In #EnergiBaik

Presiden Jokowi Ingin Jaringan Pipa Gas Rumah Tangga dan Listrik Pedesaan Cepat Dikebut

Demi ingin menghapus ketimpangan suatu daerah dan pemaksimalan energi di Indonesia, Presiden Joko Widodo menginginkan proyek pembangunan yang dibawahi Kementrian Energi Sumber Daya Alam tahun ini terealisasi di atas 90 persen.  

Salah satu proyek pembangunan yang harus mendapat perhatian adalah jaringan pipa gas untuk rumah tangga dan pengaliran listrik di pedesaan, termasuk wilayah Indonesia Timur.

"Tahun kemarin realisasinya baru 64 persen, tadi saya sudah bisikin Menteri nya tahun ini harus di atas 90 persen,"kata dia di Gedung Kementerian ESDM, Senin, 29 Februari 2016.

Perintah presiden ini menyusul program di tahun 2019 mendatang, seluruh wilayah di Indonesia bebas dari gelap gulita. Meskipun tidak sampai 100%, paling tidak, rasio elektrifikasi di seluruh wilayah di Indonesia bisa mencapai 97% dari saat ini yang baru mencapai 85-86%.

"Komitmen pemerintah melistriki seluruh rakyat harus dikerjakan. Target 2019 minimal 97%, artinya minimal 2,5% per tahun harus nambah," ujar Dirjen ketenagalistrikan Jarman dalam Konferensi Pers Menteri ESDM Terkait Program Indonesia Terang, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Minggu (28/2/2016).

Selain itu, Presiden Joko Widodo juga meminta dalam pembangunan proyek di Kementerian ESDM dapat ditekankan pada tiga hal pertama, penyerapan tenaga kerja semaksimal mungkin, kemudian libatkan kontraktor lokal daerah setempat serta mengutamakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

"Libatkan kontraktor lokal sehingga uangnya bisa berputar di daerah dan membangun daerah," katanya.

Pemerintah, tambahnya, telah menegaskan bahwa 2016 sebagai tahun percepatan kerja dengan mendorong seluruh kementerian mempercepat penandatanganan kontrak pembangunan.

"Tidak usah seperti dulu-dulu, kalau tanda tangan pasti Juli, September, Agustus. Nanti kejar-kejarannya baru pada November atau Desember, tetapi tetap harus mengutamakan kualitas hasil proyek" pungkas dia.



Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Bali dan Tarakan Diproyeksikan Menjadi Kota Gas

Kota umunya menjadi denyut nadi dari sebuah pergerakan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat di dalamnya. Kota memiliki daya pikat tinggi bagi warga desa untuk mengubah nasib kehidupan mereka jadi baik, seperti pembludakan rakyat yang terjadi di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia.

Yang sering alpa dari pertumbuhan di kota adalah infrastuktur. Ya, pembangunan manusia seyogyanya memang harus dibarengi dengan pembangunan insfrastruktur yang memadai. Pembangungan jaringan pipa gas salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan gas untuk berbagai sektor, khususnya untuk di kota, transportasi, rumah tangga, industri, dan pusat perbelanjaa yang menjamur.

Belum lama ini, Bali dan Tarakan diproyeksikan  menjadi kota gas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. “Setelah diskusi dengan pimpinan di daerah, yang antusias Bali dan Tarakan, Batam mungkin belum menganggap penting,” kata I Gusti Nyoman Wiratmaja, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Jumat seperti dikutip duniaenergi.com.

Untuk di wilayah Bali sendiri, saat ini aktualisasinya terlihat dari pembangunan Bali Clean Energy Center of Excellent, sebagai wadah bagi para peneliti dari berbagai dunia untuk meneliti energi bersih dan terbarukan. Bangunan itu berdiri di atas lahan yang sudah disiapkan Pemprov Bali sekitar 200 ha.

Sementara Pemda Prabumulih juga sangat antusias dengan menyiapkan lahan dan mempermudah perizinan pembangunan infrastruktur gas. Karena antusiasme tersebut Kementerian ESDM mengucurkan anggaran lebih dari Rp500 miliar untuk membangun jaringan gas.

“Pemerintah Tarakan juga antusias. Mulai tahun ini, seluruh Kota Tarakan menggunakan jaringan gas,” tandas Wiratmaja.


Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Selalu Ada Cara untuk Membela Diri

Setiap manusia pasti nggak ada yang mau disalahin, tentang apapun itu, baik itu perbuatan yang dilakukannya, lebih-lebih tidak melakukannya sama sekali. Terlihat egois sekali. Siapa yang egois?

Malam Senin yang melelahkan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam PGN Perusahaan Gas Negara

Belasan Mal ini Gunakan Gas Alam PGN


Sebagai perusahaan pengembang dan penyedia gas alam di Indonesia, PGN telah menyisir banyak sektor sebagai pemakai gas. Salah satunya sektor industri seperti pusat perbelanjaan demi pemanfaatan penggunaan energi terbarukan.  

Diakui Kepala Divisi Komunikasi Korporat PGN Irwan Andri Atmanto, mal yang menikmati gas alam PGN terdapat di beberapa wilayah di Jakarta, Batam, Cirebon, Surabaya, dan lainnya.

Irwan juga mengatakan pemakaian gas di pusat perbelanjaan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan memasak di dapur, tapi juga pembangkit listrik di mal itu.

"Seperti Grand Indonesia, Central Park, Mall of Indonesia, tak hanya pakai gas bumi untuk restoran-restoran yang ada di dalam mal-nya saja, tapi gas bumi digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listriknya, sehingga pasokan listrik ke tenant semakin handal," kata Irwan.

Dikutip dari okezone.com, berikut daftar nama mal pengguna gas alam PGN:
1. Grand Indonesia Mall, Jakarta
2. KFC Plaza Senayan, Jakarta
3. Pluit Village Mall, Jakarta
4. KFC Cirebon Mall, Cirebon
5. Mega Mall Batam, Batam
6. Emporium Pluit, Jakarta
7. Mall Ambassador, Jakarta
8. Pacific Place, Jakarta
9. Central Park, Jakarta
10. Mall of Indonesia, Jakarta
11. Grand City, Surabaya

Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi

(Ilustrasi dari marketeers.com)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Opini

Karena Kusanggup

Lagi di kantor jam segini, sendirian. Terus di 97.5 FM diputer lagu Agnez Mo yang udah jadul. Entah judulnya apa. Liriknya kira-kira begini:

Karena kusanggup 
walau kutak mau 
berdiri sendiri tanpamu
Kumau kau tak usah ragu
tinggalkan aku
Oh kalau memang harus begitu

Jujur ketika denger lagu ini, gue merinding. Bukan karena gue lagi di ruangan segede gaban sendirian, tapi karena lirik di dalam lagu ini benar-benar menggambarkan jiwa yang besar. Merelakan apa yang tak ingin kita lepas, tapi harus. Sangat sulit diterapkan sebenarnya di kehidupan sehari-hari.

Kalau dari sisi kebaperan di dalam lagu itu tentu menyoal asmara. Yep. Galau. Galau. Dan galau karena mantan gebetan, mantan pacar, naksir teman yang nggak peka, galauan BFF, dan banyak hal lainnya yang menguras hati dan buang-buang waktu itu. Hmmm. Padahal di luar itu, masih banyak lagi hal yang perlu kita selesaikan dan kejar.

Btw lagunya usai, penyiarnya nyebutin judul lagunya, "Karena Kusanggup". Setelah iklan, radio ini, yang belakangan gue tahu namanya Motion Radio, mengalunkan lagu "Terlatih Patah Hati" dari The Rain.

Semoga, selain patah hati, kita juga terlatih sanggup merelakan sesuatu yang dititipkan Tuhan kepada kita.

*Tulisan nggak penting di siang hari dengan udara dingin dan mendung di Gondangdia.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Perusahaan Gas Negara

Cara PGN Tambah Pelanggan UKM di Medan


Berdasarkan data Kementrian ESDM, dari 100 persen produksi gas nasional, konsumsi gas untuk kebutuhan domestik mencapai 50,3 persen dan sisanya sebanyak 49,7 persen dialokasikan untuk kebutuhan ekspor, namun jika berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) konsumsi gas domestik sudah mencapai 65 persen lebih. Hal ini membuat PGN mencoba melakukan strategi untuk menambah pelanggan industri kecil menengah di Medan.

Sales Head Area PGN Medan Sabaruddin mengatakan, selama ini banyak permintaan dari pemilik rumah makan di beberapa kawasan. Kendati demikian, PGN belum memiliki jaringan di wilayah tersebut.

"Jadi tidak bisa dialirkan langsung dari pipa kami. Kami membutuhkan satu teknologi khusus untuk menurunkan tekanan dari pipa hingga bisa melayani klaster. Jadi setelah ditekan, beberapa pemilik rumah makan misalya, sudah bisa kami layani. Kami terus melakukan ini sehingga semakin banyak pelaku UKM yang bisa kami layani," ujar Sabaruddin seperti dikutip bisnis.com.

Untuk wilayah Medan sendiri, saat ini PGN memiliki 500 pelanggan komersil mulai industri besar hingga kecil. Beberapa pelanggan mengklaim, pasca penggunaan gas PGN, biaya operasional bisa hemat.

Pemilik Toko Bika Ambon Lapis Legit Sumatra A Hong (49) menyebutkan, sebelumnya memakai LPG 12 kg. Pasca menggunakan gas PGN, dia bisa berhemar hingga Rp4 juta.

"Saat ini biaya untuk bahan bakar hanya Rp2 juta. Sebelumnya sampai Rp6-7 juta."

Usaha yang sudah berdiri sejak 1995 di Jalan mojopahit No 28 D-E ini memproduksi 200 loyang bika ambon dalam sehari atau 6.000 loyang per bulan. Dengan produksi sebanyak itu, konsumsi gas mencapai 1.000 meter kubik gas.

Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Kompor Pellet

Mau Masak Hemat Energi? Kompor Pellet PGN Solusinya


Demi mendukung penggunaan energi terbarukan, Perusahaan Gas Negara (PGN) mengembangkan kompor yang hemat energi. Seperti apa bentuk dan pemakaiannya?

Dalam acara Bali Clean Energi Forum (BSCEF) yang dilaksanakan pada 11 Februari kemarin, berbagai produk inovatif dipamerkan. Salah satunya adalah kompor berbahan bakar pellet. Untuk membuat pellet sendiri cukup mudah ternyata karena berasal dari aneka limbah pertanian seperti jerami, bonggol jagung, dan serbuk kayu.

Seperti dikutip detik.com, Maesah Anggni, penjaga stan PGN, menuturkan bahwa kompor pellet ini jauh lebih hemat dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Bahkan dibandingkan kompor gas yang menggunakan LPG 3 kg, kompor ini masih bisa lebih hemat.

"Kalau sama kompor minyak tanah pasti lebih hemat. Kalau sama LPG yang disubsidi bersaing. Kita menghitung di 3 provinsi, rata-rata tiap rumah tangga masak 2 jam per hari. Itu habis Rp 2.000/hari kalau pakai LPG. Kalau pakai ini per hari butuh 1 kg pellet, harganya Rp 1.500," papar Maesah saat ditemui detikFinance diBNDCC, Bali, Kamis (11/2/2016).

Lalu Bagaimana Pengaplikasian Kompor Pellet ini?


Untuk membuat dan menggunakan kompor ini, dibutuhkan beberapa komponen.  Dalam menggunakan kompor ini, pellet harus dimasukan dalam tabung yang berada di tengah kompor. Ada 2 tabung yang berbeda kapasitas di dalam kompor ini, yang satu berkapasitas 3 ons pellet dan 1 lagi 7 ons pellet.

Masih menurut detik.com, Pellet harus dimasukan sesuai dengan keperluan. Untuk masak air misalnya, cukup gunakan tabung yang berkapasitas 3 ons pellet. "Isi 3 ons untuk goreng-goreng, bikin kopi, untuk yang masak kurang dari 1 jam. Kalau isi 7 ons untuk lebih dari 1 jam. Masak air pakai kompor ini cuma 24 menit," tutur Maesah.

Kelemahan kompor ini adalah butuh pemantik untuk menyalakannya. Pellet tidak bisa langsung dibakar dengan sendirinya untuk bahan bakar, harus ada pemantik seperti minyak goreng atau spiritus.
"Masih butuh pemantik. Kita sarankan pakai sedikit spiritus. Satu liter spiritus bisa untuk 6 bulan. Atau minyak goreng," ucapnya.

Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In #EnergiBaik Gas Alam PGN

Puluhan Ribu Rumah Tangga di Medan Hemat Masak Pakai Gas Bumi PGN

Rumah tangga dan memasak adalah satu kesatuan. Meski saat ini banyak rumah tangga yang jarang memasak lantaran penghuninya sibuk bekerja dan memilih makan di luar, memasak tetap menjadi kegiatan legendaris, sebab di situlah ada harapan hidup seseorang; makan.

Dalam memasak, ada banyak perangkat yang digunakan. Selain bahan masakan, bahan bakar merupakan komponen vital dalam memasak.

Belum lama ini, puluhan ribu rumah tangga di Medan, Sumatera Utara, merasakan hematnya memasak menggunakan gas bumi PGN. Dikutip detik.com, Kepala Area PGN Medan Sabaruddin mengatakan, PGN terus berkomitmen untuk memperluas pemanfaatan gas bumi. Di Medan misalnya, selain melayani pelanggan rumah tangga, PGN juga mengalirkan gas bumi bagi berbagai segmen mulai dari UKM, komersial (rumah sakit, mal) dan industri.

"Khusus di Medan, selain pelanggan rumah tangga yang jumlahnya sekarang 20.000 pelanggan, PGN juga menyalurkan gas ke 50 industri besar di Medan, lalu sekitar 500 pelanggan komersial seperti restoran, hotel, hingga rumah sakit," kata Sabaruddin.

Selain itu, sebagai konsumen, kepuasaan itu dilontarkan  Aisyah, salah satu warga Perumahan Beringin VII, Gaperta Medan dikutip detik.com.

"Sudah 5 tahun saya jadi pelanggan PGN, selama memasak pakai gas bumi semuanya aman, saya tidak khawatir meledak, apinya juga biru dan masakan cepat matang," ujar Aisyah, Kamis (4/2/2016).

Ia menambahkan, manfaat paling dirasakannya adalah hemat karena setiap bulan dirinya hanya membayar tagihan pemakaian gas bumi kurang dari Rp 50.000/bulan.

Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

PGN Bangun Pipa Gas Bumi 1.685 km

Selama tiga tahun ke depan (2016-2019), PGN akan membangun jaringan pipa gas bumi sepanjang 1.685 km. Kesiapan korporat yang berkantor pusat di Jakarta ini diungkapkan langsung oleh Dirut PGN, Hendi Prio Santoso, kemarin. 

“Total penambahan panjang pipa gas yang akan dibangun oleh PGN mulai tahun ini sampai 2019 sekitar 1.685 km," kata Hendi Prio Santoso, di Jakarta, Senin (22/2/2016).

Pembangunan jaringan pipa gas kali ini, diklaim PGN untuk meningkatan pemanfaatan gas domestik. Selama ini, wilayah domestik memang membutuhkan banyak pasokan gas. Seperti dikutip dari laman Kementrian ESDM, konsumsi gas domestik mencapai 50,3 persen produksi gas nasional.

Masih berdasarkan data ESDM, konsumsi gas bumi domestik terus meningkat setiap tahunnya, terutama di sektor Industri dalam rangka menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi mesin sehingga dapat bersaing dengan produk negara-negara lain. Alasan lain pengalihan bahan bakar ke gas yaitu, harga sangat kompetitif dan relatif stabil serta lebih ramah lingkungan.

Sebelumnya, PGN juga telah mengumumkan akan membangun 60 SPBG di tujuh provinsi, yakni di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Batam, Lampung, Riau, dan Sumatera Utara. Pembangunan itu pun akan dirampung selama tiga tahun ke depan.

Tulisan ini disumbangsihkan untuk Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Puisi

Yang Tak Boleh Kau Lupakan

Langkahmu pasti
Aku tahu itu sejak kau memilih berdiri
Dan aku duduk termangu, tak terperi

Bolehkah kutanya sesuatu?
Adakah yang kau ingat dari gulungan kertas itu?
Menulis kisah, memberi judul,
dan mendebatkan di mana seharusnya kita memberi titik?

Ya..
Akhirnya kaulah yang memberi tanda akhir itu
Suatu penegasan pada kalimat untuk berhenti sampai di situ
"Cukup," katamu begitu

Titik itu penanda usai
Jangan kau ajarkan lagi
Sudah kutahu pelajaran itu sejak SD

Tapi tidakkah kau ingat perkataan gurumu,
Selalu ada ruang di sebelah titik

Yang kosong dan melompong
Yang bisa diisi dan dihiasi

Sebuah jarak untuk memulai langkah baru
Atau menjadi tempat merawat selaksa rasa di kalbu
Meski koma tak mungkin mengubahnya untuk sebuah pemakluman masa lalu

(Ketika dentingan piano mengalun dan suara khas Titi Dj menyanyikan Bahasa Kalbu. Terdengar salah satu liriknya…dirimu yang selalu bertakhta di benakku. Sungguh lirik pada larik yang membingungkan)

at Cilebut, Bogor
21.2.16/10.09 pm

-Ilustrasi from thecollegecrush.com

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Puisi

Gawai


Kadang kita sama gilanya
Mengkhayal begitu banyak bahagia
Tentang sebuah ciuman yang lembut
Meski hanya sejumput

Kadang kita sama sakitnya
Memaksa menghadirkan bahagia
Yang menggebu-gebu
Dan berakhir ragu

Kadang kita benar-benar bahagia
Sebuah simbol datang menyapa
Siapa yang tak senang dicium kekasih tercinta?

Kadang kita benar-benar tersiksa
Kepada jarak dan sentuhan yang jauh menganga
Adakah yang bisa disalahkan selain gawai-gawai pujaan kita?

Ah, gawai bukanlah manusia
Tak punya hati apalagi rasa
Dia mengantarkan kita pada bahagia sesaat
Juga menjemput kita pada kegelisahan yang sesat

(Sembari menikmati musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono)
at Cilebut, Bogor
21.2.16/8.45 pm

-Ilustrasi from www.quickquid.co.uk 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Ini Dia Wilayah yang Akan Dibangun 60 SPBG PGN

Kebutuhan gas alam di berbagai sektor seperti rumah tangga, industri, perusahaan besar, hingga transportasi semakin bertambah banyak. Hal ini membuat PGN sebagai perusahaan penyedia gas dari hulu ke hilir terus meningkatkan servisnya. Salah satunya pembangunan 60 SPBG yang mulai digarap tahun ini.

PGN pun akan mendirikan 60 SPBG-nya di tujuh provinsi, seperti  Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Batam, Lampung, Riau, hingga Sumatera Utara. Puluhan SPBG itu akan diselesaikan hingga tiga tahun ke depan.

Hendi Prio Santoso mengatakan, saat ini PGN telah mengoperasikan 5 unit SPBG dan menyalurkan gas bumi ke 14 SPBG mitra. Tak hanya itu, PGN juga menyalurkan gas bumi untuk sektor transportasi dengan menggunakan Mobile Refueling Unit (MRU) di beberapa lokasi seperti di IRTI Monas, Waduk Pluit, Grogol, dan Gresik.

"Saat ini gas bumi PGN sudah memasok bahan bakar untuk bus, bajaj, taksi, hingga kendaraan pribadi," ujarnya.

Proyek pembangunan SPBG ini tentu merupakan lanjutan dan keseriusan PGN sebagai agregat gas di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gas alam masyarakat dan industri sebagai bentuk nyata diversifikasi BBM ke BBG.

Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Tujuh Tahun Gunakan Gas PGN, Pengusaha Kuliner ini Hemat Pengeluaran Hingga Rp 350 Juta

Banyak manfaat yang sudah dirasakan oleh berbagai kalangan pengguna gas alam PGN atau Perusahaan Gas Negara sebagai energi baik. Salah satunya pengusahan kuliner bernama Taviv Rahmadi yang mengaku hemat pengeluaran hingga Rp 350 juta.

Angka fanstastis itu diakui Taviv ketika ia memutuskan menghentikan penggunaan gas LPG 12 kg dan beralih menggunakan gas pipa dari PGN untuk bisnisnya di warung ayam penyet, Medan.

Taviv berkisah, selama ia menggunakan gas LPG 12 kg, ia menghabiskan sekitar 1,5 tabung. Pemakaian bertambah manakala ia berjualan di akhir pekan. “Bisa habis 2,5 tabung perhari,” katanya seperti disadur dari kompas.com.

"Harganya mencapai Rp 150.000 per tabung. Pemakaian kami per bulan bisa sampai 50 tabung. Kira-kira biaya yang dikeluarkan untuk LPG sebesar Rp 7 juta setiap bulan," kata Taviv, Kamis (18/2/2016).

Namun keuntungan banyak didapatnya setelah beralih menggunakan gas pipa. Pemakaian per bulan sekitar 1.000 meter kubik, dengan biaya yang dibayarkan hanya Rp 2,8 juta per bulan. Sehingga, dalam sebulan Taviv bisa menghemat Rp4,2 juta dari pemakain pipa gas PGN.  Alhasil, biaya energi khususnya gas untuk memasak bisa dihemat sekitar Rp 50,4 juta per tahun, atau sekira Rp 352,8 juta selama tujuh tahun.

Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Puisi

Petikan Gitar


Benda sakral itu
Kudengar ia mengalun dengan petikannya yang merdu
Di ujung jendela yang jauh
Siapa yang tak akan terrayu?

Benda sakral itu
Pastilah tuannya memiliki jari-jari tajam
Tak penting seberapa perih jarinya memetik senar
Luka di masa lalu jauh lebih sakit dan kejam

Benda sakral itu
Kini membawanya pada kesuksesan
Kepada gemerlap bintang yang dulu diimpikan
Menguatkannya di antara hidup dan kepahitan

Ini bukan puisi
Bukan juga deretan larik penuh isi
Apalagi pilihan terbaik diksi
Ini hanya potongan peristiwa yang kuingat.

Andai bisa menolak lupa.

(Sesaat setelah mendengar lagu Untuk Dikenang Jikustik dan cover lagu Puisi Jikustik teman SMA di instagram)

at Gondangdia
18.2.16

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Thorium

Thorium di Indonesia Melimpah Jumlahnya!


Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Itulah sepenggal lagu Kolam Susu yang diciptakan Koes Plus. Lagu lawas ini sarat sekali makna. Sebab Indonesia memang tanah surga. Banyak kandungan berharga di Tanah Air yang tak dimiliki negara lain. Salah satunya Thorium (Th) yang bisa dimanfaatkan untuk energi terbarukan.

Belum lama ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengumumkan bahwa Indonesia memiliki kandungan Thorium yang sangat banyak. Bahkan, mereka mengklaimnya sangat melimpah. Benarkah?

Dilansir dari energitoday.com, Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnusubroto belum lama ini di Jakarta mengatakan Indonesia memiliki sekitar 210.000-280.000 ton Thorium yang masih tersimpan di dalam tanah. Jumlah ini sangatlah banyak dan sebenarnya menguntungkan Indonesia. Kenapa?

Karena Thorium merupakan material untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Selama ini, di Indonesia dan negara-negara lain yang mengembangkan PLTN, masih menggunakan Uranium sebagai bahan dasarnya. Hal ini dinilai banyak kalangan terlalu beresiko jika terjadi kecelakaan akibat alam atau human error seperti yang terjadi di beberapa negara karena ledakan nuklir ataupun Uranium.

Berikut beberapa keistimewaan Thorium:
1. Jumlah kandungan Thorium lebih banyak 3-4 kali jumlah Uranium di muka bumi.
2. Limbah radioaktif yang dihasilkan Thorium dianggap lebih sedikit dibanding Uranium.
3. Dalam pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir, kandungan Thorium lebih aman dan bersih      dibanding Uranium.
4. Thorium tidak bisa dijadikan bahan untuk membuat senjata layaknya Uranium.
5. Dan yang pasti, 90% potensi Thorium bisa digunakan untuk menghasilkan listrik


Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi

(Foto dari google)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Puisi

Kenapa Harus Madiun?


Berdiri di antara waktu yang terus berjalan tanpa ampun
bahkan barang sedetik pun.
Tapi, mengejar waktu rasanya tak mungkin
apalagi mencegatnya.
Satu-satunya cara adalah menunggu sampai waktu berlalu,
lagi-lagi tanpa ampun.

Sampai ketemu di 2019!
Itu pun kalau mungkin.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Thorium

Mampukah Indonesia Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium? (2)


Menyadari melimpahnya sumber daya alam Indonesia, termasuk sumber energi terbarukan, penelitian panjang harus terus dilakukan Indonesia untuk teknologi Thorium ini. Beberapa hal yang menjadikan Thorium masih terhambat untuk dikembangkan adalah masih belum banyaknya negara yang mengembangkan Thorium.

“Thorium itu tidak bisa langsung dipakai, harus diubah dulu jadi uranium dan prosesnya tidak mudah. Kalau dalam istilah teknis disebut bahan ‘fertil’ (membiak atau tidak bisa membelah diri) harus diubah dulu dengan direaksikan dengan neutron,” ujar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, seperti dilaporkan republika.co.id, Jumat (5/2).

Kendala lain adalah cadangan Thorium masih belum dapat dihitung menjadi energi listrik. Sulit untuk diukur berapa jika dikonversi menjadi listrik.

Saat ini belum ada yang menerapkan PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) secara full. 
Thorium tidak bisa berdiri sendiri tanpa uranium. Thorium membutuhkan uranium sebagai inisiator. 
Tapi saat ini masih diteliti oleh banyak negara.India menjadi salah satu negara yang saat ini cukup maju melakukan eksperimen Thorium. Tantangannya bagaimana membuatnya siap menjadi bahan bakar.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Thorium

Mampukah Indonesia Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium? (1)


Sumber energi terbarukan masih terus dicari dan dikembangkan pemerintah. Kabar baiknya, belum lama ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengumumkan Indonesia memiliki cadangan Thorium (Th) yang sangat melimpah. Tak tanggung-tanggung, mereka mengklaim ada sekitar 210.000-280.000 ton Thorium di Tanah Air. Jumlah ini mengejutkan karena 3 kali lebih besar dari potensi Uranium di Indonesia.

Banyak yang menyambut anugerah Thorium di Indonesia ini. Salah satu proyek masa depannya adalah Pembangunan Listrik Tenaga Thorium (PLTT) sebagai salah satu alternatif untuk menghasilkan listrik kita yang masih belum merata penyebarannya di berbagai daerah. Belum lagi, kebutuhan listrik di kota-kota besar seperti Jakarta juga tinggi. Sementara batubara yang selama ini menjadi primadona bukanlah energi terbarukan. Pasokan di alamnnya makin terkikis.

Pertanyaannya, mampukah Indonesia membangun PLTT?

"Secara teori mungkin saja, tapi implementasinya sulit, karena sampai saat ini belum ada satupun negara di dunia ini yang mengoperasikan PLTT," kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto, kepada detikFinance, Selasa (11/8/2015).

Djarot mengatakan, walaupun sebenarnya secara sumber daya, Indonesia banyak sekali memiliki cadangan Thorium. "Cadangan Thorium di Indonesia 4 kali lipat dari cadangan uranium, artinya secara sumber daya kita punya banyak," kata Djarot.

Sikap pesimistis Djarot di atas dapat dipahami sekaligus dimaklumi. Sebab, teknologi yang akan digunakan untuk mengolah Thorium menjadi energi listrik menggunakan teknologi yang sama dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Semantara kita tahu bahwa PLTN di Indonesia masih belum maju pengembangannya.  "Bangun PLTT itu harusnya kembangin dulu PLTN, karena pengembangan Thorium itu sebelumnya pengembangan dari uranium," ucapnya.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Mencintai Juga Deadline

[sedang terlibat percakapan tentang mencintai bagian dari deadline hidup]

tulisan lengkapnya menyusul. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

[Official Video] Jikustik - Akhiri Ini Dengan Indah

Aduh Maaaak liriknya...sulit dipahami dengan otak yang dingin.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life Opini Views

Penampilan Baru


Assalamualaikum!

Bagaimana pendapat kalian tentang tampilan baru blog ini? Hahaha. Itu pertanyaan norak sekali bukan? Untuk blog yang sepi pengunjung seperti ini tentu apapun yang berubah dari blog ini tak akan berpengaruh apa-apa. Tapi, saya cukup senang dengan penampilan blog baru ini. 

Mengapa?

Karena saya yang mengubah semuanya sendirian! Hehehe. Sudah sejak lama sebenarnya tertarik untuk mempelajari soal blog, seperti bagaimana menambahkan banyak followes, kebetulan nggak ada jasa beli followers untuk blog sih! Hahaha XO. Selain itu juga kepingin belajar untuk mempercantik tampilan blog sesuai karakter atau keinginan kita.

Di sekeliling saya sebenarnya banyak sekali orang yang ahli untuk hal ini sebagaimana mantan teman sekamar saya bertahun-tahun saat kost yang mahir gitar. Tapi, saya nggak dapat kesempatan untuk mencecap ilmu dan belajar dari mereka. Oke, barangkali memang saya yang terlalu enggan bertanya. 

Sebelum tampilan teranyar ini, blog sederhana nan alay ini pernah diganti dengan template khusus oleh teman sekampus. Dan cukup lama bertahan dengan template itu, karena nggak paham juga sih bagaimana mengutak-atiknya, juga karena blog ini juga hanya berisi sumpah serapah! Waktu kerja di majalah ekonomi beberapa tahun lalu, blog ini pernah diutak-atik oleh web designer di sana biar nggak bosen saja. Dan akhirnya, malam kemarin sampai dini hari mencoba mengingat kembali cara utak-atik html. 

Alhmdulillah blog ini berganti baju baru, meski lebaran masih lama.

Meski begitu, masih banyak yang harus diedit. Di sana-sini masih terasa kaku. Font-nya masih kasar. Banyak halaman kosong yang bisa diisi tapi belum paham bagaimana menghiasnya di inspect. Belum menarik tapi cukup membahagiakan dengan sentuhan pink-nya. Entah kenapa sejak tahun lalu saya menyukai warna merah muda ini. Melihatnya begitu manis, seperti hidup yang harus kita rasakan dengan manis meski pahit di sana-sini begitu pekat. Yang penting, jangan lupa bahagia!

Kritis
Maraknya artikel kritis dan satire macam mojok.co, mahasiswabicara.com, dan indoprogess.com membuat saya termotivasi untuk bisa menyamai mereka mahzab menulisnya. Tapi, dari dulu memang otak saya tumpul dalam menulis, terlebih saat ini salah satu rubrik di blog ini diisi oleh tulisan pesanan. Makin dungu saja. Meski saya menikmati sekali uang dari tulisan pesanan itu. Bukan pekerjaan haram toh menjadi copywriter? Itu halal dan sah-sah saja kok, apalagi di tengah status mahasiswa akhir yang setiap hari dipelototi orangtua.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Views

Agatha Christie dan Kemisteriusan Kasus Kopi Maut

Sedang mereview buku ini. Sudah panjang ulasannya. Eh, tiba-tiba layar hape bergerak keluar sendiri tanpa sempat disave tulisannya. Duh!

*tidur dengan perasaan jengkel.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Gelisah itu Datang Lagi...


Semakin hari semakin saya melihat kengerian dalam diri saya. Suatu sikap pesimistik yang ternyata lebih banyak menggelayuti pikiran saya. Bukan hanya takut melangkah, tapi mau melangkah saja saya tak tahu akan ke mana. Benar-benar mengerikan.

Kengerian itu tak hanya datang ketika dalam keadaan sunyi, tapi juga di antara kerumunan banyak orang. Mata saya bisa tiba-tiba basah ketika sedang berdiri di antara kelelahan orang pulang bekerja. Bukan karena saya tak dapat tempat duduk. Tapi karena membayangkan banyak hal yang juga harus saya selesaikan, tapi tak kunjung usai.

Ya, ada banyak hal.

Banyak hal yang terdengar seperti keluhan. Hanya bisa mengeluh tanpa mau berpeluh-peluh mewujudkan.

Saya sudah berusaha sekuat tenaga.

Hanya saya juga tak mengerti kenapa gerbang itu tak terbuka juga. Dan hanya rasa iri yang kelihatan di balik gerbang besar itu.

Saya telah kehilangan semangat untuk bergerak dan optimis sebagaimana dulu selalu antusias menyambut koran baru yang dibeli Bapak di kereta.

Ah, ke mana itu, waktu yang berisi banyak keyakinan untuk bisa menggapai bintang?

Semakin saya berumur, semakin banyak rasa pemakluman yang timbul. Bukan pemakluman seperti toleransi beragama atau bersuku, tapi pemakluman atas ketidaksungguh-sungguhan saya.

Duh Gusti beri petunjuk. Saya ingin menangis detik ini juga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life yang berjarak

Kebetulan atau Musabab?

Benarkah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tak ada yang kebetulan? Termasuk ketika kita memikirkan seseorang, secara bersamaan, orang itu mengabari kita melalui nomornya yang muncul di layar hp dan kita menyambut dengan antusias suaranya...yang barangkali juga telah kita rindukan?

Ataukah hal-hal seperti itu sebenarnya hanya kebetulan belaka dan tak bermusabab? Jujur, saya takut baper dan dibisiki Joker, “why so serious, Ema?”.

Susahnya jadi perempuan yang digantung. 
Atau saya yang bodoh mau digantung?

"Bukan digantung. Tapi memiliki dan menyimpan harapan itu," kata otak saya sebelah kanan. 

"Haha.. harapan apa yang begitu lamanya tak terwujud?" ejek otak bagian kiri sambil memandang remeh.

(Tiba-tiba terdengar gesekan pedang. Joker dan Angel beradu kekuatan di udara bebas)

Lagi-lagi tak kelihatan. Hanya kedengaran. 

Atau kebetulan kedengaran? 

Hah?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan #SpbgPGN Gas Alam Gas Bumi Perusahaan Gas Negara

Kawasan Ancol Jadi Lokasi Uji Coba SPBG PGN

Kawasan Ancol, Jakarta Utara menjadi lokasi uji coba Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang dibangun Gagas Energi Indonesia, salah satu anak perusahaan PGN. PGN Gagas menggaet Jakarta Propertindo (Jakpro) dalam uji coba ini.

SPBG PGN ini diproyeksikan memasok BBG ke 88 Unit Bus TransJakarta koridor Ancol-Kampung Melayu. Tak hanya SPBG, Mobile Refueling Unit (MRU) online pun dibangun di PGN Gagas dan Jakpro di kawasan Harmoni dan Pluit, Jakarta.

Pembangun SPBG ini diakui oleh Direktur Utama PGN Gagas Danny Praditya, merupakan pengembangan dari infrastuktur gas bumi yang selama ini banyak dikelola PGN sebagai agregator gas Indonesia.

Danny menambahkan, pada tahun ini PGN menargetkan pembangunan SPBG sebanyak 12 unit yang tersebar di beberapa wilayah. "Pada kuartal I-2016 kita juga berencana untuk meresmikan sekaligus mengoperasikan beberapa SPBG lagi yang ada di Batam, Purwakarta, Sukabumi, Klender, dan Lampung," ujar Danny.

Sebelumnya, PGN juga mengumumkan tahun ini hingga 2019 akan membangun 60 SPBG yang tersebar di beberapa wilayah di tujuh provinsi di Indonesia, antara lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Batam, Lampung, Riau, hingga Sumatera Utara.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SpbgPGN Gas Alam Perusahaan Gas Negara

PGN akan Bangun 60 SPBG di Jakarta hingga Sumatera!


Perusahaan Gas Negara berencana membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Tak tanggung-tanggung, 60 SPBG PGN akan dikebut pembangunannya selama tiga tahun atau hingga 2019 mendatang.

Hendi Prio Santoso mengatakan, beberapa wilayah yang akan dibangun SPBG antara lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Batam, Lampung, Riau, hingga Sumatera Utara. Proyek tiga tahunan ini merupakan komitmen PGN dalam menambah dan mengembangkan infrastuktur gas buminya di Indonesia.

SPBG Terdahulu
Sebelumnya, SPBG PGN yang pertama telah beroperasi di Surabaya pada Maret 2015. Pembangunan SPBG ini bersamaan dengan mobile refueling unit (MRU) di Jalan Ratna, Ngagel, Surabaya. SPBG Ngagel berkapasitas 0,5-1 juta kaki kubik standar per hari ( MMSCFD) atau 15-30 ribu liter setara premium (lsp) per hari. Harga gas per lsp dibanderol Rp 4.500.

Selain itu, PGN juga sudah membangun lima SPBG, masing-masing di Pondok Ungu, Bekasi, Ketapang, Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Cilegon. Adapun MRU PGN ada di IRTI Monas, Waduk Pluit, dan Cengkareng.

Tulisan ini didekasikan untuk situs Si Nergi



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan Perkumpulan Penggunaan Listrik Surya Atap (PPLSA)

Apa sih Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap itu?

Suatu perkumpulan lazimnya terbentuk karena di dalamnya terdapat beberapa kesamaan prinsip. Hal ini juga yang dilakukan oleh suatu perkumpulan yang peduli dengan pemanfaatan energi terbarukan. Namanya Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA).

Sebenarnya seperti apa sih kegiatan atau fokus utama dari PPLSA?

Menurut Nur Pamudji, perkumpulan ini pertama kali dibentuk sekitar Oktober 2015 lalu. Ia dan beberapa orang teman memulai ide tersebut dengan harapan bisa berkontribusi pada pembangunan negara, dalam hal ini penyediaan listrik.

"Waktu itu saya dan beberapa teman ngobrol lalu bentuk grup whatsapp, apa yang bisa kita lakukan nih. Kemudian ada ide untuk pasang panel surya. Ternyata Pak Bambang (Bambang Sumaryo) yang sekarang jadi ketua perkumpulan, sudah pakai panel surya sejak satu tahun terakhir," tutur dia yang dikutip dari detik.com.

Perkumpulan ini memasang Listrik Surya Atap atau listrik tenaga matahari dengan panel yang ditempatkan di atap rumah mereka masing-masing. "Pemakaian listrik surya atap ini menjadi bagian dari dukungan usaha mencapai kemandirian energi listrik," lanjur Nur Pamudji.

Berangkat dari sinilah, perkumpulan ini kian serius menjalankan usahanya yang pada akhirnya mendapat dukungan dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) dan kemudia diresmikan pada 31 Januari 2016 kemarin oleh Menteri ESDM Sudirman Said.

PPLSA menjadi salah satu bentuk nyata warga sipil dalam mendukung gerakan energi terbarukan yang (tengah) massif dilakukan pemerintah. Semoga dengan ini, lebih banyak lagi gerakan masyarakat yang peduli akan energi terbarukan karena banyak keuntungan yang bisa didapat dari pemasangan panel surya pada atap rumah.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan Perkumpulan Penggunaan Listrik Surya Atap (PPLSA)

Listrik Surya Atap, Cara Pemerintah Seriuskan Energi Terbarukan

Upaya pemerintah untuk mengkampanyekan energi terbarukan terus berjalan. Yang teranyar adalah menggiatkan gerakan penggunaan listrik surya atap pada rumah tangga.

Dalam acara Peresmian Penggunaan Listrik Surya Atap, Minggu (31/1/16), Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan bergeser dari energi fosil ke energi terbarukan itu tidak cukup dengan pendekatan birokratis.  

“Tidak cukup dengan suatu program. Kita harus memiliki satu gerakan,” katanya.

Kata menteri yang pernah diberitakan ramai soal pelaporannya tentang rekaman percakapan “Papa Minta Saham” ini mengatakan saat ini kesadaran masyarakat akan energi terbarukan mulai tumbuh, akan tetapi ia menyayangkan sebab di sisi lain Indonesia tengah kebanjiran pasokan minyak mentah.

“Ini suatu paradoks yang harus kita pikirkan bersama. Jika tidak hati-hati, kita bisa terperangkap untuk mundur lagi ke belakang, di mana mendorong energi terbarukan dianggap kurang ekonomis,” ujar Sudirman.

Maka, dengan adanya Perkumpulan Penggunaan Listrik Surya Atap (PPLSA) sebagai komunitas yang peduli pada program energi terbarukan pemerintah dinilai menjadi booster dalam revolusi energi terbarukan Indonesia.

Sudirman pun optimis komunitas seperti PPLSA ini akan lebih banyak lagi dan bersama-sama berjuang untuk menggalakan konversi energi fossil ke energi terbarukan.

“Kita harus tetap konsisten dengan mendorong energi baru dan terbarukan. Mudah-mudahan kita bisa menjaga bersama, bisa melanjutkan apa yang telah kita cita-citakan. Apabila kita berpikir PLN harus punya instrumen untuk melistriki negara ini, maka kegiatan seperti ini akan menjadi faktor yang kita perjuangkan bersama,” tegas Sudirman.


Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ISPRIMA 2016 LPM Institut Ulasan Views

LPM INSTITUT UIN Jakarta Dapat Penghargaan ISPRIMA 2016!

[update] Barusan dapat info ini di grup whatsapp KBI Bahagia. Tentu, karena kabar baik ini kami penghuni LPM Institut, baik senior, junior, dan alumni ikut senang dan bahagia! 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan Perusahaan Gas Negara

Antara Singkong, Bebek, dan Sisi Humanis PGN

Sejarah mencatat, Mesopotamia pernah menjadi suku pertama yang memperkenalkan sistem barter di era 6000 SM. Hal yang sama pun pernah ada di Indonesia di mana kegiatan tukar-menukar barang dilakukan tanpa menggunakan uang. Ternyata, di era MEA ini, masih ada lho daerah yang menggunakan sistem barter untuk membayar listrik. Nggak percaya?

Ada empat desa di Probolinggo yang membayar tagihan listrik hanya dengan singkong atau pisang, bebek, ayam dan hasil pertanian lainnya. Keempat desa itu adalah Desa Andung Biru, Desa Tiril, Desa Sumber Duren, dan Desa Roto. Kegiatan barter itu dilakukan oleh sekitar 600 kepala keluarga, sejak 2011 silam.

"Sekitar 1990, desa-desa di sini ketika malam hari gelap gulita, tak ada listrik. Saya bersama warga yang lain berinisiatif membangun PLTMH sendiri, tapi kapasitasnya masih sangat kecil, hanya 16 kW dan hanya mampu melistriki beberapa puluh rumah saja," ujar M. Rosid, warga Desa Andung Biru,.

Sisi humanis
Dalam UUPT Pasal 1 Angka 3 disebutkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

UUPT tentang CSR atau TJSL itu merupakan kewajiban. Meski begitu, ada banyak hal kemanusiaan yang bisa dilakukan di luar dari kewajiban CSR. Salah satunya yang dilakukan oleh Perusahaan Gas Negara (PGN).

Pada 2011, PGN bekerja sama dengan Universitas Brawijaya memberikan bantuan satu unit PLTMH kapasitas 40 kW. Dengan memanfaatkan aliran Sungai Pekalen, listrik yang dihasilkan mampu menerangi 600 rumah di 4 desa.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #SemangatTerbarukan Perusahaan Gas Negara

Tidak Disubsidi, Gas Bumi PGN Justru Bikin Pemerintah Hemat Rp 88 Triliun

Sejak lama pemerintah mensubsidi BBM untuk rakyat menengah ke bawah. Tapi kenyataan di lapangan, banyak mobil-mobil mewah yang menikmati BBM bersubsidi. Akibatnya, anggaran pemerintah untuk subsidi BBM membengkak dan dinilai banyak pihak tidak tepat sasaran.

Di antara perbedatan BBM bersubsidi hingga saat ini yang hanya melanggengkan berbagai kepentingan di dalamnya, di sudut tak jauh dari kita justru ada gas bumi yang sangat besar manfaatnya. Bahkan, gas bumi yang sedang dikelola Perusahaan Gas Negara ini tidak disubsidi oleh pemerintah.

Baru-baru ini, PGN sebagai agregator gas bumi Indonesia mengklaim telah memberikan keuntungan pada Indonesia dalam jumlah yang tak sedikit dan tak bisa diremehkan. PGN mengaku pasokan gas alamnya selama 2015 telah menghemat anggaran pemerintah hingga Rp 88 triliun.

"Dengan penyaluran gas sebanyak 1.5586 mmscfd ini, potensi penghematan dari pemanfaatan gas yang dikelola PGN bagi nasional di 2015 sebesar Rp 88,03 triliun," ungkap Dirut PGN Hendi Prio Santoso.

Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan Pasaribu 'kaget' mengetahui besarnya potensi penghematan nasional bagi negara dari penggunaan gas bumi. Apalagi, produksi gas bumi Indonesia masih sangat besar, dan sebagian masih dijual ke luar negeri.

"Loh ini besar sekali angka penghematannya, kenapa ini kita tidak dorong. Bayangkan saja, tahun 2015 Indonesia bisa hemat Rp 88 triliun walaupun harga minyak sedang turun. Kalau harga minyak tinggi, saya yakin penghematannya bisa jauh lebih besar," kata Gus Irawan.

Apalagi, kata Gus Irawan, PGN sudah menyalurkan gas bumi yang harganya jauh lebih murah dibandingkan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bagi rumah tangga di Indonesia. Selain itu, penggunaan gas bumi tanpa subsidi, artinya tidak membebani negara.


Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik #energiterbarukan Perusahaan Gas Negara PGN

Gas Bumi PGN Untungkan Pemerintah Hingga Rp 88 Triliun

Penyaluran gas bumi PGN di berbagai wilayah di Indonesia sudah mulai dirasakan banyak manfaatnya. Tidak hanya mendatangkan kemudahan bagi rakyat karena persediaannya yang masih banyak, penyaluran gas bumi PGN juga mampu menghemat anggaran pemerintah hingga Rp 88 triliun.

Klaim itu dikatakan oleh Dirut PGN Hendi Prio Santoso.  "Dengan penyaluran gas sebanyak 1.5586 mmscfd ini, potensi penghematan dari pemanfaatan gas yang dikelola PGN bagi nasional di 2015 sebesar Rp 88,03 triliun," ungkap Hendi.

Angka itu dipertanyakan banyak pihak. Salah satunya, Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan Pasaribu. Ia kaget melihat banyak sekali keuntungan yang didapat pemerintah dari penyaluran gas bumi PGN untuk komersil.

"Loh ini besar sekali angka penghematannya, kenapa ini kita tidak dorong. Bayangkan saja, tahun 2015 Indonesia bisa hemat Rp 88 triliun walaupun harga minyak sedang turun. Kalau harga minyak tinggi, saya yakin penghematannya bisa jauh lebih besar," kata Gus Irawan.

Hingga 2015 kemarin, PGN sudah membangun jaringan pipa sepanjang 6.971 km atau sekitar 76% jaringan pipa gas hilir di Indonesia.

Tulisan ini atas didedikasikan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments