In #EnergiBaik Perusahaan Gas Negara Proyek Listrik 35.000 MegaWatt

FSRU Lampung Siap Pasok Kebutuhan Listrik 35.000 MW

Ilustrasi by Mujahid Alawy
FSRU Lampung dikabarkan siap memasok kebutuhan listrik untuk proyek pengadaan listrik 35.000 mega watt (MW) yang dicanangkan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sejak 2014 lalu. Saat ini, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang mengelola FSRU Lampung tengah menyiapkan berbagai infrastruktur gas bumi yakni fasilitas di lokasi terminal terapung itu.

Kesediaan FSRU Lampung ini nantinya akan menjadi andalan untuk memasok kebutuhan listrik 35.000 MW, terutama di wilayah Jawa bagian Barat dan Sumatera Bagian Selatan seperti yang digagas Presiden Jokowi.

Salah satu poin FSRU Lampung siap memasok proyek ini karena terminal apung di lepas pantai yang berjarak sekitar 21 km dari LabuhanMaringgai, Lampung ini memiliki fasilitas regasifikasi atau teknologi untuk mengubah gas alam cair (LNG) menjadi bentuk gas.

Selain itu, berdasarkan data Kementrian ESDM, dalam proyek listrik 35.000 MW, sekitar 13.432 MW pembangkitlistriknya akan menggunakan bahan bakar gas. Total gas yang diperlukan sekitar 1.009 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di proyek listrik 35.000 MW antara lain adalah PLTGU Jawa 1 1.600 MW, PLTGU Jawa-Bali 3 Peaker 500 MW, PLTGU Muara Karang (peaker) 500 MW, PLTGU Jawa 2 (Tanjung Priok) 800 MW, PLTMG Belitung V 30 MW, PLTMG Bangka Peaker 100 MW, PLTMG Tanjung Pinang II 30 MW, PLTMG Bengkalis 18 MW, PLMG MPP Kaltim 30 MW, PLTGU Sulsel Peaker 450 MW dan banyak lagi lainnya.

Sebagai informasi, seperti dikutip laman resmi PLN, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6-7 persen setahun, penambahan kapasitas listrik di dalam negeri membutuhkan sedikitnya 7.000 megawatt (MW) per tahun. Artinya, dalam lima tahun ke depan, penambahan kapasitas sebesar 35.000 MW menjadi suatu keharusan. Kebutuhan sebesar 35 ribu MW tersebut telah dikukuhkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Komitmen pemerintah kembali ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo saat memberi pengarahan kepada Direksi dan jajaran PLN beberapa waktu lalu. Presiden menegaskan bahwa “Target 35 ribu MW bukan target main-main, itu realistis. Jadi harus dicapai dengan kerja keras,” tandas Joko Widodo. “Listrik yang cukup, adalah kunci bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.



Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik FSRU Lampung Perusahaan Gas Negara

Tahun ini, FSRU Lampung milik PGN Salurkan 1,1 Juta Meter Kubik LGN

Ilustrasi FSRU Lampung by Mujahid Alawy
Apa kabar Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Lampung milik PT Perusahaan Gas Negara?

April tahun ini, terminal terapung yang dikelola PT PGN LNG Indonesia, anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) telah menerima delapan kargo gas alam cair atau LNG atau sekitar 1,1 juta meter kubik. Gas alam cair itu akan diubah menjadi gas di atas terminal yang terletak di lepas pantai Lampung, berjarak sekitar 21 km dari Labuhan Maringgai, Lampung.

Gas alam cair yang dikirim dari Kilang LNG Tangguh Papua itu akan diterima secara oleh FSRU Lampung hingga akhir tahun ini. Setibanya LNG akan diregasifikasi atau diubah menjadi gas sebelum disalurkan ke jaringan pipa gas alam bawah laut milik PGN.

"Dari awal April hingga akhir tahun, FSRU Lampung menerima dan menyalurkan 8 kargo atau setara 1,1 juta meter kubik LNG," kata Sekretaris Perusahaan PGN, Heri Yusup, di Jakarta, Kamis (24/3/2016). Masih menurut Heri, regasifikasi dilakukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gas bumi bagi pelanggan PGN di Jawa Bagian Barat dan Sumatera Bagian Selatan.

Dari FSRU Lampung, gas tersebut mengalir melalui pipa bawah laut menuju ke stasiun penerima di Labuhan Maringgai yang terhubung dengan pipa South Sumatera West Java (SSWJ), sehingga gas tersebut dapat didistribusikan ke pelanggan PGN di Jawa Bagian Barat dan Sumatera Bagian Selatan.

Urgensi FSRU Lampung ini memang krusial sebab produksi minyak dan gas bumi di Indonesia khususnya bagian Barat saat ini cenderung menepis karena sifat mereka sebagai energi tak terbarukan.

Sebagai informasi, FSRU adalah sebuah terminal terapung yang di dalamnya dilengkapi dengan fasilitas untuk menampung LNG dan fasilitas untuk mengubah LNG menjadi gas (regasifikasi). FSRU Lampung memiliki kapasitas penampung LNG 170.000 m3 dan kemampuan regasifikasi 240 MMSCFD (juta kaki kubik per hari).



Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Kembali Bergabung

Beberapa minggu lalu saya meminta junior kampus yang sedang tugas di Metro TV News buat masukin saya ke grup anak-anak wartawan. Jadilah hp saya jadi lebih sibuk dari biasanya. Grup yang dinamai “Floating Journalist”menjadi yang teratas dalam jumlah chat yang masuk di Whatsapp.

Tak sehari pun grup beranggotakan 80 orang itu sepi, bahkan ketika tengah malam. Jam 9 malam saja masih lempar agenda dan saling tanya posisi di mana, ada yang ke Mabes nggak malam ini, Ignasius Jonan mau kasih konpers di kantornya, dan bla.. bla.. seperti tak kenal ampun, tapi sangat dinamis.

Saya menyimak semua chat yang masuk, sesekali saya ikut becanda dan menyapa mereka meski saya tidak pernah memperkenalkan diri dari media mana karena memang bukan wartawan hahaha. Syukurlah, ada juga sesekali yang merespon canda saya dalam grup itu.

Kenyataanya saya memang sangat rindu dengan dunia warta. Setidak-tidaknya, saya kangen bertemu orang baru setiap harinya. Berkenalan dengan berbagai banyak karakter manusia, mengejar waktu dan narsum, dan menulis kayak orang kesetanan.

Tapi di benak yang lain, hati saya bertanya, “mungkinkah dunia jurnalistik dan menjadi wartawan adalah yang kamu impikan? Yang kamu inginkan?”

Pertanyaan itu benar-benar tak bisa saya jawab hingga saat ini. Benar, kalau saya sangat menikmati dunia warta, benar kalau saya merindukan lagi masa-masa itu, tapi apakah itu yang menjadi pilihanmu di masa depan?

Pikiran saya ini ruwet. Di otak saya banyak sekali benang kusut. Saya ingin tetap berdiri di dunia tulis-menulis, tapi saya tak kunjung merasa istimewa di dunia ini. Saya selalu berpikir saya tak pernah hebat dalam menulis, tak ada satu artikel pun yang bisa saya banggakan dan bisa menginspirasi. Saya, pikir saya, “hanya mengikuti apa yang orang lain lakukan. Gumoh sekali rasanya”.

Dan menjelang usia 23 tahun ini, saya masih tersesat di antara kabut tebal yang menutupi puncak kebebasan. Saya masih kalah.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas (3)

Kemandirian PGN
Di antara “kemanjaan” Pertamina, ada sebuah perusahaan plat merah yang mandiri dalam menjalankan programnya. Adalah PT Perusahaan Gas Negara yang dipimpin oleh Hendi Prio Santoso yang mendirikan jaringan pipa gasnya tanpa subsidi dan tanpa menyentuh APBN.

Dikutip detik.com, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mulai tahun ini hingga 2019 menargetkan menambah 110.000 sambungan gas bumi untuk rumah tangga di berbagai daerah. Pembangunan infrastruktur gas bumi tersebut murni dibiayai dana perusahaan tanpa mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

"Kami akan menambah 110.000 sambungan gas rumah tangga pada 2016-2019. Semuanya dibangun dengan dana sendiri, tanpa mengandalkan APBN," kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, di Jakarta, Rabu (16/3/2016).

Hendi mengatakan, dengan tambahan 110.000 sambungan gas bumi rumah tangga ini, akan menambah jumlah pelanggan PGN di segmen rumah tangga yang saat ini lebih dari 107.000 sambungan rumah. Sehingga total pelanggan rumah tangga PGN menjadi sebanyak 217.000 rumah, yang dibangun dengan biaya PGN sendiri.

"Ini merupakan bentuk komitmen kami untuk menyebarluaskan manfaat energi baik gas bumi yang efisien, bersih dan ramah lingkungan," ujar Hendi.

Dalam eksistensinya, PGN menjadi satu-satunya BUMN yang menyalurkan gas bumi ke berbagai segmen atau sektor paling lengkap. Yang terbanyak adalah sektor rumah tangga yang menjadi prioritas PGN beberapa tahun ini.

Saat ini, sudah ada 107.000 sambungan rumah yang sudah menikmati jaringan pipa gas alam PGN. Sehingga total pelanggan rumah tangga PGN menjadi sebanyak 217.000 yang dibangun dengan biaya PGN sendiri. Selain rumah tangga, PGN juga menyalurkan gas bumi ke industri besar dan pembangkit listrik yang saat ini jumlahnya mencapai 1.529 pelanggan.

"PGN juga menyalurkan gas bumi ke usaha kecil menengah atau UKM dan komersial seperti hotel, rumah sakit hingga mal yang jumlahnya saat ini lebih dari 1.850 pelanggan," ungkap Hendi.
Hendi menambahkan, selain menambah jaringan rumah tangga, PGN juga akan menambah panjang pipa gas bumi mulai 2016-2019 sepanjang lebih dari 1.680 kilometer (km). Saat ini, panjang pipa PGN lebih dari 6.980 km, jumlah ini setara dengan 76% pipa gas bumi hilir di Indonesia.

Dengan keputusan PGN yang membangun infrastuktur jaringan pipa gasnya tanpa biaya APBN menunjukan kemandirian yang patut diacungi jempol. Semoga bisa menjadi contoh bagi BUMN lainnya agar bisa lebih efisien dalam menggunakan anggaran untuk pembangunan infrastruktur. Langkah ini pun bisa menjadi solusi untuk meminimalisir “kutukan” Indonesia, negara berlimpah SDA tapi kesejahteraan rakyatnya rendah. Selain itu, penggunaan gas alam dalam kehidupan jauh lebih hemat dan ramah lingkungan di banding BBM.

Sumber:


Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas (2)

Lalu bagaimana implementasinya di lapangan?
Setidaknya ada tiga hal yang perlu dicermati dan kritisi. Pertama, menyoal penetapan harga pokok yang dilakukan pertamina. Sebagai perusahaan yang memegang kendali penuh dalam pengelolaan minyak dan gas bumi nasional di bawah Kementrian BUMN, Pertamina memiliki kebijakan dalam penetapan harga minyak.

Penetapan harga BBM Pertamina menggunakan referensi harga MOPS Singapura, di mana sesungguhnya komponen BBM Pertamina ada yang berasal dari dalam negeri dan impor, menunjukan bahwa penetapan harga BBM produksi domestik dilakukan atas mekanisme pasar (bukan refleksi keekoonomian biaya produksi BBM).

Atas kondisi ini ketika harga BBM MOPS naik mengikuti harga pasar, Pertamina menikmati keuntungan diatas biaya produksi (windfall profit) yang diperoleh dari subsidi APBN atau dalam konteks subsidi yang dihilangkah windfall profit Pertamina ini sesungguhnya dibayar oleh rakyat. Tentu penetapan harga pokok ini rawan sekali kecurangan karena sulit dievaluasi nilainya. Selain karena nilai MOPS sesuai spesifikasi RON Premium tidak publish secara umum, nilai yang digunakan juga tidak jelas, karena menggunakan data sesuai pembelian BBM oleh Pertamina.

Sebagai contoh ketidakjelasan penetapan harga pokok ini adalah berbedanya data yang diberikan Pertamina dan para pengamat. Sebagaimana dirilis dalam berita Pikiran Rakyat Online pada tanggal 26 Desember 2015, Pemerintah menyatakan Harga Pokok sebagaimana mengacu kepada harga MOPS rata-rata setidaknya 3 bulan terakhir adalah 56,40 dolar AS/barel sementara Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) mengeluarkan angka 54,60 dolar AS/barel. Perbedaan-perbedaan semacam ini sulit dan tidak pernah secara transparan dijelaskan ke publik.

Kedua, dasar penggunaan margin 20% untuk komponen alpha. Apa maksudnya? Nilai alpha pada hakikatnya adalah margin badan usaha, sebagai perbandingan nilai 20% ini adalah ilustrasi sebagaimana berikut: Konsumsi BBM dalam negeri mencapai kurang lebih 1,5 Juta barel per hari. Jika menggunakan asumsi harga pokok 50 dolar AS/barel maka nilai alpha 20% setara dengan pemasukan 15 Juta dolar AS per hari atau kurang lebih 200 Milyar per hari. Ini adalah sebuah margin yang fantastis atas kegiatan usaha yang memang sudah dimonopoli sesuai penugasan. Yang menjadi pertanyaan, margin sebesar ini atas dasar apa?

Kalau menggunakan model pengembalian investasi atas pembangunan infrastruktur penyimpanan dan distribusi maka seharusnya dapat dengan mudah dihitung. Yang jelas faktanya, margin inipun tidak secara signifikan mendorong peningkatan kualitas pengelolaan BBM dalam negeri oleh Pertamina. Fasilitas pengolaahan minyak (kilang) yang terakhir dibangun adalah kilang Balongan tahun 1995, sementara fasilitas distribusi SPBU lebih banyak dibangun oleh pihak swasta (SPBU milik Pertamina hanya 120 buah dari sekitar 5500 SPBU di Indonesia). Lalu margin sebesar tadi digunakan untuk apa? Dan yang lebih fundamental, bagaimana transparansi atas penetapan margin alpha sebesar 20% tersebut?

Ketiga, Dana Ketahanan Energi. Nah ini poin yang cukup mencekik leher raykat kecil baru-baru ini. Soal pungutan yang dilakukan Pertamina dari BBM yang kita beli selama ini.

Dalam komponen harga jual BBM saat ini terdapat Dana Ketahanan Energi yang dikelola oleh Badan Usaha dan dalam pengelolaan keuangannya terkonsolidasi dalam pengelolaan korporat Badan Usaha. Hal ini menimbulkan kerancuan tersendiri mengenai konsep Dana Ketahanan Energi yang sejatinya adalah hal yang positif namun pengelolaan tanpa konsep yang matang, apalagi dikelola oleh Badan Usaha, akan menimbulkan potensi penyelewengan atau pemanfaatan yang tidak optimal.

Di samping pengelolaan BBM subsidi, pengelolaan BBM non subsidi untuk sektor industri juga bisa dikatakan masih sangat jauh dari tranparansi. Di tengah-tengah teriakan industri akan beban kondisi perekonomian, nilai BBM industri oleh Pertamina masih menimbulkan sejumlah pertanyaan. Jika dilihat dari harga HSD Pertamina bulan maret tahun 2016 maka dapat dilihat bahwa kisaran harga HSD adalah sekitar 5,900 Rp/L. Nilai ini masih harus dikenakan pajak-pajak dan margin penyalur untuk menjadi harga distributor. Yang menjadi perhatian adalah darimana patokan penentuan harga dasar HSD Pertamina?

Jika coba dilakukan komparasi terhadap nilai MOPS maka komoditas yang spesifikasinya sesuai dengan HSD Pertamina adalah MOPS MGO (Marine Gas Oil). Harga MOPS MGO untuk periode Maret 2016 sendiri berada dalam kisaran 315 USD/MT atau setara dengan 3,500 Rp/L. Selisih angka yang sangat signifikan ini menimbulkan pertanyaan, apakah penyaluran BBM untuk industri yang notabene market share-nya dikuasai oleh Pertamina telah dimanfaatkan secara semena-mena untuk posisi tawar yang lebih baik?


Nah, jika sudah seperti di mana letak kedaulatan rakyat ditempatkan Pertamina sesuai amanat UUD Pasal 33? Semua analisa dan kebingungan publik hanya menjadi kegeraman yang sulit disalurkan. Jika sudah seperti ini, kita sebagai rakyat kecil bisa apa? Paling hanya misuh-misuh saja kan? (Selengkapnya baca Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas 3)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas

Dalam dunia perminyakan dan sumber daya alam lainnya, berkembang suatu fenomena yang sedikit banyak negara mengalaminya. Yaitu sebuah kutukan bagi negara-negara yang sumber daya alamnya melimpah justru menjadi deretan negara dengan garis kemiskinan yang tinggi dan rata-rata pendapatan per kapita rakyatnya rendah.

Kutukan ini tidak hanya terjadi di masa lalu tapi senantiasa terjadi hingga sekarang. Dewasa ini, negara-negara dengan limpahan sumber daya alam, terutama minyak dan batubara justru malah dilanda konflik sosial dan peperangan berkepanjangan. Dari data yang dilansir CIA World Factbook mengungkapkan ada 10 negara yang kaya minyak tapi justru miskin kehidupan negaranya. 7 dari 10 di antaranya adalah negara-negara di Timur Tengah yang kini mengalami banyak konflik peperangan.

Lalu bagaimana di Indonesia? Negeri dengan tongkat kering pun bisa berubah jadi tanaman usai ditancapkan di tanah saking kaya dan suburnya.

Berdasarkan data KemenESDM, cadangan minyak di Indonesia hanya tinggal 3,7 miliar barrel. "Negara kita dulu punya cadangan minyak yang terbukti ada hingga 27 miliar-an barrel, tapi itu sudah diproduksi sekitar 22,9 miliar barrel. Sisanya, tinggal 3,7 miliar barrel," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Biantoro saat memberi edukasi media bersama Total E&P Indonesie di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2015).

Dengan jumlah minyak yang sudah dieksplorasi, sebuah pertanyaan timbul? Apakah Indonesia juga mengalami kutukan seperti negara berlimpah minyak lainnya? Kegelisahan ini merujuk pada pertanyaan lain, apakah selama ini BBM yang menjadi komoditi nasional sudah menyejahterakan rakyat?

Mari kita cermati.
Peraturan tentang kekayaan minyak dan sumber daya alam minerba lainnya diatur dalam UUD 1945 Pasal 33, yang berbunyi: ayat (1) berbunyi; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat (2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat (3) menyebutkan; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam UUD itu pemerintah akhirnya menunjuk Pertamina dalam menjalankan amanah ini. Sumber daya yang melimpah ini pun nasibnya berada di perusahaan plat merah ini, termasuk ekslporasi, distribusi, dan segala kebijakan yang diambil untuk khalayak banyak.

Lalu bagaimana implementasinya di lapangan? (Selengkapnya baca Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas 2)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Politik Justru Menyatukan

Sejak orangtua, terutama bapak di rumah engap melihat anaknya belum kunjung wisuda, saya seperti maling ayam yang menghindari kejaran polisi. Saya selalu menghindari tatapan mata pria yang kini berusia 56 tahun itu. Saya juga menghindari obrolan serius kalau sedang di ruang tengah, memilih berdiam di kamar dan menulis hal-hal lain.

Tapi, saya bersyukur karena pagi ini saya masih diberi kesempatan untuk bisa ngobrol bareng dengan bliyo. Apalagi kalau bukan soal politik, demo angkutan umum, kecelakaan pesawat di Poso, kasus Zaskia Gotik, dan banyak lagi persoalan yang tengah ramai diberitakan media.

Ada yang lucu dari obrolan pagi ini saat kami menonton berita di TV One. Dengan semangat, bapak bilang Yusril pasti maju dan menang di kursi DKI 1. Saya dengan entengnya bilang, “Ahok yang menang”. Saya tak heran kalau bapak memilih Yusril ketimbang Ahok. Apalagi yang menjadi pertimbangannya kalau bukan soal agama. Dan saya memaklumi hal itu.

Pertaruhan pun tak terelakkan. Uang Rp100rb menjadi bahan pertaruhan kami siapa yang akan menang di 2017 nanti.

Sampai di titik ini, saya merasa perbedaan pendapat dan pandangan di dalam keluarga justru menjadi sebuah keharmonisan. Setidak-setidaknya, saya masih bisa ngobrol, debat, dan ketawa haha hihi dengan bliyo, sosok yang amat saya sayangi.

Di luar politik ini, banyak hal lain yang sering kami debatkan. Yang paling saya ingat pernah suatu malam saat kami duduk di teras rumah sambil melihat ke atas langit yang gelap tapi terang karena ada bulan dan bintang, saya berkeyakinan bahwa manusia pernah ke sana. Dengan bersikeras, bliyo mengatakan itu tidak mungkin karena bagaimana bisa.

Debat tetap diteruskan dan kami tetap beda pendapat sampai sekarang, meski saya maklum kenapa bliyo tak percaya manusia bisa menembus ke luar angkasa, karena mungkin referensi buku dan tontonan yang dia lihat tidak terupgrade. Tak apa, perdebatan di malam-malam seperti itu tetap mengasyikan dan layak untuk diingat, sebab, dia adalah bulan dan bintang yang menerangi hidup saya sampai saat ini, melebihi ribuan sinar terang yang ada di angkasa. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik Perusahaan Gas Negara

Kebutuhan Gas Rumah Tangga Tinggi, PGN Tambah 11.000 Jaringan Pipa Gas


Secara nasional, hingga saat ini pelanggan PGN terus bertambah. Untuk rumah tangga lebih dari 107.690 pelanggan. Mengingat tingginya konsumsi gas alam nasional, PT Perusahaan Gas Negara baru-baru ini mengumumkan pihaknya telah menambah 11.000 jaringan gas rumah tangga untuk cakupan nasional.

Daerah mana saja yang dilintasi jaringan pipa gas PGN?

Dikutip dari Tribun News, Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, mengungkapkan, infrastruktur gas bumi yang dibangun sepanjang tahun merupakan perluasan jaringan gas bumi di DKI Jakarta, Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, Bekasi, Cirebon, Semarang, Medan, Batam dan daerah lainnya.

“Pipa gas tersebut memang sengaja dibangun untuk mendukung penyaluran gas bumi ke rumah tangga. PGN memiliki program Sayang Ibu, program yang bertujuan memperbanyak rumah menggunakan energi baik gas bumi,” kata Hendi Prio Santoso, Senin (14/3/2016).

Ratusan ribu jaringan pipa gas PGN ini akan dirampung hingga 2019 mendatang dengan panjang perluasan mencapai lebih dari 500 kilometer. Jadi, makin banyak para rumah tangga menikmati pemanfaatan gas alam yang ramah lingkungan dan lebih hemat dibandingkan pengunaan gas tabung.

Hendi juga menjelaskan, dalam setahun terakhir perusahaan berlabel BUMN (Badan Usaha Milik Negara) tersebut telah membangun pipa gas sepanjang 825 kilometer.

Pipa gas yang dibangun ada yang pipa transmisi open access dan pipa distribusi gas bumi. Pada akhir 2014 total panjang pipa gas bumi PGN mencapai 6.161 km.

“Hingga saat ini pipa PGN bertambah menjadi 6.986 km. Pipa gas bumi PGN ini merepresentasikan 76 persen pipa gas bumi nasional. Ini merupakan wujud komitmen PGN untuk memperluas pemanfaatan produksi gas bumi nasional,” sambungnya.

Belum lama ini, PGN juga menanam jaringan pipa gas alamnya ke tanah Papua. Sebanyak 3.898 rumah warga Sorong, Papua yang tersebar di lima kelurahan kini dapat memasak menggunakan gas alam.



Tulisan ini disumbangsihkan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #EnergiBaik

Jaringan Pipa PGN Makin Banyak Dibangun

PT Perusahaan Gas Negara (PGN) baru-baru ini mengklaim dalam setahun terakhir telah membangun jaringan pipa gas buminya sepanjang 825 km. Wilayah yang dibangun pipa gas PGN antara lain, DKI Jakarta, Bekasi, Cirebon, Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Medan, Batam dan daerah lainnya sepanjang lebih dari 500 km. Pipa gas tersebut dibangun antara lain untuk mendukung penyaluran gas bumi untuk rumah tangga.

Pembangunan ini menambah daftar panjang pipa gas yang sudah dibangun selama beberapa tahun belakangan oleh PGN. Pada 2014 lalu, PGN total telah membangun pipa gas bumi hingga 6.161 km. Dengan penambahan 825 km tahun lalu, praktis saat ini seluruh jaringan pipa gas bumi PGN mencapai 6.986 km.

"PGN terus berkomitmen untuk menggenjot pembangunan infrastruktur pipa gas untuk memperluas pemanfaatan produksi gas bumi nasional," kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, Senin (14/3/2016). Panjangnya jaringan pipa gas bumi PGN ini menjadikan perusahaan BUMN yang dipimpin Hendi Prio Santoso ini menyokong 76% produksi pipa gas bumi nasional.

Hendi juga mengatakan, PGN jug memiliki Program Sayang Ibu yang bertujuan memperbanyak rumah menggunakan energi baik gas bumi. "Mulai tahun ini hingga 2019 mendatang, kami akan menambah 110.000 sambungan gas rumah tangga," ujar Hendi.

Selain sektor rumah tangga, PGN pun akan mendirikan 60 SPBG-nya di tujuh provinsi, seperti  Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Batam, Lampung, Riau, hingga Sumatera Utara. Puluhan SPBG itu akan diselesaikan hingga tiga tahun ke depan.

Sumber: http://finance.detik.com/read/2016/03/14/114024/3164074/1034/setahun-terakhir-pgn-bangun-pipa-gas-bumi-825-km

Tulisan ini didedikasikan untuk situs Si Nergi

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Karena Nikah adalah Keniscayaan


Masih dalam suasana pernikahan teman kantor (Kak Honey & Mas Jaka) tadi siang yang membahagiakan, seperti biasanya, gue selalu baper sesudah menghadiri acara sakral itu. Yang pertama dan utama dalam benak gue adalah memunculkan lagi pertanyaan yang sudah entah berapa kali gue lontarkan dalam kepala, “Kapan ya gue nikah? Dengan siapa? Kenapa ya dia melamar gue?”dan seretetan  pertanyaan serupa.

Di lain waktu, kadang gue juga nggak mikir hal-hal seperti pernikahan, apalagi perjodohan sih. Dunia gue disibukkan dengan kerja, kuliah, nulis, cari uang, dan tentunya beberapa kali menjadi kuli untuk hati gue sendiri (baca: me-move-on kan diri dari apa yang terjadi di masa lalu). Apalagi orang rumah juga nggak pernah ngebahas dalam-dalam banget soal beginian. Bagi mereka, yang gue tau, anak pertamannya ini nggak punya pacar (terbukti dari nggak pernah ada cowok yang datang ke rumah selain abang-abang JNE).

Lalu?

Nggak ada kata lalu sih. Pada dasarnya waktu akan menunjukkan siapa jodoh kita kan? Entah itu orang yang belum pernah kita kenal dan entah dari belahan bumi mana, atau dia adalah justru orang yang ada di sekeliling, teman, atau jangan-jangan mantan kita sendiri? I don’t know. Dan gue tidak menutup hati untuk semua itu.

Yang paling pasti, yang paling prinsipal dari semua kriteria calon suami idaman gue, harus sadar kewajibannya beribadah dan menghargai bahwa perempuan tidak melulu makhluk kedua (bukan menuntut kesetaraan gender berlebihan, tapi gue rasa laki-laki pun harus bisa melakukan banyak hal yang perempuan lakukan).

Lantas apa gue masih mencari pacar atau mencari calon suami?

Yang pasti, malam ini gue katakan di blog ini kalau gue mencari calon suami. Meski sepertinya mencari dan mempunyai pacaran sangat menggiurkan ya. Pasalnya, gue sangat miskin momen indah dalam pacaran, seperti jalan keluar, makan, nonton, dikasih surat cinta, foto berdua, dan segala hal kekinian yang kadang sangat bikin envy dan iri.

Aaaah, kadang kita dihinggapi seseorang ketika orang itu sedang susah dan kita mendapatinya saat ini banyak kebahagian. Masih tanda tanya tuh kenapa nasib selalu mendapatkan orang-orang seperti mereka? Tidak menyesal, malah usaha mereka untuk mewujudkan cita-cita masih gue ingat dan apresiasi sampai sekarang.

Ada lagi yang menggelisahkan?

Ada. Soal umur. Apakah menginjak 25 tahun itu umur yang menggelisahkan bagi perempuan untuk menemukan jodohnya? Gue nggak tahu pasti karena kebetulan usia gue baru akan memasuki 23 tahun bulan ini. Tapi, beberapa teman perempuan yang umurnya tahun ini menginjak 25-26 sangat galau. Yang terbaru adalah teman SD yang beberapa minggu belakangan ini sering pulang kerja bareng dari Stasiun Cikini.

Beberapa kali dia gagal menemukan kecocokan dari teman-temannya di Tinder. Nggak sesuai seleralah, terlalu beginilah, ada yang disuka banget tapi cowoknya nggak responsiflah, dan bla-bla. Setiap kali gue ketemuan di kereta, cerita blind datenya yang gue tunggu. Seru hehe meski kasian juga sih karena dia kebelet mau nikah sebab di umur yang 26 tahun ini, dia malah ditinggalin cowoknya yang nggak berpendirian itu.

Apakah gue juga akan begitu dua-tiga tahun lagi? Semoga tidak. Cukup skripsi saja yang kena deadline. Oh jodohku, datanglah sebelum aku menggilaaaaa (ini udah tanda-tanda gila).
Sebenarnya banyak yang mau ditulis lagi, tapi udah jam 4 pagi aja. Selamat tidur!

Bogor, 13/3/16

03:20 am

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Life

Orang-orang Kecil


Saya nggak tahu kenapa harus menulis dengan judul multitafsir ini. Tapi, apa yang bisa dilakukan orang-orang kecil ketika mereka terpaksa harus memutar otak setiap harinya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk biaya sekolah anaknya, bayar kontrakan rumah, atau bahkan untuk sekadar sesuap nasi yang susahnya minta ampun?

Suatu malam, sehabis keluar kantor, di belokkan jalan sebrang Jalan RP. Soeroso yang saban hari saya lewati, saya melihat ada seorang tukang sol sepatu yang duduk di bawah sinar lampu jalan. Awalnya saya kira dia hanya meneduh. Tapi malam itu tidak hujan sama sekali. Saya perhatikan lagi, ternyata tukang sol itu tengah memperbaiki sepatu. Entah itu sepatu pesanan orang, sepatu untuk dirinya bekerja, atau sepatu untuk anaknya besok sekolah yang tampilannya sudah jauh dari kata layak. Yang pasti malam itu dia cuma seorang diri di antara berbagai perangkat sol di sekelilingnya.

Di waktu lain, saat kereta yang saya tumpangi dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Manggarai berhenti tidak jauh dari Stasiun Sudirman menunggu antrian kereta di depannya, di balik kaca pintu kereta, saya melihat seorang bapak tua tengah mengayuh sepedanya. Ada wadah cukup besar, piring, sendok, garpu, dan berbagai macam bumbu di belakangnya.  "Ketoprak" begitu saya membaca tulisan di belakang gerobak bapak tua itu. Air mata tak bisa saya bendung meski sekuat tenaga untuk ditahan. Ketika momen mengharukan seperti ini terjadi, saya bersyukur menggunakan kacamata (dan masker) karena dengan begitu, tidak terlalu kentara kalau saya sedang menangis. Ah, cengeng bener memang.

Setiap Bapak Pasti yang Terbaik untuk Keluarganya
Kenapa saya bisa sangat tersentuh melihat dua lelaki di atas? Itu hanya sebagian yang saya ceritakan di sini. Di luar sana, banyak sekali para bapak atau ayah yang sangat keras bekerja untuk keluarga mereka. Mencari nafkah dengan keringat di mana-mana dan nafas yang tersengal-sengal. Tentu, dari banyak orang yang saya temui, adalah sosok ayah saya sendiri yang paling menyentuh.

Yaa, apa yang dia berikan pada kami sekeluarga (saya, Umi, Puput, dan Ojan) tentu tak ternilai harganya bahkan dengan gaji seumur hidup saya.

Dia sosok orang kecil juga. Meraih uang dari kerja kerasnya, dari otot-otot yang digerakkan, dari malam-malam yang begitu dingin dan jahat, dan siang yang panasnya menghitamkan kulitnya. Dia bukan orang berpengaruh di negeri ini, bahkan di tingkat lingkungan rumah. Tapi dia sosok paling berpengaruh dalam hidup saya. Betapa saya sangat mencintanya di antara sedikitnya kata-kata yang kami ungkapkan.

Ketika masih SMA, untuk pertama kalinya saya memimpikan beliau meninggal. Saya terbangun dengan mata yang sudah basah. Menangis dengan hebatnya. Malam itu saya benar-benar ketakutan ditinggal pergi olehnya. Terlebih ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga dan saya sebagai anak pertama.

Ketika kuliah hingga saat ini, beberapa kali saya memimpikan hal yang sama. Saya tak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Saya merasa sangat bersalah karena belum membuatnya bahagia melihat saya mengenakan toga.

(Foto from google)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Kupikir Aku Berhasil Melupakanmu



[...santai saja, ini cuma petikan lirik lagu band asal Jogja itu. Apa yang kau cari? Maaf, tidak ada tulisan panjang mendayu-dayu. Ini sudah 2016 tjoy.]

Btw, Leo cakep ya! Selamat menang ya om. Sampeyan tetap aktor hebat tanpa piala itu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments