In Asep Kambali Berita Bonnie Triyana Historia JJ Rizal LPM Institut Sejarah

Pilihan Lain Mencintai Sejarah


Oleh Ema Fitriyani

Sejarah, sebuah pelajaran yang kerap kali membosankan dan membuat rasa kantuk. Berbagai alternatif diciptakan agar stigma itu hilang. Dari tangan para sejarawan muda, “masa lalu” itu kini dihadirkan dengan menarik.

Bonnie Triyana patut berbangga diri. Sejak mendirikan Historia, majalah ini menjadi media alternatif orang banyak untuk belajar dan menikmati sejarah. Di tengah-tengah media mainstream yang serentak memberitakan korupsi dan kebobrokan negara, Historia justru menyajikannya dari perspektif masa lalu.

“Seringkali kita membuat keputusan yang salah karena tidak pernah belajar dari masa lalu,” kata Bonnie di kantor redaksi Historia, Tanah Abang.

Lelaki tambun ini mencontohkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sempat ingin dibubarkan oleh beberapa “pejabat”. Bonnie mengatakan jauh sebelum KPK ada, jaman dulu pernah didirikan PARAN (Panitia Retooling Aparatur Negara) yang bertugas untuk memperbaiki kinerja aparatur negara, termasuk kasus korupsi.

“Tapi umur PARAN tidak lama. Para pejabat yang diduga korupsi bersengkongkol dengan partai politiknya dan merongrong agar lembaga ini dibubarkan. Habislah nasib PARAN,” katanya.

Pasca PARAN bubar, dibentuk KONTRAR. Fungsinya sama dengan PARAN. Tapi, “lagi-lagi, KONTRAR pun tamat. Jika melihat KPK yang pernah diisukan untuk bubar, itu karena pejabat kita tak pernah belajar dari masa lalu. Sekarang terbukti korupsi makin gila,” kata Bonnie mengebu-gebu.

Melihat kondisi negara yang seperti itu, Bonnie ingin mengajak, terutama anak muda untuk memahami kondisi kekinian dengan melihat masa lalu agar tak salah langkah. Bonnie percaya betul, ia tidak ingin pemuda seperti—meminjam perkataan Pramoedya Ananta Toer—“bangsa yang tidak tahu dari mana asalnya, tidak akan pernah tahu ke mana akan datang”.

“Pemuda yang ahistoris tidak akan pernah tahu dirinya mau ke mana. Dengan bahasa yang populer, kami memberi pilihan lain agar pemuda mengenali bangsanya dalam sebuah cerita masa lalu yang mudah dipahami,” katanya. 

Bonnie memang menjadikan pemuda sebagai “antek-anteknya”. Menurutnya, “jika sejarah dibaca oleh orang tua, jadinya ya klangenan. Sebatas nostalgia. Tapi jika ia dibaca oleh anak-anak muda, jadi bahan pembelajaran”.

Komunitas Sejarah
20 Mei 1998, sejumlah mahasiswa Fakultas Sastra UI Depok merasa diri mereka telah terbakar oleh api semangat “Gali dan Kenali Bangsa”. Mereka mendirikan Komunitas Bambu (Kobam) yang fokus utamanya menerbitkan buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora.

JJ Rizal, salah satu pendiri Kobam mengatakan komunitas ini merupakan wadah bagi anak muda mendapatkan buku-buku budaya dan humaniora. Hal ini selaras dengan nama “bambu” dalam komunitas itu. 

Kami pikir pohon bambu adalah perumpamaan yang mengandung banyak nilai filosofis,” katanya.
Pohon Bambu, kata pria asli Betawi ini, adalah simbol hidup yang bermanfaat sebab pada dirinya terdapat bagian-bagian yang berguna bagi banyak orang. Pohon bambu adalah simbol kolektivisme atau kebersamaan sebab ia tumbuh secara berumpun.

“Dari bentuknya yang merupakan batang menjulang dan lentur sehingga mampu mengimbangi arus angin, tetapi tanpa harus tercerabut dari akarnya, adalah suatu filosofi akan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan serta kondisi tanpa harus kehilangan kedirian. Itulah yang kini kami jalani,” katanya dalam suatu diksusi di Bentara Budaya Jakarta.

Tak hanya menerbitkan buku, Kobam pun aktif mengikuti dan mengadakan diskusi, terutama bedah buku yang sudah diterbitkan. Jika Kobam memilih jalan untuk mengenali bangsanya dengan menerbitkan buku-buku berbau sejarah, budaya, dan humaniora, lain halnya dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI). 

Komunitas yang berdiri dari sebuah kegelisahan beberapa mahasiswa sejarah UNJ dan UI terhadap semakin lunturnya perhatian anak-anak muda akan sejarah bangsanya sendiri.

Beberapa hal yang menjadi keprihatinan KHI antara lain banyaknya masyarakat dan generasi muda yang tidak peduli dengan potensi sejarah dan budaya yang dimiliki bangsa ini. Apa lagi jika dikaitkan dengan pelajaran sejarah di sekolah yang sering dianggap para siswa sebagai pelajaran yang membosankan, bikin ngantuk, nggak gaul dan tidak menyenangkan.

Asep Kambali, pendiri sekaligus ketua KHI mengatakan, tujuan dari komunitas yang berdiri Maret 2003 ini adalah untuk membangun nasionalme bangsa indonesia. Sama seperti Historia, fokus utama KHI adalah anak muda karena makin pudarnya nasionalisme di jiwa mereka.

“Nasionalisme dalam beberapa konteks, beda-beda. Misalnya, dengan menonton bola, nasionalisme bisa muncul. Tapi nasionalisme secara utuh adalah yang berdasarkan pengenalan atau pengalaman seseorang atau generasi muda terhadap bangsa, dirinya, dan negaranya,” kata laki-laki yang menjadi dosen di Heritage School LSPR, Jakarta.

Asep mengkritik anak muda saat ini sudah melupakan sejarah. Mereka hidup dalam ketidakpedulian, individualis, pragmatis, dan hedonis. Paham-paham seperti itu, katanya, sudah menjadi akar mereka sekarang.

“Mereka lupakan sejarah. Segala sesuatu yang menyenangkan dalam hidup ini memang merupakan hak kita, tapi jangan lupa bahwa sejarah juga memberi nilai, misalnya nilai ekonomi, nilai budaya, dan nilai politik bahkan, sejarah bisa jadi aset pariwisata suatu bangsa. Jadi, pemuda tanpa sejarah itu amnesia,” katanya.

Harus Kritis
Pemahaman orang terhadap sejarah selalu berkaitan dengan kondisi politik yang ada. Pada masa rezim Orde Baru ala Soeharto, anak muda tidak bisa memahami sejarah dengan tafsirnya masing-masing. Alhasil, sejarah pun diajarakan secara sepihak.

Kini, reformasi memberikan keterbukaan informasi seluas-luasnya bahkan termaktub dalam UU Nomor 14 tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi. Sungguh pun akses berita dan bacaan sangat luas, harus dibarengi pula dengan sikap kritis dan skeptis. Karena, mengutip sejarawan Pieter Geyl, "sejarah adalah argumentasi yang tak pernah berakhir."

Dalam memperingati 17 Agustus, kerapkali masyarakat Indonesia terutama anak-anak dan pemuda merayakannya dengan lomba makan kerupuk, balap karung, dan panjat pinang. Perayaan seperti ini menurut Asep justru makin menjauhkan rakyat dengan bangsanya sendiri.

“Lomba-lomba seperti itu kan peninggalan penjajah. Saat itu, Belanda sengaja menyuruh rakyat memanjat pohon pinang sebagai hiburan karena akan sia-sia memanjat pinang yang diolesi oli. Begitulah rakyat dibodohi. Jadi, cara kita merayakan hari lahir bangsa saja sudah salah kaprah,” katanya menggebu-gebu.
Fenomena Cosplay atau pameran tokoh anime Jepang juga harus dikritisi. Harusnya, kata Asep, “pemuda Indonesia membuat kostum-kostum tokoh pahlawan. Bukannya tokoh-tokoh kartun Jepang”. Lewat KHI, Asep mengenalkan sejarah dengan menarik. Dalam setiap kegiatan, Asep selalu memasukan tiga unsur yakni rekreasi, edukasi, dan hiburan.

Sementara itu, Rizal punya argumen lain soal mengkritisi sejarah. Katanya, saat ini ada gairah besar dari anak-anak muda dalam mencintai sejarah. Ditandai dengan tumbuhnya kelompok-kelompok yang senang ikut jalan-jalan ke Kota Tua, mengunjungi situs sejarah.

“Tapi persoalannya, kadang-kadang sejarah yang dihadirkan sifatnya nostalgia bukan sejarah yang menimbulkan sikap kritis,” katanya.

Rizal mencontohkan pada suatu ketika para pemuda mengunjungi Kota Tua. Lalu mereka melihat gedung-gedung di sana dan dihadapkan pada kondisi gedung yang tak terawat, bahkan hendak roboh. Secara pragmatis, mereka, kata Rizal, hanya mengatakan: oh ini warisan peninggalan Belanda.

“Jadi mereka betul-betul nostalgia, tapi tidak ada sikap kritis bahwa gedung ini harus dibenahi. Mereka kehilang aspek yang menarik, yakni gedung itu merupakan salah satu material penting untuk simbol Kota Tua,” tegasnya.

Bonnie pun mengamini apa yang ditegaskan Asep dan Rizal. Fungsi sejarah bukan untuk suatu kebenaran final. Sejarah mengajarkan sikap kritis pemuda sebab ia adalah ilmu tentang kausalitas.

Ia bercerita, saat dirinya bertandang ke Australia, anak-anak di sana belajar sejarah. Suatu ketika seorang anak bertanya kenapa Bunda Maria selalu memakai pakaian berwarna biru. Lalu si guru menjelaskan saat itu biru merupakan warna yang mahal dan agung sebab bahan dasarnya dari material batu berlian biru.

“Bahaya jika Bunda Maria memakai pakaian warna kuning, sebab saat itu bahan dasar kuning berasal dari urin manusia,” kata Bonnie menyeringai. Sebab sejarah, katanya, bukanlah ilmu klenik tapi tentang kausalitas yang harus dibarengi dengan kritis.

Dimuat di Majalah Institut edisi ke-41

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment