In Ahok Cerita Rustam Effendi Yusril Effendi

Ahok Terlalu Jumawa dan Kekecewaan Saya Padanya


Mundurnya Walikota Jakarta Utara, Rustam Effendi kemarin akhirnya membuat saya nggak tahan juga untuk berpendapat di sini. Menurut saya tindakan Ahok yang menuduh Rustam Effendi ada main dengan Yusril Ihza Mahendra sangat tak mendasar. Bagi saya, tuduhan Ahok benar-benar mengecewakan. Dan saya, sebagai seseorang yang pernah mengagumi dia dan kinerjanya saat mewawancarinya merasa sangat terluka. Bagaimana bisa dia memarahi Rustam Effendi karena air dari laut di utara naik dikarenakan ada pompa air yang mati lantas menuduh Rustam kongkalikong dengan Yusril? Di titik ini, saya mengatakan Ahok terlalu jumawa dan merasa di atas angin sehingga bisa mengatakan apapun yang dia inginkan tanpa melihat kinerja Rustam yang lain.

Pendapat ini tentu sangat subjektif dan dilematis bagi saya sebab saya sendiri tergabung dalam grup pendukung Ahok untuk maju 2017. Beberapa bulan lalu, ketika ditanya apakah saya suka dengan Ahok, saya katakan saya suka dengan sikap dia, kuat dan tegas. Saya mengatakan itu berdasarkan pengalaman yang saya lihat sendiri saat mewawancarai dia usai penetapan APBD DKI Jakarta di gedung DPRD DKI Jakarta 3 tahun lalu. Kala itu, saya memang dibuat terpesona oleh kharismatik yang dia miliki, dari tubuh saja, dia jauh lebih proporsional, tegap, suaranya jauh lebih ngebass dan kuat, tak seperti Jokowi yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Saat ini, saat sudah tak liputan, saya menyadari bahwa orang yang saya kagumi ketegasannya beberapa tahun lalu ternyata sedang berada di atas angin. Saya tak suka sikapnya yang menyalahi sesuatu begitu saja. 

Begini, saya suka sikap dia yang terbuka, ceplas-ceplos, gaya pemimpin yang tak butuh pencitraan yang baik dan kalem agar tetap dicintai rakyatnya, tapi saya amat kecewa dengan tuduhan dia seperti banyak kita temui di media. Okelah, saat dia perang dengan M. Taufik dan Haji Lulung, saya terima-terima saja karena kelakukan para anggota legislative itu memang sangat menjijikan. Tapi, saat Rustam Effendi dituduh begitu di depan umum? Saya tak terima.

Yang lucu adalah ketika ditanya wartawan soal tuduhannya tentang Rustam main mata dengan Yusril, Ahok jawab itu cuma bercanda seperti pernyataannya di sini. Hahaha, apa bercandamu tak bisa difilter sehingga membuat sakit hati?

Pantaslah jika Rustam curhat di facebooknya soal kepemipinan dia yang tak dihargai Ahok dan malah dituduh mentah-mentah seperti itu. Jakarta Utara itu berbeda dengan Jakarta Pusat seperti Sudirman-Thamrin yang tampak indah. Meski saya bukan orang Jakarta, apalagi tinggal di Jakarta Utara, saya melihat Jakarta Utara memiliki masalahnya sendiri, terlihat dari masalah banjir, tanah yang selalu turun tiap tahun, dan air laut yang meninggi, serta banyak kerumitan lainnya. Jadi yaa, mbok Ahok itu disaring gitu loh omongannya. Bagaimana bisa dia menuduh Walkotnya ada main dengan Yusril? Apa karena selama ini Yusril amat usil dengan langkahnya mendekati warga Luar Batang?

Jujur, akhir-akhir ini saya gelisah, kuping saya merasa panas dengar kata-kata kasar Ahok yang kadang tak bisa difilter dan mendasar, seperti ketika acara live dengan Kompas TV. Juga ketika penggusuran warga Kampung Akuarium, amat menyakitkan. Saya tahu maksud Ahok sangat baik memindahkan mereka ke hunian yang lebih, bahkan jauh lebih layak, tapi mencari pekerjaan bagi rakyat kecil sungguh sulit. Apalagi mereka yang tak punya pendidikan yang cukup. Saya memang menjadi baper dan barangkali menjadi tak objektif, karena memang hal yang demikian saya rasakan di keluarga saya sendiri, bagaimana seorang kepala rumah tangga hanya lulusan SD, tak punya pengaruh di masyarakat, tiba-tiba pasarnya, tempat usahanya terbakar di Pasar Senen. Ketika saya melihat liputan Mbak Dita Faisal soal warga gusuran di sana, saya meneteskan air mata karena melihat ia meliput dengan mata sembab.

Di titik ini, saya lebih suka saat Ahok masih menjabat Wagub dan ada penyeimbang seperti Jokowi yang membuat adem. Cobalah, Ahok lebih kalem dikit, sekuat apapun kamu, tak kan bisa membawa Jakarta seorang diri. Dalam pelajaran PPKN saat SD disebutkan syarat berdirinya suatu negara di antaranya ada pemimpin dan orang yang dipimpin. Jadi, saya masih berharap Ahok bisa merevisi omongan kasarnya dan tuduhan-tuduhannya kepada orang-orang sebagaimana saya terus merevisi skripsi saya. Bekerja dalam diam jauh lebih mulia dibanding bekerja dengan mulut mengoceh kasar begitu pak. Sebab banyak juga kinerja yang bagus dari bapak, tapi hati saya masih sakit pagi ini, piye?

Saya tak bisa mendukung seseorang sebegitu membabi butanya seakan kata-kata kasarnya dapat kita maklumi terus begitu saja. Yang saya tahu, ketika kita bisa mengagumi sesuatu sedemika rupa, bukan tak mungkin juga ada celah yang juga mengecewakan. Segalanya harus cover both side bukan? Hal ini juga yang membuat saya susah menyelesaikan tulisan tentang kinerja Ahok. Saya merasa kecewa dengan Ahok. Sangat kecewa.

Sumber foto: Tribunnews

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment