In Artikel Feature Okky Madasari Portofolio

Menyuarakan Keadilan pada Lembar Sastra


Sumber foto okkymadasari.net
Okky Madasari. Belakangan namanya populer di kalangan dunia sastra. Karyanya berjudul Maryam   yang meraih Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2012 menjadi pembuktian dirinya “diterima” sebagai sastrawan.

Kiprahnya di dunia sastra memang baru dimulai tahun 2009. Kala itu, Okky benar-benar melepas profesinya sebagai wartawan. Keputusannya ini didasarkan pada keinginannya menyuarakan kebebasan dan keadilan dengan lebih mengena.

“Saya pikir, dengan menulis novel, suara-suara yang tertindas bisa lebih efektif didengar dan dibaca dibandingkan hanya menyuarakannya di dalam sebuah tulisan berita. Berita sering kali kita dengar dan baca sambil lalu, sekenanya saja,” kata Okky di suatu kafe di Jl. TB Simatupang.

Sejak saat itulah, Okky merasa dirinya mantap menekuni dunia sastra. Beberapa karya yang mengkritik masalah sosial sudah lahir dari tangannya. Terhitung, perempuan lulusan Universitas Gajah Mada ini sudah melahirkan empat novel.

“Sebagai penulis yang dikatakan masih baru, saya tentu punya tanggung jawab lebih besar untuk terus menulis cerita-cerita tentang permasalah sosial yang ada. Saya menjadi lebih mau mendengar, dituntut lebih untuk memperjuangkan keadilan lewat tulisan dan melakukan kebaikan kemanusiaan,” katanya.

Memperjuangkan Kebebasan dan Keadilan
Kemenangannya meraih penghargaan bergengsi KLA 2012 lalu bukan tanpa alasan. Sedari awal terjun dalam dunia sastra, Okky sudah meneguhkan hatinya untuk menulis sebuah cerita tentang perlawanan  atas ketidakadilan. Karya-karyanya pun terhubung dalam satu benang merah: memperjuangkan kebebasan dan kemanusiaan.

Novel pertamanya berjudul Entrok terbit pada tahun 2010. Dengan latar belakang cerita masa Orde Baru dan bagaimana catatan sejarah menjadi warga negara saat itu. Okky menyuguhkan sebuah cerita tentang keriuhan dan tekanan dominasi politik pemilu tahun 1980-an—yang kemudian, bagi mereka yang membacanya, Entrok adalah kritik bagi partai besar berlambang pohon beringin. 

Setahun kemudian lahir novel 86, yang bercerita tentang korupsi. Bisa jadi orang-orang sudah akrab dengan masalah satu ini karena hampir setiap hari diberitakan di televisi. Okky mencoba memberi nilai lebih pemahaman tentang korupsi, dan kenapa orang bisa serakah dengan materi. Novel ini menjadi nominasi penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2011.

Di novel ketiganya, Maryam—yang baru saja memenangkan KLA 2012—Okky menyuarakan kondisi sekelompok masyarakat di Lombok, yang dianggap menyimpang karena keyakinannya. Mereka diusir, tidak boleh tinggal di tanah kelahiran sendiri, dan bahkan sampai hari ini masih dirundung masalah.

“Saya membela apa yang saya yakini benar, dan buat saya harusnya setiap orang punya hak untuk meyakini apa saja tanpa gangguan,” ujar mantan wartawan Harian Jurnal Nasional ini.

Dan baru-baru ini, novel keempatnya terbit berjudul Pasung Jiwa. Pasung Jiwa mengisahkan cerita dengan tokoh utama dua laki-laki bernama Jakawani dan Sasana. Jakawani adalah teman yang berbalik jadi anggota laskar. Lalu ada dua tokoh perempuan bernama Elis dan Kalina. Elis merupakan sosok pelacur yang merasa lebih baik memilih berprofesi demikian daripada jadi istri yang ditindas suami. Ia memperjuangkan nasib teman-temannya, tapi kemudian malah jadi korban. Sementara Kalina, buruh pabrik yang dipecat karena justru dihamili oleh mandornya sendiri.

“Di novel ini saya bicara soal kebebasan individu, lebih ke personal bagaimana menghadapi masalah dalam masyarakat, menyinggung soal transgender, dan periode sebelum dan setelah reformasi,” katanya.
Sebagai penulis, Okky tidak lepas dari kritik atau bahkan diteror oleh orang yang tidak menyukainya. Tetapi hal itu ia anggap sudah biasa dan ia memutuskan untuk terus menulis sebab, katanya, tulisannya dipersembahkan untuk setiap nyala keberanian yang tersembunyi di balik ketakutan.

Permasalahan yang diangkat Okky, diakui dirinya tak lepas dari buku-buku sastra yang ia baca.  Setidaknya, ada dua sastrawan yang menurutnya “setipe” dengannya, tak lain dan tak bukan adalah Pramoedya Ananta Toer dan Umar khayam.

“Saya menyukai mereka berdua mengusung aliran reaslime sosialis. Mereka  menulis sebuah cerita realita sekitar. Dan itu yang saya lakukan sekarang,” katanya.

Meski ia terpengaruh oleh bacaan-bacaan Pramoedya dan Umar Khayam, Okky tetap punya ciri khas sendiri dalam karyanya. Jika diamati, keempat novelnya selalu berkisah tentang keburukan Indonesia dan masyarakat di dalamnya.

“Saya berpikir, permasalahan yang saya munculkan dalam cerita justru menggambarkan Indonesia masih punya harapan untuk bangkit, seburuk apapun kondisinya,” akunya.

Harapan yang dimaksud Okky adalah dengan menggantungkan nasib tokoh dalam halaman terakhir novelnya. Ia seperti tidak memberi kepastian pada kelanjutan kisah yang ia tulis sendiri.

“Saya ingin pembaca menilai sendiri akhir cerita itu seperti apa. Dengan menyerahkan sepenuhnya akhir cerita itu kepada pembaca, membuka berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Dan bukan tidak mungkin itu justru akan menumbuhkan sikap kritis dan skeptis terhadap permasalah dalam novel saya,” katanya. (Ema F)

Dimuat di Majalah Institut edisi ke-41
lpminstitut.com

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment