In My Life

Orang-orang Kecil


Saya nggak tahu kenapa harus menulis dengan judul multitafsir ini. Tapi, apa yang bisa dilakukan orang-orang kecil ketika mereka terpaksa harus memutar otak setiap harinya agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk biaya sekolah anaknya, bayar kontrakan rumah, atau bahkan untuk sekadar sesuap nasi yang susahnya minta ampun?

Suatu malam, sehabis keluar kantor, di belokkan jalan sebrang Jalan RP. Soeroso yang saban hari saya lewati, saya melihat ada seorang tukang sol sepatu yang duduk di bawah sinar lampu jalan. Awalnya saya kira dia hanya meneduh. Tapi malam itu tidak hujan sama sekali. Saya perhatikan lagi, ternyata tukang sol itu tengah memperbaiki sepatu. Entah itu sepatu pesanan orang, sepatu untuk dirinya bekerja, atau sepatu untuk anaknya besok sekolah yang tampilannya sudah jauh dari kata layak. Yang pasti malam itu dia cuma seorang diri di antara berbagai perangkat sol di sekelilingnya.

Di waktu lain, saat kereta yang saya tumpangi dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Manggarai berhenti tidak jauh dari Stasiun Sudirman menunggu antrian kereta di depannya, di balik kaca pintu kereta, saya melihat seorang bapak tua tengah mengayuh sepedanya. Ada wadah cukup besar, piring, sendok, garpu, dan berbagai macam bumbu di belakangnya.  "Ketoprak" begitu saya membaca tulisan di belakang gerobak bapak tua itu. Air mata tak bisa saya bendung meski sekuat tenaga untuk ditahan. Ketika momen mengharukan seperti ini terjadi, saya bersyukur menggunakan kacamata (dan masker) karena dengan begitu, tidak terlalu kentara kalau saya sedang menangis. Ah, cengeng bener memang.

Setiap Bapak Pasti yang Terbaik untuk Keluarganya
Kenapa saya bisa sangat tersentuh melihat dua lelaki di atas? Itu hanya sebagian yang saya ceritakan di sini. Di luar sana, banyak sekali para bapak atau ayah yang sangat keras bekerja untuk keluarga mereka. Mencari nafkah dengan keringat di mana-mana dan nafas yang tersengal-sengal. Tentu, dari banyak orang yang saya temui, adalah sosok ayah saya sendiri yang paling menyentuh.

Yaa, apa yang dia berikan pada kami sekeluarga (saya, Umi, Puput, dan Ojan) tentu tak ternilai harganya bahkan dengan gaji seumur hidup saya.

Dia sosok orang kecil juga. Meraih uang dari kerja kerasnya, dari otot-otot yang digerakkan, dari malam-malam yang begitu dingin dan jahat, dan siang yang panasnya menghitamkan kulitnya. Dia bukan orang berpengaruh di negeri ini, bahkan di tingkat lingkungan rumah. Tapi dia sosok paling berpengaruh dalam hidup saya. Betapa saya sangat mencintanya di antara sedikitnya kata-kata yang kami ungkapkan.

Ketika masih SMA, untuk pertama kalinya saya memimpikan beliau meninggal. Saya terbangun dengan mata yang sudah basah. Menangis dengan hebatnya. Malam itu saya benar-benar ketakutan ditinggal pergi olehnya. Terlebih ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga dan saya sebagai anak pertama.

Ketika kuliah hingga saat ini, beberapa kali saya memimpikan hal yang sama. Saya tak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Saya merasa sangat bersalah karena belum membuatnya bahagia melihat saya mengenakan toga.

(Foto from google)


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment