In My Life

Karena Nikah adalah Keniscayaan


Masih dalam suasana pernikahan teman kantor (Kak Honey & Mas Jaka) tadi siang yang membahagiakan, seperti biasanya, gue selalu baper sesudah menghadiri acara sakral itu. Yang pertama dan utama dalam benak gue adalah memunculkan lagi pertanyaan yang sudah entah berapa kali gue lontarkan dalam kepala, “Kapan ya gue nikah? Dengan siapa? Kenapa ya dia melamar gue?”dan seretetan  pertanyaan serupa.

Di lain waktu, kadang gue juga nggak mikir hal-hal seperti pernikahan, apalagi perjodohan sih. Dunia gue disibukkan dengan kerja, kuliah, nulis, cari uang, dan tentunya beberapa kali menjadi kuli untuk hati gue sendiri (baca: me-move-on kan diri dari apa yang terjadi di masa lalu). Apalagi orang rumah juga nggak pernah ngebahas dalam-dalam banget soal beginian. Bagi mereka, yang gue tau, anak pertamannya ini nggak punya pacar (terbukti dari nggak pernah ada cowok yang datang ke rumah selain abang-abang JNE).

Lalu?

Nggak ada kata lalu sih. Pada dasarnya waktu akan menunjukkan siapa jodoh kita kan? Entah itu orang yang belum pernah kita kenal dan entah dari belahan bumi mana, atau dia adalah justru orang yang ada di sekeliling, teman, atau jangan-jangan mantan kita sendiri? I don’t know. Dan gue tidak menutup hati untuk semua itu.

Yang paling pasti, yang paling prinsipal dari semua kriteria calon suami idaman gue, harus sadar kewajibannya beribadah dan menghargai bahwa perempuan tidak melulu makhluk kedua (bukan menuntut kesetaraan gender berlebihan, tapi gue rasa laki-laki pun harus bisa melakukan banyak hal yang perempuan lakukan).

Lantas apa gue masih mencari pacar atau mencari calon suami?

Yang pasti, malam ini gue katakan di blog ini kalau gue mencari calon suami. Meski sepertinya mencari dan mempunyai pacaran sangat menggiurkan ya. Pasalnya, gue sangat miskin momen indah dalam pacaran, seperti jalan keluar, makan, nonton, dikasih surat cinta, foto berdua, dan segala hal kekinian yang kadang sangat bikin envy dan iri.

Aaaah, kadang kita dihinggapi seseorang ketika orang itu sedang susah dan kita mendapatinya saat ini banyak kebahagian. Masih tanda tanya tuh kenapa nasib selalu mendapatkan orang-orang seperti mereka? Tidak menyesal, malah usaha mereka untuk mewujudkan cita-cita masih gue ingat dan apresiasi sampai sekarang.

Ada lagi yang menggelisahkan?

Ada. Soal umur. Apakah menginjak 25 tahun itu umur yang menggelisahkan bagi perempuan untuk menemukan jodohnya? Gue nggak tahu pasti karena kebetulan usia gue baru akan memasuki 23 tahun bulan ini. Tapi, beberapa teman perempuan yang umurnya tahun ini menginjak 25-26 sangat galau. Yang terbaru adalah teman SD yang beberapa minggu belakangan ini sering pulang kerja bareng dari Stasiun Cikini.

Beberapa kali dia gagal menemukan kecocokan dari teman-temannya di Tinder. Nggak sesuai seleralah, terlalu beginilah, ada yang disuka banget tapi cowoknya nggak responsiflah, dan bla-bla. Setiap kali gue ketemuan di kereta, cerita blind datenya yang gue tunggu. Seru hehe meski kasian juga sih karena dia kebelet mau nikah sebab di umur yang 26 tahun ini, dia malah ditinggalin cowoknya yang nggak berpendirian itu.

Apakah gue juga akan begitu dua-tiga tahun lagi? Semoga tidak. Cukup skripsi saja yang kena deadline. Oh jodohku, datanglah sebelum aku menggilaaaaa (ini udah tanda-tanda gila).
Sebenarnya banyak yang mau ditulis lagi, tapi udah jam 4 pagi aja. Selamat tidur!

Bogor, 13/3/16

03:20 am

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment