In #EnergiBaik

Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas

Dalam dunia perminyakan dan sumber daya alam lainnya, berkembang suatu fenomena yang sedikit banyak negara mengalaminya. Yaitu sebuah kutukan bagi negara-negara yang sumber daya alamnya melimpah justru menjadi deretan negara dengan garis kemiskinan yang tinggi dan rata-rata pendapatan per kapita rakyatnya rendah.

Kutukan ini tidak hanya terjadi di masa lalu tapi senantiasa terjadi hingga sekarang. Dewasa ini, negara-negara dengan limpahan sumber daya alam, terutama minyak dan batubara justru malah dilanda konflik sosial dan peperangan berkepanjangan. Dari data yang dilansir CIA World Factbook mengungkapkan ada 10 negara yang kaya minyak tapi justru miskin kehidupan negaranya. 7 dari 10 di antaranya adalah negara-negara di Timur Tengah yang kini mengalami banyak konflik peperangan.

Lalu bagaimana di Indonesia? Negeri dengan tongkat kering pun bisa berubah jadi tanaman usai ditancapkan di tanah saking kaya dan suburnya.

Berdasarkan data KemenESDM, cadangan minyak di Indonesia hanya tinggal 3,7 miliar barrel. "Negara kita dulu punya cadangan minyak yang terbukti ada hingga 27 miliar-an barrel, tapi itu sudah diproduksi sekitar 22,9 miliar barrel. Sisanya, tinggal 3,7 miliar barrel," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Biantoro saat memberi edukasi media bersama Total E&P Indonesie di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2015).

Dengan jumlah minyak yang sudah dieksplorasi, sebuah pertanyaan timbul? Apakah Indonesia juga mengalami kutukan seperti negara berlimpah minyak lainnya? Kegelisahan ini merujuk pada pertanyaan lain, apakah selama ini BBM yang menjadi komoditi nasional sudah menyejahterakan rakyat?

Mari kita cermati.
Peraturan tentang kekayaan minyak dan sumber daya alam minerba lainnya diatur dalam UUD 1945 Pasal 33, yang berbunyi: ayat (1) berbunyi; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat (2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat (3) menyebutkan; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam UUD itu pemerintah akhirnya menunjuk Pertamina dalam menjalankan amanah ini. Sumber daya yang melimpah ini pun nasibnya berada di perusahaan plat merah ini, termasuk ekslporasi, distribusi, dan segala kebijakan yang diambil untuk khalayak banyak.

Lalu bagaimana implementasinya di lapangan? (Selengkapnya baca Kutukan Negara Kaya Minyak dan Kemandirian PGN dalam Membangun Jaringan Pipa Gas 2)

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment