saat ini, merupakan 76% dari seluruh pipa gas bumi di Indonesia," ungkap Irwan.



Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si-Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan

Indonesia, Negara Berlimpah Energi Terbarukan (2)

     5. Angin
Energi angin atau bayu adalah sumber energi terbarukan yang dihasilkan oleh angin. Kincir angin digunakan untuk menangkap energi angin dan diubah menjadi energi kinetik atau listrik. Pemanfaat energi angin menjadi listrik di Indonesia telah dilakukan seperti pada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTBayu) Samas di Bantul, Yogyakarta.

      6.  Matahari
Energi matahari atau surya adalah energi terbarukan yang bersumber dari radiasi sinar dan panas yang dipancarkan matahari. Pembankit Listrik Tenaga Surya yang terdapat di Indonesia antara lain : PLTS Karangasem (Bali), PLTS Raijua, PLTS Nule, dan PLTS Solor Barat (NTT).

      7. Gelombang Laut
 Energi gelombang laut atau ombak adalah energi terbarukan yang bersumber dari dari tekanan naik turunnya gelombang air laut. Indonesia sebagai negara maritim yang terletak diantara dua samudera berpotensi tinggi memanfaatkan sumber energi dari gelombang laut. Sayangnya sumber energi alternatif ini masih dalam taraf pengembangan di Indonesia.

      8. Pasang Surut
Energi pasang surut air laut adalah energi terbarukan yang bersumber dari proses pasang surut air laut. Terdapat dua jenis sumber energi pasang surut air laut, pertama adalah  perbedaan tinggi rendah air laut saat pasang dan surut. Yang kedua adalah arus pasang surut terutama pada selat-selat yang kecil. Layaknya energi gelombang laut, Indonesia memiliki potensi yang tinggi dalam pemanfaatan energi pasang surut air laut. Sayangnya, sumber energi ini belum termanfaatkan.

Kedepalan sumber energi terbarukan ini belum semuanya dimanfaatkan secara maksimal oleh rakyat sendiri di lingkungan ataupun dari pemerintah. Hal itu terbukti dari masih bergantungnya masyarakt Indonesia dengan penggunaan BBM yang berasal dari minyak mentah. Meski begitu, kesadaran akan energi terbarukan juga digalakkan pemerintah melalui beberapa kementriannya di antaranya kinerja Ditjen EBTK yang dibawahi oleh Kementrian ESDM yang memang konsen dengan energi terbarukan dan konvervasi energi.

Semoga ada sinergitas yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia yang jumlahnya melimpah ini.

Salam #EnergiBaik #SemangatTerbarukan

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan

Indonesia, Negara Berlimpah Energi Terbarukan (1)

Gerakan untuk beralih menggunakan energi terbarukan sudah didengungkan sejak lama. Di Indonesia, gerakan ini mulain muncul sekitar tahun 70-an. Pasalnya cadangan minyak bumi dan batubara yang semakin menipis karena sifatnya sebagai energi tak terbarukan.

Di Tanah Air sendiri, potensi energi terbarukan jumlahnya sangat banyak. Material yang mendukung untuk dijadikan energi yang lebih ramah lingkungan dan murah juga tersedia menghampar. Ada delapan energi terbarukan di Indonesia yang dikutip dari Alamendah.org:

      1. Biofuel
Biofuel atau bahan bakar hayati adalah sumber energi terbarukan berupa bahan bakar (baik padat, cair, dan gas) yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Sumber biofuel adalah tanaman yang memiliki kandungan gula tinggi (seperti sorgum dan tebu) dan tanaman yang memiliki kandungan minyak nabati tinggi (seperti jarak, ganggang, dan kelapa sawit).

      2.  Biomassa
Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati. Sumber biomassa antara lain bahan bakar kayu, limbah dan alkohol. Pembangkit listrik biomassa di Indonesia seperti PLTBM Pulubala di Gorontalo yang memanfaatkan tongkol jagung.

     3. Panas Bumi
Energi panas bumi atau geothermal adalah sumber energi terbarukan berupa energi thermal (panas) yang dihasilkan dan disimpan di dalam bumi. Energi panas bumi diyakini cukup ekonomis, berlimpah, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Namun pemanfaatannya masih terkendala pada teknologi eksploitasi yang hanya dapat menjangkau di sekitar lempeng tektonik. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dimiliki Indonesia antara lain: PLTP Sibayak di Sumatera Utara, PLTP Salak (Jawa Barat), PLTP Dieng (Jawa Tengah), dan PLTP Lahendong (Sulawesi Utara).

      4. Air
Energi air adalah salah satu alternatif bahan bakar fosil yang paling umum. Sumber energi ini didapatkan dengan memanfaatkan energi potensial dan energi kinetik yang dimiliki air. Sat ini, sekitar 20% konsumsi listrik dunia dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Di Indonesia saja terdapat puluhan PLTA, seperti : PLTA Singkarak (Sumatera Barat), PLTA Gajah Mungkur (Jawa Tengah), PLTA Karangkates (Jawa Timur), PLTA Riam Kanan (Kalimantan Selatan), dan PLTA Larona (Sulawesi Selatan). (Selengkapnya baca: Indonesia, Negara Berlimpah Energi Terbarukan (2)

Artikel ini disumbangkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Asep Kambali Berita Bonnie Triyana Historia JJ Rizal LPM Institut Sejarah

Pilihan Lain Mencintai Sejarah


Oleh Ema Fitriyani

Sejarah, sebuah pelajaran yang kerap kali membosankan dan membuat rasa kantuk. Berbagai alternatif diciptakan agar stigma itu hilang. Dari tangan para sejarawan muda, “masa lalu” itu kini dihadirkan dengan menarik.

Bonnie Triyana patut berbangga diri. Sejak mendirikan Historia, majalah ini menjadi media alternatif orang banyak untuk belajar dan menikmati sejarah. Di tengah-tengah media mainstream yang serentak memberitakan korupsi dan kebobrokan negara, Historia justru menyajikannya dari perspektif masa lalu.

“Seringkali kita membuat keputusan yang salah karena tidak pernah belajar dari masa lalu,” kata Bonnie di kantor redaksi Historia, Tanah Abang.

Lelaki tambun ini mencontohkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sempat ingin dibubarkan oleh beberapa “pejabat”. Bonnie mengatakan jauh sebelum KPK ada, jaman dulu pernah didirikan PARAN (Panitia Retooling Aparatur Negara) yang bertugas untuk memperbaiki kinerja aparatur negara, termasuk kasus korupsi.

“Tapi umur PARAN tidak lama. Para pejabat yang diduga korupsi bersengkongkol dengan partai politiknya dan merongrong agar lembaga ini dibubarkan. Habislah nasib PARAN,” katanya.

Pasca PARAN bubar, dibentuk KONTRAR. Fungsinya sama dengan PARAN. Tapi, “lagi-lagi, KONTRAR pun tamat. Jika melihat KPK yang pernah diisukan untuk bubar, itu karena pejabat kita tak pernah belajar dari masa lalu. Sekarang terbukti korupsi makin gila,” kata Bonnie mengebu-gebu.

Melihat kondisi negara yang seperti itu, Bonnie ingin mengajak, terutama anak muda untuk memahami kondisi kekinian dengan melihat masa lalu agar tak salah langkah. Bonnie percaya betul, ia tidak ingin pemuda seperti—meminjam perkataan Pramoedya Ananta Toer—“bangsa yang tidak tahu dari mana asalnya, tidak akan pernah tahu ke mana akan datang”.

“Pemuda yang ahistoris tidak akan pernah tahu dirinya mau ke mana. Dengan bahasa yang populer, kami memberi pilihan lain agar pemuda mengenali bangsanya dalam sebuah cerita masa lalu yang mudah dipahami,” katanya. 

Bonnie memang menjadikan pemuda sebagai “antek-anteknya”. Menurutnya, “jika sejarah dibaca oleh orang tua, jadinya ya klangenan. Sebatas nostalgia. Tapi jika ia dibaca oleh anak-anak muda, jadi bahan pembelajaran”.

Komunitas Sejarah
20 Mei 1998, sejumlah mahasiswa Fakultas Sastra UI Depok merasa diri mereka telah terbakar oleh api semangat “Gali dan Kenali Bangsa”. Mereka mendirikan Komunitas Bambu (Kobam) yang fokus utamanya menerbitkan buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora.

JJ Rizal, salah satu pendiri Kobam mengatakan komunitas ini merupakan wadah bagi anak muda mendapatkan buku-buku budaya dan humaniora. Hal ini selaras dengan nama “bambu” dalam komunitas itu. 

Kami pikir pohon bambu adalah perumpamaan yang mengandung banyak nilai filosofis,” katanya.
Pohon Bambu, kata pria asli Betawi ini, adalah simbol hidup yang bermanfaat sebab pada dirinya terdapat bagian-bagian yang berguna bagi banyak orang. Pohon bambu adalah simbol kolektivisme atau kebersamaan sebab ia tumbuh secara berumpun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Bahasa Jurnalistik Berita Donny Tjiptonugroho LPM Institut Uu Suhardi

Dilema Bahasa Jurnalistik



Penulisan jurnalistik di berbagai media selalu menjadi perdebatan. Apakah sebenarnya laras bahasa pewarta itu? Banyak pro-kontra.

Stigma bahasa jurnalistik hingga kini masih terus bergulir. Masih ada sebagain orang yang menganggap bahasa jurnalis sebagai perusak bahasa terbesar. Sementara pekerja pers merasa lembaganya ikut membantu memperkenalkan dan mensosialisasikan bahasa Indonesia. Alhasil, kaum jurnalis dan Badan Bahasa kerapkali berbenturan aturan dalam menentukan sejauh mana keformalan sebuah tulisan jurnalistik.

Linguis terkenal, Martin Joss (1961) membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya, yaitu beku (frozen), resmi (formal), konsultatif (consultative), santai (casual), dan akrab (intimate). Lalu termasuk laras yang mana bahasa jurnalistik?

Uu Suhardi, Redaktur Bahasa Tempo mengatakan bahasa jurnalistik termasuk laras bahasa resmi. Ia, kata Uu, ditulis untuk dibaca khalayak umum yang tingkat pendidikan dan strata sosialnya berbeda-beda.
“Meski resmi, bahasa jurnalistik juga tidak bisa ditulis seperti bahasa ilmiah yang kaku. Ia harus lebih fleksibel karena bahasa itu dinamis,” katanya di lobi Tempo, Kebayoran Lama.

Uu mencontohkan bagaimana pemakluman bisa dilakukan dalam sebuah tulisan jurnalistik, semisal imbuhan. Dalam penulisan judul tulisan jurnalistik, imbuhan biasanya dihilangkan. Misalnya KPK Tangkap Andi Mallarangeng. Jika merujuk pada EYD, sudah barang tentu penulisannya KPK Menangkap Andi Mallarangeng.

“Pada bagian judul, prefiks bisa dihilangkan, tapi dalam tubuh berita tetap ditulis,” katanya.
Keistimewaan itu menurut Uu karena lebih dianjurkan menulis dengan kalimat aktif dibanding kalimat pasif. Fungsinya agar pesan itu lebih terasa oleh pembaca.

“Setiap media punya aturan sendiri soal penulisan jurnalistik. Aturan itu ada tapi bagaimana supaya tidak terlalu menyimpang.  Ketika ada “penyimpangan”, itu dilakukan demi pembaca supaya mereka mudah memahami isi berita,” ujarnya.

Lain Uu, lain lagi Donny Tjiptonugroho. Menurut Redaktur bahasa Media Indonesia ini, bahasa selingkung dalam tulisan media massa tetap harus berpegang teguh oleh aturan EYD dari Badan Bahasa.
“Bahasa selingkung bukan berarti penulis suka-suka dalam menulis, tapi ada bahasa yang kemudian dibentuk berdasarkan kesepakatan bersama dan itu harus dipatuhi,” katanya.

Hal detil yang kadang terlihat sepele menurut Uu adalah penulisan rupiah dan nominal dalam sebuah berita. Badan Bahasa sejak dulu sudah menetapkan penulisan satu miliar rupiah ditulis Rp1 miliar.

“Tapi ada beberapa media yang tidak patuh menulis Rp1 miliar menjadi Rp 1 miliar. Ya mungkin alasannya karena mempertimbangkan visual yang dianggap 1 miliar rupiah dengan spasi lebih enak dilihat,” kata Donny di kantor Media Indonesia, Kedoya, Jakarta Barat.

Ketidaksegaraman soal penulisan rupiah dan nominal diakui Uu memang menjadi yang tak kunjung selesai, sekalipun ada Forum Bahasa Media Massa. “Setiap ada keputusan dalam forum itu, dikembalikan pada medianya. Yang pasti ada tukar pikiran tentang bahasa,” kata Uu.

Uu sendiri punya alasan tentang penulisan rupiah dan nominal. Ia dan Tempo lebih condong mempertahankan keindahan visual.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Artikel Feature Okky Madasari Portofolio

Menyuarakan Keadilan pada Lembar Sastra


Sumber foto okkymadasari.net
Okky Madasari. Belakangan namanya populer di kalangan dunia sastra. Karyanya berjudul Maryam   yang meraih Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2012 menjadi pembuktian dirinya “diterima” sebagai sastrawan.

Kiprahnya di dunia sastra memang baru dimulai tahun 2009. Kala itu, Okky benar-benar melepas profesinya sebagai wartawan. Keputusannya ini didasarkan pada keinginannya menyuarakan kebebasan dan keadilan dengan lebih mengena.

“Saya pikir, dengan menulis novel, suara-suara yang tertindas bisa lebih efektif didengar dan dibaca dibandingkan hanya menyuarakannya di dalam sebuah tulisan berita. Berita sering kali kita dengar dan baca sambil lalu, sekenanya saja,” kata Okky di suatu kafe di Jl. TB Simatupang.

Sejak saat itulah, Okky merasa dirinya mantap menekuni dunia sastra. Beberapa karya yang mengkritik masalah sosial sudah lahir dari tangannya. Terhitung, perempuan lulusan Universitas Gajah Mada ini sudah melahirkan empat novel.

“Sebagai penulis yang dikatakan masih baru, saya tentu punya tanggung jawab lebih besar untuk terus menulis cerita-cerita tentang permasalah sosial yang ada. Saya menjadi lebih mau mendengar, dituntut lebih untuk memperjuangkan keadilan lewat tulisan dan melakukan kebaikan kemanusiaan,” katanya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

MAU JADI APA?

Mau jadi apa? Itulah pertanyaan yang selalu menghantui dan belum bisa terjawab samapi sekarang. Apa? Iya, apa? Gue sudah memilih meninggalkan mimpi orangtua supaya anak pertamanya ini jadi guru. Terlebih sekarang, Akta IV sebagai legalitas menjadi lulusan seorang sarjana pendidikan sudah tak dikeluarkan pemerintah lagi, dalam hal ini melalui Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi.

Kalau banyak temen-temen yang bilang passion gue di dunia tulis-menulis, terdengar seperti beban di telinga. Yup, karena apa yang sudah gue hasilkan dari hasil kerja kreatif gue di dunia literasi? Belum ada. Dari sekian tulisan yang gue buat selama ini hasil dari prosedur yang sudah seharusnya. Seperti menjadi wartawan di majalah ekonomi, menulis untuk proyek buku di Kementrian Agama, dan saat ini menjadi content writer. Nyaris semua kalimat yang gue buat itu berdasarkan pesanan dan suruhan orang di mana gue dibayar di dalamnya. Ya.. itu namanya kerja. Bukannya tidak bersyukur. Hanya, gue ingin menjadi diri sendiri dalam tulisan gue.

Lantas, apakah tulisan gue selama ini menginspirasi orang? Gue sendiri tidak paham. Barangkali karena tidak ada yang mengapresiasi tulisan gue selama ini, selain dua-tiga puisi yang diapresiasi dosen sastra gue dulu. Ya, itu karena tugas juga sih.

Entahlah.

Sampai di titik ini gue tidak mengenal tulisan gue sendiri. Dan gue perlu masuk dalam ruang di mana banyak hal yang bisa gue pelajari dari seluk-beluk dunia menulis.

Duh gusti.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Mencatatnya My Life

Banjit (Eps.2)

Sebelum Minggu akan habis oleh keambisiusan Senin, kita akan mulai cerita malam ini dengan mengenang Banjit, daerah nun jauh yang sepertinya begitu ndeso.

Kalau tidak salah mengingat, tiga tahun lalu aku menangis tersedu-sedu ingin ke Banjit. Seperti anak kecil yang merengek pada orangtuanya agar dibelikkan sebuah boneka, aku menangis menahan keinginanku untuk bisa ke sana.

Laiaknya tanah Papua yang menyimpan emas berbentuk gunung hingga ke dasar bumi, aku tak ubahnya para pemburu harta karun itu. Meyakini ada sebuah mutiara yang indah di Banjit. Dan aku ingin ke sana mencarinya, melihatnya, dan merasakan kilau cahayanya.

Aku butuh cahaya itu untuk meredam api yang sedang menyala-nyala hebatnya karena disembur oleh kesewang-wenangan sebuah korek dan minyak tanah. Panas. Sakit. Aku terbakar. Menggosongkan hatiku. Menghanguskan harapanku.

Di balik itu, aku juga ingin mengajukan sebuah pertanyaan dan tuntutan, mengapa aku dibeginikan oleh bayi mutiara itu? Bayi yang bagimu sangat berharga. Bayi yang sangat kau harapkan bisa tumbuh menjadi sosok yang tak akan memengang pisau belati untuk ditusukkan ke hati seseorang. Ah.. aku ingin mengetahui jawabanmu, wahai mutiara.

Tapi aku tahu, kesempatan itu sepertinya jauh panggang dari api. Nyaris dua tahun aku menahan kesakitan ini. Obat merah pun tak mampu mengeringkan lukanya. Tapi, ketika kesakitan akan datang pada waktunya, keikhlasan pun akan mampir pada masanya. Dan inilah masa kebangkitanku. Seperti para Khulafaurrasyiddin yang meraih masa kebangkitannya usai berperang melawan kaum dzalim, aku pun mendirikan tongkat kebangkitanku untuk tidak lagi menggalaukan laki-laki yang kurang ajar itu. Asuuuuu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Mencatatnya My Life

Sepasang Bangku yang Tak Bersebelahan

Aku menoleh ke belakang. Untuk beberapa saat aku kadang iri. Melihat bangku yang tadinya milikku diduduki orang lain yang lebih unyu, manis, dan ceria.

Bangku itu kini dihiasi banyak ornamen yang menggembirakan. Bangku dengan sudut pandang yang indah untuk diposting di media sosial. Bangku cantik dengan kaki dan tangan yang juga halus.
Ragaku sudah habis ditelan waktu. Hanya ingatan yang masih tertinggal jejaknya. Tak apa. Berkali-kali kukatakan tak apa. Iya, tak apa. Sudah, tak apa. Aku mencoba meyakinkan diri. Dan aku rasa kini, aku telah sukses.

Seperti pemerintah dan para menteri-menterinya yang sering mengklaim kinerja mereka berhasil, aku pun tak ubahnya menegaskan diriku sudah menang menaklukan kekecewaanku sendiri. Barangkali inilah kemudahan yang didapat saat kita rela melepas sesuatu yang seyogyanya masih indah.

Ah, sampai di sini kamu pasti bingung. Tulisan ini memang tidak ditujukkan untuk dipahami. Sekian.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Joko Pinurbo Puisi

Ingatan

Hujan masih mengingat saya
walau saya tak punya lagi daun hijau
yang sering dicumbunya dengan gila
sampai saya terengah-engah
menahan beratnya cinta.

Hujan masih mengingat saya
walau saya tinggal ranting kering
yang akan dipatahkannya

dan dibawanya hanyut dan sirna.

Joko Pinurbo (2012)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Kabinet Kerja II Jokowi-JK Views

Susunan Kabinet Kerja Jokowi-JK JILID II

Dapat info dari grup sebelah yang diisi oleh beberapa rekan wartawan. Ini dia berikut nama pejabat baru di Kabinet Kerja Jilid II era Jokowi-JK:*

1. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
2. Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas: Sofyan Djalil
3. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman: Fadel Muhammad
4. Menteri Perhubungan: Rini Soemarno
5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Yorris Raweyai
6. Menteri Pariwisata: Arief Yahya
7. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Dr.Kurtubi (BOS BARU )
8. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan: Muldoko
9. Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo
10. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi
11. Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu
12. Menteri Hukum dan HAM: Dr.Trimedya Panjaitan SH MH
13. Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara: Mulfachry Harahap
15. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Darmin Nasution
16. Menteri Keuangan: Prof.Dr. Hendrawan Supratikno
17. Menteri Badan Usaha Milik Negara: Budi Karya Sumadi
18. Menteri Koperasi dan UKM: Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
19. Menteri Perindustrian: Saleh Husin
20. Menteri Perdagangan: Thomas Lembong
21. Menteri Pertanian: Amran Sulaiman
22. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri
23. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
25. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Teten Masduki
26. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saifuddin
28. Menteri Kesehatan: Nila F Moeloek
29. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohana Yambise
31. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah: Prof.Dr.Komaruddin Hidayat.
32. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi: M Nasir
33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Maruarar Sirait
34. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi: Marwan Jafar

Jaksa Agung : Arminsyah

*Pemerintah sendiri belum resmi merilis nama pejabat yang baru. Ini masih dari sebaran di grup chatting. Hmm, sayang sekali ya kalo Menteri Susi diganti. Och, ternyata Menteri ESDM diganti menjadi Kurtubi. Sebelum tau nama dia ternyata ada sebagai Ketua Bid Energi, SDA & Lingkungan Hidup di dalam Partai Nasdem, jadi agak meragukan. Yang gue tau dia memang pakar di bidang minyak dan gas. Sempat juga dulu wawancara di sebuah forum diskusi tentang migas Indonesia. Dia adalah orang yang menolak keras keberadaan Petral karena anak perusahaan Pertamina itu sarang korupsi.
Ya, kita lihat saja bagaimana ke depannya. Semoga Indonesia jadi baik dengan formasi baru. Tapi kok, nggak sreg ya... Bagaimana pendapat kalian?

Gondangdia, 12/1/16

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Hayati Lelah, Bang!

Akhir-akhir ini sangat aktivitas sangat melelahkan. Badannya jadi cepat capek, otak berasa nggak jalan. Bukan, bukan karena jenis pekerjaan yang sedang saya jalani. Tidak sepenuhnya itu. Badan kurang gerak. Mata hanya menatap layar komputer selama 8 jam, rasanya sangat bikin kering. Mending menatap matamu saja, tapi jauh sekali ya.

Ini pasti karena gue nggak olahraga! Terakhir olahraga bahkan lupa kapan. Duh!
Maunya berenang tapi kok kayaknya nggak ada waktu. Sabtu-Minggu? Ada aja kegiatan tak terduga dan akhirnya lebih memilih tidur aja. Benar-benar nggak gerak, pantes skripsi juga nggak kelar-kelar. Terlebih, nggak ada juga yang ngajakin olahraga.
Duh, minggu ini mesti ke Gor Padjajaran biar badan gerak!
#hayatilelahbang
at War Room, Gondangdia
Jakarta

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #SemangatTerbarukan Gas Alam PGN Jaringan Pipa Gas PGN Perusahaan Gas Negara

Duh, Jangan Lagi Anaktirikan PT PGN!

Dalam sebuah dongeng rakyat terkenal dari tanah Melayu, Bawang Merah, Bawang Putih, diceritakan soal ketidakadilan dalam hal perlakuan dan kasih sayang seorang ibu kepada anak tirinya. Dalam sistem pemerintahan, Eksekutif (dalam hal ini pemerintah dan Kementrian BUMN) dan Legislatif tentu menjadi orangtua bagi anak-anak mereka. Tentu, salah satu anak mereka adalah Perusahaan Gas Negara sebagai perusahaan yang mendistribusikan gas alam.

Lalu, apakah PGN anak tiri seperti Bawang Putih?

Setidaknya, pengakuan dianaktirikan pernah dilontarkan Dirut PGN Hendi Prio Santoso beberapa waktu lalu. Layaknya seorang anak yang menuntut haknya kepada orangtua, PGN merasa selama ini seringkali tidak mendapat alokasi gas, padahal kepastian akan ketersediaan gas ini sangat penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur gas alam.

Seperti dikutip Kompas.com, Hendi mengatakan, alih-alih memberikan ke PGN, Hendi menuding pemerintah lebih memilih memberikan alokasi gas lebih banyak ke badan usaha gas bumi yang lain.

“Memang kami kendala utamanya itu (alokasi gas). Padahal apa yang kami himpun itu untuk melayani pengguna langsung, tidak melalui perantara sama sekali. Kami ini dianaktirikan, karena setiap ada alokasi baru kami tidak dilibatkan,” kata Hendi.

Jika ditilik, sejauh ini, perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 2003 ini terus mengembangkan gas alam yang mereka distribusikan ke berbagai wilayah strategis dan non-strategis di Indonesia.

Untuk pipa gas alam yang dimiliki PGN saja, panjangnya sudah mencapai 6.651 km sepanjang 2015 kemarin. Bukan suatu usaha yang gampang bukan untuk memasang pipa sepanjang itu di bawa tanah mengingat lokasi tanah Indonesia yang banyak dipenuhi oleh gunung terjal di beberapa wilayah.

Dari data PGN, di 2001 pipa gas BUMN ini mencapai 3.112 km, dan di akhir 2014 bertambah menjadi 6.161 km, yang terdiri dari pipa gas transmisi dan pipa distribusi.

"Tahun ini PGN menambah 490 km di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, dan beberapa di Sumatera," kata Kepala Divisi Komunikasi Korporat‎ PGN, Irwan Andri Atmanto kepada detikFinance di sela acara World Gas Conference, di Paris, Prancis, Rabu (3/6/2015).

Sementara hingga 2019 nanti, PGN akan menambah pipa gas hingga mencapai nyaris 4.000 km. Ini sudah termasuk 490 km di 2015 ini. Wow!

Dan yang terbaru saat ini, PGN pun telah membangun dan mengoperasikan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Lampung di Selat Sunda, Lampung. FSRU ini diklaim menjadi yang terbesar di Indonesia dan menjadi pemasok utama untuk kebutuhan gas di kawasan Sumatera dan Jawa.

Jika kembali ke dongeng Bawang Merah Bawa Putih, tentu PGN adalah sebuah mutiara di antara lelumpuran hitam. Meski dianaktirikan, ia tetap bersinar dengan kinerja dan usaha untk membangun dan mengembangkan #EnergiBaik yang sangat besar manfaatnya bagi rakyat.

Bukanklah sosok Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur, dan baik hati?

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si-Nergi

Sumber:



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam PGN Jaringan Pipa Gas PGN Perusahaan Gas Negara

Jaringan Pipa Gas Alam PT PGN Capai 6.470 km Sepanjang 2015

Sebagaimana fenomena ojek online yang makin bertambah banyak jumlahnya di jalanan, jaringan pipa gas alam milik Perusahaan Gas Negara pun semakin menjalar di wilayah Indonesia. Kini, sejauh mata memandang, ada pipa gas alam PGN yang “sudah akrab” memenuhi dapur para ibu rumah tangga. Kemudahan pun dirasakan para ibu. Tentu, semua karena kerja keras yang sudah dilakukan PGN sejauh ini.

Jika menilik ke belakang, rekam jejak PGN dalam memperpanjang pipa gas alam sangat signifikan maju. Terhitung, sepanjang 2001-2015, perpanjang jalur pipa gas alam PGN naik sepanjang 3000 km.
Dari data PGN, di 2001 pipa gas BUMN ini mencapai 3.112 km, dan di akhir 2014 bertambah menjadi 6.161 km, yang terdiri dari pipa gas transmisi dan pipa distribusi.

Bagaimana di tahun 2015?
Sepanjang tahun 2015, ada beberapa proyek besar yang sudah dibangun PGN melalui jaringan pipa gas alamnya, semisal di awal November, PGN bekerja sama dengan Pemerintahan Kepulauan Riau. Dalam kerja sama itu, PGN membangun jaringan pipa gas alam sepanjang 600 km.  Dalam kerja sama ini, PGN membangun dan mengembangkan infrastruktur gas bumi untuk berbagai segmen palanggan, mulai rumah tangga, transportasi, UKM, komersial, industri, dan kelistrikan.

Selain itu, di medio Desember kemarin, upaya mempercepat program konversi energi ke bahan bakar gas bagi rumah tangga, Kementerian ESDM menugaskan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) untuk mengoperasikan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga (jargas) yang dibangun pemerintah di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Kota Tarakan adalah salah satu kota yang mampu meningkatkan jumlah sambungan rumah tangga pengguna jargas menjadi 3.425 SR pada akhir tahun 2014.

Direncanakan pada tahun 2016, Kementerian ESDM melalui Ditjen Migas dengan sumber dana dari 
APBN Tahun Anggaran 2016 akan melakukan pengembangan jargas di Kota Tarakan sebanyak 21.000 SR, yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh PGN.

"Tahun ini PGN menambah 490 km di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, dan beberapa di Sumatera," kata Kepala Divisi Komunikasi Korporat‎ PGN, Irwan Andri Atmanto seperti dikutip detikFinance. Sementara hingga 2019 nanti, PGN akan menambah pipa gas hingga mencapai nyaris 4.000 km. Ini sudah termasuk 490 km di 2015 ini.

Upaya PGN untuk terus memperpanjang jalur pipa gas alamnya di seluruh Indonesia patut didukung semua kalangan, terutama pemerintan dan Kementrian ESDM. Sebab, pengembangan gas alam di Indonesia harus terus dilakukan agar seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan kemudahan menggukana gas alam dan menghilangkan ketergantungan akan BBM dan elpiji yang berbahan dasar minyak mentah.

Salam #EnergiBaik

Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si-Nergi

Sumber:

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #SemangatTerbarukan Jaringan Pipa Gas PGN Perusahaan Gas Negara

Jaringan Pipa Gas PT PGN Semakin Panjang dari Tahun ke Tahun

Perusahaan Gas Negara atau PGN merupakan salah satu BUMN yang potensial dalam  mendistribusikan gas alam untuk berbagai sektor yang juga sangat potensial di Indonesia, seperti kelas industri dan rumah tangga.

Keseriusan perusahaan yang dinahkodai oleh Hendi Prio Santoso ini terlihat dari beberapa infrastruktur yang dibangun. Salah satu adalah jaringan pipa gas yang terus dibentangkan PGN di berbagai wilayah di Tanah Air.

Tahun ini, PGN memperpanjang pipa gas alamnya sepanjang 490 km. Hal ini tentu menjadi prestasi mengingat dari tahun ke tahun jaringan pipa terus dibangun demi memenuhi kebutuhan gas alam bagi sektor industri dan rumah tangga.

Kepala Divisi Komunikasi Korporat‎ PGN, Irwan Andri Atmanto‎ mengatakan, panjang pipa gas PGN sepanjang tahun terus bertambah. Dari data PGN, di 2001 pipa gas BUMN ini mencapai 3.112 km, dan di akhir 2014 bertambah menjadi 6.161 km, yang terdiri dari pipa gas transmisi dan pipa distribusi.

"Tahun ini PGN menambah 490 km di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, dan beberapa di Sumatera," kata Irwan kepada detikFinance di sela acara World Gas Conference, di Paris, Prancis, Rabu (3/6/2015), seperti dikutip detik.com.

Masih menurut Irwan, sementara hingga 2019 nanti, PGN akan menambah pipa gas hingga mencapai nyaris 4.000 km. Ini sudah termasuk 490 km di 2015 ini.

Seperti diketahui, dalam setahun terakhir, PGN telah membangun berbagai jaringan pipa. Di antaranya pipa distribusi gas bumi di Lampung 90 km, pipanisasi gas bumi Tanjung Uncang-Panaran di Batam 18 km, pipa Cikande-Bitung 30,5 km, dan proyek clustering CNG di Tambak Aji, Semarang.

Di tahun ini, PGN lewat anak usahanya membangun jaringan pipa Kalimantan-Jawa I atau Kalija I sepanjangn 207 km, yang ditargetkan rampung tahun ini. Penambahan sejumlah infrastruktur pipa gas, membuat volume penyaluran gas PGN naik ke pelanggannya.

Yang teranyar adalah wilayah Jawa Timur yang mulai dialiri pipa gas alam. Pembangunan pipa baru sepanjang 72 km tersebut akan menambah panjang jaringan pipa PGN yang sudah aktif  di wilayah Jawa Timur menjadi 901 km dari sebelumnya 829 km.

“Sedangkan untuk seluruh wilayah Indonesia, PGN telah membangun jaringan pipa gas bumi lebih dari 6.100 km. Ini adalah 70 persen dari pipa hilir gas bumi di Indonesia,” kata Sekretaris Perusahaan PGN, Heri Yusup kepada liputan6.com.

Memasuki tahun baru 2016 yang bershiokan monyet api, di mana api menjadi unsur yang dominan dalam menggelorakan semangat, kita lihat apa yang akan dilakukan PGN di tahun ini. Apakah akan membangun lebih banyak lagi infrastruktur gas alamnya? Semoga saja, dengan hati yang berapi-api.

Salam #EnergiBaik

Tulisan ini didekasikan untuk situs Si-Nergi
Sumber:

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam Perusahaan Gas Negara

Gas Alam Harapan Baru Energi Dunia

Gas alam menjadi harapan baru energi dunia. Seperti juru selamat, keberadaannya bisa menolong perlahan ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan BBM dan listrik berbahan baku minyak mentah dan batu bara yang sudah kadung lama.

Memasuki tahun yang baru, kita dihadapkan pada berita turunnya harga BBM jenis premium dan solar. Entah ini patut disambut dengan sukacita atau sebaliknya. Sebab, dibalik turunnya harga BBM yang disubsidi itu, pemerintah juga menarik pungutan sebesar Rp200 untuk premium, yang seharusnya diturunkan sebesar Rp6.950 menjadi Rp7.150 per liter. Sementara penurunan harga solar dipungut Rp300 dari yang seharusnya Rp5.650 menjadi Rp5.950. Baik premium dan solar, masing-masing turun sebesar Rp150 dan Rp750.

Penurunan harga yang disertai pungutan itu dinilai banyak pihak riskan dikorupsi sebab pungutan itu jika diakumulasikan dengan jumlah premium dan solar milik Pertamina untuk tiga bulan saja, bisa milyaran rupiah. Selain rentan dikorupsi, dana pungutan yang oleh Sudirman Said disebut sebagai dana penelitian dan “jaga-jaga” jika BBM sewaktu-waktu naik lagi, juga dianggap memberatkan rakyat sebab daya beli masyarakat masih lesu karena harga sembako yang terus naik disusul oleh melemahnya nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Kejadian seperti ini justru menjadi peluang untuk rakyat memikirkan ulang dalam menggunakan bahan bakar gas elpiji. Pasalnnya, epliji merupakan jenis gas bumi yang memiliki kandungan propana dan butana yang berbentuk cair pada tekanan 2-5 barg. Massa jenis propana dan butana lebih berat dari udara sehingga ketika terjadi kebocoran, gas akan terkumpul di bawah dan memerlukan penanganan khusus untuk mengalirkan kembali gas ke udara. Hal ini menyebabkan gas elpiji menjadi sangat tidak efisien digunakan masyarakat Indonesia.

Terlebih, saat ini, pemerintah masih mengimpor 60-70% LPG dari luar negeri amat disayangkan sebab, daripada mengimpor gas elpiji, lebih baik menggunakan gas alam yang jumlahnya saat ini diklaim masih banyak di Indonesia.

Berdasarkan Kementrian ESDM, potensi gas bumi yang dimiliki Indonesia berdasarkan status tahun 2008 mencapai 170 TSCF dan produksi per tahun mencapai 2,87 TSCF, dengan komposisi tersebut Indonesia memiliki reserve to production (R/P) mencapai 59 tahun.

Menurut KataData,  Indonesia merupakan salah satu negara penghasil gas alam papan atas di dunia. Data BP Statistics 2014 menunjukkan cadangan gas alam terbukti Indonesia mencapai 103,3 triliun kaki kubik. Dengan angka cadangan tersebut menempatkan Indonesia berada pada posisi ke-14 pemilik cadangan terbesar di dunia. Bahkan, di kawasan Asia, Indonesia merupakan pemilik cadangan gas terbesar kedua setelah China yang memiliki 115,6 triliun kaki kubik gas alam.

Potensi gas alam yang melimpah di Indonesia ini tentu menjadi peluang sangat besar untuk diversifikasi BBM ke gas alam. Tentu, kabar baik ini harus dibarengi oleh infrastuktur yang menunjang ekslporasi gas alam dari hulu ke hilir.

Salam #EnergiBaik!

Tulisan ini disumbangkan untuk situs si-nergi.id

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Perusahaan Gas Negara PGN

PGN Representatif Energi Baik Indonesia

Energi telah menjadi kebutuhan primer. Mulai dari sektor industri dan perusahaan baik skala besar dan kecil, hingga kebutuhan rumah tangga menggunakan energi setiap harinya. Hampir semua aktivitas sehari-hari kita pun tak bisa jauh dari penggunaan energi, baik listrik ataupun BBM. Kondisi ini memaksa banyak pihak untuk menanggulangi ketergantungan penggunaan energi  fosil berbahan baku minyak mentah dan batu bara tersebut, salah satunya dengan mengembangkan energi baik.

Adalah Perusahaan Gas Negara atau PGN yang menjadi pelopor pemanfaatan gas bumi sektor industri dan rumah tangga. Keseriusan PGN terlihat sejak tahun 1974. Saat itu, perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 2003 ini menilai gas buatan yang diproduksi dari bahan utama minyak mentah dan batubara ini tidak efesien karena harganya yang mahal.

PGN menjadi sahabat bagi keluarga Indonesia
Selain harganya mahal, minyak mentah dan batubara juga tidak ramah lingkungan dikarenakan limbah yang dihasilkan dari produksi minyak mentah ke BBM berpotensi besar merusak lingkungan. Dalam prakteknya, knalpot-knalpot kendaraan mengeluarkan polusi berbagai zat yang berbahaya di udara yang dihaliskan dari pemakaian BBM.

Sementara gas alam merupakan sumber daya alam berkomponen utama metana (CH4) yang merupakan molekul hidrokarbon terpendek dan teringan. Berat jenis gas bumi lebih ringan dari udara sehingga ketika terjadi kebocoran gas akan bergerak bebas ke udara. Hal ini yang membedakan gas bumi dengan LPG (Elpiji) yang berat jenisnya lebih besar sehingga akan terkumpul ke bawah.

Kini, memasuki tahun 2016, usia PGN pun bertambah. Seiring dengan pertambahan itu, banyak hal yang sudah dilakukan PGN dalam menyuplai gas bumi melalui jalur pipa distribusinya yang sudah mencapai lebih dari 3.750 km.


Belum lama ini, PGN pun telah membangun dan mengoperasikan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Lampung di Selat Sunda, Lampung. FSRU ini diklaim menjadi yang terbesar di Indonesia dan menjadi pemasok utama untuk kebutuhan gas di kawasan Sumatera dan Jawa.

Pada akhirnya, tidak berlebihan jika semua yang dilakukan PGN untuk mengembangkan dan menyalurkan gas bumi untuk Indonesia bisa menjadi representatif energi baik di Indonesia. Sebab banyak manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatn gas alam ini, bukan hanya untuk menanggulangi ketergantungan penggunaan BBM, tapi juga mengurangi jumlah subsidi BMM yang angkanya terus membengkak di kas negara. Dengan gas bumi atau gas alam, sesungguhnya menunjukkan harapan baru bagi energi Indonesia.

Artikel ini disumbangkan untuk situs si-nergi.id

Sumber:



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments