In #EnergiBaik #energiterbarukan #SemangatTerbarukan Perusahaan Gas Negara

Antara Singkong, Bebek, dan Sisi Humanis PGN

Sejarah mencatat, Mesopotamia pernah menjadi suku pertama yang memperkenalkan sistem barter di era 6000 SM. Hal yang sama pun pernah ada di Indonesia di mana kegiatan tukar-menukar barang dilakukan tanpa menggunakan uang. Ternyata, di era MEA ini, masih ada lho daerah yang menggunakan sistem barter untuk membayar listrik. Nggak percaya?

Ada empat desa di Probolinggo yang membayar tagihan listrik hanya dengan singkong atau pisang, bebek, ayam dan hasil pertanian lainnya. Keempat desa itu adalah Desa Andung Biru, Desa Tiril, Desa Sumber Duren, dan Desa Roto. Kegiatan barter itu dilakukan oleh sekitar 600 kepala keluarga, sejak 2011 silam.

"Sekitar 1990, desa-desa di sini ketika malam hari gelap gulita, tak ada listrik. Saya bersama warga yang lain berinisiatif membangun PLTMH sendiri, tapi kapasitasnya masih sangat kecil, hanya 16 kW dan hanya mampu melistriki beberapa puluh rumah saja," ujar M. Rosid, warga Desa Andung Biru,.

Sisi humanis
Dalam UUPT Pasal 1 Angka 3 disebutkan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

UUPT tentang CSR atau TJSL itu merupakan kewajiban. Meski begitu, ada banyak hal kemanusiaan yang bisa dilakukan di luar dari kewajiban CSR. Salah satunya yang dilakukan oleh Perusahaan Gas Negara (PGN).

Pada 2011, PGN bekerja sama dengan Universitas Brawijaya memberikan bantuan satu unit PLTMH kapasitas 40 kW. Dengan memanfaatkan aliran Sungai Pekalen, listrik yang dihasilkan mampu menerangi 600 rumah di 4 desa.

"Alhamdulillah, malam hari desa-desa di sini jadi terang, anak-anak bisa belajar, keluarga bisa nonton televisi setiap hari," kata Rosid.
Sementara itu, Kepala Komunikasi Korporat PGN, Irwan Andri Atmanto mengatakan, bantuan yang diberikan PGN merupakan upaya dalam membantu pemerintah dalam membantu pasokan listrik di daerah terpencil.

"Kami senang bisa membantu masyarakat di empat desa di Probolinggo, sehingga mereka bisa bersama-sama dengan PGN bisa memanfaatkan sumber daya alam di sana untuk menjadi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat, untuk keperluan sehari-hari, maupun meningkatkan perekonomiannya dengan membuka usaha kripik, kue, hingga pengeringan kopi," kata Irwan.

Adalah kewajiban Perseroan Terbatas dalam melakukan Corporate Social Responsibility kepada lingkungan di sekitar perusahaannya beroperasi. Bentuk CSR tiap perusahaan pun berbeda-beda. Di luar dari kewajiban CSR yang diatur dalam UUPT Pasal 1 Angka 3, PGN memiliki sisi humanis dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia.

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment