In My Life

Kembali Bergabung

Beberapa minggu lalu saya meminta junior kampus yang sedang tugas di Metro TV News buat masukin saya ke grup anak-anak wartawan. Jadilah hp saya jadi lebih sibuk dari biasanya. Grup yang dinamai “Floating Journalist”menjadi yang teratas dalam jumlah chat yang masuk di Whatsapp.

Tak sehari pun grup beranggotakan 80 orang itu sepi, bahkan ketika tengah malam. Jam 9 malam saja masih lempar agenda dan saling tanya posisi di mana, ada yang ke Mabes nggak malam ini, Ignasius Jonan mau kasih konpers di kantornya, dan bla.. bla.. seperti tak kenal ampun, tapi sangat dinamis.

Saya menyimak semua chat yang masuk, sesekali saya ikut becanda dan menyapa mereka meski saya tidak pernah memperkenalkan diri dari media mana karena memang bukan wartawan hahaha. Syukurlah, ada juga sesekali yang merespon canda saya dalam grup itu.

Kenyataanya saya memang sangat rindu dengan dunia warta. Setidak-tidaknya, saya kangen bertemu orang baru setiap harinya. Berkenalan dengan berbagai banyak karakter manusia, mengejar waktu dan narsum, dan menulis kayak orang kesetanan.

Tapi di benak yang lain, hati saya bertanya, “mungkinkah dunia jurnalistik dan menjadi wartawan adalah yang kamu impikan? Yang kamu inginkan?”

Pertanyaan itu benar-benar tak bisa saya jawab hingga saat ini. Benar, kalau saya sangat menikmati dunia warta, benar kalau saya merindukan lagi masa-masa itu, tapi apakah itu yang menjadi pilihanmu di masa depan?

Pikiran saya ini ruwet. Di otak saya banyak sekali benang kusut. Saya ingin tetap berdiri di dunia tulis-menulis, tapi saya tak kunjung merasa istimewa di dunia ini. Saya selalu berpikir saya tak pernah hebat dalam menulis, tak ada satu artikel pun yang bisa saya banggakan dan bisa menginspirasi. Saya, pikir saya, “hanya mengikuti apa yang orang lain lakukan. Gumoh sekali rasanya”.

Dan menjelang usia 23 tahun ini, saya masih tersesat di antara kabut tebal yang menutupi puncak kebebasan. Saya masih kalah.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment