In Mencatatnya My Life

Banjit (Eps.2)

Sebelum Minggu akan habis oleh keambisiusan Senin, kita akan mulai cerita malam ini dengan mengenang Banjit, daerah nun jauh yang sepertinya begitu ndeso.

Kalau tidak salah mengingat, tiga tahun lalu aku menangis tersedu-sedu ingin ke Banjit. Seperti anak kecil yang merengek pada orangtuanya agar dibelikkan sebuah boneka, aku menangis menahan keinginanku untuk bisa ke sana.

Laiaknya tanah Papua yang menyimpan emas berbentuk gunung hingga ke dasar bumi, aku tak ubahnya para pemburu harta karun itu. Meyakini ada sebuah mutiara yang indah di Banjit. Dan aku ingin ke sana mencarinya, melihatnya, dan merasakan kilau cahayanya.

Aku butuh cahaya itu untuk meredam api yang sedang menyala-nyala hebatnya karena disembur oleh kesewang-wenangan sebuah korek dan minyak tanah. Panas. Sakit. Aku terbakar. Menggosongkan hatiku. Menghanguskan harapanku.

Di balik itu, aku juga ingin mengajukan sebuah pertanyaan dan tuntutan, mengapa aku dibeginikan oleh bayi mutiara itu? Bayi yang bagimu sangat berharga. Bayi yang sangat kau harapkan bisa tumbuh menjadi sosok yang tak akan memengang pisau belati untuk ditusukkan ke hati seseorang. Ah.. aku ingin mengetahui jawabanmu, wahai mutiara.

Tapi aku tahu, kesempatan itu sepertinya jauh panggang dari api. Nyaris dua tahun aku menahan kesakitan ini. Obat merah pun tak mampu mengeringkan lukanya. Tapi, ketika kesakitan akan datang pada waktunya, keikhlasan pun akan mampir pada masanya. Dan inilah masa kebangkitanku. Seperti para Khulafaurrasyiddin yang meraih masa kebangkitannya usai berperang melawan kaum dzalim, aku pun mendirikan tongkat kebangkitanku untuk tidak lagi menggalaukan laki-laki yang kurang ajar itu. Asuuuuu.

Merasa tak lagi memiliki dendam, meski aku sering mengungkit kezdalimannya di blog ini, aku membaca pesannya di LINE beberapa malam yang lalu dengan ekspresi biasa saja. Sebagai indikasinya, perutku tak lagi kesakitan kala itu. Seorang teman berkata, perut yang sakit tiba-tiba karena soal hati umumnya karena di perut itu ada banyak kupu-kupu di dalamnya. Ah, barangkali kupu-kupu di dalam perutku saat ini sudah mati menjadi bangkai yang tak indah lagi.

Hatiku juga tak bergetar lagi saat tau dia menghampiri blogku. Bahkan aku lupa kalau dia adalah pembaca setia tulisanku yang sangat mengangungkan dirinya. Betapa ia begitu menikmati posisinya sebagai bintang dalam tulisanku. Begitu kira-kira analisis temanku.
Wislah.

Aku tak peduli apa yang kutulis tentangnya sebagaimana ia tak pernah memberitahu bagaimana tanggapannya terhadap tulisanku. Ah, jangan terhadap tulisanku, terhadap nasib kami kala itu pun dia mana peduli. Laiaknya lomba tarik tambang, ia melepaskan tali yang sedang kutarik saat itu. Terjatuh, terjengkang, di jurang sedalam-dalamnya. Sial-sial, malam ini aku malah mengotori mulutku mengumpatnya dalam tulisan. Asyuuu tenan.

Ada yang menarik dari isi pesannya di LINE. Masih penasaran sama kampung gw? Katanya sambil hahahaha.

Seketika kujawab, iya kadang-kadang masih.

Detik berikutnya aku bertanya, apa benar aku masih penasaran?

Aaah, pasti karena mutiara itu. Perempuan yang kusebut sebagai permaisuri beberapa tahun lalu. Ibu. Iya, ibumu.

Alasanku untuk ke Banjit waktu itu adalah karena aku ingin bertanya sekaligus menggugat ibumu. Bercerita sekaligus meminta saran bagaimana mengobati penyakit mematikan itu? Dan menjadi wanita tegar menghadapi bakteri menular macam laki-laki brengsek itu. Lagi-lagi aku mengumpat.

Ya, aku ke Banjit karena ibumu.

Barangkali kamu adalah pembohong ulung. Seperti pendongeng yang menceritakan apapun yang menarik agar si anak bisa tertidur lelap, kamu menceritakan soal keluargamu. Soal ibumu. Yang akhirnya sulit untuk kulupakan.

Aku, si anak kecil yang percaya pada dongenganmu. Lekat-lekat kubawa cerita itu di kepalaku. Aku membangun imajinasiku berdasarkan kenyataan yang kau ceritakan tentang hidupmu. Betapa sangat pedulinya aku saat itu. Betapa sangat khawatirnya aku akan hidupnya. Betapa royalnya aku dengan air mata. Semua cerita itu terserap kuat di otak sehingga ibumu adalah sosok yang ingin sekali kutemui hingga saat ini.

Sesungguhnya dari tulisan panjangku ini, intinya→  Tapi apa asik dan menariknya bertemu seseorang dengan membawa sebuah kenangan yang usang? Jelas membawa martabak yang sedang hits, Markobar, lebih mengenyangkan untuk diberikan pada ibumu.

Hmmm…

Kurasa, terlepas dari benar atau tidaknya cerita keluargamu, suatu hari, jika ada kesempatan, aku akan ke Banjit. Persetan kau atau ibumu ada di sana atau tidak. Ibarat sekolah, Banjit adalah sebuah puncak dari masa ujian imajinasiku. Kita lihat, apa yang aku dapatkan ketika nanti ke Banjit. Tentu segala-galanya akan kuposting di blog ini. Blog alay yang menjadikanmu sekonyong-konyong bintang bersinar. Ah, betapa besarnya kepalamu saat ini melihat aku masih saja menulis tentang tetek-bengekmu. Asyuu.

Aku ingin mengakhiri tulisan ini, tapi malah menjadi-jadi sosok ibumu di otakku. Jangan lupa bahagia, Bu!

Bogor, 17/1/16—7.08 pm

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment